NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:48.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kayla memejamkan matanya. Hembusan angin dari jendela besar itu menerpa wajahnya lembut. Tirai putih tipis yang tadi tertutup kini tersibak oleh angin. Cahaya matahari siang masuk dengan terang, menyilaukan mata.

Lalu dia membuka matanya, menatap lurus ke bawah. Deretan mobil di parkiran terlihat kecil seperti mainan. Orang-orang di bawah hanya tampak seperti titik-titik yang bergerak perlahan.Kamar rawatnya berada di lantai dua puluh.

Sangat tinggi.

“Bisakah aku langsung mati jika jatuh dari sini?”

Air matanya luruh lagi. Tangannya berpegangan pada bingkai jendela.

“Papa sudah punya Arfin… Mama sudah punya Ziva…” gumamnya bergetar.

Nama-nama itu terasa seperti pisau kecil yang menusuk dadanya. Kedua orang tuanya sudah bahagia dengan keluarga masing-masing.

Sementara dirinya?

Seperti anak buangan. Tidak punya rumah yang benar-benar disebut rumah. Tidak punya pelukan yang benar-benar untuknya.

Dan sekarang… ia malah disalahkan. Dada Kayla benar-benar sesak. Napasnya pendek-pendek.

“Jika pada akhirnya aku akan mati… setidaknya aku tidak mati karena diperkosa,” imbuhnya lirih, hampir tak terdengar.

Ia mengangkat satu kaki. Bersiap menaiki bingkai jendela. Tangannya gemetar. Tapi tekadnya terasa bulat dalam keputusasaan.

Namun—

Cklek!

Pintu terbuka mendadak. Kayla menoleh.

“Astaghfirullah al adzim, Kayla!”

“Mbak Kayla!” Seru Hanan dan Fatimah bersamaan.

Wajah mereka pucat melihat posisi Kayla di ambang jendela.

“Jangan mendekat! Jangan kesini! Pergi! Pergilah, aku mohon… pergilah!” pinta Kayla, suaranya retak, matanya penuh luka dan kebencian.

Fatimah langsung menangis. “Mbak… istighfar mbak. Ingat Allah, mbak…”

Kayla tertawa kecil. Tawa yang patah.

“Apakah Allah itu ada?” tanyanya gemetar. “Aku rasa… Allah itu memang tidak ada.”

“Astaghfirullah Kayla,” ucap Hanan tertahan, dadanya ikut sesak.

Air mata Kayla makin deras. “Kalau memang Allah itu ada… aku akan menemuinya. Aku akan mati sekarang dan aku akan menemui-Nya. Aku… hiks hiks…”

“Kayla…” Hanan melangkah perlahan, setapak demi setapak. Tangannya sedikit terangkat, seolah takut gerakan kecil saja bisa membuat Kayla benar-benar melompat. “Allah selalu bersama kita.”

“Enggakkkk!” jerit Kayla histeris. “Allah gak pernah bersama ku! Dia jahat sama aku!”

“Kayla…”

“Cukup Hanan! Cukuppp!” teriaknya. “Jangan terus membela Allah. Aku membencinya! Dia sudah membuat hidupku hancur!”

“Astaghfirullah al adzim…” lirih Fatimah sambil menangis.

“Buat apa Allah menciptakan ku, kalau pada akhirnya Dia menghancurkan ku?” suara Kayla pecah. “Kenapa Allah menikahkan Mama dan Papa ku, kalau akhirnya Allah juga membiarkan mereka bercerai?!”

Tangannya mengepal kuat di kusen jendela. “Kenapa Allah memberikan mereka keluarga bahagia… tapi tidak dengan ku?! Kenapa aku dibuat sendiri?! Aku sendiri! Aku sendiri… hiks hiks hiks…”

Tangisnya menggema di ruangan. Hanan berhenti beberapa langkah darinya. Hatinya seperti diremas mendengar isi hati Kayla. Ia tahu… ini bukan kebencian pada Tuhan.

Ini adalah jeritan seorang anak yang terlalu lama menyimpan luka.

Fatimah menutup mulutnya, tak kuasa menahan tangis. Namun, meski hati mereka hancur melihat Kayla, mereka tidak bisa membenarkan kata-kata yang menyalahkan Allah.

Dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya, Hanan berkata pelan, “Kayla… Allah tidak menghancurkan keluargamu. Manusia yang memilih jalan mereka sendiri.”

Kayla menatapnya tajam, mata sembab penuh amarah dan putus asa. Hanan melanjutkan, suaranya tetap tenang meski hatinya bergetar,

“Kita sering menyalahkan Allah atas keputusan manusia. Padahal Allah memberi mereka pilihan… dan mereka yang memilih berpisah.”

Ruangan itu masih dipenuhi cahaya siang. Tirai putih berkibar pelan, seolah tak tahu bahwa beberapa detik lagi nyawa seseorang hampir melayang dari lantai dua puluh.

Hanan berdiri beberapa langkah dari jendela, dia sudah semakin dekat dengan Kayla. Napasnya tertahan. Ia tahu, satu gerakan salah saja bisa membuat semuanya berakhir.

“Kayla, kamu gak sendiri. Ada aku juga Fatimah di sini,” ucap Hanan pelan, selembut mungkin, seperti berbicara pada anak kecil yang ketakutan.

Kayla menoleh perlahan. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Tubuhnya masih berdiri di ambang jendela itu.

Tatapannya beralih pada Hanan dan Fatimah. Kakak beradik itu berdiri berdampingan. Meski panik, keduanya saling menguatkan hanya lewat pandangan.

“Kenapa kalian bisa lahir di keluarga cemara?” gumam Kayla lirih. Suaranya terdengar hampa dan iri. “Kalian sangat beruntung memiliki ibu seperti Umi…”

Nama itu terucap dengan nada yang menyakitkan.

Umi Anisa.

Perempuan lembut yang selalu tersenyum. Yang tak pernah meninggikan suara. Yang memeluk anak-anaknya setiap selesai sholat. Yang bangun lebih awal hanya untuk memastikan sarapan hangat tersedia di meja.

Sementara ibu kandung Kayla?

Apakah dia benar seorang ibu?

Tega meninggalkan anaknya demi menikah dengan laki-laki lain di luar negeri. Tega menyerahkan Kayla pada dunia yang tak pernah benar-benar menerimanya.

Hanan menelan ludah. Dadanya ikut sesak.

“Kamu bisa menganggap Umi ibu kamu,” ucap Hanan tiba-tiba. Suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan. “Kamu gak akan sendiri lagi.”

Kayla berkedip pelan.

“Umi… jadi mama ku?” ulangnya kosong, seperti anak kecil yang baru mendengar dongeng indah.

“Iya…” jawab Hanan hati-hati. “Sekarang turun ya, Kay. Pelan-pelan. Kita pulang nanti ke rumah. Umi pasti peluk kamu.”

Angin kembali menerpa. Kayla goyah sedikit. Dan—

Grep.

Hanan bergerak cepat. Tangannya berhasil mencengkeram lengan Kayla, lalu menarik tubuh gadis itu dengan seluruh tenaga yang ia punya. Tubuh Kayla tersentak. Kesadarannya seperti kembali dalam satu detik.

“Lepas! Lepasin aku! Lepasin aku!” jerit Kayla histeris. Ia meronta. Memukul dada Hanan. Mendorongnya. Menangis tanpa kendali.

“Kayla sadar! Ini bahaya! Hidup kamu masih panjang!” seru Hanan, suaranya kini tak lagi setenang tadi.

“Gak mau! Aku gak mau hidup lagi! Aku mau mati! Lepasin aku! Lepasss!” Jeritan itu menggema di kamar rawat.

Fatimah yang sejak tadi gemetar segera berlari menutup jendela. Tangannya sampai sulit mengaitkan pengunci karena terlalu panik.

Sementara Hanan memeluk Kayla dari belakang, mengangkat tubuhnya menjauh dari jendela. Kayla terus meronta, menendang, bahkan mencakar lengan Hanan.

“Aku gak mau hidup! Aku gak mau hidup!” tangisnya pecah.

Dengan susah payah, Hanan membawa Kayla ke brankar. Tubuh gadis itu seperti kehilangan tenaga, tapi amarah dan putus asanya membuatnya tetap berontak.

Hanan menekan tombol emergency. Tak lama, pintu terbuka. Dokter dan dua perawat bergegas masuk.

“Apa yang terjadi?”

“Pasien mencoba melompat dari jendela Dok!” jawab Fatimah dengan suara hampir tak terdengar.

Kayla masih menangis. “Lepasin aku! Aku mau mati! Aku gak mau hidup lagi! Lepasin akuu!”

"Kalian jahat! aku benci kalian aku benci kaliaannnnnn!" teriak Kayla terus meronta.

Dokter memberi instruksi cepat. Perawat menahan tangan dan kaki Kayla dengan hati-hati. Jarum suntik disiapkan.

“Kami akan memberikannya obat penenang,” ucap dokter tegas namun lembut.

"enggak! jangan! jangan! biarkan aku mati! aku gak mau!" Kayla menggeleng lemah. Air matanya tak berhenti mengalir. Jarum itu akhirnya masuk ke kulitnya.

Beberapa detik. Perlahan tubuhnya yang tadi tegang mulai melemas. Tangisnya meredup menjadi isakan kecil.

“Aku gak mau sendiri…” gumamnya sangat lirih. Hampir seperti bisikan angin.

1
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
insya allah Hanan akan membimbingmu Kayla😍😍😍
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
duuhh yg bentar lg mau di lamar,,,deg-degan ya😁😁😁😁
billaacha90
sabar Kay, nanti kalau kamu sudah mengerti kamu pasti malu sendiri
billaacha90
tentu dong, kamu boleh kok kalau sama om nya Kayla, Fatimah 🤣🤣
billaacha90
asyik asyik asyik 🤗🤗
billaacha90
Nah kamu tahu sendiri kan Fatimah, kamu yang sebagai perempuan ae bisa bilang begitu🤭
billaacha90
tentu malu lah kakakmu Fatimah, yang di tolong cewek yang sungguh menggoda lho 🤭
billaacha90
itu juga kan anak umi🤣🤣
billaacha90
ealah ustadz tadi keluar ternyata dari rumah pak kyai tho🤣🤣
sansan
wahhhh ditanya lsg soal mahar... emang Umi calon mertua paling didambakan
Enisensi klara
Si Kunti emang virus 😏😏
💥💚 Sany ❤💕
Padahal Kay yang dilamar napa aku yang senyum2 gak jelas, untung gak da yang lewat 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
Selamat ya Kay... aku ikut seneng. Semoga lancar sampai hari H
💥💚 Sany ❤💕
lagi serius-serusnya tapi malah hampir ngakak gara2 tingkah Fatim dan Arfin. Suka banget ma karakter Fatim yang apa adanya dan si Arfin yang kadang ada olengny dikit tapi bikin suasana hidup.
billaacha90
Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia
billaacha90
semoga kamu bisa mengerti apa maksudnya cowok yang menolong kamu Kay
Ririn Alfathunisa
semoga lancar sampe hari h ya buat kalian,dan semoga GK ada halangan alias drama dari Mak Lampir emaknya si arfin
billaacha90
untung mas nya bisa beladiri ini, jadi Kayla ada yang menolongnya
billaacha90
mana aku tahu Kay 🤭
billaacha90
keegoisan orang tua anak jadi korbannya, dan tak ada yang mendidiknya lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!