Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANGAN YANG BERANTAKAN
“Yuk, Murni. Cuma liat aja dulu deh, biar kamu tahu aku kerja dimana dan tinggal dimana sekarang,” ujar Aksa sambil membuka pintu gerbang area perumahan kontrakan karyawan perusahaan baru dia. Suasana sore yang sedikit panas menyapa mereka saat melangkah menuju blok kamar di pojok paling dalam.
Murni hanya mengangguk, tangan masih erat menyandar pada lengan Aksa. Sebenarnya dia lebih ingin menghabiskan hari libur bareng Khem, pacarnya yang sudah tiga tahun bersama. Tapi Aksa, baru saja pindah perusahaan baru, mengajaknya dengan alasan ingin memperkenalkan lingkungan kerjanya dan meminta sedikit bantuan untuk merapikan kamar baru. “Sekarang aku kesusahan kamu aja yang bisa tolongin,” kata Aksa kala itu, membuat Murni tidak bisa menolak.
“Kamarnya di lantai dua, deh. Jangan kaget ya, baru beberapa hari pindah jadi belum terlalu rapi,” ucap Aksa dengan senyum yang biasanya membuat banyak cewek terpana. Tapi bagi Murni, senyum itu hanya seperti topeng belaka – dia sudah tahu sedikit banyak karakter orang sejak dulu.
Setelah naik tangga yang sedikit berdebu, Aksa membuka pintu kamar nomor 207. Saat pintu terbuka lebar, Murni langsung merasa ingin menutup hidungnya. Bau tidak sedap campuran keringat, baju tidak dicuci, dan makanan bekas menyengat menyambar hidungnya. Sepatu dan sendal berserakan di depan pintu, baju kotor menumpuk di kursi dan lantai, bahkan ada kotak mie instan bekas yang belum dibuang di atas meja kecil.
“Waduh, Aksa… ini kok begini?” Murni tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
“Aduh, maafin ya Murni. Sebenarnya bukan cuma aku yang tinggal disini lho. Ada satu teman sekamar lagi, dia yang lebih banyak bikin berantakan kayak gini,” tutur Aksa dengan nada menyalahkan orang lain, padahal dia sendiri sedang bersandar di tembok dengan pose yang sok santai dan sok ganteng – rambutnya dibuat-buat terlihat acak tapi tetap menarik, padahal kemejanya sudah terlihat kusut dan ada noda tak jelas di bagian dada.
Murni melihat sekeliling kamar. Di salah satu ranjang, seprai terlihat kusut dan ada bantal yang sudah bergeser ke ujung kasur. Di sisi lain ranjang yang katanya milik Aksa, kondisi tidak jauh berbeda – buku tulis dan pulpen berserakan, bahkan ada seikat pakaian dalam yang tergeletak di atas kasur.
“Kamu bilang mau merapikan kamar, tapi kok kamu malah cuma duduk aja?” tanya Murni dengan nada sedikit kesal. Dia sudah menggulung lengan bajunya siap membantu, tapi Aksa malah mengambil botol minuman dari kulkas dan meneguknya dengan gaya yang sangat tidak sopan.
“Ah nanti aja, Murni. Kamu aja yang bersihin dulu deh. Kamu kan jago merapikan kan? Kayak dulu waktu di kantor lama, kamu selalu bersihin mejaku yang berantakan,” ujar Aksa sambil menyalakan handphone dan mulai menggesek layarnya.
Murni merasa darahnya sedikit naik. Bagaimana bisa orang begitu pemalas dan tidak punya rasa hormat pada tempat tinggal sendiri? Belum lagi sikapnya yang sok ganteng padahal gaya hidupnya menjijikkan. “Aksa, kamu juga harus bantu dong. Ini kamar kamu juga kan? Kalau kamu terus begini, gimana bisa tinggal dengan nyaman?”
“Aduh capek aja kalau mikirin yang gitu, Murni. Lagian aku kan punya kamu yang bisa bantu,” jawab Aksa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya. Bahkan dia malah mulai menertawakan sesuatu yang dilihatnya di layar, tanpa peduli Murni yang sedang melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
Saat itu, pintu kamar terbuka lagi dan masuk seorang pria dengan rambut abu-abu dan baju kaos yang sudah pudar warna. “Woy Aksa, kamu beliin mie enggak sih? Laper nih!” teriak pria itu tanpa melihat ada tamu di kamar. Saat matanya jatuh pada Murni, dia hanya mengangguk cuek lalu langsung mengambil botol minuman yang sama dengan yang diminum Aksa.
“Oh ini teman sekamarku, Rinto. Rinto ini Murni, teman ku yang baik hati mau bantu bersihin kamar,” ucap Aksa dengan nada santai seperti tidak ada salahnya.
Rinto hanya mengangguk lagi lalu langsung berbaring di ranjangnya, mulai membuka handphonenya juga. Murni melihat dengan mata rasa ingin menangis. Dua orang pemalas dalam satu kamar, ini benar-benar lebih parah dari yang dia bayangkan.
Dia mulai membersihkan perlahan-lahan, mengambil sampah yang berserakan dan memasukkannya ke kantong plastik. Saat hendak mengambil tumpukan baju di kursi, Murni menemukan sesuatu yang membuatnya semakin jijik – sebatang rokok yang masih menyala sedikit tersembunyi di antara baju, hampir menyala dan membakar kainnya.
“Aksa! Kamu kok bisa tinggalkan rokok menyala begitu saja? Bisa kebakaran lho!” teriak Murni dengan suara sedikit keras.
Aksa hanya mengangkat bahu. “Ah lupa aja tuh. Gapapa kan sekarang kamu yang ada disini. Kamu pasti bisa ngatasinya.”
Murni merasa kesal luar biasa. Bagaimana bisa seseorang begitu tidak bertanggung jawab? Dia ingat pada Khem – pacarnya yang selalu menjaga kebersihan tempat tinggalnya, pekerja keras, dan tidak pernah menyalahkan orang lain atas kekeliruan dirinya. Bedanya sungguh jauh sekali dengan Aksa yang sekarang hanya bisa duduk manis dan menyuruh orang lain bekerja.
Setelah membersihkan sampah dan memindahkan baju kotor ke ember yang dia cari di luar kamar, Murni mulai menyapu lantai. Saat itu, suara dering handphone membuatnya berhenti sejenak. Dia mengambil handphonenya dari tas dan melihat nama yang muncul di layar – Khem.
“Halo, sayang,” ucap Murni dengan suara yang sedikit melemah.
“Murni, dimana kamu sekarang? Aku udah datang ke rumah kamu tapi kamu enggak ada. Aku bawa makanan kesukaan kamu lho,” suara Khem terdengar lembut dari sisi lain.
Murni melihat sekeliling kamar yang masih berantakan dan Aksa yang masih asik dengan handphonenya. Rasa bersalah dan rindu pada pacarnya menyambar hatinya sekaligus. “Aku ada di kontrakan teman , sayang. Dia minta tolong merapikan kamar,” jawabnya dengan nada sedikit sedih.
“Kontrakan? Kamu baik-baik saja kan? Butuh aku datang jemput tidak?” tanya Khem dengan suara yang penuh perhatian.
Sebelum Murni bisa menjawab, Aksa mendekatinya dan mencoba mendengar percakapan di telepon. “Siapa tuh, Murni? Pacarmu kan? Bilangnya aja kita lagi sibuk, nanti kamu dateng kesini juga dong biar bisa bantu bersihin kamar bareng-bareng,” ucap Aksa dengan suara yang sengaja dinaikkan, seolah ingin membuat Khem mendengarnya.
Murni langsung menjauhkan diri dari Aksa. “Tidak usah, Aksa. Dia punya pekerjaan sendiri. Nanti saja aku selesaikan ini dan langsung pulang,” ujarnya dengan tegas, lalu kembali berbicara ke handphone. “Sayang, sebentar lagi aku selesai ya. Kamu tunggu aku di rumah aja ya.”
Setelah memutuskan panggilan, Murni melihat Aksa dengan tatapan marah. “Aksa, kamu tidak boleh begitu saja campur urus aku dan dia. Khem bukan orang yang bisa kamu suruh-semau kamu,” ucapnya dengan suara yang sedikit menggema di kamar yang kini mulai sedikit rapi berkat usahanya.
Namun Aksa hanya menertawakan hal itu. “Ah kamu tuh Murni, terlalu serius aja. Padahal aku cuma bercanda doang. Lagian, pacarmu itu kan pekerja keras tapi nggak ada gaya sama sekali kan? Kamu lebih cocok sama orang kayak aku yang stylish dan bisa bikin kamu seneng,” ucap Aksa dengan senyum yang membuat Murni merasa jijik.
“Salah besar kamu mengira seperti itu, Aksa. Gaya bukan segalanya. Yang penting adalah hati yang baik dan bertanggung jawab. Kamu mungkin terlihat menarik dari luar, tapi di dalam kamu sangat menjijikkan dengan cara kamu hidup dan memperlakukan orang lain,” kata Murni dengan tegas. Dia sudah cukup dengan sikap Aksa yang sok tahu dan pemalas.
“Apa kamu berani bilang begitu sama aku?” Aksa tampak sedikit marah, wajahnya yang dulu terlihat menarik kini berubah menjadi menjijikkan di mata Murni.
“Ya, karena itu yang aku rasakan. Aku sudah membantu kamu sebisa mungkin, sekarang aku mau pulang. Jangan lagi mengajak aku kesini jika hanya untuk menyuruhku kerja sendirian sambil kamu bersantai,” ucap Murni sambil mengambil tasnya dan mengatur bajunya.
Sebelum keluar, dia melihat Rinto yang masih asik dengan handphonenya dan Aksa yang berdiri dengan wajah memerah karena marah. “Jika kamu benar-benar ingin hidup dengan nyaman, cobalah untuk merapikan diri dan kamar kamu sendiri. Jangan selalu menyalahkan orang lain atau menyuruh orang lain bekerja untukmu,” ucapnya terakhir sebelum membuka pintu kamar dan melangkah keluar dengan langkah yang mantap.
Di jalan pulang, Murni merasakan lega. Dia tidak menyesal mengatakan apa yang ada di hati. Semua orang memang punya kelebihan dan kekurangan, tapi sikap Aksa yang pemalas dan sok ganteng padahal gaya hidupnya menjijikkan benar-benar tidak bisa dia terima. Dia tidak sabar untuk bertemu Khem, merasakan kehangatan pelukan pacarnya yang selalu menjadikannya merasa tenang dan dicintai dengan tulus.
Saat sampai di rumah, pintu langsung terbuka dan Khem muncul dengan senyum hangat. Dia membawa mangkuk sup ayam yang masih hangat dan segelas jus jeruk segar. “Kamu pasti capek ya, sayang. Cepat aja mandi lalu makan ya,” ucap Khem sambil membungkuskan tangan Murni dengan tangannya yang hangat.
Murni merasa mata sedikit berkaca-kaca. Ini dia yang benar-benar pantas untuknya – seseorang yang peduli, bekerja keras, dan selalu menjaga kebersihan serta keharmonisan. Tidak seperti Aksa yang hanya bisa menunjukkan sisi luar yang tampak menarik tapi dalamnya sangat kotor.
“Terima kasih sudah menungguku, sayang,” ucap Murni sambil memeluk Khem erat. “Aku sangat mencintaimu.”
“Kamu kok tiba-tiba begitu ya, sayang?” tanya Khem dengan sedikit bingung tapi senang.
Murni hanya tersenyum. “Cuma merasa sangat bersyukur punya kamu saja. Kamu jauh lebih baik dari pada orang yang hanya sok ganteng tapi sebenarnya menjijikkan gayanya,” ucapnya sambil melihat mata pacarnya yang penuh dengan cinta.
Khem hanya mengangguk dan mencium dahinya. “Aku juga sangat mencintaimu, Murni. Apa pun yang kamu alami, aku selalu ada untukmu ya.”
Saat itu, Murni bertekad untuk tidak pernah lagi membiarkan orang seperti Aksa masuk ke dalam kehidupannya. Dia sudah menemukan orang yang benar-benar berharga, dan itu sudah cukup baginya. Di sisi lain, di kamar kontrakan yang sekarang sedikit rapi berkat usaha Murni, Aksa dan Rio masih saja terbaring santai dengan handphonenya – tidak pernah menyadari bahwa sikap mereka telah membuat orang lain merasa jijik dan tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Hari berikutnya, tepat pukul sepuluh pagi, suara dering handphone Murni mengganggunya saat sedang membersihkan rumah. Layar menunjukkan nama Aksa yang muncul berulang kali. Setelah beberapa kali menolak, akhirnya dia memutuskan untuk menjawab.
“Murni, maaf ya kemaren aku sedikit emosi. Mau kamu datang kesini lagi ngga? Aku mau menghargai bantuan kamu kemaren lho – aku masakin makanan kampung khas daerah kita! Jaminan enak banget!” suara Aksa terdengar ceria dari sisi lain, seolah tidak ada yang terjadi kemaren.
Murni ragu. Ingatan tentang kamar yang menjijikkan masih jelas di benaknya. Tapi hati nuraninya berkata bahwa mungkin Aksa benar-benar merasa menyesal dan ingin memperbaiki diri. Selain itu, makanan kampung yang dia sebutkan memang jadi kenangannya bersama teman-teman dulu. “Hmm… boleh saja, tapi janji ya kamar kamu lebih rapi ya, Aksa,” ujarnya dengan hati-hati.
“Pasti deh! Sudah kubersihkan dari pagi hari! Datang aja ya, aku tunggu!” jawab Aksa dengan semangat sebelum langsung memutuskan panggilan.
Setelah memberitahu Khem tentang rencananya, Murni berangkat menuju kontrakan Aksa dengan membawa beberapa buah sebagai hadiah. Saat tiba di depan pintu kamar 207, dia mendengar suara sendok dan wajan bergesekan dari dalam. Dengan hati-hati, dia mengetuk pintu.
“Masuk aja Murni!” panggil Aksa dari dalam.
Saat pintu terbuka, Murni sedikit terkejut. Kamar memang terlihat lebih rapi dari sebelumnya – baju sudah tidak berserakan, sepatu disusun rapi di sudut, dan sampah sudah tidak ada di lantai. Tapi aroma makanan yang menggugah selera langsung menyambar hidungnya, menyembunyikan sedikit bau tidak sedap yang masih tersisa di sudut kamar.
“Lihat dong, sudah lebih rapi kan?” ucap Aksa dengan senyum bangga, sambil mengusap tangan yang masih berminyak ke celananya – membuat bagian depan celananya jadi bercak lemak. “Tunggu aja ya, makanan sebentar lagi siap. Kamu duduk aja dulu di kursi sana.”
Murni melihat kursi yang sudah dilapisi kain bersih, lalu duduk dengan hati-hati. Di atas meja kecil yang kini sudah dibersihkan, ada beberapa piring dan gelas yang disusun rapi. Tapi ketika dia melihat ke arah sudut kamar yang jadi tempat memasak, wajahnya langsung berubah.
Kompor portable diletakkan di lantai, dengan wajan yang sedang menggelegak di atasnya. Minyak yang menetes membuat lantai jadi licin dan kotor. Bumbu-bumbu seperti cabai merah, bawang merah, dan jahe berserakan di atas karton yang digunakan sebagai alas. Bahkan ada potongan bawang yang tergeletak di lantai dekat kaki Aksa, yang tidak dia pedulikan sama sekali.
“Aksa, kamu memasaknya dimana aja sih? Dan kenapa bumbunya berserakan begitu?” tanya Murni dengan nada khawatir.
“Aduh nggak apa-apa lah Murni. Ini kan cara aku masak yang paling nyaman! Lagian nanti aja kubersihin setelah makan,” jawab Aksa tanpa melihatnya, fokus mengaduk tumisan ikan asin dengan cabe hijau di dalam wajan.
Rinto yang baru saja bangun dari tidur siang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan hanya bawa handuk di sekitar pinggang. “Woy, ada makanan enak ya? Aku juga mau dong!” ujarnya sambil langsung mengambil mangkuk dari meja tanpa meminta izin.
“Eh tunggu dulu Rinto, ini untuk Murni lho! Kamu bisa masak sendiri kalau mau makan!” teriak Aksa, tapi sudah terlambat. Rinto sudah mulai mengambil nasi dari wadah yang sudah disiapkan.
Setelah beberapa menit, hidangan akhirnya siap disajikan. Aksa menyajikan ikan asin cabe hijau, sambal terasi, lalapan segar, dan nasi hangat. Meskipun cara memasaknya cukup berantakan, makanan itu memang terlihat menggugah selera dan mengeluarkan aroma khas masakan kampung yang membuat Murni merindukan rumahnya.
“Silakan ya Murni, cicipin aja! Ini resep dari ibuku lho,” ucap Aksa dengan bangga, sambil menyendokkan makanan ke piring Murni.
Murni melihat sekeliling – lantai yang licin karena minyak, tangan Aksa yang masih kotor menyentuh pinggir piring, bahkan ada sebatang rambut yang hampir jatuh ke dalam mangkuknya. Tapi demi menghargai usaha Aksa yang sudah berusaha memasak dan membersihkan kamar sedikit, dia terpaksa mengambil sendok dan mencicipi makanan tersebut.
“Sensasinya gimana? Enak kan?” tanya Aksa dengan mata penuh harap.
Sebenarnya rasa makanan itu cukup enak – pedasnya pas dan rasanya sangat khas masakan kampung. Tapi Murni tidak bisa sepenuhnya menikmatinya karena melihat kondisi sekitar yang masih jauh dari bersih. “Ya, rasanya enak banget Aksa. Terima kasih ya sudah memasaknya untukku,” ujarnya dengan senyum paksa.
Saat mereka sedang makan, tiba-tiba Aksa tiba-tiba berdiri dan berlari ke arah kamar mandi. “Waduh, lupa aku cuci tangan aja sebelum makan!” teriaknya dengan suara kaget. Murni hanya bisa tercengang melihat hal itu – bagaimana bisa seseorang memasak dan menyajikan makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu?
Rinto yang sedang makan dengan lahap hanya menertawakan kejadian itu. “Dia selalu begitu sih, Murni. Kadang lupa yang penting kayak gitu. Tapi jangan khawatir aja, kita kan masih hidup kok setelah makan masakannya,” ujarnya sambil terus menyantap makanan.
Murni hanya bisa mengangguk dan mencoba menikmati makanan sebanyak mungkin. Saat dia mau mengambil lalapan dari piring besar di tengah meja, dia melihat ada seekor lalat kecil yang hinggap di atas daun kemangi. Dia segera menepuk-nepuk udara untuk mengusirnya, tapi lalat itu malah terbang ke arah piring Aksa yang sedang kosong karena dia lagi di kamar mandi.
Setelah selesai makan, Aksa keluar dari kamar mandi dengan tangan yang sudah bersih. “Lho kok kamu sudah hampir selesai? Aku baru mau makan juga nih,” ujarnya sambil langsung mengambil makanan dari piring yang sama dengan yang tadi ditempeli lalat.
Murni ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia memilih untuk diam. Sudah terlalu banyak hal yang membuatnya merasa tidak nyaman, tapi dia tidak ingin menyakiti perasaan Aksa yang sudah berusaha menghargainya dengan memasak.
“Kamu sudah bersih-bersih kamar kemaren, sekarang aku yang bersihin ya,” ucap Aksa sambil mengambil serbet bekas dan mulai mengelap meja dengan asal-asalan. Bumbu yang menetes di meja malah jadi tersebar keseluruh permukaan meja. Dia juga hanya menyapu bagian lantai yang terkena minyak dengan serbet yang sama, membuat serbet itu jadi sangat kotor dan tidak bisa digunakan lagi.
“Biarkan aku bantu saja, Aksa,” kata Murni dengan menghela napas. Dia meraih sapu dan ember yang ada di sudut kamar, lalu mulai membersihkan lantai dengan teliti. Sementara itu, Aksa malah duduk di kursi dan mulai bermain handphone lagi, kadang-kadang menertawakan apa yang dilihatnya di layar.
“Murni, kamu benar-benar orang baik ya. Kalau kamu jadi pacarku pasti sangat bahagia deh,” ucap Aksa tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari handphonenya.
Murni langsung berhenti menyapu dan melihatnya dengan tatapan tegas. “Aksa, kamu tahu kan aku sudah punya pacar. Khem adalah orang yang sangat baik padaku, dan aku sangat mencintainya,” ujarnya dengan jelas.
“Aduh cuma bercanda doang Murni. Kamu tuh terlalu serius aja,” jawab Aksa dengan tersenyum, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak benar-benar bercanda.
Setelah kamar kembali terlihat rapi, Murni memutuskan untuk pulang. Aksa mengantarnya sampai di gerbang kontrakan, masih dengan sikapnya yang sok ganteng namun tidak terawat – rambutnya sudah acak lagi, baju yang sudah bersih kemaren kini kembali kusut karena dia sering mengusap-usapnya dengan tangan yang berminyak dari memasak.
“Terima kasih ya sudah mau datang dan mencicipi masakanku, Murni. Kamu kalau punya waktu datang lagi ya, aku akan masak makanan kampung yang lain,” ujar Aksa dengan senyum.
Murni hanya mengangguk dengan sopan. “Ya kalau ada waktu saja, Aksa. Tapi janji ya, kalau aku datang lagi kamar kamu harus lebih bersih ya, dan jangan lupa cuci tangan sebelum memasak atau makan,” ujarnya dengan nada yang penuh perhatian.
“Pasti deh! Janji aku!” jawab Aksa dengan penuh semangat.
Saat berada di jalan pulang, Murni merasakan perutnya sedikit tidak nyaman. Mungkin karena makanan yang dimakannya tidak terlalu bersih, atau karena dia terlalu khawatir melihat kondisi sekitar saat memasak. Dia tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan memberitahu semua kejadian kepada Khem.
Ketika sampai di rumah, Khem sudah menunggunya dengan wajah khawatir. “Kamu kok lama ya, sayang? Dan wajahmu kayak tidak enak badan aja,” ujarnya sambil mendekat dan menyentuh dahi Murni.
“Seperti apa saja yang terjadi sana?” tanya Khem lagi setelah Murni duduk di sofa dan mengambil segelas air putih.
Murni mulai menceritakan semua kejadian – dari kamar yang sedikit rapi tapi masih ada bau tidak sedap, cara memasak Aksa yang sangat berantakan, sampai saat dia melihat lalat hinggap di makanan dan Aksa yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Khem hanya bisa mendengarkan dengan ekspresi terkejut dan khawatir.
“Kamu harus lebih hati-hati lagi ya, sayang. Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan situasi seperti itu, kamu boleh saja menolaknya. Kamu tidak perlu memaksakan diri hanya karena ingin menghargai orang lain,” ujar Khem dengan lembut, sambil mengelus-elus punggung Murni yang masih merasa tidak nyaman.
“Ya aku tahu, sayang. Tapi aku berpikir mungkin Aksa benar-benar ingin memperbaiki diri. Ternyata sifat pengotornya memang tidak pernah hilang ya,” ujar Murni dengan menghela napas.
Khem hanya mengangguk dan mengambil obat perut dari lemari obat. “Minum aja obat ini dulu ya, sayang. Biar perutmu cepat baik lagi. Dan jangan khawatir, kalau kamu merasa tidak enak badan aku akan selalu merawatmu,” ucapnya dengan penuh cinta.
Murni merasakan hati nya menjadi hangat mendengar kata-kata pacarnya. Dia bersyukur memiliki seseorang yang selalu peduli dan menjaganya dengan baik. Berbeda dengan Aksa yang hanya bisa menunjukkan perhatian dengan cara yang tidak tepat dan tidak memperhatikan kebersihan serta kesehatan orang lain.
“Sekarang kamu istirahat aja ya, sayang. Aku akan masakin sup ayam hangat untukmu – dengan cara yang bersih dan benar tentunya,” ujar Khem dengan tersenyum hangat sebelum beranjak ke arah dapur.
Murni melihat sosok Khem yang sibuk di dapur dan merasa sangat bersyukur. Dia bertekad bahwa lain kali jika Aksa mengajaknya lagi, dia akan lebih tegas dalam menolak jika merasa tidak nyaman. Kesehatan dan kenyamanannya adalah hal yang penting, dan dia tidak akan lagi memaksakan diri hanya karena ingin menghargai orang lain yang tidak mampu mengubah sifat pengotornya.
Sementara itu, di kontrakan Aksa, kondisi kamar yang baru saja dibersihkan Murni kembali mulai berantakan. Aksa dan Rinto sudah mulai meletakkan barang-barang mereka sembarangan, makanan bekas yang belum dibuang mulai mengeluarkan aroma tidak sedap lagi, dan sepatu serta sendal mereka kembali berserakan di depan pintu kamar. Aksa sendiri tidak menyadari bahwa makanan yang dia masak membuat Murni merasa tidak nyaman, dia bahkan sedang berencana untuk mengajak Murni datang lagi minggu depan dengan alasan ingin memasak hidangan kampung yang lain. Sifat pengotornya memang benar-benar tidak pernah hilang, dan dia tidak menyadari bahwa hal itu bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman dan bahkan sakit.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Beberapa hari setelah kejadian makan bersama, Murni mendapat panggilan dari Aksa lagi. “Murni, tolong dong bantu aku bikin laporan kerja ya? Kamu kan jago bikinnya. Aku janji bakal kasih kamu cendol khas pasar baru yang enak banget!”
Murni ragu sekali, tapi karena Aksa bilang itu penting untuk pekerjaannya dan sudah menjanjikan cendol favoritnya, dia akhirnya menyetuju. “Baiklah Aksa, aku akan datang jam tiga sore ya. Tapi janji ya kamar kamu tidak berantakan lagi dan kita fokus bikin laporan aja ya.”
“Pasti deh! Sudah kubersihkan dan siap kerja!” jawab Aksa dengan penuh semangat.
Saat Murni tiba di kontrakan, pintu kamar terbuka lebar dan Aksa berdiri di depan pintu dengan senyum sopan. “Hai Murni, datang ya! Silakan masuk aja. Lihat dong, kamar sudah sangat rapi sekarang,” ujarnya sambil mengajak Murni masuk.
Benar saja, kamar terlihat jauh lebih rapi dari sebelumnya. Meja kerja sudah disusun rapi dengan laptop dan buku tulis, lantai bersih, dan tidak ada bau tidak sedap lagi. Murni sedikit lega dan berpikir bahwa mungkin Aksa benar-benar mulai berubah.
“Silakan duduk aja di kursi sana ya, Murni. Aku ambil cendol dulu yang sudah kubeli dari pasar baru,” ucap Aksa sebelum keluar kamar sebentar.
Saat sendirian, Murni mulai membuka laptop Aksa untuk mempersiapkan laporan. Tiba-tiba, suara panggilan video dari aplikasi obrolan kerja muncul di layar. Nama Kiky – Teman Kerja muncul di layar, dan karena khawatir itu penting, Murni memutuskan untuk menjawabnya sementara Aksa belum datang.
“Halo Aksa? Kamu dimana aja sih? Laporan yang kamu harus kirim hari ini belum masuk lho! Atasan kita sudah mulai marah,” suara Kiky terdengar cemas dari layar.
“Maaf, ini bukan Aksa. Aku temannya Murni, dia keluar sebentar. Bolehkah aku menyampaikan pesan apa saja?” tanya Murni dengan sopan.
“Oh, kamu itu Murni ya? Aksa sering cerita tentang kamu. Ya sudah, kalau dia datang bilang aja jangan sampai terlambat lagi ya. Kalau tidak, kita semua yang kena dampaknya,” ujar Kiky sebelum ingin memutuskan panggilan.
Tapi tepat saat itu, Aksa masuk kamar dengan membawa dua gelas cendol. Ketika melihat layar laptop yang menunjukkan Kiky, wajahnya langsung berubah drastis. Dia mencolokkan diri ke depan kamera dengan wajah marah.
“Woy Kiky! Sok tahu aja kamu ya! Aku kan sedang sibuk dengan urusan penting, jangan ngerepotin aku terus!” teriak Aksa dengan kata-kata kasar. “Lu sendiri aja kerjaannya belum jelas, masih berani ngomong-ngomong sama aku? Bodoh banget kamu!”
Murni terkejut mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Aksa. Wajahnya yang baru saja masih sopan dan ramah, kini berubah total menjadi kasar dan tidak sopan sama sekali.
“Kamu jangan sok pintar aja ya! Laporan itu aku bakal kirim kapan aja aku mau, jangan kamu campur tangan!” lanjut Aksa sambil membentak ke kamera. Kiky hanya bisa terdiam dan kemudian memutuskan panggilan dengan hati hancur.
Setelah panggilan berakhir, Aksa langsung beralih wajahnya menjadi sopan lagi saat melihat Murni. “Maafin ya Murni, tadi aku sedikit emosi karena dia terus menggangguku. Kamu jangan salah paham ya, aku bukan orang yang suka memaki orang lho,” ujarnya dengan senyum paksa sambil memberikan cendol kepada Murni.
Murni hanya bisa mengangguk dengan tidak percaya. Dia baru saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Aksa berbicara dengan teman kerjanya – penuh kata-kata kasar dan tidak sopan sama sekali. Padahal di depannya, Aksa selalu bersikap baik dan sopan.
“Sekarang kita fokus aja bikin laporan ya, Murni. Kamu kan jago banget bikinnya,” ucap Aksa sambil duduk di sebelah Murni dan mulai membuka file kerja di laptop.
Saat mereka sedang bekerja, tiba-tiba suara dering handphone Aksa menyala. Dia menjawab panggilan dengan suara yang sangat kasar lagi. “Woy Jojon! Apaan lagi kamu nih? Udah bilang kan aku sibuk! Kalau ada masalah lu sendiri aja yang atur, jangan selalu bilang sama aku! Kamu pemalas dan tidak berguna banget buat perusahaan ini!”
Murni hanya bisa menutup telinganya sebagian saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aksa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa seseorang berubah begitu cepat – dari orang yang sopan menjadi sangat kasar hanya dalam sekejap.
Setelah memutuskan panggilan, Aksa kembali tersenyum pada Murni seolah-olah tidak ada yang terjadi. “Maafin ya Murni, teman kerja ku itu memang sering menyebalkan jadi aku terkadang tidak bisa mengontrol emosi,” ujarnya dengan nada yang seolah dia adalah korban.
Murni sudah tidak bisa fokus lagi bekerja. Pikirannya penuh dengan kata-kata kasar yang dia dengar dari Aksa. Dia merasa sangat kecewa karena selama ini dia berpikir Aksa adalah orang yang baik, padahal di balik topeng kesopanan itu ada orang yang suka memaki teman kerjanya dan berkata tidak sopan.
“Aksa, kamu tahu kan bahwa memaki teman kerja dan berkata tidak sopan itu tidak baik kan?” ujar Murni dengan suara lembut tapi tegas. “Mereka juga punya perasaan dan sedang bekerja sama kamu untuk perusahaan itu.”
“Aduh Murni kamu tuh terlalu baik hati aja. Mereka memang pantas dipermalukan karena tidak bisa bekerja dengan baik. Kalau aku tidak bilang kasar, mereka tidak akan mengerti,” jawab Aksa dengan tidak merasa salah sama sekali.
Saat itu, pintu kamar terbuka dan Rinto masuk dengan membawa beberapa bungkus makanan. “Hei Aksa, aku beliin makanan nih. Eh ada tamu ya?” ujar Rinto sambil melihat Murni.
“Pacarmu pemalas apa kamu juga pemalas ya Rinto? Kamu kan bilang mau bersihin kamar kemarin tapi malah tidur aja seharian!” teriak Aksa dengan kata-kata yang tidak sopan lagi, bahkan menyangkut keluarga Rinto.
Rinto hanya bisa menghela napas dan duduk di sudut kamar. “Maafin ya Aksa, aku memang sedikit capek kemaren. Besok aku pasti bersihin kamar,” ujarnya dengan suara pelan dan penuh rasa takut.
Murni sudah tidak tahan lagi melihat semua itu. Dia menutup laptop dan berdiri dengan cepat. “Aksa, aku merasa tidak enak badan jadi aku harus pulang sekarang. Laporan sudah kubantu mulai sebagian, sisanya kamu bisa lanjutkan sendiri ya,” ujarnya dengan nada dingin.
“Apa kamu sudah capek ya Murni? Nanti aku antar kamu pulang aja,” ucap Aksa dengan kembali bersikap sopan, tapi Murni sudah tidak mempercayainya lagi.
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih sudah memberiku cendol. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa bersikap kasar dan memaki orang itu tidak akan membuat kamu menjadi orang yang lebih baik. Bahkan itu akan membuat orang lain menjauhi kamu,” ujar Murni dengan tegas sebelum mengambil tasnya dan keluar dari kamar.
Di jalan pulang, Murni merasa sangat kecewa. Dia tidak menyangka bahwa Aksa bisa bersikap begitu kasar dan tidak sopan terhadap orang lain, padahal di depannya dia selalu menunjukkan diri sebagai orang yang baik dan sopan. Topeng kesopanan yang dia kenakan benar-benar sudah terkulai, dan Murni melihat siapa Aksa sebenarnya – orang yang suka mengkritik dan memaki orang lain hanya karena dia merasa lebih baik dari mereka.
Saat sampai di rumah, Khem sudah menunggunya dengan wajah khawatir. “Kenapa kamu pulangnya lebih cepat ya, sayang? Dan wajahmu kayak sedih sekali,” ujarnya sambil membungkuskan Murni dengan pelukan hangat.
Murni mulai menceritakan semua yang dia dengar dan lihat – bagaimana Aksa memaki teman kerjanya dengan kata-kata kasar, menyangkut keluarga Rio, dan bagaimana dia hanya bersikap sopan di depannya saja. Khem hanya bisa mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa kasihan.
“Sayang, kamu tidak perlu merasa kecewa begitu banyak. Ada banyak orang yang suka menyembunyikan diri di balik topeng kesopanan. Yang penting adalah kamu sudah melihat siapa dia sebenarnya dan bisa menjaga jarak dari orang seperti itu,” ujar Khem dengan lembut.
“Ya aku tahu sayang, tapi aku tidak menyangka dia bisa begitu. Aku berpikir dia adalah teman yang baik,” ujar Murni dengan suara sedikit merenggut.
Khem mengelus-elus rambut Murni dan memberikan dia segelas teh hangat. “Itu wajar saja kamu merasa begitu, sayang. Tapi sekarang kamu sudah tahu dan bisa lebih hati-hati lagi ke depannya. Ingat ya, orang yang benar-benar baik tidak akan pernah menunjukkan sisi buruknya hanya kepada orang tertentu saja. Mereka akan selalu bersikap baik dan sopan kepada semua orang,” ujarnya dengan penuh cinta.
Murni mengangguk dan merasakan hati nya menjadi lebih tenang. Dia bersyukur memiliki Khem yang selalu bisa memberikan nasihat yang baik dan membuatnya merasa lebih kuat. Dia bertekad bahwa lain kali dia akan lebih cermat dalam memilih teman dan tidak akan mudah terpikat oleh topeng kesopanan yang ditunjukkan oleh orang lain.
Sementara itu, di kontrakan Aksa, dia masih saja tidak menyadari kesalahannya. Dia bahkan berpikir bahwa Murni hanya terlalu sensitif dan tidak mengerti situasinya. Dia masih berencana untuk mengajak Murni datang lagi, karena dia merasa hanya Murni yang bisa membantu dia dalam pekerjaan dan merapikan kamar nya. Tapi apa yang dia tidak ketahui adalah bahwa Murni sudah melihat siapa dia sebenarnya, dan tidak akan pernah lagi mau datang ke kontrakan nya atau membantu dia seperti dulu. Topeng kesopanan yang dia kenakan sudah tidak berfungsi lagi, dan akhirnya dia akan menyadari bahwa sikap kasar dan tidak sopan nya akan membuat dia sendirian tanpa seorang pun yang mau membantu atau dekat dengannya.
...