Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONFLIK KECIL YANG ALMOST TERBONGKAR
Beberapa hari setelah hari raya, Riki mengajak Safa berbelanja ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga.
Mereka berjalan santai sambil menikmati suasana pasar yang ramai dan penuh warna-warni.
Safa sangat senang bisa memilih berbagai macam sayuran segar dan buah-buahan dengan harga yang terjangkau.
Riki membantu membawakan tas belanjaannya dan kadang-kadang bertanya tentang cara memilih bahan makanan yang baik – sesuatu yang dia tidak pernah pelajari sebelumnya karena biasanya ada orang yang menangani kebutuhan makanannya.
"Saf, gimana cara memilih bawang merah yang bagus ya?" tanya Riki sambil melihat keranjang bawang merah di depan kios.
"Yang kulitnya tidak terlalu kering dan bentuknya tidak terlalu kecil," jawab Safa dengan senyum. "Kalau sudah seperti itu, biasanya rasanya lebih manis dan tidak terlalu pahit."
Saat mereka sedang memilih telur di kios berikutnya, tiba-tiba seseorang mendekati Riki dan menyapa dengan sangat hangat. "Pak Riki! Sudah lama tidak bertemu! Apa kabar Anda? Bagaimana dengan perusahaan kita?"
Riki langsung kaget dan melihat orang tersebut dengan wajah yang sedikit panik. Itu adalah Bapak Herman – salah satu mitra bisnis lama yang sering bekerja sama dengan perusahaan Innovate Solusi.
Safa yang berada di sebelahnya langsung melihat Riki dengan ekspresi penasaran. "Riki, kenalan kamu ya?"
Riki cepat berpikir dan segera memberikan tanggapan. "Ah... iya Saf, ini teman lama dari kampung halaman saya. Namanya... Bapak Herman kan?"
Bapak Herman sedikit bingung mendengarnya, tapi dengan cepat mengerti bahwa Riki sedang menyembunyikan sesuatu. "Ya ya benar sekali! Teman lama dari kampung. Kamu sudah besar ya Riki, bahkan pacarmu juga cantik sekali!"
"Terima kasih Pak Herman," ucap Safa dengan senyum ramah. "Kalian dulu sering bermain bersama ya?"
"Ya sekali lagi! Riki dulu anak yang sangat cerdas dan suka membantu orang lain," jawab Bapak Herman dengan pandangan yang penuh makna kepada Riki. "Tapi sekarang kamu sudah bekerja di mana ya Riki? Sudah lama tidak ada kabarmu."
Riki segera menjawab sebelum Bapak Herman bisa berkata apa-apa lagi. "Saya bekerja sebagai karyawan kantoran saja Pak. Cukup cukup saja untuk hidup."
Bapak Herman mengangguk dan memberikan senyum pemahaman. "Baiklah ya Riki, kalau begitu saya tidak akan mengganggumu lagi. Kita bisa bertemu lagi lain waktu ya? Saya ingin cerita banyak hal tentang masa lalu kita."
Setelah Bapak Herman pergi, Safa melihat Riki dengan ekspresi sedikit curiga. "Temanmu itu terlihat seperti orang sukses ya? Dia bicaranya juga seperti orang yang bekerja di dunia bisnis besar."
Riki segera mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Ah dia memang suka berbicara besar Saf. Padahal dia hanya bekerja sebagai karyawan biasa saja kok. Yuk kita lanjut belanja aja ya, kita masih perlu beli gula dan garam kan?"
Safa mengangguk meskipun masih merasa sedikit aneh. Namun, dia memutuskan untuk tidak terlalu berpikir jauh dan melanjutkan aktivitas belanja mereka.
Setelah selesai berbelanja dan pulang ke rumah Safa, Riki segera menghubungi Bapak Herman melalui telepon untuk meminta maaf dan menjelaskan situasinya.
"Maafkan saya Pak Herman atas kelalaian saya tadi," ucap Riki dengan rasa bersalah. "Saya sedang dalam situasi yang agak rumit dan tidak bisa memberitahu kebenaran tentang saya pada orang tersebut."
"Tidak apa-apa Pak Riki," jawab Bapak Herman dengan suara yang memahami. "Saya mengerti bahwa Anda sedang mencari sesuatu yang tulus dalam hidup. Jangan khawatir, saya tidak akan pernah membocorkan rahasia Anda kepada siapapun."
Setelah berbicara dengan Bapak Herman, Riki merasa lega tapi juga sedikit khawatir. Dia tahu bahwa semakin lama dia menyembunyikan identitasnya, semakin besar risikonya untuk terbongkar.
Namun, dia masih merasa bahwa ini adalah jalan yang paling tepat untuk menemukan cinta yang sejati dari Safa.
Beberapa hari kemudian, Safa cerita tentang kejadian tersebut kepada Maya saat mereka sedang bekerja di warung. "Maya, kemarin aku dan Riki bertemu dengan teman lamanya di pasar. Teman itu terlihat kaya dan berpengaruh banget lho, tapi Riki bilang dia hanya teman kampung yang suka berbicara besar."
Maya mengangguk dengan ekspresi yang penuh perhatian. "Sebaiknya kamu tetap hati-hati ya Saf. Kadang-kadang orang bisa menyembunyikan banyak hal dari kita. Tapi kalau kamu merasa bahwa Riki adalah orang yang benar-benar baik dan bisa dipercaya, maka itu adalah keputusanmu sendiri."
Safa tersenyum mendengar kata-kata Maya. "Aku tahu kamu khawatir padaku Maya, tapi aku merasa bahwa Riki adalah orang yang tepat untukku.
Dia selalu jujur padaku dan telah membantu keluarga kita banyak sekali. Aku yakin dia tidak akan menyembunyikan sesuatu yang buruk dariku."
Maya hanya bisa mengangguk dan berdoa agar perasaan Safa tidak salah. Dia berharap bahwa Riki memang adalah orang yang baik dan tidak akan menyakiti teman baiknya.