Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Bulan
Enam bulan telah berlalu sejak Bima pindah ke Sanata Dharma. Waktu berjalan lambat tapi pasti, meninggalkan jejak di setiap sudut kehidupan. Bulan Maret kini berganti September, namun suasana hati Bima yang masih mendung tidak berubah.
Di kos Demak, Bima duduk di depan laptopnya yang usang. Kamar ini kembali menjadi markasnya setelah pemulihan di rumah Laras. Dindingnya kini lebih rapi—beberapa sketsa baru ditempel, termasuk satu sketsa Laras yang ia gambar diam-diam saat masa perawatan.
Rambutnya sekarang lebih panjang, hampir menutupi bahu, wajahnya lebih tirus meski ada sedikit daging di pipi. Lingkaran hitam di bawah mata masih ada, tapi tidak separah dulu.
Hari itu ia memakai kaos oblong putih polos dan celana training abu-abu—seragam yang nyaman. Di layar, baris-baris kode website pesanan klien keempat bulan ini masih setengah jadi. Ia mengetik pelan, sesekali berhenti memikirkan sesuatu yang jauh.
Pintu kos diketuk. Laras masuk tanpa menunggu jawaban—hal ini sudah menjadi kebiasaannya.
"Bim, makan!" Laras meletakkan bungkusan nasi bungkus di meja. Ia tampil casual dengan kemeja flanel longgar dan celana jeans, rambut panjangnya dikuncir kuda. Wajahnya segar, berbeda dengan Bima yang kusut.
"Makasih." Bima menutup laptop, mengambil nasi bungkus itu.
Laras duduk di dipan, mengamati Bima yang makan dengan lahap. "Lo kayak nggak makan seminggu."
"Tadi lupa makan siang."
Laras menghela napas. "Bim, lo harus jaga diri. Jangan kerja mulu."
"Orderan lagi banyak."
"Tapi kesehatan lo." Laras menatap sketsa dirinya di dinding. "Eh, itu gue?"
Bima menoleh, melihat sketsa yang ia maksud. Laras sedang duduk di teras rumahnya, dengan latar taman, tersenyum lembut. "Iya."
"Kapan lo gambar?"
"Pas lo jagain gue dulu. Lo lagi tidur di kursi. Gue iseng gambar."
Laras tersenyum, tapi matanya sendu. "Bim, lo tahu kan, gue... gue nggak mengharapkan apa-apa. Tapi kadang gue bingung."
Bima berhenti mengunyah. "Bingung apa?"
Laras menghela napas. "Lo di sini, bareng gue tiap hari. Tapi hati lo di mana? Masih sama Kay."
Bima diam. Pertanyaan itu terus menghantuinya.
"Maaf, gue nggak maksud ngerusak." Laras cepat-cepat menambahkan. "Gue cuma... pengen tahu."
Bima meletakkan nasi bungkus. Ia menatap Laras dengan pandangan rumit. "Laras, lo tahu jawabannya."
"Iya, gue tahu." Laras tersenyum getir. "Tapi kadang hati nggak bisa diperintah."
Mereka diam beberapa saat. Suara kipas angin berputar pelan, satu-satunya pengiring percakapan berat itu.
"Lo harus ketemu dia, Bim." Laras memecah keheningan. "Enam bulan sudah. Lo udah sembuh, jasa website mulai laku, uang masuk. Kapan lagi?"
Bima menggeleng. "Utang gue ke dia masih 15,7 juta. Tabungan gue habis buat bayar perawat. Mulai dari nol lagi."
Laras menghela napas. "Bim, dia nggak peduli utang!"
"Gue peduli." Bima tegas. "Gue harus bisa mandiri dulu. Buktiin kalo gue bisa."
Laras menyerah. "Oke. Tapi setidaknya, lo udah mulai dari awal. Jangan terlalu keras sama diri sendiri."
Bima mengangguk. "Makasih, Laras. Lo... lo baik banget."
Laras tersenyum—senyum yang menyembunyikan seribu luka. "Iya, gue tahu. Gue terlalu baik."
---
Malam harinya, Bima duduk sendiri. Ia membuka dompet, mengeluarkan foto Kay yang lusuh. Foto itu sudah usang, sudutnya robek, tapi tetap ia simpan.
"Kay, maaf gue belum bisa ketemu lo. Tabungan gue habis. Harus mulai dari nol lagi. Tapi gue janji, suatu hari nanti, gue akan datang."
Ia mengambil pensil dan buku sketsa. Di halaman baru, ia mulai menggambar—Kay sedang menangis, tapi di sampingnya ada dirinya yang memegang tangan. Di bawahnya, ia menulis:
"Sabar, Kay. Aku hampir sampai. Meski harus mulai dari nol lagi."
---
Di sisi lain kota, di kos Mika, Kay duduk di lantai dengan laptop terbuka. Ia sudah berjam-jam mencari informasi tentang Bima—memantau forum-forum kampus, grup Facebook, bahkan mencoba hack akun media sosial yang mungkin ia pakai. Tapi nihil.
Mika masuk membawa dua gelas cokelat panas. "Kay, istirahat. Udah jam 11 malam."
Kay menggeleng. "Sebentar lagi, Mik."
Mika duduk di sampingnya, menatap layar laptop yang penuh tab pencarian. "Kay, lo nggak bisa terus begini. Udah enam bulan."
"Gue harus cari dia, Mik."
"Tapi lo juga harus hidup. IPK lo naik, bagus. Tapi kesehatan lo?"
Kay menghela napas. "Gue baik-baik aja."
Ponsel Kay bergetar. Sebuah notifikasi—pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Biasanya ia hapus, tapi malam ini entah kenapa ia membukanya.
Sebuah video. Durasi 30 detik.
Kay membukanya. Jantungnya berhenti.
Video itu menunjukkan Bima—BIMA!—sedang duduk di sebuah taman kampus. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang tersenyum, berbicara akrab. Mereka tertawa bersama. Wanita itu sesekali menyentuh lengan Bima, dan Bima—Bima tersenyum balik.
Kay tidak bisa bernapas.
"Kay? Kay, lo kenapa?" Mika panik melihat Kay pucat.
Kay tidak menjawab. Ia memutar video itu lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Bima tersenyum pada wanita lain.
"Kay!" Mika merebut ponsel, melihat video itu. Matanya membelalak. "Ini... ini Bima?"
Kay menangis. Bukan tangis haru, tapi tangis hancur.
"Dia... dia udah punya orang lain, Mik."
Mika menggeleng. "Kay, kita nggak tahu konteksnya. Mungkin dia cuma temen."
"Lihat cara dia senyum, Mik! Dia nggak pernah senyum kayak gitu sama orang lain! Cuma sama gue! Tapi sekarang..."
Mika memeluk Kay. "Kay, tenang. Kita cari tahu dulu siapa yang kirim. Bisa jadi ini jebakan."
Tapi Kay tidak bisa tenang. Hatinya hancur berkeping-keping.
---
Siapa pengirim video itu? Di sebuah kamar kos lain, Tasya duduk dengan ponsel di tangan. Ia baru saja mengirim video itu ke Kay dari nomor palsu. Ia tahu itu salah, tapi ia juga tahu Bima dan Laras semakin dekat. Dan ia tidak tega melihat Kay terus berharap pada laki-laki yang mungkin sudah berpaling.
"Maaf, Kay," bisiknya. "Tapi lo harus tahu."
Tasya mendapatkan Video itu dari Rendra saat sebelum ia masuk penjara. Dengan harapan Tasya mengirimkan nya ke Kayana dan hubungan Kay dengan Bima hancur.
---
Esok harinya, Kay memutuskan sesuatu. Ia akan mencari Bima, bukan untuk memintanya kembali, tapi untuk melihat sendiri kebenarannya.
Kay dengan bantuan pak Yanto, mencari tahu siapa Gerry yang di tangkap karena pengeroyokan bima.
Pak Yanto mendapatkan informasi bahwa Gery kuliah di kampus Sanata Dharma.
“Ternyata selama ini Dia disana, tapi kenapa kita tidak pernah menemukan data Bima dikampus itu?”
Pak Yanto hanya bisa meminta maaf atas ketidak profesionalan nya.
Keesokan paginya, Kayana dengan segala kegelisahan setelah melihat video dari nomor tak dikenal itu. Meminta Mika untuk menemaninya ke kampus Sanata Dharma.
Mereka mencari ke Fakultas teknik, dan tiap-tiap fakultas.
“Apakah Bima ke Perpustakaan kay? Mungkin dia sedang berada disana”.
“Lo bener juga ya Mik. Ayo kita keperpustakaan”
Langkah kayana terasa berat, hatinya campur aduk. Ia takut melihat fakta kedekatan Bima dengan wanita lain.
Namun ia juga berharap itu tidak terjadi. Setelah enam bulan menahan gejolak kerinduan.
Disaat menaiki tangga lantai dua, kayana dan Mika melihat sekeliling ruangan. Dan berhenti di sebuah sudut meja.
Mereka melihat Sosok yang mereka kenal menghadap jendela dengan laptop usang yang sangat familiar dan di samping nya ada wanita anggun terlihat lebih dewasa.
Saat itu mereka melihat pria itu seakan seperti sedang melukis di sebuah kertas kosong di samping laptop usang itu.