Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 26
Peringatan, ini novel penuh dengan air mata, yang tidak kuat, boleh di skip dan dilewatkan aja, tapi jangan lupa like dan komen✌
"Gelang ini? Hanya gelang ini?" Suci menarik gelang itu hingga putus dan membuangnya ke kolam, sampai gelang itu tenggelam di dasar yang paling dalam, "aku lelah dengan semua ini, aku lelah menunggu, aku lelah dengan semua kenyataan pahit ini, aku lelah mengharapkan kepastian dari Kakak," ucap Suci dengan semua rasa kecewanya, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kau ... " Fery menggantungkan bicaranya, sejenak memandang benda berharga yang sudah tenggelam karena kini tidak ada nilainya di mata Suci, kemudian ia kembali melihat Suci. "Kau tidak sadar, dari mana masalah ini berasal, tentukan keputusanmu sebelum kau menyesal, " Fery memberi peringatan dengan mata yang memerah, kemudian ia pergi meninggalkan Suci.
Tubuh Suci menjadi lemas, kedua kakinya tidak dapat lagi berdiri tegak untuk menopang tubuhnya, lutut ini sudah menekuk, Suci memeluk lututnya membenamkan wajahnya di sana dan menangis, ia hanya bisa menangis, dua hari lagi, hanya menunggu dua hari lagi, tapi ia sudah terlalu takut menerima kenyataan yang mungkin menyakitkan.
*****
Fery melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia pergi membawa rasa kecewa yang luar biasa, berkali-kali strir itu menjadi sasarannya, berkali-kali ia membunyikan klaksonnya, dan berkali-kali ia mendahului mobil yang ada di depannya.
"Takdir macam apa ini?" Fery berteriak, tidak bisakah takdir berpihak kepadanya? Tidak bisakah ia hidup dengan cintanya, Fery lelah mengikuti takdir cintanya yang selalu berakhir kecewa.
Saat ini mobil ini sudah melaju dengan kecepatan yang rendah, karena Fery berada di jalan yang tidak asing untuknya, di jalan ini ia dan Suci pernah menyusuri jalan sampai mereka ke pasar malam, dan di tempat ini Suci pernah meminta untuk menemaninya melihat aurora.
Fery merasa lemah, pengaruh Suci sangat kuat untuknya, kemudian ia menginjak pedal gasnya dengan tiba-tiba, dan disaat yang bersamaan kecelakaan besar tidak bisa dihindari.
BRAK!!!!!!
Ambulance sudah menguasai jalan raya, di dalamnya sudah ada Fery terkapar tak berdaya, ia tidak bisa menghindari mobil yang saat itu berlawanan arah dengannya, Fery sempat sadar dan membuka mata, hanya nama Suci yang keluar dari mulutnya.
"Su-Suci ... Ci..." lirih Fery.
*******
Kini tubuh Fery sudah terbaring di ruang ICU dengan perawatan intensiv. Ruangan ini dilengkapi dengan peralatan khusus yang tidak terdapat di kamar perawatan biasa.
Kabel, suara menderu dari alat, dan bunyi monitor adalah pemandangan yang biasa dijumpai di ruang ICU. Sebab pasien yang ada di dalam ruangan ini memang ada di dalam kondisi yang parah, sehingga kebanyakan memerlukan bantuan alat untuk bisa bertahan hidup.
Alat-alat tersebutlah yang digunakan untuk menunjang fungsi organ yang rusak pada pasien, agar bisa bertahan hidup. Di samping tempat tidur pasien, terdapat layar monitoring yang memperlihatkan kondisi detak jantung Fery.
Di layar itu juga, terlihat garis-garis yang menunjukan grafik detak jantung yang yang juga mengeluarkan suara sesuai detak jantung Fery yang masih melemah. Kepala Fery dililit perban putih akibat benturan keras yang dialaminya, selang infus juga menemaninya, dan saat ini kondisi Fery masih tidak sadarkan diri, dua orang perawat berjaga di ruangan ini, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan ini.
Sementara Nyonya Farida sudah berkali-kali tidak sadarkan diri, ia masih menangis di dalam pelukan Anggun yang juga berlinang air mata.
"Sabar Ma ... Mama harus tabah, Ma. Kak Fery pasti sembuh. Kak Fery pasti akan baik-baik saja..." Anggun terus berusaha menenagkan Mamanya, diusapnya dengan penuh kasih sayang punggung Mama angkatnya ini.
"Kenapa ini semua bisa terjadi? Kakakmu kenapa bisa mengalami semua ini? Dulu papa mu yang pergi dan sekarang huhuhuhuhu."
"Tante ... Tante harus kuat, jangan seperti ini. Lebih baik kita berdo'a untuk kesembuhan Fery," Tasya juga tampak berjaga di depan ruangan itu, saat ini belum ada yang diijinkan untuk masuk menjenguk Fery.
Sementara diujung lorong, Suci sudah kehabisan suara, ia terisak dan tersedu, ia merasa sekujur tubuhnya sakit, separuh jiwanya pergi, berulang kali Suci memukul dadanya yang terasa sesak, ingatannya kembali pada pertemuan mereka sebelumnya, Suci menyesali semua ucapan dan perbuatannya yang sudah menyakiti Fery.
"Tuhan ... Tolong selamatkan hamba Mu yang bernama Fery. Kumohon selamatkan dia...."
*****
Terhitung sudah dua minggu Fery belum sadarkan diri, seperti biasa ruangan ini masih dijaga ketat, hanya Nyonya Farida yang terlihat beberapa kali masuk untuk melihat kondisi anaknya, dan itu juga waktunya sangat dibatasi.
Sore itu Nyonya Farida baru saja keluar dari rumah sakit, ia bertemu dengan Suci yang saat itu menuju rumah sakit.
"Tante," Suci menyapa dan memeluk Nyonya Farida, masih terlihat guratan kesedihan dan wajahnya yang sendu.
"Suci, kamu mau jenguk Fery ?" Tanya Nyonya Farida.
"Iya, Tante. Apa sudah ada perkembangannya?" Tanya Suci, yang biasanya ia datang menjenguk Fery secara diam-diam untuk menghindari Tasya.
"Belum ada, Fery masih belum sadarkan diri, kamu lihatlah dia..." lirih Nyonya Farida, dan disaat itu mobil datang menemputnya, "Tante nitip Fery sebentar ya, Tante pulang sebentar."
"Iya, Tante nggak perlu khawatir."
Setelah memastikan mobil milik Nyonya Farida menjauh, Suci mulai masuk ke dalam rumah sakit.
Do'a tidak pernah berhenti dipanjatkan, nama Fery selalu terucap dari bibirnya, berat badan Suci juga turun drastis, ia menolak makan karena mengingat kondisi Fery.
Tasya segera beranjak saat melihat Suci semakin mendekatinya yang saat itu sedang duduk di depan ruang ICU.
"Kenapa kamu datang lagi?" Tanya Tasya, saat ini perutnya sudah membulat dengan sempurna, karena kecelakaan dan kondisi Fery yang belum sadarkan diri, tes DNA itu belum juga dilakukan.
Suci merasa kalau keberadaannya tidak dibutuhkan di sini, tapi perasaannya mengatakan kalau ia harus masuk ke dalam ruangan Fery.
"Aku-aku datang untuk kak Fery, sekali saja biarkan aku tetap di sini," jawab Suci.
"Sudah Suci, aku mohon jangan ganggu Fery lagi! jauhi dia dan biarkan kami bersama, demi anak ini Suci, anak ini butuh seorang ayah, dan karenamu ayahnya berjuang untuk hidup di dalam sana." ucap Tasya menggebu.
"Apa makasudnya semua ini karena aku?"
"Kau pernah bilang, kalau ayah anak ini akan bertanggung jawab, kalau kau akan menerima dan merelakan Fery untuk menikah denganku, tapi apa? Kau masih ada disekitarnya dan itu mengganggu pikirannya, aku tahu saat Fery melihatmu, itu membuatnya lemah dan pikirannya kacau, karena itu juga kecelakaan ini terjadi, kau yang menjadi penyebab semua ini!"
"Kenapa nuduh aku seperi itu, Mbak?" Suci tidak terima.
"Karena memang seperti itulah kenyataannya," jawab Tasya.
Ceklek( Pintu ruangan ICU itu dibuka dari dalam)
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah