Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB LIMA: ISTANA PREDATOR
Mobil hitam mewah itu melaju menembus kegelapan malam, meninggalkan sisa-sisa cahaya kota dan memasuki kawasan elit yang diselimuti kemewahan tersembunyi. Bangunan-bangunan megah yang dihiasi pagar tinggi dan pepohonan rimbun mulai bermunculan, masing-masing memancarkan aura privasi dan kekuasaan yang mutlak. Seraphina hanya bisa menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, merasa seperti sedang terseret ke dalam sebuah labirin yang tak memiliki jalan keluar. Jantungnya berdebar kencang, suaranya terdengar seperti genderang perang di telinganya sendiri.
Di sampingnya, Orion Maximus Valentinus duduk diam dengan keanggunan seorang raja yang sedang membawa pulang upeti. Aura dominasinya semakin terasa menyesakkan di ruang tertutup itu. Tangannya yang besar masih menggenggam erat pergelangan tangan Seraphina, seolah-olah kulit gadis itu adalah miliknya yang paling berharga. Sentuhan itu kini terasa membakar, mengirimkan gelombang panas yang aneh ke sekujur tubuh Seraphina. Dia tahu dia seharusnya takut, sangat takut, tapi ada rasa ingin tahu yang mematikan yang mulai bersemi di dalam hatinya yang polos.
"Kelinci kecil ini," pikir Orion sambil melirik profil samping Seraphina yang tampak rapuh. "Dia tidak tahu apa yang menantinya di balik pintu mansionku. Dia tidak tahu bagaimana aku akan mengajarinya arti kepasrahan yang sesungguhnya. Aku bisa mencium ketakutannya yang manis, bercampur dengan kebingungan yang membangkitkan gairahku hingga ke tingkat yang berbahaya. milik ku berdenyut, menuntut haknya untuk segera dipuaskan oleh bibir mungil yang terus bergetar itu."
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki gerbang besi tinggi yang terbuka secara otomatis, memperlihatkan sebuah mansion megah yang menjulang dengan arsitektur klasik yang dingin. Lampu-lampu sorot menerangi fasad bangunan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah siap menerkam. Ini bukan sekadar rumah; ini adalah istana bagi seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan.
Jay memarkir mobil tepat di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati gelap dengan ukiran yang rumit. Keheningan di dalam mobil menjadi semakin mencekam setelah mesin dimatikan.
"Kita sudah sampai," kata Orion, suaranya terdengar sangat rendah dan penuh otoritas. Dia melepaskan cengkeramannya, namun hanya untuk mengelus telapak tangan Seraphina dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terasa sangat intim sekaligus posesif. "Selamat datang di kediamanku, Seraphina."
Seraphina tidak mampu menjawab. Tenggorokannya terasa kering saat menatap bangunan di depannya. Jay keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk mereka. Orion turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya pada Seraphina. Di bawah cahaya lampu taman yang remang, Orion tampak seperti iblis tampan yang sedang menawarkan janji-janji manis. Tanpa sadar, Seraphina meletakkan tangannya di sana, dan dia ditarik keluar masuk ke dalam malam yang semakin mencekam.
Jay membungkuk kaku saat mereka melintasi pintu masuk. "Saya akan siapkan teh untuk Anda, Tuan. Dan kamar tamu untuk Nona."
"Tidak perlu," potong Orion dingin tanpa menoleh sedikit pun. "Seraphina akan tidur di kamarku malam ini. Dia punya tugas khusus yang harus diselesaikan."
Mata Seraphina membelalak kaget. "Tidur di kamarmu? Tapi Orion, aku..."
Orion tidak memberi kesempatan untuk protes. Dia menarik tangan Seraphina, membawanya melintasi lorong-lorong luas yang dihiasi lukisan mahal yang tampak mengawasi setiap langkah mereka. Setiap langkah kaki Seraphina di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasannya.
Mereka tiba di sebuah pintu ganda besar di lantai atas. Orion membukanya dan menarik Seraphina masuk ke dalam sebuah kamar tidur yang sangat luas. Sebuah ranjang berukuran raksasa dengan seprai beludru hitam mendominasi ruangan tersebut. Lampu yang redup menciptakan suasana yang sangat pribadi dan berbahaya.
"Ini kamarku," bisik Orion setelah mengunci pintu dengan bunyi klik yang sangat jelas. "Dan mulai detik ini, ini juga menjadi duniamu."
Seraphina merasa napasnya tercekat. Dia menatap Orion yang kini berdiri di depannya, menanggalkan jas hitamnya dan menyisakan kemeja putih yang memperlihatkan lekuk otot tubuhnya yang perkasa. "Orion... kenapa kita di sini? Tolong, aku harus pulang. Bi Jena pasti menungguku."
Orion tertawa pelan, sebuah tawa tanpa humor yang membuat bulu kuduk Seraphina berdiri. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana, cantik. Aku sudah bilang, aku punya masalah yang harus kau sembuhkan."
Dia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Seraphina terpojok di dekat pinggiran ranjang. "Lihatlah apa yang sudah kau lakukan padaku," Orion meraih tangan Seraphina dan menekannya tepat di atas tonjolan keras di balik celananya.
Seraphina terkesiap, wajahnya memerah padam saat merasakan betapa keras dan panasnya bagian tubuh pria itu. Dia ingin menarik tangannya, namun Orion menahannya dengan kuat.
"Ini menyakitkan, Seraphina. Sangat menyakitkan," bisik Orion di dekat telinga gadis itu, suaranya serak oleh nafsu yang tertahan. "Dan hanya bibirmu, hanya sentuhanmu yang bisa meredakannya. Kau akan menghisap rasa sakit ini dariku, kau akan belajar bagaimana melayani pria yang sekarang memilikimu sepenuhnya."
Orion mencondongkan tubuh, membungkam bibir Seraphina dengan ciuman yang menuntut dan penuh penguasaan. Itu bukan permintaan izin, itu adalah sebuah deklarasi perang atas kepolosan Seraphina. Di dalam kamar yang luas itu, Seraphina menyadari bahwa kelinci kecil yang dia bawa di dalam dirinya telah benar-benar masuk ke dalam mulut sang serigala.