Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya membuat Naya yang sejak tadi tertidur pulas terbangun. Ia menggeliat pelan, lalu bangun dengan sempoyongan.
Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak mandi, hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesai dan mengganti pakaian dengan dress rumahan sederhana, Naya turun ke lantai dasar.
"Naya, kita harus segera pergi." Suara Tuan Tuqman terdengar mendesak dari tangga. Pria paruh baya itu turun dengan terburu-buru, menghampiri Naya masih yang berdiri di ambang pintu ruang makan.
"Pergi kemana, pa?" Tanya Naya bingung.
"Ke tempat lain, Lucio sudah tahu rumah ini. Dia pasti akan datang kemari."
Benar juga, Naya hampir melupakan hal itu. Naya tidak jadi sarapan, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan tasnya. Kemudian mengikuti ayahnya masuk ke mobil.
"Cuma kita berdua, pa?" Naya heran karena biasanya ayahnya hampir tidak pernah menyetir, supir keluarga selalu menyetir untuk mereka.
Tapi, pagi ini ayahnya benar-benar mengetir sendiri.
Tuan Tuqman menghela nafas berat dan berkata. "Papa nggak mau mengambil resiko, Lucio bisa saja melakukan hal gila untuk menarik kamu kembali."
Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi, membelah jalanan pagi yang sudah ramai oleh orang-orang yang memulai hari mereka dengan aktivitas seperti bekerja, sekolah atau hanya sekedar pergi keluar untuk menenangkan diri.
Mereka berkendara selama satu jam lebih hingga akhirnya mobil berhenti di halaman rumah minimalis satu lantai berpagar tinggi.
“Rumah siapa ini, pa?” Tanya Naya seraya memperhatikan rumah tersebut. Ia melihat beberapa orang berseragam hitam tersebar di sudut halaman, berdiri dengan sikap profesional. Ada sekitar sepuluh orang.
“Ini rumah nenek kamu, papa udah menyewa beberapa tenaga profesional untuk menjaga kamu selama tinggal disini.” Jawab Tuan Tuan Tuqman.
Naya menelan salivanya, entah mengapa ia merasa tidak aman berada disini.
“Kamu akan baik-baik saja,” kata Tuan Tuqman saat Naya menatapnya dengan pandangan ragu.
“Tapi, pa—”
“Percaya sama papa.” Potong tuan Tuqman tegas. Naya mengangguk, membuka pintu mobil dengan setengah hati. Ia menoleh lagi ke ayahnya.
“Kamu aman disini.” Tuan Tuqman menganggukkan kepala. “Kalau sesuatu terjadi, kamu segera hubungi papa.”
“Ya, papa.” Naya keluar.
Ayahnya melambaikan tangan, kemudian memutar setir mobil meninggalkan rumah tersebut. Naya berdiri berlama-lama memperhatikan mobil yang sudah menghilang dari pandangannya.
Naya merasakan punggungnya dingin seolah ada angin dingin yang lewat, ia menoleh ke belakang dan tersentak mendapati seorang pria tinggi besar berseragam hitam menatapnya dari pintu. Mata abu-abunya agak menyeramkan, menatap Naya dengan tatapan aneh yang membuat Naya merinding.
Benarkah disini aman?
Pria itu kemudian melangkah lebar ke arahnya. Saat dia berdiri dalam jarak dekat, Naya bisa melihat bekas luka di bawah bibirnya.
“Selamat datang, nona, saya Jhon,” katanya memperkenalkan diri dengan ramah. Berbanding terbalik dengan tampangnya yang menyeramkan, suaranya cukup enak di dengar.
“H-hai, aku Naya.” Kata Naya tergagap.
“Anda bisa beristirahat di dalam,” katanya lagi, memberi gestur mempersilahkan Naya masuk.
Naya berjalan masuk bersama pria itu ke dalam rumahnya, namun perasaan tidak nyaman dalam hati Naya tidak kunjung menghilang.
“Ini kamar anda,” katanya berhenti di depan pintu kamar paling belakang.
“Terimakasih, kamu bisa pergi. Aku ingin istirahat saja.” Mata Naya memperhatikan sekeliling rumah yang sepi, ia tidak melihat satupun pelayan perempuan. Kekhawatirannya semakin nyata saat menyadari hanya ia satu-satunya perempuan yang ada disini.
“Tentu, Nona. Kalau butuh sesuatu, panggil saja saya.” Pria itu sedikit menundukkan kepalanya, kemudian segera pergi, mungkin kembali keluar.
Naya kemudian masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu. Tapi…
“AAAAA….!!!”
Seketika teriakan menggelegar memenuhi kamar tersebut tepat setelah ia melihat ke ranjang.
*
BRAK!
Pintu itu terhempas keras, suaranya menggema dan seketika mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan. Suasana yang tadinya tenang langsung berubah tegang.
Lucio berdiri di ambang pintu. Tatapannya tajam, penuh amarah yang nyaris tak terkendali. Aura dingin dan mengintimidasi menyelimuti dirinya, membuat siapapun yang melihatnya enggan bergerak.
“Di mana Tuqman?!” tanyanya dingin.
Ia datang ke tempat itu bukan tanpa alasan. Setelah Naya menghilang dari rumahnya, Lucio langsung ke rumah keluarga Naya, namun hasilnya nihil. Karena itulah kini ia berada di sini, di perusahaan milik ayah Naya.
Beberapa staf yang berada di ruangan itu mulai berbisik pelan, meskipun jelas terlihat gugup.
“Itu Lucio Morgan Altarex, kan?” bisik salah satu staf perempuan pada temannya, matanya tak lepas dari sosok pria itu.
“Ya, jelas itu dia, tapi kenapa dia datang ke sini? Dan kenapa mencari Pak Tuqman?”
“Mana aku tahu…”
“Jangan bilang orang gila ini mau menjadikan perusahaan ini target selanjutnya,” staf lain ikut menyahut, suaranya semakin pelan, takut terdengar.
Lucio mengabaikan semua bisikan itu. Rahangnya mengeras, matanya menyapu ruangan mencari seseorang.
“Lucio!”
Rima, yang kebetulan melintas di depan ruangan itu, langsung menghampiri dengan wajah yang tampak senang sekaligus terkejut.
Namun saat ia hendak menyentuh lengan Lucio—
“Jaga sikap Anda.”
Mario dengan sigap melangkah maju, menghalangi tangan Rima sebelum sempat menyentuh tuannya. Tatapannya tegas, memperingatkan agar Rima tidak melewati batas.
Rima tertegun, tangannya tertahan di udara.
“Di mana Naya?” tanya Lucio pada Rima, suaranya pelan dan hanya cukup terdengar oleh Rima.
Tanpa menunggu jawaban, ia meraih pergelangan tangan Rima dan menariknya keluar dari ruangan. Gerakannya cepat dan penuh tekanan, membuat beberapa orang di dalam ruangan hanya bisa saling berpandangan sambil menahan nafas.
Di koridor yang sepi, Lucio melepaskan tangan Rima. Mario mengikutinya dan berdiri beberapa langkah di belakang, menunggu perintah.
“Lucio, mari kita mengobrol di kantin sambil makan.” Ajak Rima tersenyum manis.
Lucio hendak kembali bertanya ketika suara ponselnya terdengar. Lucio mengeluarkan ponselnya, siapa tahu itu pesan dari salah satu anak buahnya yang ia perintahkan mencari Naya.
Namun, wajahnya langsung membeku saat melihat pesan itu dari orang yang sedang ia cari. Tapi, pesan itu cukup aneh dan sontak membuat Lucio panik dan cemas.
[Naya : Lu, tolong!]
...***...