hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Musim dingin di Boston kali ini tidak hanya membawa salju, tapi juga kebosanan yang mulai merayap di sela-sela rutinitas akademik Safira. Kuliah, perpustakaan, apartemen; siklus itu mulai terasa menjemukan. Namun, ketenangan itu terusik oleh kehadiran Isabella, gadis Brazil yang seolah memiliki stok energi tak terbatas untuk meruntuhkan tembok es di sekitar Safira.
"Safira, ayolah! Hanya satu sore! Aku tahu tempat makan tacos terbaik yang pernah ada di Massachusetts!" seru Isabella sambil bergelayut di lengan Safira setelah kelas makroekonomi berakhir.
Safira menatap Isabella dengan wajah datar andalannya. "Aku punya banyak jurnal yang harus dibaca, Isabella."
"Jurnal itu tidak akan lari ke mana-mana, tapi kewarasanku bisa hilang kalau terus melihat tumpukan salju di kampus!" Isabella mengerucutkan bibirnya. "Please? Sekali saja?"
Safira menghela napas panjang—kekalahan pertamanya melawan kegigihan Isabella. "Baik. Tapi kita tidak pakai mobilmu yang berisik itu."
Sepuluh menit kemudian, Isabella berdiri mematung di parkiran apartemen Safira. Di depannya, Safira berdiri sambil mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuh, memegang helm full-face berwarna gelap. Di sampingnya terparkir sebuah motor sport BMW S1000RR hitam pekat yang tampak seperti binatang buas yang sedang tidur.
"Ini... ini motormu?!" Isabella melongo. "Aku pikir kamu tipe gadis yang pergi ke mana-mana naik bus atau sepeda!"
"Naiklah," ucap Safira singkat tanpa penjelasan. Identitasnya sebagai mahasiswi beasiswa mungkin mengharuskannya tampil sederhana di kampus, tapi urusan kendaraan, Safira tidak bisa berkompromi dengan efisiensi dan adrenalin.
Safira memacu motornya membelah jalanan Cambridge. Kecepatannya membuat Isabella berteriak kesenangan di belakang. Bagi Safira, deru mesin adalah satu-satunya suara yang bisa meredam kebisingan di pikirannya. Di atas aspal, dia merasa benar-benar bebas.
Setelah makan siang yang penuh dengan celotehan Isabella, mereka kembali ke area dekat kampus untuk mengambil beberapa keperluan di toko buku. Namun, kedatangan mereka disambut oleh pemandangan yang tidak menyenangkan.
Cleo dan kelompoknya sedang berdiri di dekat motor Safira. Cleo tampak memegang segelas kopi plastik, wajahnya penuh dengan seringai iri yang tidak bisa disembunyikan.
"Oh, lihat siapa yang datang. Si anak beasiswa ternyata punya mainan mahal," sindir Cleo saat Safira mendekat. "Hasil merayu dosen mana lagi yang kamu pakai untuk beli motor ini, Safira? Atau ini hasil mencuri?"
Safira tidak berhenti. Dia terus berjalan mendekati motornya. "Minggir, Cleo. Kamu menghalangi jalanku."
"Berani-beraninya kamu!" Cleo maju satu langkah, hendak menyiramkan sisa kopinya ke arah jaket kulit Safira. Namun, dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat oleh mata awam, Safira menangkap pergelangan tangan Cleo. Cengkeramannya begitu kuat hingga Cleo meringis kesakitan.
"Dengarkan aku baik-baik," bisik Safira dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi. "Aku tidak peduli seberapa kaya orang tuamu atau seberapa besar rasa irimu padaku. Sekali lagi kamu menyentuh barangku atau mengusik jalanku, aku akan memastikan hidupmu di Harvard menjadi neraka yang tidak bisa dibeli oleh uang ayahmu. Mengerti?"
Safira melepaskan tangan Cleo dengan kasar. Teman-teman Cleo hanya terpaku, takut melihat tatapan tajam Safira yang seolah bisa menguliti mereka hidup-hidup. Tanpa sepatah kata lagi, Safira memakai helmnya dan pergi, meninggalkan Cleo yang gemetar karena amarah dan ketakutan.
Sore itu, Safira meminta Isabella untuk pulang lebih dulu dengan taksi karena ia ingin mencari beberapa perlengkapan melukis di sebuah toko kecil di sudut kota yang jarang dikunjungi mahasiswa. Safira butuh waktu sendiri.
Saat sedang melihat-lihat kuas di rak paling belakang, ia tidak sengaja bersenggolan dengan seorang pria yang sedang memeriksa palet warna. Pria itu tampak berusia akhir dua puluhan, mengenakan mantel panjang abu-abu dengan aura yang sangat tenang namun berwibawa.
"Ah, maafkan saya," ucap pria itu dengan suara berat yang sopan.
Safira mendongak, matanya bertemu dengan mata cokelat gelap pria itu. Ada sesuatu yang familiar namun asing di sana. Safira hanya mengangguk kecil sebagai tanda permintaan maaf tanpa mengeluarkan suara.
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus. "Pilihan kuas yang bagus. Kamu pasti seorang perfeksionis dalam hal detail."
Safira tidak menanggapi pujian itu. Ia mengambil barangnya, membayar di kasir, dan langsung keluar dari toko. Ia tidak suka berbincang dengan orang asing, seberapa pun menariknya mereka.
Malam mulai turun saat Safira memacu motornya pulang melalui jalan pintas yang melewati area gudang tua dekat pelabuhan. Jalanan di sini lebih sepi, namun lebih cepat sampai ke apartemennya.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara benturan keras dan teriakan tertahan dari balik sebuah lorong gelap di antara dua gedung besar. Safira menghentikan motornya, mematikan lampu, dan turun dengan perlahan. Awalnya, ia berniat mengabaikannya—urusan orang lain bukan urusannya. Namun, saat ia mengintip dari balik dinding, matanya menyipit.
Di sana, pria yang ia temui di toko buku tadi sedang terpojok. Dia dan seorang asistennya yang sudah berdarah-darah di bagian wajah sedang dikepung oleh sekitar sepuluh orang berpakaian serba hitam dengan tato menonjol di leher—kelompok mafia lokal yang sering memeras pengusaha di daerah itu.
"Tuan, silakan pergi! Saya akan menahan mereka!" teriak si asisten, mencoba berdiri meskipun kakinya sudah gemetar.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, Leo," jawab pria itu tenang, meski ia sendiri sudah menerima beberapa pukulan.
Safira mendecah. Bodoh sekali, pikirnya. Pria itu punya harga diri yang terlalu tinggi untuk situasi yang mustahil dimenangkan. Safira sempat ingin berbalik pergi, namun saat melihat salah satu mafia mengeluarkan sebilah pisau panjang dan bersiap menusuk punggung pria itu, sesuatu dalam diri Safira bereaksi. Memori tentang Kakeknya yang mengajarkannya bela diri untuk melindungi orang lemah mendadak muncul.
Tanpa suara, Safira berlari. Dia tidak menggunakan senjata, hanya tubuhnya yang mungil namun terlatih dengan sangat efisien.
Bugh!
Tendangan berputar Safira mendarat tepat di pelipis pria pemegang pisau, membuatnya langsung pingsan di tempat. Semua orang di lorong itu menoleh kaget. Safira berdiri di sana, masih dengan jaket kulitnya, menatap mereka dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Siapa jalang ini?!" teriak pemimpin mereka. "Sikat dia!"
Dua orang maju bersamaan. Safira menghindar dengan gerakan yang sangat luwes, seolah ia sedang menari. Ia menangkap lengan salah satu penyerang, memelintirnya hingga terdengar bunyi krek yang mengerikan, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai tameng untuk menahan serangan rekannya.
Pria dari toko buku itu tertegun. Ia melihat gadis yang tadi tampak begitu diam dan rapuh di toko buku, kini berubah menjadi mesin tempur yang sangat mengerikan. Safira tidak banyak bergerak, setiap pukulannya sangat presisi—menghantam titik saraf, sendi, dan ulu hati.
Dalam waktu kurang dari lima menit, sepuluh pria berbadan besar itu terkapar di aspal, merintih kesakitan.
Safira mengatur napasnya yang hanya sedikit memburu. Ia merapikan jaketnya, lalu menatap pria itu yang masih berdiri mematung.
"Cepat pergi dari sini sebelum mereka memanggil bantuan," ucap Safira datar, seolah baru saja menyelesaikan tugas belanja bulanan.
"Tunggu!" pria itu melangkah maju. "Siapa kamu? Dan kenapa kamu membantuku?"
Safira sudah berjalan menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia memakai helmnya, menyalakan mesin yang menderu keras, lalu menoleh sekilas. "Aku benci melihat orang banyak mengeroyok orang sedikit. Itu saja."
Tanpa menunggu jawaban, Safira memacu motornya, meninggalkan pria itu dalam kebingungan dan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Pria itu menatap asistennya yang sedang mencoba berdiri. "Leo, cari tahu siapa gadis itu. Semua hal tentangnya. Jangan gunakan nama keluarga kita, gunakan jalur pribadi."
"Baik, Tuan. Tapi sepertinya... dia bukan gadis biasa," jawab Leo sambil menyeka darah di bibirnya.
Pria itu tersenyum tipis, menatap sisa-sisa jejak ban motor Safira di atas salju. "Aku tahu. Dia adalah badai yang bersembunyi di balik wajah porselen."
Malam itu, di bawah langit Boston yang kelabu, Safira kembali ke apartemennya tanpa menyadari bahwa perbuatannya barusan telah menarik perhatian seseorang yang jauh lebih berbahaya—dan mungkin jauh lebih penting dalam takdirnya.
...****************...
jangan lupa like dan komen nya ya guysss 🥰 🥰 🥰 😘
itu di depan kan?
"mimbar" kayak acara resmi,
kenapa gak diganti aja "panggung drama" gitu
ceritanya bagus jalan alurnya juga menarik bukan seperti kebanyakan novel yang lain terlalu lambat alurnya atau pun novel kecepatan