Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 Keinginan yang Tak Terwujud
Pagi hari, matahari menyapa semua orang. Kota kembali ramai, dan jalanan dipenuhi oleh orang-orang yang lalu-lalang. Ada prajurit yang berpatroli, ada juga orang-orang yang sekedar jalan-jalan di pagi hari.
Di atas pohon, Erlang Xuan hanya diam tak bersuara. Matanya tertuju pada seorang anak kecil yang sedang bermain dengan ibunya. Meski ibunya masih hidup, ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya disayang. Selama ini, yang membesarkannya adalah seorang pelayan, bukan ibunya.
"Andai saja ibuku sepertinya!" gumamnya.
"Sebenarnya hati ibu terbuat dari apa?" Ia menatap langit biru. Perlahan, air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Sebenarnya untuk apa aku dilahirkan?"
Berbagai pertanyaan dilontarkan entah kepada siapa. Tak ada yang bisa menjawabnya. Meskipun ada yang mendengarnya, mungkin orang itu akan menganggapnya orang yang tidak waras.
"Hah!" Erlang Xuan menghela napas panjang. Ia melompat dari pohon dan berjalan tanpa arah dan tujuan.
"Kakak!" Suara seseorang menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan mendapati adiknya, Erlang Ming bersujud di depannya.
"Selama ini kamu kemana saja? Setelah kesakitan, kamu baru mengingatku. Saat aku tersiksa dan hampir mati, kamu kemana saja, bajingan?" tanyanya dengan amarah yang tertahan.
Erlang Xuan memejamkan matanya dan mengatur napasnya. Ia berusaha menahan amarahnya agar tidak lepas kendali. Sama seperti di klan Erlang, jika amarahnya tak terkendali, orang-orang tak bersalah yang akan terkena dampaknya.
"Kak, kita saudara kandung. Ibu kita orang yang sama. Jadi, kumohon bebaskan aku dari siksaan ini!"
"Ibu yang sama katamu!"
Erlang Xuan tersenyum sinis. Ia membuka topengnya dan memperlihatkan matanya yang memutih. Selama ini, topeng itu menyamarkan kebutaannya. Jika topeng itu dipakai, matanya akan terlihat normal. Jika dilepas, matanya yang memutih akan terlihat jelas.
"Lihat baik-baik! Lihat! Perempuan yang kupanggil ibu membuatku buta! Kamu anak kesayangan, sementara aku dibuang seperti sampah yang tak berharga! Kamu tidak pernah tahu apa yang kurasakan, Erlang Ming!" teriaknya. Ia memakai kembali topeng gioknya. Tangannya mengepal, dan amarahnya bisa meledak kapan saja.
"Kalau kamu sayang dengan nyawamu, jangan pernah muncul di depanku!" Erlang Xuan berbalik, tapi Erlang Ming menahan kakinya.
"Kak, aku minta maaf!"
"Setelah semua yang kamu perbuat, aku bisa memaafkanmu dengan mudah? Tidak bisa, Erlang Ming! Melihatmu saja membuatku muak!" Ia mengeluarkan sebuah belati. Belati yang sama yang pernah digunakan oleh adiknya untuk menyiksanya.
"Kalian berdua dengan kompak menyiksaku menggunakan benda ini, kan?" tanyanya.
"Karena kamu tidak mau pergi, akan kuantar kau ke neraka!" Qi yang bercampur dengan racun menyelimuti belati itu. Entah karena kebetulan atau adiknya beruntung, seseorang tiba-tiba saja datang dan menghentikannya.
"Pengganggu!" Erlang Xuan yang terlanjur marah melepaskan belati di tangannya. Belati itu tidak jatuh ke tanah, melainkan menusuk perut adiknya, Erlang Ming.
"Memadamkan api yang membakar hutan sangat sulit. Jadi, jangan berharap aku bisa memaafkan kalian semua!" Erlang Xuan menyeringai. Ia menggerakkan jarinya, dan belati yang menusuk adiknya melayang di udara.
"Aku tidak akan membunuhmu, tapi membuatmu tersiksa hingga mati!" ungkapnya.
"Kamu benar-benar kejam!" Orang yang menghentikannya berkomentar.
"Kalau tidak tahu apa-apa, jangan ikut campur!" Erlang Xuan mengambil belatinya dan meninggalkan tempat itu. Ia pergi ke danau kecil yang ada di kota dan menenangkan dirinya.
Ia kembali melepas topengnya dan membasuh wajahnya dengan air danau yang dingin. Air itu membuatnya tenang, dan amarahnya mulai berkurang, meski tidak hilang sama sekali.
"Apa salahku?" Untuk kesekian kalinya, ia menanyakan hal yang sama. Selama bertahun-tahun, orang-orang selalu menyiksa dan menindasnya tanpa alasan yang jelas. Bahkan, berkali-kali hukuman dijatuhkan padanya karena kesalahan saudaranya.
Dhuaaarrrrrr
Ledakan keras mengagetkannya. Buru-buru, ia memakai topengnya dan melesat ke pusat ledakan. Ternyata pelakunya adalah beberapa pemuda klan Erlang. Tujuh belas tahun lalu, klan Erlang hanyalah klan yang jatuh, tapi sekarang klan itu menjelma menjadi klan terkuat nomor dua, setelah klan Zhang.
"Mau memamerkan kekuatan di sini?"
Erlang Bai, salah satu dari 3 orang pemuda klan yang mengacau menatap Erlang Xuan. Ia menyeringai dan mengarahkan senjatanya ke pemuda yang berdiri tak jauh darinya.
"Sampah Pembawa sial, ternyata kamu bisa berlatih juga?" hina Erlang Bai.
"Sekelompok pengecut! Beraninya kepada orang lemah!" ledek Erlang Xuan.
"Huahahaha!" Tiga orang itu tertawa, tak beberapa lama, tawa ketiganya tidak terdengar lagi. Tubuh tanpa kepala ambruk ke tanah. Dalam hitungan detik, tempat itu berubah menjadi merah.
"Bersenang-senanglah di neraka!" Ketiga mayat pemuda klan Erlang dibakar. Bukan hanya mayat, darah mereka pun dihilangkan.
Karena masih kesal, ia sengaja mencari anggota klannya. Jika membuat kerusakan atau menindas orang, maka jiwa dan tubuh mereka akan terpisah saat itu juga.
"Kalian menyombongkan garis keturunan kalian yang istimewa. Hari ini, laporkan perbuatan kalian itu kepada Leluhur," gumamnya.
Erlang Xuan kembali ke tepi danau. Dalam sehari, hampir 10 orang yang dibunuhnya. Beberapa diantaranya merupakan peserta turnamen, sementara yang lain hanya mengawal.
"Setelah membunuh saudara sendiri, kamu bersantai di sini! Hebat sekali kamu, Erlang Xuan!" ucap seseorang sambil bertepuk tangan.
"Aku belum menagih utang nyawa kepadamu, Tetua Pertama!" Ia beranjak dan menyerang pria di depannya menggunakan kekuatan jiwa. Kemunculan pria itu mengingatkannya kepada adik perempuan yang sangat disayanginya. Karena dekat dengannya, adiknya dibunuh dan dibuang ke jurang.
"Kembalikan adik kecilku, Tetua!" Kekuatan jiwa yang menekannya semakin kuat. Tetua pertama yang hampir menerobos ranah leluhur tak bisa menahan tekanan itu.
"Jianxue, gadis kecil itu sudah mati!" Tetua Pertama tertawa. Tawanya membuat Erlang Xuan semakin marah. Hanya dengan satu serangan, Tetua Pertama terpental dan memuntahkan darah segar.
"Kamu dan Jianxue lahir dari ibu yang berbeda. Mengapa kamu sangat menyayanginya?" tanyanya.
"Bukan urusanmu, baj*ngan!" Erlang Xuan memadatkan elemen es dan mengubahnya menjadi pedang. Ia menghampiri Tetua Pertama dengan tatapan penuh kebencian.
"Cari mati!" Tetua Pertama menyerang Erlang Xuan, tapi serangannya dipatahkan dengan mudah. Untuk kedua kalinya, kekuatan tak kasat mata melemparnya hingga puluhan meter ke belakang.
"Adikmu masih hidup!"
Erlang Xuan yang ingin menghabisi Tetua Pertama langsung diam. Ia tahu pria itu tidak berbohong. Yang menjadi masalah, adiknya dibunuh dan mayatnya di buang ke jurang.
"Dia masih hidup! Jianxue adalah murid sekte awan suci." Setelah mengatakan itu, Tetua Pertama langsung melarikan diri. Meski kultivasinya lebih tinggi, kekuatan jiwa Erlang Xuan sangat menakutkan.
Ukkhuuukk
Darah menyembur dari mulutnya. Menyerang lawan menggunakan kekuatan jiwa membuatnya terluka. Untungnya Tetua Pertama sudah pergi. Kalau tidak, mungkin ia sudah dibuat sekarat.
"Untung saja Pak Tua itu pergi." Erlang Xuan duduk bersila dan menelan beberapa butir pil penyembuh.
Tanpa disadarinya, gadis sedang mengawasinya dari kejauhan. Gadis itu hanya tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Dia adalah Jianxue, adik perempuan Erlang Xuan.
"Sampai ketemu di turnamen, Kak!" Gadis itu berbalik lalu melesat meninggalkan kota itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...