Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Tarian Maut dan Panen Emas
Jeritan Ma Chen membelah kepekatan Lembah Kabut Beracun, terdengar begitu memilukan hingga menggema di sela-sela tebing batu. Tubuhnya yang lumpuh melayang di udara, tepat menuju rahang raksasa Ular Sisik Besi yang terbuka lebar.
CRASH!
Suara daging dan tulang yang dihancurkan dalam satu gigitan terdengar memuakkan. Darah segar menyembur, menodai taring-taring kuning monster itu. Ular raksasa tersebut menelan tubuh Ma Chen bulat-bulat, lalu mendesis puas. Sepasang mata kuning bergaris vertikalnya kini menatap Li Jian. Monster ini tahu, hidangan utamanya masih berdiri di sana.
"Ular tingkat enam puncak. Hati-hati, bocah," suara Yueyin menggema di benak Li Jian. Alih-alih nada dingin dan meremehkan seperti biasanya, kali ini ada secercah keseriusan, bahkan mungkin sedikit... kepedulian. "Sisiknya telah menyerap esensi besi dari bumi selama ratusan tahun. Kau tidak akan bisa menembusnya dengan tebasan biasa, bahkan dengan Gerhana sekalipun."
"Lalu bagaimana cara membunuhnya, Senior?" batin Li Jian tenang. Tangannya mencengkeram erat gagang pedang hitam tumpulnya, siap menyambut serangan.
"Racunnya adalah senjata terkuatnya, tapi juga kelemahan terbesarnya. Di dalam tenggorokannya terdapat Kantung Racun yang terhubung langsung ke jantungnya. Pancing dia membuka rahangnya, dan bekukan dari dalam!"
Seolah memahami niat membunuh Li Jian, Ular Sisik Besi itu mendesis marah. Ekor raksasanya menyapu tanah berbatu, mengirimkan bongkahan-bongkahan batu seukuran kereta melesat ke arah Li Jian bagai meriam.
Li Jian mengalirkan Qi peraknya ke kaki. Seni Langkah Bintang Jatuh. Tubuhnya melesat seringan ilusi, menghindari bebatuan itu dengan gerakan zig-zag yang memukau.
Melihat mangsanya lolos, monster itu mengangkat separuh tubuhnya ke udara, perutnya menggelembung. Sedetik kemudian, semburan kabut hijau pekat yang seratus kali lebih beracun dari miasma lembah disemburkan bagai air bah.
Batuan tebing yang terkena semburan itu langsung mendesis dan meleleh menjadi cairan hitam.
"Domain Es Cermin Bintang!" gumam Li Jian. Ia memutar Gerhana di depannya bak sebuah perisai raksasa, melepaskan gelombang hawa dingin absolut. Kabut beracun itu saling bertabrakan dengan aura Yin milik Li Jian, menciptakan suara berderak keras saat racun tersebut dipaksa membeku menjadi kristal-kristal hijau yang berjatuhan ke tanah.
Namun, Ular Sisik Besi sangat licik. Menggunakan kabut beku sebagai tabir, kepala raksasanya melesat menembus asap, taringnya yang meneteskan bisa mengarah langsung ke tubuh Li Jian.
Ini adalah momen yang ditunggu Li Jian.
Bukannya menghindar, pemuda itu justru menanamkan kakinya kuat-kuat ke tanah. Ia menatap ke dalam mulut raksasa yang gelap dan berbau bangkai itu. Saat taring sang monster hanya berjarak hitungan jengkal dari wajahnya, Li Jian melentingkan tubuhnya ke belakang, tergelincir masuk tepat di bawah rahang bawah ular tersebut.
"Sekarang!" teriak Yueyin.
Dengan kedua tangannya, Li Jian menikamkan Gerhana langsung ke arah langit-langit mulut sang ular yang lunak, mengerahkan seratus persen Qi Bintang Pemakan Langit dari Dantian-nya.
Bilah pedang tumpul yang luar biasa berat itu menembus daging lunak dan bersarang di tenggorokan monster tersebut. Ledakan energi perak meletus. Hawa dingin ekstrem menyebar dari ujung Gerhana, merambat langsung ke Kantung Racun dan membekukan jantung Ular Sisik Besi dalam hitungan detik.
Monster raksasa itu menegang kaku di udara. Matanya yang kuning meredup seketika. Sebuah patung es raksasa terbentuk dari dalam ke luar, menghentikan aliran darah dan kehidupannya secara permanen.
BLAAAR!
Tubuh seberat puluhan ton itu ambruk ke tanah berbatu, menciptakan gempa kecil yang menyapu sisa kabut di sekeliling mereka.
Li Jian menarik pedangnya dan melompat mundur, napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar menguras habis Qi di Dantian-nya hingga ke tetes terakhir.
Tiba-tiba, sebuah riak cahaya keperakan berpendar dari giok hitam di dadanya. Di hadapan Li Jian, ilusi transparan sesosok wanita berpakaian putih dengan cadar tipis terwujud. Yueyin melayang beberapa inci di atas tanah yang beku.
Mata biru esnya menatap wajah Li Jian yang kelelahan. Untuk pertama kalinya, ujung jari ilusi Yueyin terulur, menyentuh pelipis Li Jian dengan kelembutan yang membekukan namun menenangkan jiwa. Sentuhan itu mengalirkan seutas energi jiwa murni, meredakan ketegangan di meridian Li Jian.
"Kau ceroboh," bisik Yueyin, suaranya sedingin angin malam, namun ada getaran halus di baliknya. "Jika tebasanmu meleset satu inci saja, taring racun itu akan melelehkan kepalamu. Apakah kau tidak menyayangi nyawamu sendiri?"
Li Jian menatap mata biru itu tanpa gentar. Sebuah senyum tipis—yang sangat jarang ia perlihatkan—terlukis di wajahnya. "Jika aku mati di sini, siapa yang akan membantumu kembali ke takhtamu, Senior? Aku tidak akan mati sebelum janji kita terpenuhi."
Yueyin terdiam. Mata di balik cadar itu sedikit melebar sebelum ia mendengus pelan dan memalingkan wajahnya. Ilusi tubuhnya perlahan memudar kembali ke dalam giok. "Bicaramu besar untuk seorang bocah Tingkat Empat. Cepat panen hasil kerjamu sebelum darah monster ini mengundang bahaya lain."
Li Jian tertawa pelan. Rasa sakit di otot-ototnya seakan lenyap. Ia berjalan mendekati bangkai Ular Sisik Besi, menggunakan Gerhana untuk menghancurkan sisik leher yang sudah rapuh karena beku.
Dari dalam tenggorokan ular, ia menarik sebuah kantung berwarna hijau zamrud sebesar kepala manusia—Kantung Racun utuh. Sedikit lebih dalam, ia menemukan sebuah kristal bulat bercahaya redup—Inti Monster Tingkat Enam.
Sebagai bonus, Li Jian membedah perut ular itu dan menemukan kantong penyimpanan spasial milik Ma Chen yang tidak ikut tercerna karena perlindungan formasi spasialnya. Ia juga memungut kantong penyimpanan milik dua pengikut Ma Chen yang tewas sebelumnya.
Hanya dari barang rampasan ketiga pembunuh ini, Li Jian menemukan lebih dari seribu batu spiritual tingkat menengah dan puluhan botol pil berharga.
"Enam ratus poin kontribusi, ditambah kekayaan ketiga anjing pesuruh ini," gumam Li Jian sambil memasukkan semuanya ke dalam cincin penyimpanannya sendiri. Matanya menyipit, menatap ke arah Puncak Awan Berkabut di kejauhan.
"Zhao Tian... kau memberiku banyak hadiah hari ini. Sebagai balasannya, aku akan segera berkunjung."
Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit Lembah Kabut Beracun dengan warna merah saga. Siluet Li Jian berjalan keluar dari lembah, membawa kekayaan yang cukup untuk mengguncang Sekte Dalam, dan sebuah pedang tumpul yang semakin haus akan darah.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏