Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Kembali 25
"Benar kan ini alamatnya? Waaah dinginnya, tapi beneran enak hawanya. Seger, dingin, dan menenangkan. Pantes saja dia suka ada di sini. Aku belum pernah ketemu langsung sama anak-anaknya, tapi aku yakin bener ini rumahnya."
Seseorang tengah memastikan bahwa tempat yang dituju tidak lah salah dengan melihat map yang ada di ponselnya. Dia tadi sudah mengetuk pintu dan seorang anak kecil yang membukanya.
Hanya melihat sekilas saja, dia yakin bahwa dirinya tak salah tempat. Ada untungnya kemarin dia mendatangi pria itu. Meski mendapat bogem mentah, setidaknya dia mendapatkan alamat yang dituju secara akurat.
"Maaf cari siapa ya? Kamu, mau apa kamu datang kesini hah!"
Suara yang memekik dan terdapat kemarahan di dalamnya itu adalah suara pria yang ingin ditemuinya. Tak masalah meskipun dia mendapat umpatan karena tujuannya datang ke sini adalah minta maaf.
Danindra, ya pria itu adalah Dani. Dia datang ke tempat Rohan dengan berbekal alamat yang diberikan oleh Gery.
"Aku ke sini mau minta maaf sama kamu dan juga anak-anak. Aku beneran salah, dan menyesal karena udah bikin kalian kayak gini. Aku bener-bener minta maaf Rohan,"ucap Dani dengan sungguh-sungguh.
Mata Rohan memicing, jelas sekali dia tidak percaya. Bahkan saat ini dia ingin kembali menghajar pria itu lagi karena saat terakhir kali, dia belum puas melakukannya.
"Tunggu di situ, jangan pernah nginjekin kaki kamu di rumah ku,"ucap Rohan tegas.
Dani yang pasrah. Apapun yang akan dilakukan oleh pria itu, dia benar-benar pasrah.
Sedangkan Rohan, dia masuk ke rumah. Entah apa yang dilakukannya, Dani jelas tidak tahu.
Akan tetapi selang beberapa menit, datang seorang gadis dan masuk begitu saja ke rumah Rohan.
"Siapa gadis itu?" tanya Dani penasaran.
Di dalam rumah, lagi-lagi Rohan merasa bersalah dan tidak enak kepada Bestari. Berkali-kali dia meminta maaf kepada gadis itu.
"Aku beneran minta maaf udah ganggu kamu pagi-pagi begini,"ucap Rohan. Dia merasa tidak bisa menatap Bestari karena rasa bersalahnya itu yang sudah membuat Bestari ada di rumahnya pagi-pagi begini.
Terlebih Bestari adalah seorang wanita. Pasti akan banyak rumor yang beredar. Dia sungguh tidak enak. Akan tetapi jika bukan Bestari, tak ada yang bisa dia percaya untuk menjaga Riesha yang masih tidur dan Rishi. Dan juga anak-anak sudah bisa menerima Bestari yang mana mereka masih sangat waspada terhadap orang lain.
"Elaah, kayak sama siapa aja sih Om Dud. Tenang aja, anak-anak aman kok. Lebih baik segera pergi biar urusan Om Dud segera kelar,"sahut Bestari.
Bagi gadis itu, pemintaan Rohan bukanlah sebuah beban melainkan kesenangan. Dia juga sangat bersyukur karena Rohan benar-benar percaya padanya.
"Baiklah, aku beneran minta tolong dan minta maaf ya. Aku pergi sebentar. Aku janji nggak akan lama,"balas Rohan.
Bestari hanya mengangguk sambil tersenyum. Membersamai anak-anak Rohan bukanlah sesuatu yang sulit. Yang ada malah mudah karena anak-anak tersebut sangat mudah diajak kerja sama. Rishi yang sangat dewasa dan Riesha yang menggemaskan. Mereka juga anak-anak penurut yang tidak banyak menuntut.
"Nah sayang, mau makan apa pagi ini?" tanya Bestari kepada Rishi.
"Tadi ayah bikin roti, tapi kayaknya belum matang. Kalau kakak nggak repot, bisa kah membuatkan ku telor ceplok aja?" jawab Rishi dengan ragu-ragu. Anak kecil itu seolah takut, dan Bestari sungguh penasaran kenapa Rishi begitu.
"Tentu saja nggak repot dong. Bikin telor ceplok doang mah keciiiil. Nah mau lihat kakak bikinnya? Mari kita ke dapur."
Betari tersenyum riang, dia juga menggandeng Rishi dan membawanya ke dapur. Wajah yang tadi nampak tegang itu sudah mulai mengendur. Bestari sungguh ingin tahu mengapa Rishi bersikap demikian. Akan tetapi dia tidak mau langsung bertanya. Anak itu sudah dewasa, dia yakin nanti Rishi akan bercerita dengan sendirinya tanpa dipaksa.
Udara yang dingin, pagi yang masih berselimut dengan kabut dan juga embun, terasa hangat di dalam rumah. Rishi bisa merasakan kehangatan itu dari sweater tebal yang dipakaikan ayahnya, tapi tak hanya itu. Dia juga merasa hangat dengan setiap tindakan Bestari kepadanya.
Berbeda dengan suasana di luar. Dingin yang bisa menembus baju dan kabut yang terasa basah itu cukup membuat ketegangan semakin terasa. Itu yang dirasakan Dani sekarang ketika berjalan di belakang Rohan. Tidak tahu kemana Rohan akan membawanya pergi, ia hanya terus mengikuti pria itu tanpa berbicara sepatah katapun.
Sreet
Rohan menghentikan langkahnya. Mereka kini berdiri di sisi jalan yang kanan kirinya terdapat kebun sayur. Sungguh terlihat sangat indah dan tentunya menyegarkan bagi Dani yang tak pernah melihatnya.
"Apa tujuanmu yang sebenernya?" tanya Rohan. Dia tak menatap wajah Dani dan memilih untuk melihat hamparan tanaman yang ada di depannya.
"Seperti yang aku katakan padamu tadi, aku datang ke sini untuk minta maaf ke kamu. Aku beneran ngerasa salah ke kamu, Rohan. Dan juga ke anak-anak. Aku beneran ngerasa sangat bersalah kepada anak-anak,"jawab Dani dengan sungguh-sungguh.
Sehari semalam melakukan perjalanan ke sini tentu bukan hal yang mudah baginya. Dia bahkan mengendarai mobilnya sendiri.
"Cih, aku nggak percaya dengan ucapanmu itu."
"Tolong, percaya sama aku. Aku beneran minta maaf. Aku salah dan aku udah ngerasain karmanya langsung. Sakit hati yang kamu rasain, aku udah ngerasain juga. Bukan niatku buat njelek-njelekin Ista, tapi Ista sungguh bukan wanita yang baik Rohan. Tunggu, jangan marah dulu,"ucap Dani ketika melihat mata Rohan yang membelalak. Rahang pria itu mengeras tanda dia marah saat ini.
Akan tetapi Dani merasa bahwa dia harus menyampaikan apa yang dialaminya.
"Rohan, Ista beneran bukan wanita yang baik. Dan begitu juga dengan aku. Tapi aku sadar akan hal itu makanya aku datang kemari buat minta maaf ke kamu. Jujur aku pun nggak berharap kamu akan maafin aku setelah apa yang aku lakukan kepada kamu dan anak-anak. Tapi Rohan, mungkin jika bukan aku akan ada pria lain yang membuat kamu dan Ista berpisah. Belum lama ini, aku melihatnya bersama pria lain di kamarnya. Hatiku sakit, dan akhirnya aku sadar,bagaimana sakitnya kamu waktu itu. Aku minta maaf. Dan sungguh aku berharap kamu bisa bahagia sekarang. Maaf juga kalau aku lancang, Rohan. Tapi ku harap kamu jangan pernah kembali dengan Ista. Itu saja."
Sepanjang mendengar ucapan Dani, Rohan menahan nafasnya. Dia tidak menyangka bahwa Ista melakukan hal itu. Tapi tatapan mata Dani ketika bicara itu bukanlah kebohongan. Pria itu tidak mengada-ada.
"Ista, kenapa kamu jadi kayak gini sih sekarang?" Rohan bergumam lirih. Ia menghembuskan nafasnya di tengah udara dingin di sisi jalan yang sangat sepi.
TBC