NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERAKAN KAMPUNG ULAT

Angka dua ratus kilo itu terus berdengung di telingaku seperti jutaan lebah yang mengamuk. Aku mematung di pelataran masjid, menatap kepulan debu mobil Pak Bima yang kian menjauh.

Di lantai atas rumah Kyai, aku melihat bayangan Zahra di balik tirai yang tersingkap sedikit. Ia pasti mendengar semuanya, dan aku bisa merasakan kekhawatirannya merambat sampai ke dadaku.

Gudang kecilku saat ini hanyalah lubang sempit jika dibandingkan dengan target satu ton. Jika aku memaksakan diri bekerja sendirian, bukan cuma pingsan, mungkin aku akan benar-benar diantar ke pemakaman desa minggu depan.

"Mas Hafiz, dua ratus kilo itu bukan main-main. Itu butuh lahan yang cukup seluas dan tenaga sepuluh orang!" Pak Mamat datang menghampiriku, wajahnya penuh kecemasan.

Aku menatap Pak Mamat, lalu beralih menatap sekelompok pemuda desa yang sedang nongkrong di gardu depan gerbang pesantren. Mereka tertawa-tawa sambil bermain kartu, membuang waktu di tengah kemiskinan yang mencekik desa ini.

Insting CEO-ku mendadak bangkit, memicu sebuah ide gila yang belum pernah terpikirkan oleh siapa pun di desa ini. Strategi Inti Plasma, sebuah konsep bisnis yang dulu sering kugunakan untuk ekspansi properti di Jakarta.

"Pak Mamat, kumpulkan mereka semua. Para pemuda yang ada di gardu itu," perintahku tegas.

Pak Mamat melongo. "Maksud Mas? Mereka itu anak-anak nakal, Mas. Kerjanya cuma bikin rusuh."

"Kumpulkan saja. Bilang kalau mereka mau punya uang buat beli motor atau bantu orang tua, temui aku di belakang gudang sepuluh menit lagi."

Sepuluh menit kemudian, sekitar dua belas pemuda dengan rambut dicat dan pakaian lusuh berdiri di depanku. Mereka menatapku dengan pandangan meremehkan, seolah aku hanya tontonan lucu.

"Ada apa, Marbot? Mau minta bantuan sapu masjid?" celetuk salah satu dari mereka, disambut tawa yang lain.

Aku tidak marah. Aku justru mengeluarkan tumpukan uang tunai hasil pembayaran Pak Bima tadi dan mengipas-ngipaskannya di depan mata mereka.

Tawa mereka langsung lenyap. Mata mereka yang tadi sayu mendadak melebar, terkunci pada lembaran merah yang melambai-lambai.

"Ini bukan uang haram. Ini hasil kerja keras ulat kandang di belakang sana," ucapku tenang. "Aku butuh dua ratus kilo seminggu. Aku nggak bisa sendiri."

"Maksud lo, kita disuruh jadi kuli lo?" tanya seorang pemuda bernama joko, yang dikenal sebagai ketua tongkrongan mereka.

"Bukan kuli. Tapi mitra," koreksiku. "Aku kasih kalian bibit gratis, aku ajarin caranya, dan aku kasih pakan fermentasi rahasiaku. Kalian pelihara di rumah masing-masing. Begitu panen, aku beli semua hasilnya dengan harga tinggi."

Mereka saling lirik, bisik-bisik mulai terdengar. Konsep ini terlalu baru buat mereka, tapi tumpukan uang di tanganku adalah bukti yang tak terbantahkan.

"Kenapa nggak lo sewa buruh aja?" tanya Joko lagi, mulai tertarik.

"Karena aku ingin kalian punya bisnis sendiri. Kalau desa ini kaya, masjid juga makmur," jawabku diplomatis, meski dalam hati aku tahu ini satu-satunya cara ekspansi tanpa modal lahan besar.

"Gue ikut!" seru seorang pemuda paling kecil di antara mereka. "Gue bosen dimarahin emak mulu karena nggak kerja."

Satu per satu dari mereka mulai maju. Hari itu, di belakang gudang yang bau, aku memberikan pelatihan kilat. Aku tidak lagi bicara sebagai marbot, tapi sebagai pemimpin yang memberikan harapan.

Tiga hari berlalu, dan desa yang tadinya sepi mendadak bergeliat. Bau ampas kelapa fermentasi mulai tercium dari beberapa rumah warga.

Para pemuda yang biasanya bikin onar, kini sibuk membuat kotak-kotak kayu dari sisa papan bekas. Warga desa yang dulu mencibirku sebagai 'sampah', kini menyapaku dengan hormat saat aku lewat.

"Mas Hafiz, terima kasih ya. Anak saya sekarang bangun pagi terus buat urus ulat," ucap seorang ibu penjual gorengan saat aku membeli sarapan.

Aku hanya tersenyum. Rasanya luar biasa, lebih membahagiakan daripada saat aku menutup kesepakatan miliaran rupiah di gedung pencakar langit.

Kedamaian itu terusik saat aku hendak masuk ke masjid untuk asar. Kyai Abdullah berdiri di selasar, menatap ke arah perkampungan yang kini dipenuhi aktivitas peternakan ulat.

"Hafiz, ikut aku," ucap Kyai singkat.

Aku mengikutinya ke ruang tengah yang sejuk. Di sana, sudah duduk Gus Farid dengan wajah yang disok-sokkan prihatin, namun matanya memancarkan kebencian yang mendalam.

"Hafiz, apa benar kamu menghasut pemuda desa untuk bekerja padamu?" tanya Kyai tanpa basa-basi.

"Bukan menghasut, Kyai. Saya mengajak mereka berwirausaha," jawabku tenang.

Gus Farid mendengus keras. "Berwirausaha atau eksploitasi, Fiz? Kamu kasih mereka bibit gratis tapi nanti kamu tekan harganya saat panen, kan? Kamu cuma mau memperkaya diri sendiri dengan memanfaatkan kemiskinan mereka!"

"Saya punya kontrak tertulis dengan harga transparan, Farid. Silakan kamu cek kalau kamu punya nyali untuk turun ke rumah warga," tantangku balik.

"Sudah, sudah!" Kyai menengahi. "Farid bilang, aktivitas warga ini mulai mengganggu ketenangan pengajian karena bau pakan dan kebisingan orang bertukang."

"Kyai, bau pakan itu hanya sementara karena proses fermentasi. Dan kebisingan itu adalah suara orang yang sedang menjemput rezeki halal," tegasku. "Apakah itu lebih buruk daripada suara knalpot motor sport yang meraung-raung tiap malam?"

Wajah Farid memerah. Ia tahu aku sedang menyindirnya.

Kyai Abdullah terdiam lama, jarinya memutar tasbih dengan cepat. "Aku akan memantau ini. Jika dalam seminggu ini ada warga yang mengadu karena dirugikan, aku akan menghentikan semuanya."

Aku keluar dari rumah Kyai dengan perasaan bergemuruh. Aku butuh dukungan, aku butuh Zahra.

Malam itu, hujan turun dengan deras, menciptakan tirai air yang menutupi pandangan. Aku sedang menyusun laporan di gudang saat pintu belakang terbuka sedikit.

Zahra masuk dengan tubuh yang sedikit basah, mukenanya menempel di kulit, memperlihatkan bahunya yang indah di bawah cahaya lampu yang temaram. Ia membawa termos kecil berisi teh hangat.

"Mas, kamu hebat," bisiknya sambil meletakkan termos itu. "Pemuda desa sekarang panggil kamu 'Raja Ulat'. Mereka sangat hormat padamu."

Aku menariknya mendekat, mengabaikan bau tubuhku yang kotor. "Semua ini karena kamu, Zahra. Kamu yang buat aku bertahan."

Zahra menatapku, matanya yang sayu tampak berkaca-kaca karena haru.

"Mas... kita harus hati-hati," bisiknya.

"Aku janji, Zahra. Sebentar lagi, nggak akan ada yang bisa menghalangi kita."

Zahra, menatapku sekali lagi dengan binar cinta yang begitu dalam sebelum menghilang di balik kegelapan hujan.

Aku kembali ke meja kerjaku, mencoba menenangkan diri dengan membuka buku catatan.

Di kegelapan malam, aku melihat sebuah siluet mencurigakan sedang mendekati tangki pakan utama di ujung desa.

Darahku mendidih. Aku segera berlari keluar gudang menuju rumah-rumah warga, mengabaikan badai yang mengamuk.

Instingku berteriak bahwa Farid tidak akan tinggal diam melihat 'Gerakan Kampung Ulat' ini sukses besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!