Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kalandra Mulai Penasaran
Cahaya biru dari layar laptop menjadi satu-satunya penerangan di ruang kerja pribadi Kalandra. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam, tapi mata sang Komandan masih nyalang menatap kolom pencarian Google.
Jemari Kalandra mengetuk meja dengan ritme gelisah. Dia baru saja mengetik satu nama yang selama dua tahun ini dia abaikan: Zoya Ravendra.
"Oke, kita lihat seberapa hebat istriku yang katanya legenda itu," gumam Kalandra skeptis. Dia menekan tombol Enter dengan kasar.
Dalam sekejap, ribuan hasil pencarian muncul.
Kalandra mengharapkan foto-foto sosialita, berita gosip arisan, atau mungkin blog belanja tas mewah. Namun, yang terpampang di layar membuatnya ternganga.
Zoya Ravendra: Analisis Pola Luka pada Korban Trauma Tumpul - Jurnal Forensik Internasional.
Pemenang Penghargaan Peneliti Muda Terbaik: Studi Toksikologi Racun Tanaman.
Zoya Ravendra & Teori "The Silent Witness": Membedah Mayat Tanpa Menyentuh.
Kalandra mengklik salah satu tautan video. Itu adalah rekaman seminar di New York tiga tahun lalu. Di sana, di atas panggung megah, berdiri Zoya.
Dia tidak memakai daster atau piyama beruang seperti di rumah. Dia memakai setelan formal, berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih dan cepat, menjawab pertanyaan para profesor tua dengan percaya diri yang memukau.
"Sial," umpat Kalandra pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, merasa kerdil.
Selama ini dia berpikir Zoya adalah wanita manja yang otaknya kosong. Dia merasa superior karena dia adalah polisi lapangan yang gagah, yang menangkap penjahat dengan otot dan pistol.
Ternyata? Istrinya bermain di liga yang jauh berbeda. Liga para jenius.
Kalandra menutup laptopnya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kagum yang menyeruak, tapi lebih besar lagi rasa insecure.
Harga dirinya sebagai kepala rumah tangga sedikit terusik. Masa iya dia kalah pintar sama istri sendiri?
Tidak. Dia harus membuktikan kalau dia bisa mengimbangi Zoya.
Kalandra bangkit, berjalan keluar menuju kamar tidur utama.
Di dalam kamar, Zoya duduk di depan meja rias. Dia sedang menepuk-nepuk pelan pipinya dengan toner. Wajahnya bersih dari make-up, terlihat lebih muda dan segar.
Kalandra masuk, berdehem canggung. Dia duduk di tepi kasur, memperhatikan punggung istrinya.
"Belum tidur?" tanya Kalandra basa-basi.
"Lagi pakai skincare. Kalau nggak dirawat nanti Mas cari yang lebih muda," jawab Zoya asal tanpa menoleh.
Kalandra mengabaikan sindiran itu. Dia mencoba memutar otak, mencari topik pembicaraan yang berbobot. Dia tidak mau ngomongin menu makan besok atau tagihan listrik. Dia mau ngomongin 'topik pintar'.
"Zoya, soal profil pelaku yang kamu bilang kemarin," mulai Kalandra, nadanya dibuat serius. "Aku baca artikel tentang perilaku psikopat. Menurutmu, apa dia punya kecenderungan skizofrenia? Maksudku, dia kan berhalusinasi kalau mayat itu boneka."
Zoya berhenti menepuk pipinya. Dia melihat pantulan Kalandra lewat cermin. Alisnya terangkat sebelah.
"Tumben Mas bahas diagnosa mental malam-malam," komentar Zoya. "Biasanya jam segini Mas cuma nanya remote TV di mana."
"Jawab saja," desak Kalandra. "Aku cuma mau diskusi."
Zoya memutar kursi riasnya menghadap Kalandra. Dia menyilangkan kaki. "Bukan skizofrenia, Mas. Kalau skizofrenia, pembunuhannya bakal berantakan, impulsif, ngacak. Si Puppeteer ini rapi. Dia sadar penuh apa yang dia lakukan."
"Jadi?"
"Itu Obsessive-Compulsive Personality Disorder ditambah God Complex," jelas Zoya lancar, seolah sedang membahas resep masakan. "Dia merasa dirinya Tuhan yang punya hak mengatur 'hidup' mayat itu. Dia nggak gila, Mas. Dia jahat. Ada bedanya antara sakit jiwa dan nurani yang mati."
Kalandra tertegun. Penjelasan Zoya sederhana, tapi tajam dan masuk akal. Dia mencoba mencari celah untuk membantah, biar terlihat punya opini juga.
"Tapi... bisa saja kan dia trauma masa kecil? Mungkin ibunya dulu sering main boneka?" sanggah Kalandra.
"Klise," potong Zoya cepat. Dia berdiri, berjalan menuju sisi kasur dan menarik selimut. "Nggak semua penjahat punya masa lalu sedih, Mas. Beberapa orang lahir dengan otak yang memang konslet. Tugas Mas menangkap mereka, bukan mengasihani mereka."
Kalandra kehabisan kata-kata. Dia merasa seperti murid SD yang baru saja dikuliahi dosen besar. Dia menatap Zoya yang kini sudah berbaring nyaman membelakanginya.
Wanita ini... dia benar-benar 'The Scalpel'.
Kalandra ikut berbaring di sampingnya, menatap langit-langit kamar. "Kamu... kenapa nggak pernah ngomongin hal beginian sebelumnya? Kenapa kamu sembunyiin kepintaranmu?"
Zoya tidak langsung menjawab. Hening sejenak di antara mereka, hanya terdengar suara dengungan AC.
Lalu, Zoya berbalik badan. Wajah mereka kini berhadapan, hanya berjarak jengkal. Kalandra bisa mencium aroma skincare Zoya yang wangi bunga lili.
Mata Zoya menatap manik mata Kalandra lekat-lekat, ada senyum miring yang misterius di bibirnya.
"Kenapa Mas baru nanya sekarang?" bisik Zoya pelan. "Selama dua tahun, Mas anggap aku cuma pajangan. Sekarang, begitu tahu aku punya otak, Mas langsung kepo."
Jantung Kalandra berdegup kencang. Dia tertangkap basah.
Zoya memajukan wajahnya sedikit lagi, menantang. "Kenapa, Mas? Takut kalah pintar sama istri sendiri? Atau takut kalau ternyata 'beban' di rumah ini bukan aku, tapi ego Mas yang ketinggian?"
Kalandra menahan napas. Lidahnya kelu, tidak mampu membalas serangan telak itu. Zoya benar-benar tahu cara membungkam mulut Komandan tanpa perlu senjata.