NovelToon NovelToon
Bersinar Lah Bersama Matahari

Bersinar Lah Bersama Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Menjadi Pengusaha
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Perisai Sang Matahari

BAB 8: Perisai Sang Matahari

Suasana di dapur rumah Nayla pagi ini terasa seperti laboratorium eksperimen. Di atas meja kayu yang kini telah dilapisi stainless steel agar lebih higienis, berserakan berbagai macam rempah; mulai dari cabai hijau besar, bawang batak, hingga tumpukan daun jeruk yang aromanya memenuhi seluruh ruangan. Nayla sedang melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh para penirunya: ia sedang menciptakan resep yang mustahil diciptakan oleh mesin pabrik.

"Nay, apa tidak terlalu berisiko jualan rasa baru sekarang? Stok yang pedas jeruk saja masih sering kekurangan," tanya ibunya sambil memilah cabai hijau.

Nayla mengulek kasar bumbu di depannya. "Justru sekarang waktunya, Bu. Basreng Surya dan peniru lainnya sudah mulai merusak pasar dengan bumbu bubuk instan mereka. Kalau kita tidak kasih sesuatu yang benar-benar 'nyata' rempahnya, orang akan menganggap semua basreng itu sama saja."

Hari ini, Nayla meluncurkan varian "Basreng Hijau Royo"—perpaduan bumbu sambal ijo khas Nusantara dengan tekstur basreng yang tetap krispi. Ia tidak menggunakan pewarna makanan; warna hijaunya murni dari cabai hijau dan daun pandan yang dikeringkan dengan teknik khusus.

Namun, fokus Nayla hari ini bukan hanya soal rasa. Ia sedang menunggu seseorang. Pukul sepuluh pagi, seorang pemuda berkacamata dengan tas ransel besar muncul di depan rumahnya. Namanya Aris, seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan desain komunikasi visual yang Nayla temukan lewat komunitas kreatif di media sosial.

"Mbak Nayla? Saya Aris yang kita bicara di telepon kemarin," sapa pemuda itu ramah.

"Silakan masuk, Mas Aris. Maaf ya, kantor saya masih merangkap dapur," balas Nayla sambil tersenyum tipis.

Nayla menyadari bahwa untuk melawan "Basreng Surya" dan kompetitor nakal lainnya, ia butuh identitas visual yang kuat. Ia butuh logo yang dipatenkan dan kemasan yang tidak bisa dicetak sembarangan di percetakan rumahan.

"Mas, saya mau desain yang mencerminkan 'Matahari'. Hangat, kuat, tapi tetap terlihat kuliner kelas atas. Saya juga mau ada kode QR di setiap bungkus yang kalau di-scan muncul video proses produksinya," jelas Nayla detail.

Aris tampak terkesan. "Jarang ada pengusaha UMKM yang berpikir sampai sejauh ini, Mbak. Biasanya mereka cuma mau logo yang 'bagus'. Mbak Nayla sedang membangun kepercayaan, ya?"

"Benar, Mas. Saya sedang membangun benteng," jawab Nayla mantap.

Sambil Aris bekerja membuat sketsa, Nayla bersiap untuk pergi ke kantor Dinas Koperasi dan UKM serta kantor pendaftaran merek (HAKI). Dengan uang keuntungan dari pesanan Bandung yang ia sisihkan, Nayla bertekad melegalkan usahanya. Ia tidak mau lagi disebut sebagai "dagangan kumuh" atau "jualan nggak jelas".

Perjalanan menuju kantor dinas di pusat kota memakan waktu satu jam dengan motor tuanya. Di sana, Nayla harus menghadapi birokrasi yang cukup rumit. Ia mengisi formulir demi formulir, menjelaskan proses produksinya, hingga menunjukkan hasil uji laboratorium mandiri tentang ketahanan produknya yang tanpa pengawet.

"Nama usahanya apa, Dek?" tanya petugas pendaftaran yang sudah paruh baya.

"CV Matahari Bersinar, Pak. Merek produknya: Basreng Matahari," jawab Nayla dengan suara lantang dan penuh percaya diri.

Ada rasa bangga yang luar biasa saat ia menuliskan kata 'CV' (Commanditaire Vennootschap) di depan namanya. Meskipun itu masih perusahaan kecil, bagi Nayla, itu adalah pengakuan bahwa ia adalah seorang pengusaha. Ia bukan lagi sekadar gadis yang menjajakan plastik klip di pinggir jalan.

Sepulangnya dari kota, Nayla mendapatkan kejutan. Aris sudah menyelesaikan draf logo barunya. Sebuah logo matahari yang elegan, dengan garis-garis tegas yang membentuk siluet wajan di tengahnya. Sangat modern, bersih, dan tampak sangat profesional.

"Ini dia, Mas. Ini yang saya mau!" seru Nayla senang.

Malam itu, Nayla langsung mengunggah logo baru tersebut di akun media sosialnya. Ia juga mengumumkan peluncuran rasa "Sambal Ijo" dan memberikan edukasi kepada pengikutnya.

"Basreng Matahari kini resmi bertransformasi. Mulai minggu depan, semua kemasan akan memiliki logo resmi dan kode QR untuk menjamin keaslian. Terima kasih sudah membantu kami melawan para peniru dengan tetap memilih kualitas asli dari dapur kami."

Postingan itu mendapat respon luar biasa. Para agen dan reseller merasa lebih tenang karena mereka sekarang punya senjata untuk menjelaskan kepada pembeli mana yang asli dan mana yang tiruan.

Namun, tantangan tak pernah benar-benar habis. Saat Nayla sedang merapikan catatan keuangan di laptopnya, ia melihat sebuah berita viral di portal berita lokal tahun 2026. Ada isu tentang penertiban besar-besaran bagi usaha rumahan yang tidak memiliki izin pengolahan limbah di area pemukiman padat.

Nayla melihat ke arah saluran air di depan rumahnya. Meskipun ia selalu berusaha bersih, bau minyak dan sisa cuci bakso ikan tetap tidak bisa dihindari. Ia sadar, jika usahanya terus membesar di rumah ini, ia akan segera berbenturan dengan aturan lingkungan dan kenyamanan tetangga.

"Ibu, Yah... sepertinya kita harus mulai cari ruko kecil," ujar Nayla pelan di meja makan.

Ibunya terhenti mengunyah. "Ruko? Sewanya kan mahal sekali, Nay."

"Memang mahal, Bu. Tapi kalau kita mau naik level, kita nggak bisa selamanya di dapur ini. Kita butuh tempat yang punya izin industri, tempat yang lebih luas supaya kita bisa beli mesin pemotong otomatis," jelas Nayla.

Ayahnya mengangguk setuju. "Nayla benar, Bu. Kita tidak boleh jadi katak dalam tempurung. Sinar matahari butuh ruang yang lebih luas untuk menerangi."

 "Terkadang, kita harus meninggalkan zona nyaman yang selama ini membesarkan kita, hanya untuk menemukan dunia yang jauh lebih luas. Mengurus legalitas dan mencari tempat baru bukan sekadar soal gaya-gayaan, tapi soal cara kita menghargai mimpi yang sedang kita bangun."

Nayla mematikan lampu kamarnya dengan perasaan berdebar. Besok, ia akan mulai berkeliling mencari ruko. Takdirnya terus bergerak maju, lebih cepat dari yang ia bayangkan, dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah membiarkan cahayanya redup karena ketakutan akan biaya atau birokrasi. Ia adalah Nayla, dan harinya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!