Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah basah yang menusuk hidung. Tak lama, notifikasi di ponselku berbunyi—taksi online yang kupesan akhirnya tiba.
Aku segera masuk ke dalam mobil, menutup pintu perlahan seolah ingin menutup semua kekacauan yang terjadi hari ini.
Mobil pun melaju, membelah jalanan yang masih mengilap oleh sisa hujan.
Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, terlihat buram oleh mataku yang masih berat menahan air mata. Tanpa banyak bicara, aku hanya menyebut satu tujuan pada pengemudi: kontrakan Arumi.
Setibanya di rumah Arumi, aku turun dari mobil dan berdiri beberapa detik di depan pintu kontrakannya. Dengan ragu, aku segera mengetok pintu itu pelan.
Tak ada jawaban. Sunyi.
Pasti dia sudah tidur, batinku. Jam memang sudah larut, dan hanya lampu teras redup yang masih menyala. Aku menghela napas panjang, tanganku kembali terangkat—kali ini mengetuk sedikit lebih keras, berharap Arumi masih terjaga atau setidaknya terbangun mendengar ketukanku.
Di balik pintu itu, aku menunggu dengan jantung berdebar, diiringi rasa bersalah karena datang sepagi ini… namun juga ketakutan jika aku harus sendirian malam ini.
Dalam perjalanan itu, dadaku terasa sesak.
Entah kenapa, tempat itu menjadi satu-satunya tujuan yang terlintas di kepalaku—tempat yang kurasa aman, setidaknya untuk sementara, sebelum aku benar-benar runtuh.
Cukup lama aku menunggu di depan pintu, hingga akhirnya terdengar suara kunci diputar dari dalam. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka.
“Rania?” Arumi menatapku kaget, matanya langsung menangkap wajahku yang kacau.
“Rum…” isakku lirih, suaraku pecah bahkan sebelum sempat mengatakan apa pun.
Tanpa banyak tanya, Arumi seakan tahu apa yang terjadi padaku. Wajahnya berubah cemas, lalu dengan sigap ia menarik tanganku pelan.
“Masuk, Ran. Masuk dulu,” ucapnya lembut
sambil membawaku ke dalam.
Begitu pintu tertutup di belakangku, lututku terasa lemas. Di tempat itulah, di hadapan Arumi, aku akhirnya merasa tak perlu lagi berpura-pura kuat.
---
Keesokan paginya, aku masih enggan untuk bangun. Tubuhku terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena pikiranku yang belum juga berhenti bekerja sejak semalam.
Mataku terbuka, menatap langit-langit kamar Arumi tanpa benar-benar melihat apa pun.
“Ran, aku berangkat dulu ya,” serunya dari luar kamar.
Aku hanya mengangguk pelan, meski aku tahu dia tak bisa melihatnya. Suaraku terlalu rapuh jika harus menjawab lebih dari sekadar itu.
“Kalo lapar aku udah masak,” lanjutnya, suaranya terdengar lembut, penuh perhatian.
“Iya, Rum, makasih ya,” jawabku akhirnya, hampir berbisik.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu tertutup. Rumah mendadak terasa sangat sunyi. Aku menarik selimut lebih tinggi, berharap bisa bersembunyi dari kenyataan, meski aku tahu sejauh apa pun aku lari, rasa sakit itu tetap ikut bersamaku.
Air mataku kembali jatuh, perlahan tapi pasti, membasahi bantal. Pagi ini pun terasa sama seperti malam tadi—sepi, dingin, dan penuh luka.
Aku mengusap wajah, lalu berjalan ke luar kamar. Di meja sudah tertata nasi, telur dadar, dan segelas air hangat. Perhatiannya selalu sesederhana itu, tapi justru membuat dadaku sesak.
Aku belum sanggup makan, jadi hanya duduk memandangi meja kosong di depanku.
Baru saja aku hendak kembali ke kamar, ponselku bergetar.
Satu panggilan tak terjawab.
Nama itu.
Mas Bram.
Jantungku langsung berdetak tak karuan. Tanganku gemetar saat ponsel itu kembali bergetar—kali ini sebuah pesan masuk.
Mas Bram:
[Rania, aku tau kamu di kontrakan Arumi.]
Aku menelan ludah. Dadaku terasa makin sesak. Dari mana dia tahu?
Siang itu, ketukan keras di pintu kontrakan membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.
Tok. Tok. Tok.
Aku yang sedang duduk termenung di ruang
tamu langsung berdiri. Nafasku tercekat. Entah kenapa aku sudah tahu, siapa yang berdiri di balik pintu itu.
“Ran…”
Suara itu.
Mas Bram.
Aku mundur selangkah. Tanganku gemetar, kakiku terasa kaku seperti menolak bergerak. Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan tapi menekan.
“Rania, tolong buka. Aku tau kamu di dalam.”
Aku memejamkan mata sebentar, mencoba menguatkan diri. Dengan langkah berat, akhirnya aku membuka pintu.
Mas Bram berdiri di sana. Wajahnya kusut, matanya sembab, kemeja yang dipakainya terlihat tak serapi biasanya. Begitu melihatku, sorot matanya langsung berubah—lega bercampur khawatir.
“Kamu bikin aku khawatir?” katanya, suaranya bergetar. “Kamu bikin aku gila, Ran.”
Aku menunduk, menggenggam ujung bajuku erat-erat.
“Aku cuma butuh pergi dari mas,” jawabku pelan.
Mas Bram melangkah masuk tanpa permisi, lalu menutup pintu. Jarak kami kini terlalu dekat, membuat dadaku sesak.
“Kembali sama aku,” ucapnya serius. “Pulang ke rumah. Ini bukan tempat kamu.”
Aku menggeleng cepat. “Kontrakan ini tempat paling aman buat aku sekarang.”
“Ran, rumah kamu ya di rumah aku,” nada suaranya meninggi. “Istri aku—”
Mas Bram memejamkan mata, wajahnya
terlihat menahan emosi. “Aku tau aku salah. Tapi aku beneran cinta sama kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu.”
Aku menatapnya untuk pertama kali sejak dia datang.
“Cinta mas bikin aku jadi perempuan yang harus disembunyiin,” suaraku bergetar. “Cinta mas bikin aku hancur.”
“Aku janji bakal beresin semuanya,” katanya cepat. “Percaya sama aku. Kamu ikut aku pulang sekarang.”
Aku menggeleng lebih keras. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.
“Mas pulang aja. Aku gak mau kembali ke rumah yang bukan milik aku.”
Mas Bram mendekat, hendak menggenggam tanganku, tapi aku reflek mundur.
“Jangan sentuh aku,” kataku tegas, meski suaraku gemetar. “Keputusan aku belum berubah.”
Ia terdiam. Lama. Tatapannya penuh luka, tapi aku tahu—jika aku luluh sekarang, aku akan semakin tenggelam.
“Aku tunggu kamu siap,” katanya akhirnya, lirih. “Tapi jangan lama-lama ninggalin aku.”
Mas Bram melangkah pergi. Pintu tertutup dengan pelan, tapi suaranya terasa begitu menghantam dadaku. Aku bersandar di pintu, tubuhku merosot ke lantai. Tangisku pecah, lebih kencang dari sebelumnya.
Aku tahu…
setelah ini, hidupku tak akan pernah sama lagi.
“Sekarang aku harus bagaimana?” gumamku lirih, suaraku nyaris tak terdengar. “Tujuan hidupku apa lagi?”
Air mata kembali jatuh. Bukan karena Mas Bram. Bukan karena pengkhianatan itu saja. Tapi karena masa depan yang dulu terasa jelas, kini lenyap tanpa sisa. Semua rencana, semua harapan, hancur begitu saja dalam satu kenyataan pahit.
Aku merasa gagal.
Sebagai perempuan.
Sebagai pasangan.
Sebagai diriku sendiri.
Namun tiba-tiba, dadaku terasa bergolak. Rasa mual datang mendadak, begitu kuat hingga aku reflek menutup mulut. Tenggorokanku terasa panas, perutku bergejolak tak karuan.
Aku bergegas bangkit, langkahku limbung menuju kamar mandi.
Belum sempat menutup pintu, aku sudah berlutut di depan kloset. Air mataku kembali jatuh, bercampur dengan rasa perih di tenggorokan.
Tubuhku gemetar hebat, seolah ikut menumpahkan semua beban yang selama ini kupendam.
“Apa lagi ini…” bisikku lirih, suaraku serak.
Aku bersandar lemas di dinding kamar mandi. Keringat dingin membasahi pelipisku, napasku tersengal. Rasa mual itu tak langsung hilang, datang dan pergi seperti gelombang, membuat tubuhku semakin lemah.
Tanganku refleks memegang perutku. Ada rasa asing di sana—bukan hanya sakit, tapi juga ketakutan yang tiba-tiba menyusup ke dalam pikiranku. Aku menggeleng cepat, mencoba menepis prasangka yang mulai muncul.
*****