Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 21
Sabtu itu cerah, matahari menggantung tenang di atas kampus lamanya. Di tepian danau yang dikenal dengan nama Danau Cinta, Zaidan duduk sendiri di bangku kayu yang menghadap langsung ke permukaan air. Riak kecil bergerak pelan, memantulkan cahaya pagi dan bayangan pepohonan yang berjajar rapi di sekelilingnya.
Zaidan menyandarkan punggung, kedua tangannya bertaut di depan perut. Pandangannya kosong, menembus danau seolah ada sesuatu jauh di balik sana yang sedang ia pikirkan. Padahal, beberapa jam lalu ia datang dengan tujuan jelas, yakni menemui dosen pembimbing skripsinya yang sejak lama tertunda karena kesibukan kerja. Namun kini, justru pikirannya melayang ke hal lain.
Entah sudah berapa menit ia duduk seperti itu, sampai suara langkah kaki mendekat memecah lamunannya.
“Wih… polisi galau di Danau Cinta?”
Zaidan menoleh. Jonathan berdiri di samping bangku, mengenakan kaus polos dan ransel yang disampirkan satu bahu. Rekan satu kerja, sekaligus teman satu angkatan kuliah yang sudah sangat ia kenal gaya bercandanya.
“Ngaco,” jawab Zaidan singkat, lalu kembali menatap danau.
Jonathan tidak langsung pergi. Ia malah duduk di sebelah Zaidan, ikut memandang air danau. “Serius. Dari jauh kelihatan bengong banget. Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa,” jawab Zaidan cepat, terlalu cepat.
Jonathan meliriknya sekilas. “Jawaban standar orang yang jelas-jelas lagi mikir berat.”
Zaidan menghela napas pelan. Kali ini ia tidak membantah, tapi tetap diam.
Jonathan menyandarkan siku di lututnya. “Oh ya, gue dapet info kemarin,” katanya santai, seolah membicarakan hal biasa. “Dari anak PPA.”
Zaidan spontan menoleh. “Info apa?”
Jonathan tersenyum tipis, menangkap reaksi temannya itu. “Perkembangan emosi Zahra.”
Zaidan terdiam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia berusaha tetap tenang. “Terus?”
“Kata mereka, kondisinya jauh lebih stabil sekarang. Dulu kan konsulnya seminggu sekali terus jadi dua minggu sekali, ya? Sekarang cukup sebulan sekali aja.” Jonathan menepuk bahu Zaidan ringan. “Itu artinya bagus banget.”
Zaidan menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. Ada rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya. “Syukurlah,” gumamnya.
“Lo kedengaran kayak orang yang nunggu kabar itu,” canda Jonathan.
Zaidan tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Cuma… pengin tahu aja kalau dia baik-baik saja.”
Jonathan berdiri, merapikan ranselnya. “Kadang, Dan, peran kita cukup sampai di situ. Pastikan orang itu bisa berdiri lagi. Setelah itu, ya… biarkan dia jalan sendiri.”
Zaidan mengangguk pelan. Ia kembali menatap Danau Cinta yang berkilau diterpa matahari. Untuk pertama kalinya pagi itu, lamunannya terasa lebih ringan.
“Kecuali—.” Ucapan Jonathan menggantung dan kembali menarik perhatian Zaidan yang kini mendongakkan kepalanya, menatap wajah Jonathan yang berdiri di sampingnya.
Jonathan menahan tawanya melihat ekspresi Zaidan yang jelas menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
“Kecuali lo cinta, Dan. Perjuangkan kalau cinta.”
Bahu Zaidan langsung turun dan lemas seketika. Ia hanya diam dan kembali menatap ke arah danau. “Kalau ngomong nggak usah ngelantur.”
“Dan, lo kalau mau bohong ke diri sendiri terserah. Jelas lo nggak bisa bohong ke gue,” ucap Jonathan dengan nada serius.
“Dari sorot mata lo itu jelas banget, kalau lo tertarik bahkan suka sama Zahra,” sambungnya.
“Dia udah nolak gue,” ucap Zaidan pelan setelah ia diam beberapa saat.
Mendengar jawaban sang sahabat, Jonathan kemudian kembali duduk di tempatnya semula.
“Serius lo ditolak? Lo udah nembak dia, Dan?” tanyanya beruntun dengan nada penasaran.
Zaidan menarik napasnya berat dan pelan. Ia rasa dirinya memang harus berdiskusi masalah ini dengan seseorang.
“Gue belum nembak dia, belum juga ngungkapin perasaan gue. Tapi dia bilang, dia nggak mau buat ketemu gue lagi.” Zaidan menceritakan pada Jonathan tentang ucapan Zahra padanya malam itu, saat terakhir pertemuan mereka.
Kini gantian, Jonathan yang menarik napasnya berat.
“Gue kalau dia juga bakalan ngelakuin hal yang sama.”
Ucapan Jonathan itu sontak membuat Zaidan menoleh cepat ke arahnya dengan sorot mata tajam bak ingin mencabik-cabik tubuh Jonathan.
“Maksud lo apaan?”
“Wih… santai, bro. Nggak usah sampai begitu ngeliat gue.” Jonathan bahkan mengulurkan kedua tangannya ke depan, mencoba menenangkan pria galau yang ada di depannya.
Zaidan masih terus menatapnya tajam, bahkan hingga membuat Jonathan merinding.
“Gini nih, antara nggak peka atau belum berpengalaman.”
“Lo bisa nggak sih, nggak usah muter-muter ngomongnya!” Zaidan mulai merasa sang sahabat hanya ingin mengolok-olok dirinya saja.
“Ada alasan pasti, kenapa sampai Zahra minta lo buat ngejauhin dia, bahkan lo sendiri belum ngungkapin isi hati lo ke dia.” Jonathan melihat Zaidan mulai sedikit tenang dan bahkan kini mulai menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
“Pertama, yang pasti dia merasa minder. Kalau bahasa anak sekarang itu insecure.”
Zaidan tampak mengernyitkan dahinya.
“Yah… nggak paham juga.” Jonathan menarik napasnya dalam.
“Zahra itu kerjanya cuma seorang penjaga minimarket dua puluh empat jam. Lo sendiri juga bilang kalau dia tinggal sama ibunya di rumah kontrakan kecil di lingkungan padat penduduk. Zahra itu juga cuma tamatan SMA. Sedangkan lo? Lo itu perwira polisi, pangkatnya Iptu dan sebentar lagi akan jadi AKP. Ini aja sudah menunjukkan kesenjangan sosial diantara kalian.”
“Tapi gue nggak pernah mempermasalahkan status sosial orang kayak gitu, bro. Keluarga gue juga nggak ada yang kayak gitu,” jelas Zaidan berapi.
“Kata lo. Kata dia nggak,” jawab Jonathan cepat.
Zaidan kembali diam. Dalam hatinya ia pun setuju dengan ucapan sahabatnya itu.
“Dan… ada satu lagi alasannya, yang menurut gue jadi alasan terbesarnya Zahra.”
“Apaan?” Zaidan mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping, mendekat ke arah Jonathan.
“Ini info gue dapat langsung dari si Maya, anak PPA. Katanya… apa yang kita tahu tentang Zahra itu belum ada apa-apanya. Kesakitan yang Zahra rasain itu jauh lebih besar dari yang kita kira,” ucap Jonathan dengan suara pelan.
“Maksud lo? Emang apaan?”
Jonathan menggeleng pelan. “Gue nggak tahu pasti. Maya nggak mau cerita panjang juga. Kode etik katanya.”
Zaidan mengangguk. Ia paham, ada kode etik yang harus dijalani oleh rekannya itu.
“Tapi Maya cerita ke gue itu sampai berkaca-kaca matanya, Dan.”
Zaidan kembali diam. Ia mulai memikirkan apa kira-kira yang terjadi sebenarnya dengan Zahra. Apa yang belum dirinya ketahui tentang wanita itu.
“Menurut lo… apaan, Dan?” Kini Jonathan yang bertanya dengan nada penasarannya.
Zaidan menggeleng pelan. “Gue nggak tahu, Jo.”
Keduanya kini beralih menatap ke arah danau, dan tanpa sengaja mereka menghembuskan napas secara bersamaan.
“Berat, Dan usaha lo ke depannya. Kalau lo emang benar-benar serius sama Zahra, lo harus tunjukin keseriusan lo itu.”
Zaidan termenung, menatap jauh ke arah danau yang tenang itu.
“Apa yang nggak aku tahu tentang kamu, Ra?”
...****************...
Jangan lupa like, komen, dan kopi buat author ya ❤️❤️❤️ Ini lagi penilaian retensi soalnya. Dukung author ya biar lulus retensinya 🙏🙏😘