Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Malam itu, Mansion Lopez yang biasanya tenang berubah menjadi pusat gravitasi emosi. Sang Oma dan Opa, Mommy dan Mateo—benar-benar kehilangan wibawa mereka di depan Logan. Mommy Lopez bahkan sampai berkaca-kaca saat memohon, sesuatu yang jarang terjadi, agar Cassie mengizinkan cucu mereka menginap malam itu juga.
"Hanya satu malam, Cassie. Kumohon. Aku ingin mendengar ceritanya sebelum dia lahir," bisik Mommy Lopez dengan nada yang sangat rendah hati. Cassie, yang sebenarnya ingin segera lari kembali ke apartemennya, tidak sanggup menolak binar harapan di mata wanita tua itu.
Namun, kecanggungan yang sebenarnya baru dimulai saat waktu tidur tiba.
Cassie awalnya bersikeras ingin tidur di kamar tamu yang jauh dari jangkauan Zion. Namun Logan, anak yang biasanya mandiri itu, tiba-tiba menunjukkan sisi anak-anaknya. "Mom, ranjang Daddy sangat besar. Bisakah kita tidur bertiga? Aku ingin tahu rasanya punya keluarga yang utuh meski hanya satu malam," ucap Logan dengan mata bulatnya yang jujur.
Kata-kata itu adalah skakmat bagi Cassie. Ia tidak punya pilihan selain melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Zion, ruangan yang selama sepuluh tahun ini menjadi tempat Zion mengurung diri dalam penyesalan.
Begitu pintu jati besar itu terbuka, Cassie mematung di ambang pintu.
Kamar itu tidak tampak seperti kamar seorang pewaris tahta Lopez yang rapi. Ruangan itu sangat luas, namun di sudut-sudutnya, deretan botol whisky dari berbagai merk, beberapa masih berisi, kebanyakan sudah kosong, berbaris seperti monumen kesedihan. Aroma maskulin bercampur dengan samar-samar bau alkohol yang tajam memenuhi udara.
Tapi yang membuat jantung Cassie nyaris berhenti adalah dindingnya.
Di sana, tidak ada lukisan abstrak mahal. Zion telah mencetak foto-foto mereka saat SMA dalam ukuran besar. Foto saat mereka tertawa di kantin, foto Cassie yang sedang merengut saat belajar, hingga foto mereka saat kelulusan. Di tengah dinding, terdapat sebuah bingkai yang paling besar, foto Cassie yang sedang tersenyum tulus, foto yang diambil Zion secara sembunyi-sembunyi sepuluh tahun lalu.
Zion, yang berjalan di belakang mereka, seketika tersentak. Ia baru tersadar bahwa ia belum sempat merapikan neraka pribadinya.
"Zion... apa ini?" suara Cassie bergetar, matanya menatap deretan botol alkohol dan galeri foto dirinya sendiri.
Zion bergerak cepat, mencoba menyingkirkan beberapa botol kosong dengan kakinya, wajahnya merah padam karena malu yang luar biasa. "Aku... aku hanya tidak bisa melupakanmu, Cass. Kamar ini adalah tempatku bicara dengan bayanganmu selama sepuluh tahun."
Logan berjalan mendekati salah satu foto besar ibunya. "Mommy sangat cantik di sini. Dan Daddy... Daddy terlihat seperti orang gila yang memuja Mommy," komentar Logan dengan kepolosan yang menusuk.
Zion berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa malu rahasia "patah hati" terbesarnya terbongkar di depan sang anak. "Logan, ayo naik ke ranjang. Sudah larut."
Ranjang itu memang sangat besar, cukup untuk empat orang dewasa. Logan melompat ke tengah, sementara Cassie dengan sangat kaku duduk di sisi kiri dan Zion di sisi kanan. Ada jarak yang lebar di antara mereka, namun Logan menarik tangan keduanya agar saling bersentuhan di atas perutnya.
"Kenapa Daddy punya banyak botol minuman pahit?" tanya Logan tiba-tiba, matanya menatap barisan botol di meja nakas.
Zion terdiam, ia melirik Cassie yang sedang menatapnya dengan tatapan menghakimi namun juga penuh iba. "Itu... itu obat tidur Daddy, Logan. Daddy sangat sulit tidur karena selalu memikirkan Mommy-mu."
"Dan kenapa fotonya besar sekali? Mommy terlihat seperti raksasa di dinding itu," lanjut Logan.
"Karena di hati Daddy, Mommy-mu memang memenuhi segalanya. Tidak ada ruang untuk yang lain," jawab Zion lirih, matanya kini terkunci pada Cassie.
Cassie memalingkan wajah, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. Ia merasa canggung luar biasa. Di satu sisi, ia ingin marah karena Zion menyimpan fotonya tanpa izin, namun di sisi lain, melihat deretan botol alkohol itu membuatnya sadar bahwa Zion benar-benar menderita, sama seperti dirinya yang mengidam kondom strawberry di London.
"Zion, singkirkan botol-botol itu besok. Jangan biarkan Logan melihat gaya hidupmu yang berantakan," bisik Cassie tajam namun pelan.
"Akan kubuang semuanya, Cass. Sekarang aku sudah punya kalian, aku tidak butuh alkohol lagi untuk tidur," balas Zion dengan nada yang sangat tulus.
Suasana menjadi sunyi. Logan mulai terlelap karena kelelahan setelah hari yang panjang. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, Zion memberanikan diri mendekat, melewati tubuh Logan yang sudah bermimpi.
"Terima kasih sudah datang ke kamarku, Cassie. Setelah sepuluh tahun, akhirnya kamar ini tidak lagi terasa seperti makam," bisik Zion.
Cassie menatap wajah Zion dari dekat. Sisa-sisa aroma whisky masih ada, namun tatapan pria itu kini penuh dengan cahaya kehidupan. "Jangan berharap terlalu banyak, Zion. Aku di sini hanya untuk Logan."
"Aku tahu. Tapi aku akan membuatmu tetap di sini karena aku, bukan hanya karena Logan," Zion tersenyum tipis, senyuman yang dulu membuat Cassie jatuh cinta setengah mati.
Kecanggungan itu masih ada, menyelimuti mereka bertiga di atas ranjang besar itu. Namun di balik botol-botol whisky dan foto-foto masa lalu, ada sebuah benang merah yang mulai terajut kembali di tengah kegelapan malam Chicago.
Di luar pintu, si kembar Lionel dan Laxia sebenarnya masih mengintip.
"Lihat, Kak Zion benar-benar membuang botolnya ke bawah kolong tempat tidur," bisik Laxia sambil tertawa kecil.
"Ssttt! Biarkan mereka. Kak Zion butuh satu malam ini untuk menyadari bahwa doanya selama sepuluh tahun sudah dikabulkan," jawab Lionel sambil menarik adiknya menjauh.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.