Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Diam yang Disalahartikan
Naya sedang memilih sayur di lapak langganannya.
Tangannya bergerak pelan, menimbang tomat dan bayam dengan hati-hati, seolah setiap gerakan kecil itu membantunya tetap berpijak pada hari yang ingin ia jalani dengan tenang. Pagi itu matahari belum terlalu terik. Bau tanah basah masih bercampur dengan aroma sayur segar dan bumbu dapur. Suara pedagang saling bersahutan, tawar-menawar terdengar di sana-sini.
Pagi yang biasa.
Setidaknya, itu yang ingin Naya yakini.
Ia tidak ingin memikirkan apa pun selain menu makan siang hari ini. Tidak ingin memikirkan lima tahun pernikahan. Tidak ingin memikirkan pertanyaan yang selalu datang dari orang-orang—tentang anak, tentang rahim, tentang hal-hal yang seolah lebih berhak ditanyakan orang lain daripada dirinya sendiri.
Sampai sebuah suara memecah suasana.
“Kamu masih berani belanja santai begini?”
Tangan Naya terhenti di udara.
Ia menoleh perlahan, seolah sudah tahu siapa yang berdiri di belakangnya bahkan sebelum wajah itu benar-benar tertangkap matanya.
Ratna.
Perempuan paruh baya itu berdiri dengan tangan bersedekap, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam dan dingin. Tatapan yang tidak pernah berubah sejak awal—tatapan yang selalu menilai, selalu merasa lebih tinggi.
Tanpa menunggu jawaban, Ratna melangkah lebih dekat.
“Wanita mandul memang enak ya,” ucapnya dengan suara cukup keras, cukup untuk menarik perhatian sekitar. “Tidak capek ngurus anak, hidup tenang, tapi bikin suami dan keluarga malu.”
Beberapa ibu yang sedang berbelanja langsung menoleh. Ada yang pura-pura sibuk memilih sayur, ada yang saling melirik cepat, lalu kembali menunduk. Tidak ada yang benar-benar pergi. Tidak ada juga yang berani menegur.
Naya menggenggam kantong belanjaannya lebih erat.
Dadanya terasa sesak, seolah udara di sekitarnya mendadak menipis. Ia bisa membalas. Ia bisa membuka tasnya, mengeluarkan hasil pemeriksaan rumah sakit, dan menunjukkan bahwa tubuhnya baik-baik saja. Bahwa rahimnya sehat. Bahwa ia tidak seperti yang Ratna tuduhkan.
Tapi ia tidak melakukan itu.
Ratna melihat diamnya Naya sebagai izin.
“Kamu tahu nggak,” lanjut Ratna, nadanya makin tajam, “perempuan itu tugasnya apa? Memberi keturunan. Kalau sampai bertahun-tahun nggak bisa, berarti ada yang salah.”
Naya menunduk. Matanya terpaku pada timbangan sayur di depannya. Angka-angka di sana bergerak, tapi pikirannya kosong. Hatinya bergetar, namun wajahnya tetap tenang.
Ratna mendengus kecil. “Dari awal ibu sudah bilang. Kamu menikah dengan Adit tanpa restu. Melawan orang tua. Sekarang lihat, kena karma. Tuhan itu adil.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Tuhan.
Nama itu selalu dipakai Ratna sebagai pembenaran. Seolah Tuhan berdiri tepat di belakangnya, mengangguk setuju atas setiap hinaan yang ia lontarkan.
Dalam hati, Naya bertanya pada dirinya sendiri.
Haruskah aku tunjukkan hasil pemeriksaan itu? Haruskah aku buktikan kalau aku tidak seperti yang dia tuduhkan?
Tangannya bergetar sesaat, lalu ia menarik napas dalam-dalam.
Tidak.
Ia menyelesaikan belanjaannya dengan tenang. Membayar tanpa terburu-buru. Mengucapkan terima kasih pada penjual, seolah pagi itu benar-benar berjalan normal.
Ratna tersenyum tipis.
Diamnya Naya disalahartikan sebagai kelemahan. Sebagai pengakuan. Sebagai kekalahan.
Ketika Naya melangkah pergi membawa belanjaannya, Ratna ikut melangkah di belakangnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk memastikan semua orang melihat siapa yang merasa menang pagi itu.
Dan Naya berjalan pulang dengan punggung tegak, meski dadanya penuh luka yang tidak terlihat.
---
Pintu rumah terbuka pelan.
Naya masuk tanpa menoleh ke belakang. Ia meletakkan kantong belanja di meja dapur, melepas jaket, merapikan kerudung, lalu mencuci tangan di wastafel. Gerakannya rapi, teratur—seolah ia sedang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri.
Ratna ikut masuk tanpa permisi.
“Rumah begini saja kamu banggakan?” suara Ratna kembali terdengar, kini lebih bebas, lebih lepas. “Penataannya kampungan. Furniturnya tidak ada selera.”
Naya tidak menjawab.
Ia mengambil celemek, mengikatkannya di pinggang, lalu mulai menyiapkan bahan masakan. Pisau di tangannya memotong bawang dengan ritme pelan. Ia fokus pada suara bilah yang menyentuh talenan.
Ratna berjalan berkeliling seperti sedang menginspeksi. Matanya menyapu dapur, ruang makan, hingga sudut ruangan.
“Masakan kamu ini juga aneh,” lanjut Ratna sambil mencibir. “Perempuan yang masaknya tidak higienis, pantas saja susah hamil. Semua serba asal.”
Naya tetap diam.
Di sudut dapur, asisten rumah tangga yang sejak tadi membantu mencuci sayur menahan napas. Tangannya gemetar. Ia melirik ke arah Naya dengan mata berkaca-kaca.
Bu… lawan, Bu. Jangan diam saja.
Ratna semakin berani.
“Kamu pikir diam saja akan menyelamatkan kamu?” katanya dengan nada tinggi. “Adit itu anak saya. Kalau perlu, saya carikan dia istri baru. Perempuan yang bisa memberi saya cucu.”
Pisau di tangan pelayan terhenti.
Brakk!
Pisau itu menghantam talenan lebih keras dari seharusnya. Suaranya memecah keheningan dapur.
Ratna menoleh tajam.
Pelayan itu berdiri kaku, wajahnya memerah. “Maaf, Bu,” ucapnya tergesa, suaranya bergetar. “Saya tidak sengaja.”
Ratna mendengus. “Kurang ajar. Pembantu ikut-ikutan berani.”
Ia kembali menatap Naya, sorot matanya dingin.
“Ingat ya, perempuan mandul,” katanya perlahan, jelas. “Saya tidak akan diam saja. Saya akan pastikan Adit punya anak, dengan atau tanpa kamu.”
Setelah mengatakan itu, Ratna berbalik dan melangkah keluar rumah.
Pintu tertutup pelan.
Tidak ada suara keras. Tidak ada bantingan. Tapi dampaknya terasa seperti gempa kecil yang meretakkan sesuatu di dalam dada Naya.
Pelayan itu segera mendekat. “Ibu… tidak apa-apa?” tanyanya cemas.
Naya menggeleng pelan. Wajahnya pucat, tapi tetap tenang.
“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat.
Pelayan itu kembali ke pekerjaannya, meski sesekali masih melirik khawatir.
Naya berdiri sendiri di dapur.
Tangannya bertumpu pada meja. Napasnya bergetar, baru terasa berat setelah semuanya pergi. Kata-kata Ratna berputar di kepalanya—ancaman, hinaan, nama Adit yang disebut-sebut seolah ia barang yang bisa diambil kapan saja.
Ia menatap kosong ke arah jendela dapur.
Kalau suatu hari Adit benar-benar memilih pergi…
apakah aku masih sanggup berdiri setenang ini?
Selamat pagi readers selamat membaca like komennya dong terimakasih...