NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: NEGERI ASING

Yun-seo terbangun dengan sentakan.

Tubuhnya refleks meraih sesuatu—refleks lama saat main game semalaman dan takut ketahuan guru. Tapi alih-alih monitor komputer, yang ia lihat adalah tenda kanvas abu-abu dan lampu minyak yang masih menyala redup.

"Ah... bukan mimpi."

Ia menghela napas panjang, merasakan pegal di sekujur tubuh. Tidur bersandar di tiang tenda jelas bukan posisi ideal. Lehernya kaku, punggungnya linu, dan matanya perih karena kurang tidur.

Di sampingnya, wanita itu masih terbaring. Napasnya teratur sekarang—tanda stabil. Darah di wajahnya sudah dibersihkan tabib, memperlihatkan kulit putih bersih tanpa cacat. Yun-seo mengamatinya lama.

"Kenapa sih cantik banget?" gumamnya pelan. "Ini nggak adil. Iblis kok cantik."

Seperti menjawab gumamannya, bulu mata wanita itu bergetar. Matanya—sekarang hitam pekat, bukan merah—terbuka perlahan.

Yun-seo menegang.

Wanita itu menatap langit-langit tenda beberapa detik, mencerna. Lalu menoleh. Matanya bertemu dengan Yun-seo.

Diam.

Yun-seo tersenyum canggung. "E... selamat pagi?"

Wanita itu duduk mendadak—terlalu cepat untuk orang yang baru sadar dari pingsan. Tubuhnya tegang, matanya mengamati sekeliling dengan waspada. Insting bertarung. Insting ratu iblis yang terbiasa diserang kapan saja.

"Di mana ini?" suaranya serak, tapi tetap terdengar anggun.

"Tenda darurat Aliansi Murim," jawab Yun-seo cepat. "Kau aman. Untuk sementara."

Wanita itu menatapnya tajam. Lalu matanya jatuh ke tangannya sendiri—tangan manusia. Ke dadanya—dada manusia. Ke rambut yang ia raba—rambut hitam, bukan perak.

"Aku..." suaranya bergetar. "Kekuatanku... hilang."

"Sepertinya begitu."

Wanita itu diam. Wajahnya tidak berubah, tapi Yun-seo bisa melihat sesuatu di matanya—kehancuran. Seperti pemain yang kehilangan save file 1000 jam.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya dingin.

"Hei, jangan curiga dulu! Aku nggak ngapa-ngapain. Kau jatuh dari langit dalam keadaan sekarat. Aku cuma... menolongmu."

"Menolongku?" Wanita itu tertawa getir. "Manusia menolong iblis?"

Pertanyaan itu menggantung.

Yun-seo menggaruk kepalanya yang kusut. "Dengar, aku nggak tahu apa-apa tentang dunia ini. Aku baru datang—mungkin karena cincin ini." Ia tunjukkan cincin di jarinya. "Kau bilang 'yang kupanggil' sebelum pingsan. Maksudnya apa?"

Wanita itu menatap cincin itu. Matanya melebar—hanya sedikit, tapi Yun-seo menangkapnya.

"Cincin Pemanggil," bisiknya. "Jadi kau benar-benar datang."

"Iya, aku datang. Sekarang tolong jelasin: di mana aku? Siapa kau? Kenapa bisa ada iblis? Dan kenapa tiba-tiba jadi manusia?"

Wanita itu menatapnya lama. Mungkin menilai apakah manusia ini bisa dipercaya. Akhirnya, ia menghela napas panjang.

"Nama asliku Hwang Yehwa. Aku adalah ratu iblis dari Dinasti Iblis Surgawi. Aku memerintah bangsa iblis selama 200 tahun." Ia berhenti, menelan ludah. "Sampai kemarin, ketika wakilku yang paling kupercaya menusukku dari belakang."

"Wakilmu?"

"Lilian. Iblis tingkat tinggi yang kuangkat sebagai tangan kanan." Mata Yehwa menyala—bukan merah, tapi amarah murni. "Dia mengkhianatiku. Bekerja sama dengan manusia—Penguasa Kegelapan, katanya—untuk merebut tahta. Dalam pertempuran itu, kekuatanku... aku kehilangannya."

Yun-seo mencerna. Ini seperti lore game yang kompleks. Tapi ini nyata.

"Lalu... kenapa kau jadi manusia?"

"Karena kekuatanku hilang, wujud asliku tidak bisa bertahan. Aku kembali ke bentuk asal—bentuk sebelum menjadi ratu iblis. Manusia." Yehwa menatap tangannya sendiri dengan getir. "Ironis. Aku yang membenci manusia, sekarang jadi salah satu dari kalian."

"Aku bisa bayangkan perasaanmu."

"Tidak, kau tidak bisa." Yehwa menatapnya tajam. "Kau manusia biasa. Tidak tahu apa itu memerintah kerajaan, lalu kehilangan segalanya dalam sehari."

Yun-seo diam. Ia memang tidak tahu. Tapi ia tahu rasanya kehilangan—kehilangan orang tua meski mereka masih hidup, kehilangan masa kecil karena ditinggal, kehilangan arah hidup karena tidak punya tujuan.

Tapi ia tidak mengatakan itu.

"Dengar," katanya pelan, "aku nggak tahu cara mengembalikan kekuatanmu. Tapi untuk sekarang, kita punya masalah lebih besar."

"Apa?"

Dari luar tenda, suara langkah kaki mendekat. Yun-seo cepat berbisik, "Mereka kira kau manusia. Istriku. Aku bilang kita ditawan iblis bertahun-tahun dan baru kabur. Jadi, tolong ikuti alur ini kalau kau nggak mau dipenggal."

Yehwa membeku. "Kau bilang... istri?"

"Nggak ada pilihan lain! Mereka mau bunuh kita kalau curiga!"

Sebelum Yehwa bisa menjawab, tirai tenda terbuka. Jin-ho, prajurit bermata satu itu, masuk dengan wajah serius.

"Kalian sudah sadar. Bagus." Ia duduk di depan mereka berdua. "Aku perlu informasi. Tentang iblis. Tentang apa yang terjadi di sana."

Yun-seo dan Yehwa bertukar pandang cepat.

"Aku... Kang Yun-seo," kata Yun-seo memulai, berusaha terdengar stabil. "Ini istriku, Hwang Yehwa. Kami dari desa kecil di kaki Gunung Yongdu. Maaf, saya tidak tahu nama pastinya—kami diculik malam hari, dibawa ke tempat gelap..."

"Gunung Yongdu?" Jin-ho mengernyit. "Itu di wilayah barat. Jauh dari sini."

"Iya, Tuan. Kami dibawa jauh. Bertahun-tahun di sana. Saya..." Yun-seo menunduk, berpura-pura terisak. "Saya tidak ingin mengingatnya."

Jin-ho diam, menatap mereka bergantian. Tatapannya tajam—tidak mudah dibohongi. Ini prajurit veteran yang sudah ratusan kali melihat kebohongan.

Yehwa tiba-tiba meraih tangan Yun-seo. Jari-jarinya yang dingin menggenggam erat. Suaranya lirih, bergetar—akting sempurna seperti ratu drama.

"Suamiku... dia menyelamatkanku. Berkali-kali. Di sana... di tempat mengerikan itu..." Matanya berkaca-kaca. "Tolong... jangan pisahkan kami."

Yun-seo terkejut. Akting Yehwa terlalu bagus—sampai ia hampir percaya sendiri.

Jin-ho menghela napas. Wajahnya melunak sedikit. "Tenang, Nyonya. Kami tidak akan memisahkan kalian." Ia bangkit. "Tapi kalian harus datang ke Ibu Kota. Ada prosedur untuk pengungsi. Dan kalian mungkin punya informasi yang berguna untuk perang."

"Perang?" tanya Yun-seo.

"Kau tidak tahu?" Jin-ho menatapnya heran. "Sudah sepuluh tahun manusia dan iblis berperang. Dulu iblis tinggal di alam mereka, manusia di sini. Tapi sepuluh tahun lalu, celah dimensi terbuka. Iblis mulai menyerbu. Aliansi Murim dibentuk untuk melawan mereka." Ia mengepalkan tangan. "Banyak yang mati. Keluarga hancur. Desa seperti kalian jadi korban."

Yun-seo dan Yehwa diam mendengar ini. Bagi Yun-seo, ini info baru. Bagi Yehwa—bekas ratu iblis—ini adalah kisah dari sisi yang berlawanan.

"Maaf," kata Yehwa lirih. "Kami... tidak tahu apa-apa. Di penjara itu, kami dikurung terus."

Jin-ho mengangguk. "Wajar. Istirahatlah. Besok pagi kita berangkat ke Ibu Kota. Perjalanan seminggu." Ia berhenti di pintu tenda. "Oh ya, terima kasih sudah selamat. Dunia ini kejam, tapi masih ada orang baik."

Setelah Jin-ho pergi, Yehwa langsung melepas genggamannya. Wajahnya kembali dingin seperti es.

"Jangan salah sangka. Itu cuma akting."

"Aku tahu." Yun-seo mengusap tangannya yang masih terasa hangat bekas genggaman. "Tapi bagus. Kau hampir membuatku percaya."

Yehwa mendengus. "Aku ratu iblis. Akting adalah senjata."

"Jadi, kau setuju main sandiwara ini?"

"Apa pilihanku?" Yehwa menatapnya tajam. "Di luar sana ribuan manusia siap membunuhku kalau tahu identitasku. Di sini aku tidak punya kekuatan. Satu-satunya yang bisa melindungiku—atau setidaknya menemaniku—adalah kau, manusia aneh yang dipanggil cincin sialan itu."

Yun-seo tersenyum masam. "Senang jadi pilihan terakhirmu."

"Jangan baper."

"Apa?"

Yehwa mengernyit. "Baper? Apa itu?"

Yun-seo tertawa kecil. "Nggak tahu ya? Berarti translasi otomatis ini cuma bekerja satu arah." Ia menggaruk kepala. "Pokoknya, kita resmi jadi pasangan palsu. Sampai kita cari cara pulang—kau ke alam iblis, aku ke duniaku."

Yehwa mengangguk. "Setuju. Tapi satu syarat."

"Apa?"

"Jangan coba-coba macam-macam. Aku tetap ratu iblis meski tanpa kekuatan. Kalau kau berani..." Matanya menyipit tajam.

Yun-seo mengangkat kedua tangan. "Tenang, tenang. Aku nggak punya niatan macam-macam. Lagipula, kau cantik sih, tapi terlalu menakutkan buat didekati."

Yehwa mengerjap. "Kau... bilang aku cantik?"

"Eh? Maksudku... ya, maksudnya... secara objektif, ya cantik. Tapi nggak usah dipikirin." Yun-seo buru-buru mengalihkan pandangan. Wajahnya merah padam.

Yehwa menatapnya heran. Manusia aneh ini... memuji ratu iblis dengan tulus? Atau hanya akting balik?

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, perutnya keroncongan keras. Suara itu memecah kesunyian, membuat Yehwa tersipu malu.

Yun-seo terkekeh. "Ratu iblis lapar?"

"Diam kau."

"Aku juga lapar. Tadi lihat ada dapur umum di luar. Mungkin kita bisa minta makanan."

Yun-seo bangkit, mengulurkan tangan pada Yehwa. Ratu iblis itu menatap tangan manusia itu ragu. Lalu, dengan enggan, ia meraihnya. Tangan Yun-seo hangat—kontras dengan dinginnya.

"Jangan bilang siapa-siapa," desis Yehwa.

"Bilang apa?"

"Bahwa aku... pernah bergandengan tangan dengan manusia."

Yun-seo tersenyum. "Rahasia."

Mereka berjalan keluar tenda. Di luar, aktivitas kamp militer sedang sibuk. Prajurit berlalu-lalang, kuda-kuda disiapkan, api unggun menyala di beberapa tempat. Langit mulai terang—fajar di dunia asing ini.

Di dapur umum, seorang juru masak gemuk memberi mereka semangkuk bubur hangat dan beberapa potong daging asin. Yun-seo menerimanya dengan ucapan terima kasih, Yehwa hanya mengangguk dingin.

Mereka makan di pinggir kamp, duduk di atas batu besar. Yehwa awalnya ragu—makanan manusia? Tapi perutnya tak bisa dibohongi. Ia makan pelan, mencoba menikmati.

"Ini... lumayan," akunya akhirnya.

"Bubur tentara emang paling enak kalau lagi lapar." Yun-seo menyendok buburnya lahap. "Di duniaku, dulu waktu kecil, Ibu sering masakin bubur ayam kalau aku sakit."

"Ibumu?"

"Di Hong Kong. Kerja di sana. Jarang pulang." Yun-seo tersenyum getir. "Ayah juga di Dubai. Jadi aku tinggal sendiri sejak SMA."

Yehwa menatapnya. "Sendirian? Siapa yang merawatmu?"

"Aku rawat diri sendiri. Lumayan lah, bisa masak mie, cuci baju sendiri—walau kadung numpuk." Ia tertawa kecil. "Kau? Masa kecilmu gimana?"

Yehwa diam. Tak ada yang pernah bertanya tentang masa kecilnya. Semua orang hanya melihatnya sebagai ratu, pewaris tahta, pemimpin perang. Tapi masa kecil?

"Aku... tidak punya masa kecil," katanya pelan. "Sejak lahir, aku sudah dilatih jadi ratu. Tidak main, tidak berteman. Hanya belajar, berlatih, dan bersiap memerintah."

Yun-seo berhenti makan. Suasana berubah berat.

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Untuk... pertanyaan itu."

Yehwa menggeleng. "Tidak apa. Itu dulu. Sekarang aku harus bertahan, bukan meratapi masa lalu."

Yun-seo mengangguk. "Setuju. Mulai sekarang, kita bertahan bareng. Kau ajari aku tentang dunia ini, aku bantu kau cari cara pulih."

Yehwa menatapnya. Manusia ini... aneh. Tulus? Atau akting?

Tapi untuk pertama kalinya dalam 327 tahun, ia merasa... tidak sendiri.

"Baik," katanya akhirnya. "Perjanjian."

Mereka berjabat tangan di bawah langit fajar dunia asing. Dua makhluk dari dunia berbeda, dipaksa bersatu oleh takdir.

---

Dua jam kemudian, rombongan mulai bersiap berangkat.

Jin-ho mendatangi mereka dengan dua ekor kuda. "Kalian bisa naik kuda?"

Yun-seo menelan ludah. Di game, naik kuda tinggal klik. Di dunia nyata, ia belum pernah naik kuda sama sekali.

"Bisa," kata Yehwa tiba-tiba.

Yun-seo menoleh heran.

Yehwa melompat naik ke punggung kuda dengan gerakan anggun—seperti prajurit berpengalaman. Ia mengulurkan tangan pada Yun-seo. "Naik."

Yun-seo meraih tangannya, berusaha naik. Tapi kakinya slip, hampir jatuh. Yehwa dengan cepat menariknya, membuatnya terhuyung ke depan, dadanya menabrak punggung Yehwa.

"Aw," keluhnya.

"Diam dan pegang erat."

Yun-seo memegang pinggang Yehwa ragu-ragu. Tubuh ratu iblis itu kaku sesaat, lalu rileks.

"Kau dingin sekali," gumam Yun-seo.

"Diam."

Rombongan mulai bergerak. Kuda Yehwa melangkah pelan mengikuti yang lain. Yun-seo berusaha menjaga keseimbangan di belakang, sesekali hampir jatuh.

"Kau benar-benar tidak bisa naik kuda," desis Yehwa.

"Aku bilang juga apa. Di duniaku naik motor, bukan kuda."

"Motor?"

"Mesin roda dua. Cepat. Nggak perlu makan rumput."

Yehwa menggeleng, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Di belakang mereka, Jin-ho mengamati pasangan aneh itu dengan tatapan berpikir. Ada sesuatu yang ganjil. Tapi untuk sekarang, ia biarkan.

Perjalanan ke Ibu Kota Murim baru dimulai.

---.

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!