Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Di dalam mobil yang dikemudian Rizal, Naka menatap es teh di tangannya. Penasaran, seperti apa rasanya, apa sama dengan buatan Zea?
"Bos, teh sebanyak itu buat apa?" Rizal menatap Naka yang duduk di belakang dari center mirror.
"Kamu bagikan ke orang-orang."
"Orang-orang siapa?"
"Terserah. Berhenti saja di depan sana, lalu turun dan bagi-bagikan sama orang lewat."
"Hah!" mulut Rizal langsung menganga lebar. Nyesel dia tanya soal es teh kalau ujung-ujungnya malah disuruh berdiri di tepi jalan, bagi-bagi, mana panas banget lagi. "Em.. mending dibawa ke pabrik aja, dibagikan disana."
"Terserah," Naka sama sekali tak peduli. "Cepat beli tiket, kita balik ke Jakarta."
"Siap!" kalau urusan itu, Rizal gercep.
Naka mengambil sedotan yang ada di dalam keresek, menancapkan pada plastik penutup es teh lalu menyedotnya sedikit. Dulu Zea selalu membuatkannya dalam versi hangat, tak pernah dingin seperti ini, jadi dia kurang bisa menyamakan rasanya. Harapannya tinggal Bima. Sayang nomor ponsel mantan asprinya itu sudah ganti, jadi ia tak bisa menghubungi. Jalan satu-satunya, hanyalah mendatangi rumahnya.
Malam itu, Naka bersama Rizal kembali ke Jakarta. Dan keesokan harinya, mengabaikan jet lag, pagi-pagi Naka sudah ada di depan pintu rumah Bima. Namun setelah ia menekan bel, yang muncul buka Bima, tapi orang lain.
"Nyari siapa ya?" tanya laki-laki yang baru membuka pintu, menatap Naka curiga.
"Bima. Saya nyari Bima."
"Oh, Pak Bima. Pak Bima sudah tak tinggal disini. Rumah ini sudah dijual pada saya."
"Di jual?" Naka agak kaget. Setahu dia, dulu Bima merenovasi rumah ini sampai habis duit banyak demi memuaskan keinginannya, memiliki rumah sesuai impiannya. "Lalu, dia pindah kemana?"
"Maaf, saya kurang tahu. Selesai urusan jual beli, kami sudah tidak berhubung."
Jawaban itu membuat Naka kecewa, namun bukan berarti, ia menyerah begitu saja. Pasti ada orang yang mengetahui seperti apa wajah Zea. Ia hanya perlu mengingat-ingat, siapa orang itu.
Di kantor, Naka berulang kali memutar video Zara yang ia ambil kemarin. Otaknya terus berputar, mencari kira-kira siapa yang tahu seperti apa wajah Zea. Secepatnya, ia harus tahu soal Zara, karena kalau tidak, ia tidak akan bisa fokus bekerja.
Karena hari ini Rizal izin, Naka pulang diantar supir kantor. Tadi pagi Rizal masih mengantarnya ke rumah Bima, tapi setelah itu dia izin pulang karena kurang enak badan, kelelahan.
"Silakan, Pak," Prapto, supir kantor berperawakan tinggi kurus itu membukakan pintu untuk Naka.
"Terimakasih," Naka masuk lalu pintu mobil ditutup kembali oleh Prapto. Sejak kecelakaan mobil yang menyebabkan ia buta, Naka tak berani menyetir, masih trauma.
Dalam perjalanan pulang, masih terus memikirkan siapa yang harus ia tanyai soal Zea. Otaknya dipenuhi Zara, Zara dan Zara. Semua orang dimasa lalu seperti menghilang, bahkan seluruh ART, supir, dan keamanan di rumah sudah berganti dengan yang baru. Alamat Zea ia juga tidak tahu, tapi seingatnya, Zea berasal dari Jawa, kalau tidak salah, dari Sragen. Ini semua gara-gara Zara, padahal sebelumnya ia sudah mulai lupa soal Zea, sudah tak telalu memikirkannya lagi. Tapi sejak kemunculan sosok Zara, ia jadi ingin tahu.
"Langsung ke rumah atau mau mampir ke suatu tempat dulu, Pak?" tanya Prapto, menatap Naka dari spion tengah.
"Langsung pulang saja," sahut Naka sambil memijat pelipis. Kepalanya sakit, mungkin efek kelelahan sekaligus banyak fikiran.
"Baik kalau begitu."
Naka yang tak sengaja melihat wajah Prapto dari spion, tiba-tiba teringat sesuatu. Dulu, seingatnya beberapa kali ia diantar jemput supir kantor saat Bima cuti. Apa supir itu masih sama, atau juga sudah ganti orang. "Pak, sudah berapa lama kerja disini?"
"Saya?" Prapto menunjuk diri sendiri. "Em... berapa ya, sudah lama pokoknya. Sudah 10 tahun lebih kayaknya."
Naka yang awalnya bersandar di kursi, langsung menegakkan badan, matanya berbinar mendengar jawaban itu. Ia sedikit menggeser duduknya lebih maju agar bisa mengobrol lebih dekat dengan Prapto.
"Pak, apa Bapak kenal dengan suster saya saat saya buta dulu?"
"Suster siapa? Yang mana ya, Pak?" Prapto mengusap tengkuk sambil mengingat-ingat.
"Zea, yang paling lama jadi suster saya, yang masih muda." Awal-awal buta, Naka beberapa kali ganti suster karena selalu tidak cocok.
"Oh... yang cantik itu ya?"
"Iya, iya Pak," sahut Naka bersemangat. Ia memang tak pernah melihat seperti apa wajah Zea, namun beberapa kali mendengar orang memujinya cantik. Dulu saat makan di luar, pas periksa ke rumah sakit, atau pas jalan-jalan di taman, sering orang mengira jika Zea adalah pacarnya. Mereka rata-rata memuji jika dia dan Zea sangat serasi, cantik dan tampan. "Bapak masih ingat seperti apa wajahnya."
"Lupa lupa ingat sih, Pak," Prapto tertawa pelan. "Maklum usia juga sudah tidak muda lagi."
"Pak, menepi sebentar."
"Hah, ada apa ya, Pak?"
"Menepi saja dulu."
Setelah mobil berhenti di pinggir jalan, Naka menyerahkan video Zara yang ada di ponselnya. "Apa ini, adalah Zea, suster saya dulu?"
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣