NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Arunika melangkah keluar dari gedung fakultas dengan tatapan kosong namun langkah yang pasti. Ia mengendarai mobilnya menembus jalanan kota yang sibuk, namun pikirannya tertinggal di ruang kelas tadi—pada suara ponsel yang menghancurkan martabatnya dan punggung suaminya yang menjauh demi wanita lain.

​Sesampainya di apartemen, suasana sunyi menyambutnya. Aroma masakan sarapan tadi pagi masih tertinggal tipis di udara, menjadi pengingat pahit bahwa beberapa jam yang lalu, ia masih mencoba menjadi istri yang baik di dapur ini.

​Arunika berjalan perlahan menuju kamar pengantin mereka. Ia duduk di tepi ranjang yang masih berhiaskan kelopak mawar. Dengan tangan gemetar, ia mulai melepas satu per satu atribut yang membuatnya tampak seperti "istri Abimana". Ia menghapus riasannya hingga wajah aslinya yang pucat dan mata yang sembap terlihat jelas di cermin.

​"Kamu terlalu berharap tinggi, Nika." bisiknya pada bayangannya sendiri.

​Ia kemudian berdiri dan membuka lemari pakaian. Ia melihat kemeja-kemeja Abimana yang tergantung rapi di samping pakaiannya. Sebuah pemandangan yang seharusnya indah, namun kini terasa mencekam.

​Arunika tidak menangis histeris. Ia justru mulai bergerak dengan tenang namun mematikan. Ia mengeluarkan koper besarnya dari bawah tempat tidur. Ia tidak membawa semua barang, hanya pakaian-pakaian yang ia bawa saat pertama kali pindah ke sini. Ia tidak ingin menyentuh satu pun pemberian dari keluarga Permana saat ini.

​Di atas meja rias, ia meletakkan cincin pernikahannya yang berkilau. Di samping cincin itu, ia menaruh sebuah catatan singkat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat stabil, mencerminkan betapa dingin hatinya saat ini.

​Pahlawan tidak butuh pendamping di rumah, Mas. Silakan selesaikan urusanmu dengan masa lalumu. Aku pulang ke tempat di mana harga diriku masih dihargai, batin Arunika.

​Setelah menutup koper, Arunika memandang berkeliling ruangan itu untuk terakhir kalinya. Apartemen ini seharusnya menjadi saksi awal kehidupan baru, namun justru menjadi makam bagi harapan-harapannya.

​Ia menyeret kopernya keluar, melewati ruang tengah tempat Abimana membuang beskapnya semalam. Tanpa menoleh lagi, Arunika menutup pintu apartemen dengan bunyi klik yang pelan, meninggalkan kunci aksesnya di atas meja konsol.

​Malam mulai tiba, dan Arunika memutuskan untuk mematikan ponselnya. Ia tidak ingin mendengar satu pun alasan atau permintaan maaf yang mungkin akan dikirimkan Abimana setelah pria itu sadar akan kebodohannya.

​Di tempat lain, di bawah langit yang mulai meremang, Claudia masih terisak dalam dekapan Abimana. Ia memeluk pria itu begitu erat, seolah-olah sedang menambatkan seluruh hidupnya yang goyah. Suaranya terdengar serak, namun terselip nada kemenangan di balik tangisnya.

​"Aku yakin kamu datang, Abi! Kamu tidak akan membiarkan aku terluka, bukan?" ucap Claudia pelan, menyembunyikan wajahnya di dada Abimana.

​Aroma parfum Claudia yang sangat akrab memenuhi indra penciuman Abimana. Namun, kehangatan yang biasanya ia dambakan kini terasa asing. Justru, rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Abimana bergeming. Tangannya yang sempat terangkat untuk membalas pelukan itu mendadak kaku di udara.

​Pikirannya melayang jauh kembali ke ruang kelas. Ia terbayang tatapan mata Arunika—tatapan yang tidak lagi berisi amarah, melainkan kekecewaan yang membeku. Tatapan itu kini menghantuinya jauh lebih mengerikan daripada ancaman kematian Claudia.

​"Kamu sudah tenang, Cla?" tanya Abimana. Suaranya terdengar datar, hampa, tanpa sisa kecemasan yang tadi membuatnya berlari seperti orang kesurupan.

​Claudia mendongak, matanya yang basah menatap penuh harap. "Jangan tinggalkan aku lagi, Abi. Pernikahan itu hanya kesalahan, kan? Kamu datang karena kamu memilihku, bukan?"

​Abimana perlahan melepaskan cengkeraman tangan Claudia dari kemejanya. Ia memundurkan langkah, menciptakan jarak yang terasa begitu lebar dan tak bertepi. Kesadaran menghantamnya telak—ia baru saja menghancurkan reputasinya, meninggalkan tanggung jawab sebagai pendidik, dan yang paling fatal, ia telah mengkhianati janji suci yang baru seumur jagung.

​"Aku datang karena aku tidak ingin ada nyawa yang hilang, Claudia. Bukan karena alasan lain." ucap Abimana dingin. Matanya menatap lurus ke arah jalanan dari ketinggian, enggan menatap wanita di depannya.

​"Apa maksudmu?" wajah Claudia menegang.

​"Aku harus pulang." lanjut Abimana tanpa memedulikan pertanyaan itu. Rasa panik yang berbeda kini menyerangnya. Bagaimana jika Arunika benar-benar pergi? Bagaimana jika semua pintu maaf sudah tertutup?

​"Abi! Kamu tidak bisa pergi! Aku akan benar-benar melakukannya jika kamu melangkah pergi!" teriak Claudia histeris, mencoba menggunakan kartu terakhirnya lagi.

​Abimana berhenti. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang belum pernah Claudia lihat sebelumnya—sebuah tatapan lelah yang amat sangat.

​"Lakukanlah jika itu maumu, Cla. Tapi hari ini aku sadar, dengan datang ke sini, aku bukan hanya sedang menghancurkan diriku sendiri, tapi aku juga sedang membunuh wanita yang seharusnya aku lindungi."

​Tanpa menoleh lagi, Abimana berlari menuju parkiran. Ia mengemudikan mobilnya dengan kalap, melanggar lampu merah dan mengabaikan klakson yang memekak, demi sampai ke apartemen secepat mungkin. Di dalam hati, ia merapalkan satu permohonan yang putus asa.

​Tolong, Nika... tetaplah di sana. Jangan pergi dulu.

​Sesampainya di lobi, Abimana tidak sanggup menunggu lift dengan tenang. Begitu pintu apartemen terbuka, kesunyian yang mencekam menyambutnya. Aroma nasi goreng pagi tadi telah hilang, digantikan oleh udara dingin yang tak berpenghuni.

​"Arunika?" panggilnya dengan suara yang bergetar hebat.

​Hening. Tidak ada sahutan. Tidak ada suara langkah kaki.

​Abimana berlari menuju kamar mereka. Langkahnya terhenti tepat di depan meja rias. Di sana, di atas permukaan kaca yang dingin, cincin pernikahan mereka tergeletak bisu. Di sampingnya, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan stabil—mencerminkan betapa bulat keputusan sang penulis.

​"Pahlawan tidak butuh pendamping di rumah, Mas. Silakan selesaikan urusanmu dengan masa lalumu. Aku pulang ke tempat di mana harga diriku masih dihargai."

​Abimana luruh. Ia jatuh terduduk di lantai, meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. Air mata penyesalan yang terlambat jatuh membasahi pipinya. Ia baru saja menyadari bahwa dalam upayanya menjadi pahlawan bagi masa lalu yang telah usai, ia baru saja kehilangan masa depan yang baru saja dimulai.

​Bugh! Bugh!

​Abimana memukul lantai marmer yang dingin dengan kepalan tangannya, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di buku jarinya. Keheningan apartemen itu sekarang terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya. Suara Arunika yang tenang saat memperingatkannya di kelas tadi terus bergema, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Bodoh... kenapa kamu bodoh sekali, Abimana!" raungnya tertahan, suaranya parau tertutup isakan yang menyesakkan dada.

​Ia menatap cincin yang ditinggalkan Arunika. Benda melingkar itu tampak begitu dingin dan asing, seolah-olah sedang menertawakan kenaifannya. Ia mengira bisa menjadi "pahlawan" dengan menyelamatkan Claudia, tanpa sadar bahwa ia sedang menjadi "penjahat" yang menikam jantung istrinya sendiri di depan umum.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!