Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Kamajaya Sungsang: Jejak Nista di Sekar Wangi part 1
Langkah kaki Satya membawanya memasuki gerbang Desa Sekar Wangi tepat saat azan Maghrib baru saja usai berkumandang. Namun, ada yang ganjil. Biasanya, desa di lereng bukit seperti ini akan riuh dengan suara anak-anak mengaji atau aroma masakan malam, namun Sekar Wangi justru dicekam kesunyian yang mencekam.
Lampu-lampu minyak di teras rumah sengaja dipadamkan. Di balik celah-celah jendela yang tertutup rapat, Satya bisa merasakan tatapan mata penuh ketakutan dari para wanita yang bersembunyi. Sementara itu, di setiap sudut jalan dan pos ronda, para pria berjaga dengan menggenggam erat celurit, parang, hingga bambu runcing.
Kehadiran Satya dengan kain mori yang membungkus pusaka di punggungnya langsung memicu ketegangan. Mata para pria itu mengikuti setiap langkahnya, penuh curiga dan permusuhan, seolah-olah Satya adalah pemangsa yang sedang mereka tunggu.
Satya memilih untuk tidak mempedulikan tatapan tajam itu dan melangkah menuju satu-satunya warung kecil yang masih menyisakan sedikit cahaya temaram. Seorang pria tua dengan guratan kecemasan di wajahnya sedang merapikan dagangan.
"Permisi, Paman. Bolehkah saya memesan nasi jagung dan segelas wedang jahe?" tanya Satya dengan suara lembut, mencoba mencairkan suasana.
Pria itu menatap Satya dari ujung kaki hingga kepala sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Duduklah, Anak Muda. Tapi setelah makan, sebaiknya kau segera mencari tempat berteduh yang aman."
Sambil menunggu makanannya disiapkan, Satya bertanya, "Ada apa dengan desa ini, Paman? Suasananya seperti sedang menunggu serangan musuh besar. Mengapa semua wanita bersembunyi dan para pria seolah-olah ingin memakan saya hidup-hidup dengan tatapan mereka?"
Pemilik warung itu menghela napas panjang, meletakkan sepiring nasi jagung di depan Satya. Ia ikut duduk dan merendahkan suaranya hingga hampir berbisik.
"Namanya Si Bayangan Mesum," bisik pemilik warung itu. "Sudah sebulan ini warga dihantui ketakutan. Konon, ada seorang pria yang sedang menjalankan ritual ilmu hitam Kamajaya Sungsang untuk menyempurnakan kesaktiannya. Syaratnya sangat nista: ia harus mencuri barang berharga milik warga, atau lebih buruk lagi, melakukan pelecehan kepada para wanita di desa ini tanpa terdeteksi."
Satya menghentikan suapannya. Alisnya bertaut. "Tanpa terdeteksi?"
"Ya. Pelakunya sangat licin. Ia bisa muncul di dalam kamar yang terkunci rapat, lalu menghilang seperti asap sebelum sempat ditangkap. Warga mencurigai setiap orang asing yang datang, karena identitasnya masih misterius. Itulah sebabnya kau dipandang sinis sejak tadi."
Pria pemilik warung itu kemudian menatap mata Satya dengan saksama, seolah mencoba menguliti niat pemuda di depannya. "Lalu kau sendiri... siapa namamu, Nak? Dari mana asalmu dan hendak ke mana kau berjalan di tengah malam buta begini dengan bungkusan kain putih di punggungmu itu?"
Satya tersenyum tipis, ketenangan terpancar dari wajahnya. Ia meneguk wedang jahenya sebelum menjawab.
"Nama saya Arya Gading, orang orang memanggil saya Satya Wanara Paman. Saya datang dari gunung Kelud. Saya hanya seorang pengembara yang sedang mengikuti ke mana angin membawa langkah saya," jawab Satya rendah hati. "Mengenai bungkusan ini, anggap saja ini adalah 'teman' perjalanan yang tidak ingin saya pamerkan."
Ia meletakkan beberapa keping uang di atas meja, lalu berdiri dan memandang ke arah kegelapan desa.
"Paman, jangan khawatir. Saya bukan pencuri, apalagi pemuja ilmu hitam. Jika benar ada bayangan jahat yang merusak kehormatan desa ini, mungkin sudah saatnya cahaya membakar bayangan itu."
"Apakah Paman tahu di mana biasanya 'bayangan' itu terakhir kali terlihat?" tanya Satya kemudian.
"Ia sering muncul di rumah yang terletak di ujung utara, dekat rumpun bambu keramat, Anak Muda. Di sana tinggal janda muda dan gadis-gadis yang ayahnya sudah renta," jawab pemilik warung dengan suara gemetar.
Satya mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia melangkah keluar dari warung. Udara malam Desa Sekar Wangi terasa semakin berat dan lembap. Bau kemenyan samar-samar tercium di udara, bercampur dengan aroma busuk yang tidak wajar—sebuah pertanda bahwa pemilik ilmu Kamajaya Sungsang sedang beraksi.
Satya tidak berjalan lewat jalan utama. Ia melompat ke atas atap rumah warga dengan gerakan seringan kapas, nyaris tak bersuara. Dari ketinggian, matanya yang tajam mengawasi pergerakan di bawah. Benar saja, di keremangan rumpun bambu utara, sebuah bayangan hitam pekat bergerak dengan cara yang aneh; ia tidak berjalan, melainkan nampak meluncur di atas tanah.
Sosok itu mengenakan topeng kayu berbentuk wajah menyeringai dan bertelanjang dada yang dipenuhi coretan rajah berwarna merah darah. Di tangannya, ia memegang sebuah bumbung bambu kecil yang mengeluarkan asap putih tipis—sebuah sirep atau ilmu pengalih perhatian agar korbannya tertidur pulas.
Satya tersenyum dingin. "Ritual yang sangat kotor," gumamnya.
Tepat saat Si Bayangan Mesum hendak menyusup ke dalam jendela salah satu rumah warga, sebuah bayangan lain mendarat tepat di depannya. Wush!
"Langkahmu terlalu berisik untuk seorang pencuri, dan aromamu terlalu busuk untuk seorang pendekar," ucap Satya sambil berdiri tegak, tangannya masih bersedekap di dada.
Si Bayangan Mesum terlonjak kaget. Suaranya terdengar serak dan berat, seolah berasal dari tenggorokan yang rusak. "Siapa kau? Berani-beraninya mencampuri urusan Ki Sabrang Bolong! Pergi, atau nyawamu akan kujadikan tumbal malam ini!"
"Ki Sabrang Bolong? Nama yang cocok untuk seseorang yang hatinya sudah bolong oleh nafsu," balas Satya tenang. "Aku hanya seorang pengembara yang benci melihat wanita ketakutan. Lepaskan ilmumu, menyerahlah, dan bersihkan nama desa ini."
Ki Sabrang Bolong tertawa terkekeh, suara tawanya memicu bulu kuduk berdiri. "Anak ingusan! Kau pikir kain putih di punggungmu itu bisa menakutiku?"
Dengan kecepatan kilat, Ki Sabrang menerjang. Tangannya yang berkuku panjang memancarkan cahaya ungu kehitaman, mengincar leher Satya. Namun, Satya hanya bergeser satu langkah ke samping. Serangan itu hanya mengenai udara kosong.
"Ternyata kau hanya cepat dalam bersembunyi, bukan dalam bertarung," sindir Satya.
Ki Sabrang yang marah segera merapal mantra. Tubuhnya tiba-tiba membelah menjadi tiga bayangan yang identik. Mereka mengepung Satya dari tiga arah, semuanya tampak nyata dan mematikan. Ini adalah salah satu puncak ilmu hitamnya—Tri Wikrama Kelam.
Satya memejamkan mata. Ia teringat pesan Sunan Kalijaga: “Jangan melihat dengan matamu, karena mata mudah tertipu. Lihatlah dengan hatimu yang telah bening.”
Satya tidak mencabut Toya Emasnya. Ia hanya memutar tubuhnya perlahan, merasakan getaran udara. Saat ketiga bayangan itu menerjang secara bersamaan, Satya melesat ke atas, lalu mendaratkan satu tendangan keras tepat ke dada bayangan yang berada di tengah—satu-satunya yang memiliki detak jantung yang tidak stabil.
DUAK!
Tubuh Ki Sabrang Bolong terpental menghantam rumpun bambu. Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah, kepulan asap hitam pekat tiba-tiba meledak menyelimuti sosoknya. Saat asap itu tersapu angin, Ki Sabrang telah lenyap tanpa jejak, hanya menyisakan tawa parau yang menggema di kejauhan, seolah mengejek keberadaan Satya.
"Licin seperti belut," gumam Satya sambil menajamkan pendengarannya. Ia tidak mengejar, karena ia tahu pengejaran di kegelapan hutan hanya akan membuang energi bagi seseorang yang belum mengenal medan.
Tanpa disadari Satya, seorang warga bernama Pak Kromo yang sedang berjaga di balik semak-semak menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mata melotot. Ia melihat bagaimana pemuda asing itu menjatuhkan sosok yang selama ini menjadi momok desa hanya dengan satu gerakan.
"Setan itu... dia terpental! Anak muda itu berhasil memukulnya!" teriak Pak Kromo memecah kesunyian malam.
Dalam sekejap, suara kentongan dipukul bertalu-talu dengan nada titir (tanda bahaya/kejadian penting). Para pria yang tadinya curiga kini berlarian mendekat. Pak Kromo menceritakan dengan berapi-api bagaimana Satya menghadapi Ki Sabrang Bolong. Ketegangan yang tadinya menyelimuti Desa Sekar Wangi berubah menjadi harapan yang meluap-luap.
Warga desa kini berkerumun di sekeliling Satya. Wajah-wajah yang tadinya garang kini tertunduk malu, penuh rasa sesal karena telah mencurigai sang pendekar. Kepala Desa, seorang pria tua bernama Pak Lurah Darmo, maju sambil membungkuk dalam.
"Ampunkan kecurigaan kami, Den Bagus," ucap Pak Lurah dengan suara bergetar. "Kami sudah putus asa. Ki Sabrang Bolong tidak hanya mencuri harta, tapi juga menghancurkan kehormatan keluarga-keluarga di sini. Ilmu hitamnya membuat kami tak berdaya. Kami mohon... jangan tinggalkan desa ini sebelum iblis itu benar-benar sirna."
Melihat ketulusan warga, Satya tak tega. "Berdirilah, Pak Lurah. Saya hanya seorang pengembara. Jika memang keberadaan saya bisa membawa ketenangan, saya akan menetap sementara waktu."
Malam itu, Pak Lurah meminta Satya untuk menginap di rumahnya, rumah yang dianggap paling besar dan aman di tengah desa.
Rumah Pak Lurah terasa hangat, sangat kontras dengan hawa dingin di luar. Setelah membersihkan diri, Satya duduk di balai-balai kayu ruang tengah. Tak lama kemudian, pintu kamar dalam terbuka perlahan.
Seorang gadis cantik melangkah keluar sambil membawa nampan berisi wedang jahe panas dan singkong rebus yang masih mengepul. Gadis itu bernama Ratih Gayatri, putri tunggal Pak Lurah yang selama ini disembunyikan di dalam kamar demi keamanannya. Rambutnya hitam panjang terikat rapi, dan matanya yang jernih memancarkan kekaguman sekaligus rasa malu yang dalam.
"Silakan diminum, Raden," ucap Ratih Gayatri dengan suara selembut sutra. Ia meletakkan cangkir itu dengan gerakan yang sangat sopan, sesuai tata krama ningrat desa.
Satya tersenyum tipis, menghargai keramahan itu. "Terima kasih, Nyai. Tapi jangan panggil saya Raden. Saya hanya Satya, seorang musafir."
Ratih tersipu, wajahnya merona merah di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. "Bapak bercerita Anda sangat gagah saat menghadapi bayangan itu. Desa ini sudah lama tidak bisa tidur nyenyak. Kehadiran Kang Mas Satya seperti membawa rembulan di malam yang pekat."
Gadis itu tidak langsung pergi. Ia duduk di lincak kayu yang agak jauh, menjaga jarak namun tetap siap melayani jika Satya membutuhkan sesuatu. Sesekali ia melirik ke arah bungkusan kain mori putih di samping Satya, bertanya-tanya kesaktian macam apa yang tersimpan di dalam toya yang bisa mengusir ilmu hitam itu.
Di balik ketenangan itu, Satya tetap waspada. Ia tahu, Ki Sabrang Bolong belum kalah sepenuhnya. Luka di dada dukun ilmu hitam itu justru akan membuatnya semakin ganas dan haus akan pembalasan dendam yang lebih keji.
Jauh di dalam kegelapan Hutan Larangan yang berbatasan dengan Desa Sekar Wangi, terdapat sebuah gua tersembunyi yang tertutup akar gantung dan semak berduri. Di dalamnya, bau busuk bangkai dan aroma kemenyan yang menyengat memenuhi udara yang pengap.
Wush!
Kepulan asap hitam mendarat dengan kasar di atas tanah yang lembap. Ki Sabrang Bolong muncul kembali, namun kali ini ia tidak berdiri tegak. Ia tersungkur, memegangi dadanya yang terasa panas seperti terbakar api suci. Darah hitam kental merembes dari sudut bibirnya, mengotori rajah-rajah merah di tubuhnya.
"Keparat! Sialan!" geram Ki Sabrang dengan suara parau yang menggetarkan dinding gua.
Ia memukul batu cadas di sampingnya hingga retak. Amarahnya meluap, bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa. Selama bertahun-tahun ia melanglang buana, belum pernah ada satu pun jawara atau pendekar desa yang mampu menyentuh kulitnya, apalagi mematahkan ilmu Tri Wikrama Kelam-nya dengan satu serangan sederhana.
"Siapa pemuda itu?!" teriaknya kalap. "gerakannya lebih cepat dari kilat! Dan hawa murninya... ahhh!"
Ki Sabrang kembali meringis saat merasakan energi panas yang tertinggal di dadanya. Itu bukan sekadar pukulan fisik; itu adalah energi murni yang bersifat menghancurkan kegelapan. Ia merayap menuju sebuah altar kecil yang di atasnya terdapat tengkorak manusia dan sesaji yang telah membusuk.
"Dia bukan pendekar sembarangan," gumamnya sambil mengatur napas yang tersengal. "Tangan kosongnya saja sudah mengandung tenaga dalam yang luar biasa, apalagi sesuatu yang ia ikat dengan kain mori di punggungnya itu..."
Sepasang matanya yang merah menyala menatap kobaran api kecil di depannya. Rasa malunya jauh lebih besar daripada rasa sakitnya. Sebagai seorang pemuja ilmu hitam yang sedang menyempurnakan ritual nista, kekalahan ini adalah penghinaan besar bagi ilmu gaibnya.
"Kau telah mengusik harimau yang sedang lapar, Bocah Tengil," desis Ki Sabrang sambil mengambil sebilah keris hitam legam—Keris Kyai Kala Peteng. "Jika kau ingin menjadi pahlawan di Sekar Wangi, maka aku akan menjadikan desa itu kuburanmu. Akan kukirimkan teluh yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya!"
Ia mulai merapal mantra dengan bahasa yang tak dikenal manusia biasa. Tubuhnya mulai bergetar hebat, dan bayangan di dinding gua seolah-olah hidup, memanjang dan bergerak mengikuti amarah sang dukun hitam.
Sementara itu, di rumah Pak Lurah, Satya Wanara yang sedang duduk bersama Ratih Gayatri tiba-tiba menghentikan gerakannya saat hendak menyeruput wedang jahe. Ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas nampan.
Ratih yang menyadari perubahan ekspresi Satya bertanya dengan cemas, "Ada apa, Kang Mas? Apakah minumannya terlalu panas?"
Satya menatap ke arah jendela yang tertutup, matanya tajam seolah menembus kegelapan hutan. "Bukan, Nyai... angin malam ini tiba-tiba berubah arah. Ada hawa busuk yang sedang merayap mendekat."