Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Ombak
Lily melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Cristopher. Langkahnya ringan, namun sikapnya tegas, seolah ia tak sedang berada di hadapan Raja penakluk. Eri berjalan di sisinya, ekor emasnya berayun pelan, penuh percayadiri seperti pemiliknya. Mereka berhenti di depan jendela, memandang laut yang terbentang luas, bergelombang pelan mengikuti irama kapal.
Cristopher melirik punggung mereka sekilas. Dua sosok itu berbeda namun selaras: seorang putri yang tak bertingkah seperti putri, dan seekor singa yang berdiri di sisinya.
“Aku mengantuk.” ucap Lily lirih, nyaris seperti gumaman yang ditujukan pada dirinya sendiri.
Eri langsung duduk merendahkan tubuhnya tanpa ragu, menawarkan punggungnya yang lebar pada sang putri. Lily bersandar, kemudian merebahkan diri di atas bulu emas yang tebal. Wajahnya perlahan mengendur, napasnya menjadi teratur. Kehangatan tubuh Eri dan bau khas bulunya membawa rasa aman
Cristopher mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang ia baca. Tanpa alasan yang jelas, pandangannya kembali tertuju pada arah yang sama.
Seorang putri, calon ratu Kerajaan Conqueror, tertidur dengan begitu tenang di lantai yang dingin, beralaskan tubuh seekor singa. Bukan di atas dipan empuk yang disiapkan khusus untuknya, bukan di balik tirai sutra dan kasur layak seorang bangsawan.
Mata Cristopher bersinggungan dengan Eri. Geraman rendah keluar dari tenggorokannya, berat dan mengancam. Taring-taringnya tampak jelas, penuh ketidaksukaan dan kewaspadaan yang tinggi.
Cristopher melihatnya dengan tatapan yang tak kalah tajam. Ia telah menghadapi pemberontak, bangsawan pengkhianat, dan medan perang yang dipenuhi darah. Ancaman seperti ini bukanlah sesuatu yang layak menggoyahkan hatinya.
Lambung kapal berderit pelan, seperti makhluk besar yang mengeluh di tengah kegelapan laut. Angin malam berubah arah, membawa hawa asin yang lebih tajam dari biasanya. Tirai di jendela berkibar liar.
“Aummmm…!”
Eri mengaum keras, suaranya menggema di dalam ruangan. Kaki besarnya menggoyangkan tubuh Lily dengan desakan tak sabar, naluri liarnya menangkap pertanda yang belum disadari manusia.
Lily terbangun seketika.
“Ada apa, Eri?” tanyanya lirih, matanya masih berat oleh kantuk.
Singa itu berdiri menghadap jendela, ekornya bergerak gelisah. Ia menoleh pada Lily, lalu kembali menatap kegelapan laut seolah memintanya melihat apa yang tak kasatmata.
Lily bangkit perlahan, mendekat ke jendela. Ia memicingkan mata, membaca gerak air dan arah angin seperti membaca halaman buku lama.
“Sepertinya akan ada badai ombak.” katanya tenang, lalu menoleh pada Cristopher.
Cristopher berdiri di belakangnya, mengamati laut dari atas bahu Lily. Gelombang di kejauhan tampak lebih tinggi, hitam dan berat, seolah menelan cahaya bulan. Tanpa berkata apa pun, ia keluar dari ruangan.
“Naikkan kesiagaan penuh! Tutup palka bawah rapat-rapat!” Perintah King Cristopher menggema di seluruh kapal.
Para pengawal bergerak serentak. Pelayan berlari kecil, wajah-wajah tegang diterpa angin yang mulai meraung. Tali ditarik, peti diperkuat, layar disesuaikan agar tak robek oleh hempasan angin. Bunyi logam beradu dengan kayu bercampur suara ombak yang semakin ganas.
Dan benar saja, di tengah malam yang pekat, badai datang tanpa ampun. Angin menjerit seperti binatang liar. Ombak menghantam lambung kapal dengan kekuatan brutal. Kapal bergoyang ekstrem… naik lalu jatuh, seperti akan terbelah. Teriakan terdengar dari berbagai sudut, doa-doa berbisik bercampur tangis tertahan. Beberapa pelayan terjatuh, berpegangan pada dinding agar tidak terlempar.
Semua penghuni kapal dikumpulkan di satu ruangan yang paling stabil. Wajah-wajah pucat menatap satu sama lain. Pengawal menggenggam senjata bukan untuk bertarung, melainkan untuk menenangkan diri.
Cristopher berdiri di ruang kemudi, matanya tajam memantau arah kapal. Tangannya mencengkeram tepi meja peta saat ombak besar menghantam, membuat lantai miring tajam. Namun suaranya tetap stabil saat memberi instruksi.
“Perhatikan arah angin!” Suaranya kembali menggelegar, tak ada getaran ketakutan dalam nadanya.
Seorang pelayan mendekati Lily, tubuhnya gemetar meski berusaha menjaga sopan santun.
“Keadaan ini tidak aman, Putri. Putri bisa menunggu di dalam ruangan. Mari…” katanya menunduk hormat.
Semua orang menoleh pada Putri Lily yang tetap berdiri dengan tenang, meski rambutnya berantakan oleh angin laut. Tidak ada teriakan panik, apalagi air mata. Sama seperti pemiliknya, Eri berdiri di sampingnya, kokoh seperti penjaga batu.
“Kemana pun aku pergi tidak akan mengubah apa pun.” kata Lily tegas.
Ia menatap wajah-wajah panik itu satu per satu, lalu melanjutkan dengan logika yang dingin namun menenangkan.
“Sikap siaga sudah diaktifkan.” ucap Lily tenang. “Apakah kita memiliki sayap untuk terbang meninggalkan ombak ini?” katanya pelan. “Jika itu ada, aku pasti akan memakainya lebih dulu.”
Sudut bibirnya terangkat tipis, seperti memberi keyakinan.
“Sayangnya kita tidak memilikinya.” lanjutnya, “satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah tenang, bertahan, dan tetap di posisi masing-masing.”
Ucapan Lily jatuh di antara mereka seperti jangkar yang menahan badai. Kepanikan yang semula menggantung di udara perlahan surut, seolah setiap orang menyadari bahwa kegelisahan hanya akan menguras tenaga dan membuat segalanya semakin sulit.
Di dalam keheningan itu, satu per satu menarik napas lebih dalam. Bahu-bahu yang semula tegang mulai mengendur. Ketakutan itu tetap ada, namun kini lebih tertata dan terkendali.
Kekaguman tumbuh diam-diam di mata para pelayan dan pengawal. Putri di hadapan mereka tidak berteriak, tidak menangis, tidak mencari perlindungan. Ia berdiri tenang di tengah kekacauan, anggun dalam kesederhanaan, berani tanpa perlu membuktikan apa pun, dan cerdas dengan cara yang tidak memaksa.
Lily tidak memerintah, atau memberi hiburan palsu. Ia hanya berkata jujur, dan justru itulah yang membuat semua orang bertahan.
Cristopher mendengar semuanya dalam diam. Tatapannya menyapu ruangan. Para pengawal dan pelayan yang semula gemetar, kini mengakui keteguhan hati sang putri. Tanpa disadari, Lily telah menjadi poros ketenangan di tengah kekacauan. Ia tidak membutuhkan teriakan untuk didengar, tidak perlu kekuasaan untuk ditaati. Keberadaannya sendiri sudah cukup untuk mengubah suasana.
Saat ombak mulai reda, angin belum juga mau mengalah. Nahkoda menghampiri King Cristopher dengan wajah pucat. Air hujan membasahi mantel tebalnya, tangannya masih mencengkeram pegangan kemudi yang bergetar keras.
“Your Majesty,” katanya dengan suara tertahan cemas, “kompas magnetik kita rusak. Jarumnya berputar liar. Angin juga bergerak tak menentu, aku kehilangan patokan arah.”
Putri Lily melangkah maju saat Cristopher sedang membuka peta pertahanan terakhir. Gaunnya berkibar diterpa angin laut, rambutnya terurai sebagian, namun langkahnya tetap mantap. Ia berdiri di sisi kemudi, menatap keluar melalui jendela yang basah oleh hujan dan semburan ombak.
Lily mengangkat wajahnya ke langit malam. Di balik awan yang berarak cepat, ia menunggu dengan sabar seperti seseorang yang terbiasa membaca rahasia alam. Beberapa detik berlalu, lalu celah kecil di antara awan terbuka. Bintang Utara tampak samar, bergetar di kejauhan namun tetap setia pada posisinya.
“Itu dia,” gumamnya pelan, matanya berbinar.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣