NovelToon NovelToon
Gus, I'Am In Love

Gus, I'Am In Love

Status: tamat
Genre:Obsesi / Beda Usia / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik Detik Kelahiran Si Bayi

Sore itu, suasana masjid besar pesantren tampak lebih padat dari biasanya. Agenda rutin pengajian bulanan yang dipimpin langsung oleh Gus Zayn selalu menjadi magnet, namun kali ini ada pemandangan berbeda yang mencuri perhatian.

Abigail hadir mendampingi Zayn. Ia duduk di area santriwati yang dibatasi tirai pembatas tipis, namun kehadirannya tetap terasa sangat menonjol.

Menggunakan gamis syar'i berwarna dusty pink yang senada dengan hijabnya, Abigail tampak sangat bersinar. Perutnya yang sudah berusia tujuh bulan itu menambah keanggunan alaminya, ia terlihat seperti bunga yang sedang mekar sempurna.

Di sela-sela jeda pengajian, bisik-bisik kagum terdengar dari barisan santriwati.

"Masya Allah, Bu Nyai Abigail cantik sekali ya..." "Iya, meskipun sedang hamil besar, wajahnya malah makin bersih dan bercahaya. Benar-benar seperti bidadari." "Beruntung sekali Gus Zayn punya istri seperti beliau. Sudah cantik, dari New York lagi."

Zayn, yang duduk di podium depan, ternyata memiliki pendengaran yang tajam. Meski ia sedang memegang kitab, telinganya sempat menangkap beberapa pujian santri putra di barisan depan yang juga diam-diam mencuri pandang ke arah Abigail saat istrinya itu sedikit bergeser untuk membenarkan posisi duduknya.

Zayn berdeham pelan, suaranya lewat pelantang suara membuat seluruh masjid seketika hening. Ia melirik ke arah istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, lalu kembali menatap para santri dengan senyum miring yang penuh wibawa namun terselip rasa posesif.

"Fokus pada kitab kalian, jangan fokus pada apa yang bukan milik kalian," ujar Zayn tenang, namun tegas.

Para santri langsung menunduk serentak, merasa tersindir sekaligus kagum dengan cara Gus mereka menjaga kehormatan istrinya.

Setelah pengajian selesai, Zayn segera turun dari podium. Tanpa memedulikan tatapan ribuan santri, ia langsung menghampiri Abigail. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Abigail berdiri, memastikan istrinya tidak kelelahan.

"Mas... mereka tadi memujiku, aku jadi malu," bisik Abigail sambil memegang tangan Zayn.

Zayn merangkul bahu Abigail dengan protektif saat mereka berjalan keluar masjid. "Wajar jika mereka memuji, karena istriku memang indah. Tapi Mas tidak suka jika mereka menatapmu terlalu lama. Kecantikanmu ini hanya boleh dinikmati secara penuh oleh Mas, di dalam kamar kita."

Abigail tertawa kecil, merasakan sisi bad boy Zayn yang pencemburu kembali muncul. "Mas Zayn ini Gus atau penjaga toko emas? Kok posesif sekali?"

Zayn menghentikan langkahnya sejenak di selasar masjid yang mulai sepi, memastikan tidak ada santri yang melihat. Ia mengecup kening Abigail dengan sangat takzim. "Aku adalah penjaga harta paling berharga di dunia ini, Sayang. Kamu dan anak kita."

Mereka berjalan kembali ke ndalem dengan tangan yang bertautan erat, meninggalkan decak kagum dari para santri yang melihat betapa romantisnya pemimpin mereka dalam memperlakukan sang istri.

7 Minggu Kemudian..

Hari itu, suasana di pesantren terasa sangat sibuk. Mas Zayn sedang memimpin rapat besar bersama para pengurus dan donatur di aula lantai dua ndalem. Diskusi berlangsung serius, membahas pembangunan gedung asrama baru. Zayn tampak sangat berwibawa dengan kemeja koko hitam dan kacamata yang bertengger di hidungnya, memberikan instruksi dengan nada tegas.

Sementara itu, Abigail sedang berada di kamar, mencoba merapikan beberapa baju bayi ke dalam tas persalinan. Usia kandungannya sudah masuk sembilan bulan.

Tiba-tiba, saat ia hendak berdiri, sebuah sensasi seperti balon pecah terasa di bawah perutnya.

Pyarrr... cairan hangat membasahi lantai.

Abigail memegang pinggiran ranjang, napasnya mulai tersengal. Rasa mulas yang luar biasa hebat, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menyerang pinggangnya seperti gelombang pasang.

"Mas... Mas Zayn!" teriak Abigail, namun suaranya teredam dinding kamar yang tebal.

Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan menekan nomor Zayn. Di ruang rapat, ponsel Zayn yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Zayn melihat nama "Istriku Tercinta" di layar. Biasanya ia akan mengabaikan telepon saat rapat, tapi firasatnya mendadak tidak enak.

"Maaf, interupsi sebentar," ujar Zayn kepada para donatur. Ia mengangkat telepon itu. "Halo, Sayang? Ada ap..."

"Mas... ketubanku pecah... sakit sekali, Mas..." suara Abigail terdengar merintih di seberang sana.

Detik itu juga, wajah Zayn yang tadinya tenang berubah pucat pasi. Pena yang dipegangnya terjatuh. Tanpa sepatah kata pamit kepada para donatur yang bingung, Zayn langsung bangkit berdiri, menendang kursinya hingga terjungkal, dan lari kencang keluar ruangan.

"Gus! Gus Zayn! Rapatnya belum selesai!" teriak salah satu pengurus.

"Rapatnya tunda minggu depan! Istriku mau melahirkan!" teriak Zayn tanpa menoleh, suaranya menggema di sepanjang koridor.

Zayn menuruni tangga dengan melompat dua anak tangga sekaligus. Sisi bad boy-nya yang lincah kembali muncul dalam keadaan darurat. Ia mendobrak pintu kamar dan menemukan Abigail sudah terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.

"Sabar, Sayang... Mas di sini," Zayn langsung berlutut, membopong Abigail dengan gerakan yang sangat sigap namun tetap hati-hati.

Zayn membawa Abigail menuju mobil. Ia menyetir seperti orang kesurupan, meliuk-liuk di antara jalanan desa yang sempit menuju rumah sakit bersalin. Tangannya yang sebelah lagi tak lepas menggenggam tangan Abigail yang meremas jemarinya dengan sangat kuat setiap kali kontraksi datang.

"Sakit, Mas... sakit banget..." tangis Abigail pecah.

"Istighfar, sayang. Sebentar lagi, Sayang. Tarik napas... Mas ada di sampingmu, Mas nggak akan pergi," ucap Zayn, meskipun keringat dingin juga bercucuran di pelipisnya.

Sesampainya di rumah sakit, Zayn tidak menunggu perawat datang membawa tandu. Ia kembali membopong Abigail masuk ke ruang persalinan. Di depan ruang operasi, saat suster memintanya menunggu di luar untuk prosedur awal, Zayn menolak dengan tegas.

"Saya suaminya! Saya harus masuk! Dia tidak boleh sendirian!" tegas Zayn dengan tatapan mata yang tidak bisa dibantah.

Akhirnya, Zayn diizinkan masuk setelah mengenakan baju steril. Di dalam ruang persalinan, di bawah lampu yang terang, Zayn berdiri di samping kepala Abigail. Ia membiarkan lengannya dicakar dan diremas oleh Abigail. Ia membisikkan ayat-ayat suci dan kata-kata penguat di telinga istrinya.

"Kamu ibu yang kuat, Sayang.Gadis New York-ku yang hebat. Sedikit lagi, Mas bangga sama kamu..."

Setelah perjuangan yang luar biasa, suara tangis bayi yang melengking memecah ketegangan di ruangan itu.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading😍😍😍😍

1
ros 🍂
😍😍
kalea rizuky
suka deh endingnya
kalea rizuky
hot ya gus/Curse/
kalea rizuky
bagus deh q baru baca novel mu yg andrian ke anak cucunya skg nemu ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!