Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.
Sesampainya di kamar, Vira langsung membuka pesan dari Darrel. Isinya singkat, "Hai, sedang apa? Apa kamu sampai di rumah dengan selamat?" Bibir Vira terkembang senyuman, perasaannya membuncah. Hatinya terasa ingin meledak.
Vira memeluk ponselnya erat-erat, seolah-olah sedang memeluk Darrel. Jantungnya berdebar kencang, dan kedua pipinya merona merah. Ia merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Ya ampun, kenapa aku jadi kayak gini, sih?" gumam Vira sambil tertawa kecil.
Ia kemudian membalas pesan Darrel. "Hai juga! Alhamdulillah, aku sampai rumah dengan selamat. Kamu lagi apa, sekarang?"
Setelah mengirim pesan itu, Vira kembali tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa sangat bahagia.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. "Adik, boleh Mama masuk?" tanya Mama Risa dari luar.
Vira terkejut. Ia segera menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.
"Sebentar, Ma!" serunya. Ia segera menghapus senyum di wajahnya dan mencoba bersikap biasa saja.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Vira membuka pintu kamarnya. Mama Risa masuk dengan senyuman lembut di wajahnya.
"Mama ganggu nggak, Dik?" tanya Mama Risa sambil duduk di tepi tempat tidur Vira.
"Enggak kok, Ma," jawab Vira berusaha tenang.
"Mama lihat Adik buru-buru pergi dari meja makan. Ada, apa? Apa ada masalah?" tanya Mama Risa dengan nada lembut namun menyelidik.
Vira menunduk, memainkan ujung bajunya. Ia merasa ragu untuk bercerita pada Mamanya.
"Adik bisa cerita apa saja sama Mama," kata Mama Risa lembut. "Mama akan menjadi pendengar yang baik."
Vira mengangkat wajahnya dan menatap Mama Risa dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Sebenernya... aku, aku tertarik sama seseorang, Ma," ucap Vira pelan.
Mama Risa tersenyum. "Oh, ya? Siapa dia pemuda yang beruntung itu, sampai membuat putri mama yang cantik ini tertarik? Pasti dia pemuda yang istimewa," godanya.
Vira menarik napas dalam-dalam. "Namanya Darrel..."
Mama Risa terkejut. "Darrel? Serius kamu, Dik? Darrel owner aplikasi KopiKeliling itu?" tanyanya.
Vira mengangguk. "Iya, Ma. Aku...waktu itu..." Vira lantas menceritakan secara singkat pertemuannya dengan Darrel.
Mama Risa tersenyum. Ia senang melihat putrinya akhirnya menemukan seseorang yang ia sukai.
"Mama senang mendenger kamu cerita, Sayang," kata Mama Risa. "Mama dukung apapun yang membuat kamu bahagia."
Vira memeluk Mama Risa dengan erat. "Makasih ya, Ma," bisiknya.
Setelah beberapa saat, Vira melepaskan pelukannya. Ia kembali menunduk, terlihat ragu.
"Tapi... ada satu hal yang membuat aku khawatir, Ma," ucap Vira pelan.
Mama Risa mengerutkan kening. "Khawatir kenapa, Sayang? Apa Darrel punya masalah?"
Vira menggeleng. "Bukan, Ma. Darrelnya orangnya baik. Tapi... dia seorang duda, Ma."
Mama Risa terdiam sejenak.
"Duda? Maksudnya, dia pernah menikah?" tanya Mama Risa memastikan.
Vira mengangguk. "Iya, Ma. Dan dia punya dua anak."
Mama Risa kembali terdiam. Ia mengerti, Vira merasa ragu karena status Darrel yang sudah memiliki anak.
"Mama ngerti perasaan kamu, Sayang," kata Mama Risa lembut. "Ini bukan keputusan yang mudah."
Vira mengangkat wajahnya dan menatap Mama Risa dengan mata berkaca-kaca. "Aku bingung, Ma. Aku suka sama dia, tapi...." Vira menghentikan ucapannya.
Mama Risa meraih tangan Vira dan menggenggamnya dengan erat. "Dengerin Mama, Sayang. Cinta itu nggak mengenal status. Adik sudah dewasa, kalau memang hatimu sudah memilihnya pastikan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu."
"Jangan sampai perasaanmu bertepuk sebelah tangan," sambungnya sambil membelai lembut kepala sang putri.
"Tapi, Ma... Apa Mama tidak keberatan seandainya aku berhubungan seorang duda dan punya anak?" tanya Vira ragu.
Mama Rissa menggeleng. "Tidak ada peraturan bahwa seorang gadis harus mendapatkan jodoh perjaka atau seorang duda harus dengan janda, kan?" jawab Mama Risa. "Yang penting, kalian saling mencintai dan bisa menerima satu sama lain."
Mama Risa menghela napas. "Mama nggak akan maksa Adik untuk mengambil keputusan sekarang. Pikirkan baik-baik, pertimbangkan semua hal. Dan yang pasti, Adik harus bahagia."
Vira mengangguk pelan. Ia merasa sedikit lega setelah berbicara dengan Mamanya.
Mama Risa memeluk Vira dengan sayang. "Apapun keputusan Adik, Mama akan selalu mendukung," bisiknya.
Vira tersenyum, ia merasa bahagia, mamanya sangat mendukung dan bijaksana. Ia juga sangat bersyukur memiliki keluarga yang tidak memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya.
.
.
Di sisi lain, Darrel sangat gelisah malam ini. Dia sedang memeriksa grafik aplikasi KopiKeliling, tetapi pikirannya justru ke tempat lain. Dia tidak berhenti memikirkan Vira. Seorang gadis yang menurutnya sangat unik. Tidak jaim dan apa adanya. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang hanya dengan memikirkan gadis itu.
Darrel mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan kepada Vira. "Hai, sedang apa? Apa kamu sampai rumah dengan selamat?" Dia lalu menekan tombol kirim.
Tak lama kemudian dia mendapatkan balasan. "Hai juga! Alhamdulillah, aku sampai rumah dengan selamat. Kamu lagi apa, sekarang?"
Darrel tersenyum, hatinya berbunga-bunga. "Apa aku jatuh cinta sama gadis itu?" gumamnya pelan sambil menertawakan dirinya sendiri.
"Ingat, Rel. Kamu itu bukan lagi anak remaja, tapi kamu bapak dua anak. Mana mungkin dia menyukaimu?" Darrel mencoba merasionalisasi perasaannya.
Namun, rasa penasaran dan harapan kecil di hatinya mengalahkan logikanya. Dia lalu mengetikkan kata kunci di kolom pencarian Google: "Tanda-tanda wanita menyukai pria duda."
Berbagai artikel dan forum bermunculan di layar ponselnya. Darrel mulai membaca satu per satu dengan seksama. Dia mencari tahu apakah ada tanda-tanda yang sesuai dengan perilaku Vira terhadapnya.
Dia membaca tentang bagaimana wanita yang menyukai pria duda akan berusaha dekat dengan anak-anaknya, memberikan perhatian lebih, dan selalu berusaha membuat pria itu merasa nyaman. Semakin banyak dia membaca, semakin besar pula harapan di hatinya.
"Apa mungkin Vira juga merasakan hal yang sama?" bisiknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, menandakan ada pesan masuk. Darrel segera membuka pesan itu.
Di layar ponselnya, tertera nama Vira. Dengan jantung berdebar kencang, Darrel membuka pesan itu.
"Pak Darrel, bisa kita ketemu besok? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak."
Darrel terpaku menatap layar ponselnya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Vira ingin bertemu dengannya? Apa yang ingin ia bicarakan?
Darrel membalas pesan Vira dengan cepat, "Oke, besok jam berapa dan di mana?"
"Saya akan hubungi besok tempatnya setelah saya pulang kantor," balas Vira
Setelah membaca pesan balasan dari Vira, Darrel kemudian mematikan lampu kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Namun, dia tidak bisa tidur. Rasa gelisah dan penasaran bercampur aduk menjadi satu. Pikirannya terus melayang-layang memikirkan Vira. Dia tidak sabar menunggu esok hari tiba dan pertemuan mereka besok.