NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Kyara menggigit bibir bawahnya, menunggu jawaban dari Erna yang tak kunjung terdengar. "Er ..." Terpaksa ia membuka suara lagi.

"Iya, Kya."

Lega lah hati Kyara. "Aku kira kamu sudah meninggalkan panggilan ini."

"Nggak lah. Aku tadi nepuk nyamuk dulu, Kya," kekeh Erna di ujung sana. "Lowongannya masih ada, Kya," lanjut Erna setelah kekehannya mereda.

"Alhamdulillah!" Spontan Kyara mengucapkan syukur.

"Kamu tertarik?"

"Iya, Er. Aku mau kerja."

"Serius?!" Erna memekik di seberang sana, sampai membuat Kyara menjauhkan ponselnya dari telinga. "Memangnya si Doni mengizinkan?"

Kyara mendesah berat. "Dia udah nggak peduli sama aku, Er. Aku capek hidup kayak gini terus. Berharap Doni memberikanku nafkah seperti dulu. Tapi nyatanya ... semua itu hanya ada dalam khayalanku saja. Aku juga ingin punya penghasilan sendiri, Er." Tiba-tiba, mata Kyara memanas.

"Oke, Kya. Bagus! Kamu nggak boleh menye-menye dan bergantung pada suamimu dan mertuamu lagi. Bangkit, Kya. Tunjukkan pada mereka kalau kamu mampu berdiri di kakimu sendiri. Semangat, Kyara," ucap Erna berapi-api.

"Er, makasih." Kyara terkekeh pelan.

Suasana sedikit mencair.

Kyara pun membuka obrolan lagi. "Tapi Er, kalau boleh tahu ... pekerjaan yang kamu tawarkan itu apa ya?"

"Mm ... jadi ART, Kya. Apakah kamu bersedia?"

Tanpa banyak berpikir, Kyara menjawab. "Aku bersedia, Er. Sangat bersedia."

"Sipp!" Erna bersorak. "Kalau begitu, sekarang juga ... kamu datang ke rumahku. Kita bicarakan sambil makan bakso Mang Dodo. Aku yang traktir, mau?"

Setelah sakit hati yang bertubi-tubi, akhirnya detik itu juga, tawa Kyara pecah membahana, berkat ucapan Erna. "Mau banget, Er. Baksonya yang pedes ya?"

"Siap kawan."

"Setelah gelap, pasti terbitlah terang." Kyara bergumam lega. "Terima kasih ya Allah." Senyum kecilnya terukir selepas panggilan itu berakhir.

Di ruang makan, Hesti, Doni dan Dini menyantap masakan Kyara dengan cecap nikmat. Mereka bertiga sampai nambah nasi berkali-kali.

"Mas!" Suara Dini memecah kekhidmatan itu.

"Apa, Din?" Doni menjawab sambil mengunyah.

"Mas kenapa sih nggak menceraikan Mbak Kya saja? Aku udah muak ih, melihat wajah dia wara-wiri di rumah ini."

"Heh! Jangan bicara seperti itu!" Hesti menegur anak bungsunya sambil menepuk lengan Dini.

"Loh, kenapa, Ma? Mas Doni kan katanya udah nggak cinta sama Mbak Kya. Jadi ... buat apa dipertahankan coba? Malah menyiksa diri sendiri saja. Kasihan Mas Doni tahu. Dia tuh berhak dapat istri yang jauh lebih baik, lebih cantik, lebih modis dan lebih muda," cerocos Dini tanpa jeda.

"Dini ... dengerin Mama ya!" Bukan Doni lagi yang menanggapi perkataan Dini, tapi Hesti. Ia seolah menjadi juru bicara bagi anak sulungnya. "Kalau Masmu menceraikan si Kya, berarti kita bertiga akan kehilangan pembantu gratis. Duh, Mama nggak mau ya. Lagian Masmu itu kan lelaki. Dia bisa menikah lagi tanpa harus menceraikan si Kya." Hesti menyeringai di akhir ucapannya.

Namun perkataan itu membuat Dini melebarkan mata. "Maksud Mama ... poligami?"

"Iya." Itu suara Doni. "Ide itu yang paling masuk akal dan menguntungkan untuk kita sekeluarga. Kya jadi istri pertama sekaligus pembantu di rumah ini ... terus istri keduaku nanti bertugas untuk melayaniku saja di atas ranjang, dan akan kupamerkan pada semua orang. Woahhh! Keren kan." Doni tergelak riang. "Senangnya dalam hati, punya istri dua. Dunia ... terasa milikku sendiri." Ia berdendang gembira sambil berjoget di kursinya.

Hesti dan Dini saling pandang, lalu ikut tertawa.

"Oh ya, Mas ..." Dini sudah berhenti dari tawanya. "Ngomong-ngomong soal istri kedua, memangnya Mas sudah punya calonnya?"

Doni menatap adiknya, ia mengangkat bahu sambil terkekeh kecil.

Tanpa mereka ketahui, Kyara mendengarkan obrolan itu. "Kalian sungguh keluarga yang sangat tak punya hati." Perih merambat menusuk hati, sampai membuat jemarinya gemetar. "Aku tak boleh menye-menye lagi. Aku tidak akan mau lagi jadi babu gratisan di rumah ini. Tidak!" Kyara membalik badan, mengayun langkah menuju pintu depan. Ia berniat pergi ke rumah Erna sesuai obrolannya tadi di telepon.

Kyara merapatkan sweater rajut warna hitam yang melekat di tubuhnya saat angin malam berembus, bersamaan dengan ia membuka pintu gerbang.

Kyara mengayun langkah agak cepat, bukan karena takut, tapi karena dia ingin segera sampai di rumah Erna.

"Kruyukk ..." Di tengah langkahnya yang cepat itu, perutnya berbunyi nyaring. Kyara menekannya, "Duh, lapar," desahnya. Ia jadi teringat perkataan Erna tadi, "Kita makan bakso Mang Dodo." Air liurnya nyaris menetes. "Sudah lama sekali aku nggak makan bakso Mang Dodo." Kyara tersenyum kecut. "Jangankan makan bakso Mang Dodo ... makan nasi saja ..." Perkataan itu menggantung begitu saja. Kyara makin mempercepat langkah karena gerbang rumah Erna sudah terlihat.

Dan ketika ia sampai, sang empunya rumah langsung muncul dari dalam rumah. "Kyaaa! Ayo masuk!" teriak wanita berambut ikal itu sambil melambaikan tangan.

Kyara membalas lambaian tangan itu, lalu ia membuka gerbang dan berjalan setengah berlari menghampiri Erna.

Setelah mereka berhadapan, kedua wanita seumuran itu pun berpelukan.

"Yuk masuk!" ajak Erna merengkuh bahu Kyara. "Bakso Mang Dodo sudah menunggu," lanjutnya diiringi kekehan.

"Ya ampun, Er. Makasih ya udah bener-bener beliin aku bakso Mang Dodo."

"Sama-sama, Kya. Udah ah, jangan ngomong kayak gitu. Kita kan teman."

Sampailah mereka di ruang makan. Erna mempersilakan Kyara duduk.

Ketika bokongnya jatuh menghantam kursi, mata Kyara langsung berkaca-kaca melihat satu mangkuk bakso berukuran besar, lengkap dengan mie dan sayurannya. Ada kerupuknya juga. Wangi kuah itu membuat perutnya berbunyi lagi.

"Hihi ..." Erna terkikik.

"Duh, maaf ya, Er. Perutku memalukan sekali," ucap Kyara dengan kikuk.

"Alah, santai aja, Kya. Nggak usah minta maaf segala. Aku tahu kok, kalau kamu pasti belum makan malam. Buruan dimakan baksonya, sekalian pakai nasi, mau?" tawar Erna.

Kyara ingin menggelengkan kepala, tapi perutnya memang butuh nasi untuk menjaga energi tetap ada. Supaya dia bisa melewati malam ini dengan tenang. "Mau, Er. Maaf ya, aku selalu merepotkanmu." Kepala Kyara tertunduk. Ia sejujurnya sangat malu, tapi rasa lapar itu tak bisa ditahan.

"Kataku ... santai, Kya. Santai. Kamu nggak usah malu-malu." Erna beranjak dari kursi di seberang Kyara. Melangkah  ke dekat kompor, lalu membuka magicom. Ia mengambil nasi satu piring penuh, kemudian kembali menghampiri Kyara. "Nih nasinya. Makan yang banyak, Kya. Nggak usah sungkan. Mumpung anak-anakku lagi nginep di rumah neneknya. Jadi kamu nggak usah merasa malu, oke?"

Air mata Kyara nyaris menetes, namun ia tahan. Ia tak mau lagi terlihat lemah. "Makasih, Er." Kyara mulai menyendokkan nasi ke mangkuk bakso miliknya, dan dua teman baik itu pun menyantap bakso sambil mengobrol ini dan itu.

Kyara menceritakan pada Erna tentang obrolan suami dan keluarganya yang tak sengaja ia dengar tadi.

"Amit-amit, Kya!" Erna menanggapi cerita Kyara dengan pekikan kemarahan. "Suami kamu dan keluarganya udah keterlaluan banget! Mereka bener-bener nggak punya hati dan otak. Tega sekali memanfaatkan kamu! Ya Allah ..." Geleng-geleng kepala Erna. "Minta cerai aja, Kya. Keluar dari rumah itu dengan segera!"

Kyara tertegun, ia menghela napas berat. "Aku inginnya juga begitu, Er. Minta cerai sama Doni dan segera keluar dari rumah itu. Tapi ..." Kyara memainkan sendok di mangkuk yang sudah kosong. "Kalau aku minta cerai sekarang ... aku harus pergi ke mana, Er. Aku udah nggak punya siapa-siapa. Uang pun nggak ada."

Mata Erna seketika berkaca-kaca. Ia mengerti kebingungan yang dirasakan Kyara.

"Maka dari itu, aku ingin sekali bekerja supaya aku punya penghasilan sendiri, dan nanti ... jika sudah cukup untuk mengontrak rumah ... aku akan minta cerai pada Doni."

"Kya ..." Erna beranjak dari kursinya, duduk di sebelah Kyara lalu memeluknya. "Semangat ya. Semoga Allah mempermudah niatmu."

"Aamiin, Er. Aamiin allahumma aamiin." Mereka saling berpelukan.

"Kalau kamu sudah mantap, aku akan menelepon Oma Amisha sekarang juga."

Perkataan itu berhasil membuat Kyara menekuk alisnya. "Oma Amisha?" ulangnya. "Maksudmu ..."

"Ya. Orang yang butuh ART itu adalah Oma Amisha."

Kyara tertegun. Ia menggigit bibirnya. Dilema pun melanda. "Kukira ... orang yang butuh ART itu orang jauh, ternyata tetanggaku sendiri, duh, bagaimana ini?"

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!