Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medan — Jejak yang Sengaja Dihilangkan Hari kelima berlalu tanpa kabar.
Rumah itu masih berdiri sama—tenang, rapi, dan terlihat aman. Namun bagi ketiga bersaudara itu, ketenangan justru terasa janggal. Terlalu rapi. Terlalu sunyi.
Safira duduk di ruang tengah sejak pagi, ponselnya tak lepas dari genggaman. Setiap beberapa menit, ia mengecek layar, berharap ada satu pesan masuk. Satu panggilan tak terjawab. Apa pun.
Tidak ada.
Nomor ayah dan ibunya tetap tidak aktif.
“Ayah sama Ibu mungkin lagi di tempat yang sinyalnya susah,” ucap Safira pelan—lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada orang lain.
Clarissa berdiri di dekat jendela, menatap halaman luar. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras—tanda ia sedang menahan sesuatu.
“Empat hari,” katanya singkat. “Ayah tidak pernah seperti ini.”
Adrian yang duduk di lantai, menyandarkan punggung ke sofa, ikut angkat bicara.
“Bahkan waktu urusan paling rumit pun, Ayah selalu kirim kabar.”
Safira terdiam. Tangannya mengepal pelan.
...----------------...
Pencarian pun dimulai.
Mereka mencoba menghubungi teman-teman lama Armand—orang-orang yang dulu sering datang ke rumah. Mantan rekan bisnis. Kenalan lama. Bahkan seseorang yang pernah diselamatkan Armand di masa lalu.
Jawabannya hampir sama.
Tidak tahu.
Tidak bisa bicara.
Atau… tidak diangkat sama sekali.
Clarissa tidak tinggal diam. Ia menggerakkan orang-orang kepercayaannya. Mereka menyisir informasi, bertanya ke bandara, hotel, dan jalur perjalanan.
Namun hasilnya nihil.
Seakan-akan Armand dan Elisabet tidak pernah benar-benar ada di tempat itu.
“Ini disengaja,” ucap Clarissa akhirnya, suaranya rendah tapi tegas.
“Seseorang sedang menyembunyikan jejak mereka.”
Safira memeluk lengannya sendiri.
“Tapi kenapa? Kenapa harus sejauh ini…”
Tidak ada yang menjawab.
...----------------...
Kamar yang Terkunci Waktu
Malam itu, Clarissa mengambil keputusan.
“Kita ke kamar Ayah dan Ibu.”
Safira menoleh cepat.
“Kamar mereka?”
Clarissa mengangguk pelan.
“Mungkin ada petunjuk yang dapat kita temukan.”
Mereka berdiri di depan pintu kamar utama. Kamar itu jarang dimasuki sejak Armand dan Elisabet pergi. Udara di dalam terasa berbeda—tenang, tapi berat, seolah waktu tertahan di sana.
Clarissa membuka laci meja kerja Armand. Adrian memeriksa lemari penyimpanan. Safira berdiri di dekat ranjang, matanya menyapu setiap sudut dengan perasaan tidak tenang.
Lalu ia menemukannya.
Sebuah papan lantai yang sedikit terangkat.
“Clar…” panggil Safira pelan.
Mereka bertiga berjongkok. Adrian membantu membuka celah itu dengan hati-hati.
Di dalamnya tersimpan dua benda.
Sebuah lencana logam—dingin dan berat—dengan simbol yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Bentuknya sederhana, tapi terasa penting. Terlalu penting untuk disembunyikan.
Dan sebuah map tipis berwarna gelap.
Clarissa membukanya perlahan.
Di dalamnya ada beberapa dokumen lama. Nama-nama. Tanggal. Lokasi. Sebagian disamarkan, sebagian dicoret seolah sengaja dihapus.
Dan satu lembar kertas terpisah.
Tulisan tangan Armand.
Mereka mengenal tulisan itu dengan baik.
Clarissa membacanya pelan, namun setiap kata terasa menghantam lebih keras dari suara apa pun.
Jika kalian menemukan ini, artinya Ayah dan Ibu gagal.
Jangan mencari kami.
Hiduplah dengan damai.
Lindungi satu sama lain.
Dan jangan ulangi kesalahan kami.
Safira menutup mulutnya. Napasnya tercekat.
“Gagal…?” suaranya bergetar.
“Gagal apa…?”
’’Apa yang sebenarnya terjadi pada ayah dan ibu’’
Adrian menunduk, menatap lencana di tangannya.
“Ini bukan sekadar perjalanan biasa.”
Clarissa melipat kertas itu perlahan. Untuk pertama kalinya, tangannya sedikit gemetar.
“Ayah tahu ini bisa terjadi,” katanya pelan. “Dan dia sudah bersiap.”
Safira menggeleng, matanya memanas.
“Tidak. Aku tidak terima.”
“Kalau Ayah dan Ibu masih hidup, aku tidak bisa diam. Aku tidak bisa hidup damai tanpa tahu apa yang terjadi.”
Clarissa menatap adiknya lama.
“Aku juga.”
Adrian berdiri, menatap mereka berdua.
“Berarti kita sepakat.”
Safira mengusap air mata yang nyaris jatuh.
“Kita cari kebenarannya. Pelan-pelan. Tapi pasti.”
Di kamar itu, di antara benda-benda yang ditinggalkan, ketiga bersaudara itu akhirnya mengerti satu hal:
Kepergian Armand dan Elisabet bukanlah akhir.
Itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan tanpa mereka sadari, sejak malam itu,
mereka bertiga telah masuk ke permainan yang sama.
permainan yang dulu ingin dihentikan oleh ayah dan ibu mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...