NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.7

Lorong gedung sastra sore itu sebenarnya biasa saja. Biasa dalam definisi siapa pun yang pernah melewatinya lebih dari tiga kali seminggu, terlalu panjang untuk disebut efisien, terlalu sempit untuk jadi tempat berhenti, dan terlalu sunyi untuk ukuran gedung yang dipenuhi mahasiswa dengan mimpi-mimpi besar yang sering kali berisik di kepala mereka sendiri. Bau kertas tua bercampur pendingin ruangan yang jarang diservis mengambang samar, menempel di udara seperti kenangan yang enggan pergi.

Lampu-lampu neon memantulkan cahaya pucat di lantai keramik, papan pengumuman dipenuhi poster kegiatan yang tak pernah benar-benar dibaca siapa pun, dan suara langkah mahasiswa lain terdengar sayup, tenggelam oleh denting jam dinding yang terlalu keras untuk ruangan setenang itu. Jam itu selalu berdentang lebih keras dari seharusnya. Seolah ia merasa perlu mengingatkan semua orang bahwa waktu terus berjalan, entah mereka siap atau tidak. Detiknya teratur, konsisten, tidak peduli pada drama manusia yang kadang terjadi tepat di bawahnya.

Namun bagi Ryn Moa, lorong itu terasa seperti jalur evakuasi setelah bencana besar. Ia berjalan di sana setiap hari. Pernah menyusurinya sambil tertawa bersama teman-temannya, pernah juga melaluinya sambil mendengarkan musik terlalu keras agar dunia luar tidak sempat masuk. Tapi hari ini berbeda. Hari ini lorong itu terasa terlalu panjang, terlalu terang, dan terlalu jujur.

Pintu ruangan klub penulisan tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan, terlalu pelan untuk ukuran detak jantungnya yang sedang berlomba-lomba melawan logika. Dadanya masih terasa hangat, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena bayangan seseorang yang masih menempel di kepalanya seperti adegan yang di-pause. Bunyi klik itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Hanya suara pintu yang menutup. Tapi bagi Ryn Moa, itu terdengar seperti tanda titik di akhir kalimat yang belum sempat ia pahami maknanya.

Namjoon, nama itu muncul begitu saja, tanpa diminta. Seperti kata kunci yang membuka file lama di kepalanya. Duduk sendiri, serius, lalu tersenyum kecil saat membaca tulisan yang tak lain adalah milik Ryn Moa sendiri. Itu seharusnya ilegal, Tidak ada peraturan kampus yang melarang seseorang terlihat terlalu damai saat sendirian. Tidak ada pasal yang menyebutkan bahwa senyum kecil yang tidak ditujukan pada siapa pun bisa dianggap kejahatan. Tapi di dunia Ryn Moa yang penuh dengan batasan emosional dan pagar pengaman, pemandangan itu jelas melanggar banyak hal.

Ryn Moa melangkah lebih cepat, hampir seperti kabur. Tangannya refleks meremas tali tas, dan ia menunduk, berharap rambutnya cukup panjang untuk menyembunyikan rona merah yang ia tahu pasti sudah menjalar dari pipi sampai telinga. Ia tidak pernah pandai menyembunyikan reaksi. Tubuhnya selalu bereaksi lebih cepat daripada otaknya. Pipi memerah, napas berubah, dan tangan jadi dingin, paket lengkap yang membuatnya mudah dibaca oleh siapa pun yang cukup mengenalnya.

Sayangnya, harapan itu mati muda. Belum sampai ujung lorong, sekelompok manusia dengan energi berisik dan radar gosip tingkat dewa sudah berdiri menunggunya. Mereka bukan kebetulan ada di sana. Mereka menunggu seperti predator yang tahu kapan mangsanya lewat. Gengnya ! Sekelompok orang yang entah bagaimana, berhasil menemukan satu sama lain di tengah lautan mahasiswa dan memutuskan untuk bertahan bersama dalam tawa, gosip, dan krisis emosional Ryn Moa yang datang berkala.

...⭐⭐⭐...

Mereka tidak sedang berdiri, Mereka menghadang. Formasi setengah lingkaran, dengan tatapan tajam serta ekspresi penuh prasangka. Formasi itu terlalu rapi untuk dianggap spontan. Jelas hasil latihan bertahun-tahun menghadapi berbagai versi Ryn Moa, Ryn Moa yang jatuh cinta, Ryn Moa yang menyangkal, Ryn Moa yang sok kuat, dan Ryn Moa yang akhirnya menyerah. Ryn Moa berhenti mendadak. Dan detik berikutnya, beberapa saat setelah keluar dari ruangan klub penulisan, ia disambut gengnya yang langsung menyerbu.

Ida adalah yang paling depan, refleksnya secepat kilat seperti detektif yang mencium aroma kejahatan. Kedua tangannya mencengkeram bahu Ryn Moa, matanya membelalak dramatis.

“RYN KENAPA MUKAMU MERAH?!” seru Ida.

Nada suaranya terlalu keras untuk lorong itu. Beberapa mahasiswa di kejauhan menoleh, lalu berpura-pura tidak tertarik, padahal telinga mereka jelas terpasang. Ryn Moa hampir tersedak udara.

“A-aku...”

“Jangan bilang kamu ketemu Namjoon..”

Kalimat itu bahkan belum selesai ketika Ody menjerit pelan, satu tangan langsung memegang dada seolah baru saja menerima vonis dokter.

“ASTAGA JAWABAN MUKANYA IYA,” Ody memegang dada.

Celine, yang awalnya sibuk mengunyah permen karet, berhenti mengunyah. Matanya menyipit, lalu melebar seperti baru melihat meteor jatuh tepat di depan kampus.

“Kamu jatuh cinta LAGI?!”. Celine berteriak kecil.

Ryn Moa panik, Benar-benar panik. Ia mengibaskan tangan ke udara, mundur setengah langkah, hampir tersandung tasnya sendiri. Kata-kata di kepalanya saling bertabrakan, semua ingin keluar bersamaan.

“Ngu...nggak! Aku cuma… jatuh. Secara literal..”

Hening sepersekian detik. Keheningan yang berat, seperti jeda sebelum tawa. Lalu Melly, dengan ekspresi antara prihatin dan sangat terhibur, menepuk jidatnya sendiri keras-keras.

“Kamu jatuh di depan Namjoon?!” Melly menepuk jidat.

“Ya Tuhan… rom-com-nya maksimal.”

“AKU TIDAK JATUH!” Ryn Moa ingin berteriak, tapi yang keluar hanya suara terlalu pelan untuk membela harga diri.

Arella tidak langsung bicara, Ia hanya menatap Ryn lama. Tatapan itu bukan tatapan menghakimi, tapi tatapan seseorang yang sudah melihat terlalu banyak episode kehidupan Ryn Moa dan tahu pola ceritanya seperti hafal judul sinetron sore.

“Sayang… kau benar-benar bahaya.”

Kalimat itu diucapkan dengan lembut. Dan justru karena itu, rasanya lebih menusuk. Windi, yang sejak tadi mengamati dalam diam, akhirnya maju selangkah. Ia memiringkan kepala, alisnya mengernyit tipis.

“Tapi serius,” ujar Windi, “wajahmu merahnya beda dari waktu J-Hope.”

BOOM !!

Nama itu jatuh di udara seperti granat nostalgia. Mereka semua menatapnya, Menunggu reaksi. Menunggu ledakan atau pembelaan. Menunggu Ryn Moa runtuh atau menyangkal seperti biasanya. Ryn Moa menutup wajah dengan kedua tangan. Ia merasa seperti terdakwa tanpa pengacara.

“Aku tidak tahu… aku bingung…”

Dan di momen itulah, tanpa perlu suara atau aba-aba, teman-temannya saling pandang. Tatapan cepat saling mengerti. Dan heroine mereka sudah masuk triangle love tanpa sadar.

Jika hidup Ryn Moa adalah sebuah novel, maka bab ini jelas tidak direncanakan. Tidak ada di outline. Tidak ada di daftar “hal yang mungkin terjadi setelah kuliah di satu kampus demi Kim Taehyung”.

Karena seharusnya ceritanya sederhana, ia datang, ia mengagumi dari jauh, ia mungkin patah hati dengan elegan, lalu hidup berjalan normal seperti mahasiswa lainnya. Tidak ada Namjoon, Tidak ada klub penulisan, Tidak ada senyum kecil yang terlalu hangat untuk ukuran orang asing. Namun hidup jarang menghormati outline, dan Ryn Moa adalah contoh sempurna dari seseorang yang selalu berpikir ia memegang kendali, padahal semesta diam-diam menulis plot twist di belakang punggungnya.

“Duduk dulu,” kata Ida akhirnya, menarik Ryn Moa ke bangku panjang dekat jendela lorong.

Bangku itu dingin dan keras, tapi stabil. Seperti jangkar sementara. Ryn Moa menurut seperti boneka kain. Celine menyilangkan tangan.

“Oke. Kita bahas ini pelan-pelan.”

“Aku nggak mau dibahas,” Ryn Moa menggumam, masih menutup wajah.

“Sayangnya hidupmu milik publik,” Ody menimpali.

Melly terkikik. Arella duduk di samping Ryn Moa, menepuk lututnya pelan.

“Cerita dari awal. Tapi versi jujur.”

Ryn Moa menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti menyerah kecil. Ia menurunkan tangannya dan wajah merah itu memang belum pergi.

“Dia cuma… ada,” katanya pelan. “Aku cuma lewat. Pintunya kebuka. Aku lihat dia sedang baca tulisan.”

“Dan?” Ida mendesak.

“Dan dia senyum,” Ryn Moa menelan ludah. “Bukan senyum ke siapa-siapa, tapi ke tulisannya.”

Windi bersiul pelan.

“Oh itu berbahaya.”

“Kenapa aku selalu kena yang berbahaya?” Ryn Moa hampir menangis.

Celine menyeringai.

“Karena kamu tokoh utama.”

“Tokoh utama harusnya punya otak,” Ryn Moa membalas.

Ody tertawa.

“Sayangnya kamu dikasih visual dan perasaan dulu.”

Mereka tertawa, Tawa yang tidak menghakimi. Tawa yang sudah terlalu sering hadir di momen-momen seperti ini. Ryn Moa ikut tertawa kecil, meski dadanya masih penuh. Ia tahu ini belum apa-apa. Tapi ia juga tahu, ini tidak akan berhenti di sini.

Dan di suatu ruangan lain, seseorang bernama Kim Namjoon mungkin masih duduk, membaca tulisan, tanpa tahu bahwa ia baru saja menjadi masalah besar dalam hidup seorang gadis bernama Ryn Moa.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!