Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Keesokan harinya, keduanya terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Zayn yang lebih dulu terbangun, tersenyum tipis memandang wajah teduh sang istri. Dengan lembut dan penuh kasih, ia membangunkan Nafiza yang masih terlelap di dalam pelukannya. Sentuhan lembut Zayn di pipi membuat Nafiza terusik dan perlahan membuka matanya.
"Sayang, bangun yuk. Udah mau masuk waktu subuh," bisik Zayn lembut di telinganya, membuat Nafiza merinding karena sentuhan nafas hangat Zayn.
Nafiza mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya redup dari lampu tidur. Begitu matanya terbuka sempurna Ia tersenyum manis menatap wajah makhluk tampan di hadapannya.
"Udah jam berapa, Mas?" tanya Nafiza dengan suara serak khas bangun tidur.
Zayn mengecup kening Nafiza dengan lembut. "Udah mau subuh, Sayang. Kita bersih-bersih dulu lalu shalat ya," jawab Zayn lembut.
Nafiza mengangguk dan membalas kecupan Zayn di pipinya. "Iya, Mas. Ayo," ucap Nafiza sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.
Zayn membantu Nafiza untuk duduk, lalu mengantarnya menuju kamar mandi. Setelah itu, mereka berdua menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim dengan khusyuk dan penuh syukur.
Setelah selesai shalat, Zayn dan Nafiza bersiap-siap untuk sarapan. Mereka menikmati sarapan mereka dengan tenang, sambil bertukar cerita tentang rencana mereka hari ini.
Setelah sarapan, mereka bersiap-siap untuk pulang ke mansion Zayn.
Tak butuh waktu lama dari hotel ke mansion Zayn hanya butuh waktu 30 menitan. Sesampainya di mansion Zayn, mereka disambut hangat oleh Maya, Mommy-nya Zayn. Sedangkan Daddy Zayn sudah berangkat kantor.
"Selamat datang di mansion, Sayang!" sapa Maya dengan senyum lebar, menyambut Nafiza dengan pelukan hangat. "Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanyanya ramah pada Nafiza, bahkan ia seolah mengabaikan Zayn, anak kandungnya sendiri.
Zayn yang melihat itu hanya bisa berdegus pelan, namun ia juga merasa senang karena keluarganya menerima Nafiza dengan sangat baik. Ia tahu, Nafiza akan merasa nyaman dan bahagia berada di tengah-tengah keluarganya.
"Alhamdulillah, Naf baik, Mommy," jawab Nafiza lembut, membalas pelukan Maya dengan erat.
"Alhamdulillah. Apa Zayn memperlakukan kamu dengan baik?" tanya Maya lagi, menatap Nafiza dengan tatapan menyelidik.
Nafiza menatap Zayn sekilas, lalu tersenyum manis. "Mas Zayn memperlakukan Naf dengan sangat baik, Mommy. Dia selalu perhatian dan sayang sama Naf," jawab Nafiza lembut, membuat hati Zayn menghangat.
"Benarkah? Zayn memperlakukan kamu dengan baik? Mommy sedikit ragu pada pria dingin itu!" canda Mommy Zayn, lalu terkekeh pelan melihat raut wajah Zayn yang masam.
"Mommy!" tegur Zayn pura-pura kesal. Ia tidak suka Mommy-nya menggoda dirinya di depan Nafiza.
"Iya, iya. Mommy cuma bercanda," balas Maya namun senyum jahil masih menghiasi bibirnya
"Mommy senang kalau kamu bahagia, Zayn. Mommy senang kamu akhirnya menemukan wanita yang tepat untukmu," tambahnya dengan tulus, menatap Zayn dan Nafiza dengan tatapan yang penuh dengan cinta dan perhatian.
"Terima kasih, Mommy," ucap Zayn lembut, memeluk Mommy-nya dengan erat. Ia sangat menyayangi Mommy-nya dan bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Meskipun terkadang ia sering kena kejahilan Mommy-nya.
Maya berjalan beriringan dengan nafiza masuk ke dalam mansion dan duduk di ruang keluarga. Mereka bercerita tentang banyak hal, mulai dari pengalaman mereka selama staycation di hotel, hingga rencana mereka untuk masa depan.
"Oh ya, Sayang, Mommy mau minta sesuatu sama kalian" ucap Mommy Zayn tiba-tiba, menatap Nafiza dengan tatapan serius.
Nafiza menatap Mommy Zayn dengan bingung. "Mau minta apa, Mommy?" tanyanya dengan nada penasaran.
"Mommy mau ... mau kalian untuk segera memberikan Mommy cucu!" ujar Maya dengan nada bersemangat, membuat Nafiza tersipu malu.
Zayn yang mendengar itu langsung tersedak minumannya. Ia tidak menyangka Mommy-nya akan mengatakan hal itu di depan Nafiza secepat itu.
"Mommy!" tegur Zayn lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras. Ia merasa malu dan tidak nyaman dengan ucapan Mommy-nya.
"Kenapa sih, Zayn? Mommy kan cuma bilang mau punya cucu. Emang salah?" balas Mommy Zayn dengan nada polos, membuat Nafiza tertawa kecil.
"Iya, Mas. Mommy kan cuma pengen punya cucu," timpal Nafiza dengan nada menggoda, membuat Zayn semakin salah tingkah.
"Nafiza!" tegur Zayn dengan nada yang pura-pura kesal, membuat Nafiza dan Maya terkekeh pelan.
"Ya sudah, Mommy nggak akan ganggu kalian lagi," ucap Mommy Zayn sambil tersenyum jahil. "Mommy cuma mau bilang, Mommy selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Mommy sayang kalian berdua," tambahnya dengan tulus.
________&&_______
Pagi harinya, Nafiza terbangun lebih awal dari biasanya. Setelah menunaikan shalat subuh dengan khusyuk, ia merasakan dorongan kuat untuk melakukan sesuatu yang istimewa untuk suami dan mertuanya. Ia ingin menunjukkan rasa terima kasihnya atas cinta dan penerimaan yang telah mereka berikan.
Dengan langkah ringan, Nafiza menuruni tangga menuju dapur. Ia ingin menyiapkan sarapan untuk Zayn mertuannya.
Sesampainya di dapur, Nafiza melihat beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan makanan. Ia tersenyum ramah kepada mereka, lalu mulai mengambil alih tugas mereka.
Dengan cekatan, Nafiza mulai memasak berbagai macam hidangan. Ia membuat nasi goreng spesial dengan resep rahasianya, telur dadar yang gurih dan lezat, serta sayur tumis yang segar dan bergizi. Ia juga tidak lupa menyiapkan teh hangat serta segelas susu hangat untuk sang suami.
Para pelayan menatap kagum pada sosok nyonya muda mereka. Meskipun mereka tidak bisa melihat wajah Nafiza karena tertutup cadar, mereka yakin bahwa Nafiza pasti sangat cantik. Aura kecantikan terpancar dari sorot matanya yang lembut dan ramah. Mereka juga terkesan dengan keahlian memasak Nafiza yang luar biasa.
Tak lama kemudian, Mommy Maya ikut bergabung di dapur. Ia terkejut melihat menantunya sudah lebih dulu berada di dapur dan sedang sibuk memasak.
"Sayang, kamu sudah bangun?" sapa Mommy Maya lembut, menghampiri Nafiza dan memeluknya dengan sayang.
"Iya, Mom. Naf mau masak buat Mas Zayn," jawab Nafiza lembut, membalas pelukan Mommy Maya dengan erat.
Mommy Maya tersenyum bangga melihat menantunya yang begitu perhatian dan penyayang. "Wah, Zayn sangat beruntung ya. Punya istri cantik, pintar masak lagi," puji Mommy Maya tulus.
Nafiza tersipu malu mendengar pujian dari ibu mertuanya. "Ah, Mommy bisa aja. Di sini Naf yang beruntung, Mommy, punya suami yang sangat baik dan pengertian," balas Nafiza rendah hati. "Terima kasih ya, Mommy," tambahnya dengan tulus.
"Terima kasih buat apa, Sayang?" tanya Maya bingung.
"Terima kasih sudah mempercayai Naf untuk mendampingi putra Mommy yang nyaris sempurna itu," jawab Nafiza dengan senyum manis.
Mommy Maya tertawa kecil mendengar ucapan Nafiza. "Kamu bisa aja, Sayang. Mommy senang banget tahu Zayn yang dingin dan gila kerja ternyata bisa mencair juga," ucap Maya, menatap Nafiza dengan tatapan yang penuh dengan kasih sayang.
"Kamu sangat hebat, Sayang," tambahnya sambil terkekeh pelan.
Bersambung ....
farhan semoga tdk ada kebahagiaan buat mu. gedek banget laki tukang selingkuh dan wanita pelakor. hhh.
menjijikan