Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7~Langit sebelum kelulusan
Waktu terasa berjalan cepat setelah hari itu.
Sejak aku dan Raka saling mengungkapkan perasaan di taman sekolah, segalanya jadi terasa lebih… ringan. Kami nggak perlu pura-pura, nggak perlu sembunyi, tapi juga nggak berlebihan. Kami tetap dua siswa SMA biasa — cuma saja, kami punya satu sama lain.
Kadang aku masih heran. Dulu aku pikir perjodohan itu hal paling aneh di dunia, tapi sekarang, aku malah bersyukur. Kalau bukan karena itu, mungkin aku nggak akan pernah tahu rasanya dicintai dengan cara sesederhana ini.
Suatu pagi, aku datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Ruangan masih sepi, dan cahaya matahari masuk lewat jendela besar. Aku sedang menata buku di meja ketika seseorang menepuk bahuku pelan.
“Rajin banget, datang pagi-pagi.”
Aku menoleh — tentu saja, Raka.
Dia berdiri dengan segelas cokelat panas di tangan, menyerahkannya padaku.
“Buat kamu,” katanya santai.
Aku menerima gelas itu. “Kamu tahu aja aku belum sarapan.”
Dia tersenyum kecil. “Aku hafal jadwalmu, kan?”
Aku tertawa pelan. “Kamu tuh terlalu hafal. Jangan-jangan kamu bisa nebak aku lagi mikir apa.”
Dia pura-pura berpikir. “Sekarang kamu lagi mikirin aku.”
Aku hampir tersedak cokelatku. “Kamu pede banget!”
“Bener, kan?” katanya sambil tertawa.
Aku meliriknya tajam, tapi nggak bisa menahan senyum. “Iya, deh. Sedikit.”
Dia menatapku dengan ekspresi lembut yang membuat pagi terasa lebih hangat dari cokelat panas di tanganku.
Hari itu di kelas, guru mengumumkan kalau ujian akhir semester akan dimulai bulan depan. Semua siswa langsung mengeluh serempak.
“Duh, ujian lagi!”
“Belum siap, sumpah.”
“Matematika pasti nyiksa lagi nih!”
Aku menatap papan tulis sambil bergumam pelan, “Berarti sebentar lagi kita lulus…”
Raka menoleh ke arahku. “Kamu sedih?”
Aku mengangguk pelan. “Iya. Soalnya setelah ini mungkin kita nggak bakal satu sekolah lagi.”
Dia berpikir sejenak. “Tapi kita bisa satu kota.”
Aku tertawa kecil. “Nggak sama aja, Rak. Kuliah nanti pasti beda kesibukan.”
Dia tersenyum tipis. “Kita lihat nanti. Aku udah punya rencana.”
Aku menatapnya penasaran. “Rencana apa?”
Dia mengangkat bahu. “Rahasia dulu. Tapi aku janji, kamu bakal tahu pas waktunya.”
Aku menatapnya curiga, tapi nggak memaksa. Dengan Raka, aku belajar satu hal penting: beberapa hal lebih indah kalau dibiarkan jadi kejutan.
Beberapa hari kemudian, sekolah mulai penuh dengan kegiatan persiapan ujian dan acara perpisahan. Kami sibuk latihan lagu, menulis kenangan di buku tahunan, dan menghias aula.
Raka, seperti biasa, jadi ketua panitia acara — dan aku, tentu saja, jadi “asisten pribadinya tanpa jabatan resmi.”
Suatu sore, kami berdua masih di aula saat yang lain sudah pulang.
Aku sedang menata bunga di panggung, sementara Raka menyalakan lampu gantung satu per satu.
“Rak, hati-hati, nanti kesetrum,” kataku dari bawah.
Dia menoleh dari atas tangga. “Tenang aja. Aku udah ahli listrik, kok.”
Beberapa detik kemudian, klik! — lampu-lampu menyala bersamaan, membuat aula terlihat cantik sekali. Aku terdiam sejenak, kagum.
“Wah…” gumamku pelan. “Indah banget.”
Raka turun dari tangga dan berdiri di sampingku. “Kamu juga kelihatan indah, kalau kena cahaya kayak gini.”
Aku menatapnya dengan pipi panas. “Kamu tuh, bisa nggak ngomong biasa aja?”
Dia tertawa. “Aku cuma jujur.”
Kami berdiri berdua di tengah aula yang diterangi lampu lembut. Rasanya aneh — tenang, tapi juga bikin jantung berdebar.
“Rak,” kataku pelan, “kamu pernah takut nggak, kalau nanti kita nggak sejalan lagi?”
Dia menatapku dalam. “Takut. Tapi kalau kita terus jujur dan saling dukung, aku yakin kita nggak akan hilang arah.”
Aku terdiam sesaat. “Kamu ngomongnya gampang banget.”
Dia tersenyum. “Karena aku yakin sama kamu.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya menenangkan — seperti pelukan yang nggak terlihat.
Hari perpisahan akhirnya tiba. Aula penuh dengan tawa, air mata, dan kilatan kamera.
Aku berdiri di samping Lina sambil menahan haru. Semua orang sibuk menulis pesan di baju seragam putih masing-masing.
Tiba-tiba, Raka muncul di hadapanku sambil membawa spidol hitam.
“Boleh nulis sesuatu di bajumu?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Asal jangan gambar aneh-aneh.”
Dia tersenyum, lalu menulis di bagian lengan bajuku:
|“Terima kasih sudah jadi alasan aku betah di sekolah ini. – R”
Aku membaca tulisan itu pelan. Hatiku terasa hangat.
Lalu aku mengambil spidol dan menulis di bajunya:
|“Jangan lupa janji kamu, ya. – Ly”
Dia menatap tulisanku, lalu mengangkat alis. “Janji yang mana?”
Aku tersenyum misterius. “Rahasia dulu. Nanti kamu tahu pas waktunya.”
Kami berdua tertawa — dan di antara tawa itu, aku merasa sesuatu berubah. Bukan perasaan kami, tapi caranya tumbuh. Kini bukan lagi sekadar suka yang malu-malu. Ada kepercayaan, dan harapan.
Sore itu, setelah acara selesai, kami duduk di tangga depan aula, memandangi langit senja.
“Lihat, Rak,” kataku pelan. “Langitnya kayak waktu kamu pertama kali bilang suka sama aku.”
Dia menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Iya. Tapi sekarang rasanya beda.”
“Beda gimana?” tanyaku.
“Dulu aku takut kehilangan,” katanya. “Sekarang aku yakin, bahkan kalau jarak nanti memisahkan, kita tetap bakal saling nyari.”
Aku menatapnya lama. “Kamu yakin banget, ya?”
Dia mengangguk. “Iya. Karena kamu bukan cuma seseorang yang aku temui. Kamu rumahnya hatiku.”
Aku tertawa pelan, tapi mata ini mulai panas. “Kamu tuh… bisa banget bikin aku nangis tanpa alasan.”
Dia tersenyum lembut. “Kalau kamu nangis karena bahagia, aku nggak keberatan.”
Kami menatap langit bersama. Matahari mulai tenggelam perlahan, meninggalkan warna oranye keemasan di cakrawala.
Dan di momen itu, aku sadar — hidup bukan soal seberapa lama kita bersama, tapi seberapa tulus kita saling menunggu, mempercayai, dan menjaga.
Sebelum pulang, Raka berdiri di depan gerbang sekolah dan menatapku. “Ly,” katanya pelan. “Setelah ini, kita bakal mulai lembaran baru, kan? Tapi aku janji, aku nggak akan biarkan jarak atau waktu bikin kita lupa gimana semuanya dimulai.”
Aku tersenyum. “Dan aku janji, aku nggak akan biarkan rasa ini layu.”
Dia tertawa kecil. “Kayak taman hidroponik, ya?”
Aku mengangguk. “Iya. Selama disiram, dia akan tetap tumbuh.”
Dan saat kami berjalan pulang bersama di bawah langit senja itu, aku tahu — kisah kami belum berakhir. Ini baru bab baru dari perjalanan yang lebih panjang.
✨ Bersambung ke Bab 8