Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISOD 1:JANJI PALSU
"Hanie, kau harus berjanji padaku? Saat kita masuk sekolah itu, kita harus selalu bersama.Lagipula hanya nama kita berdua yang tercalon di SMA itu.Dan itu pasti keberuntungan.Aku sangat teruja dan tidak bisa menunggu waktu itu nanti.Kita pasti bisa bertemu setiap hari,apalagi kita asrama.Aku harap nama kita sentiasa bersama.Ingat, kau punya aku, dan aku punya kau, kalau ada masalah ataupun kekurangan apa-apa tidak masalah,kita berdua pasti bisa melaluinya bersama.Hanya kita berdua. Sahabat selamanya!"
Aku masih ingat kata-kata Amani saat itu.Kata-kata yang membuatku percaya bahawa teman itu ada dan penuh kasih.Kami duduk bersama, mengobrol dengan antusias tentang SMA yang akan kami masuki. Saat itu, dunia terasa sangat kecil. Hanya ada aku dan dia. Aku butuh dia dan dia membutuhkanku.Kenangan yang sangat indah.Bagiku, Amani adalah segalanya. Seorang teman yang kupercaya dan tak akan pernah melepaskan tanganku. Dan itulah kebodohan terbesarku... mengikuti orang yang hanya aku menganggap teman...
" Kau adalah sahabat terbaik ku!Janji padaku kau harus mencari ku.Ingat aku.Dan kau juga harus janji kita harus satu jurusan,kelas dan semuanya.Kau sahabat ku selamanya." katanya dengan tulus lalu memeluk ku.
"Janji. Aku tidak akan mencari teman lain. Kita satu kelas, satu jurusan," jawabku dengan percaya diri. Aku menggenggam tangannya, merasakan ikatan yang sangat kuat.
Saat itu, aku merasa Amani sudah cukup. Aku tidak membutuhkan orang lain untuk merasa aman.Aku memberi rasa percaya yang tinggi padanya hingga rasa kebergantungan muncul dalam diriku.
Tapi semuanya berubah pada hari pertama aku masuk asrama. Karena asrama sekolah besar, aku kesulitan menemukan Amani. Dan bodohnya aku berpikir Amani juga mencariku. Dengan jadwal harian di asrama, waktuku untuk mencari Amani sangat terbatas.
Hari demi hari aku mencoba mencari Amani, lagipula kelasku dan kelasnya berbeda, dan kamar kami juga berbeda. Namun, aku hanya mengingatnya sebagai satu-satunya orang yang kukenal di tempat yang besar dan megah seperti asrama ini.Tempat ini membuatku rasa asing.Lebih lagi ini pertama kalinya aku hidup jauh dari keluarga seharian.Takut,sedih dan asing bercampur menjadi satu di dalam diriku.Aku hanya berusaha menenangkan diriku dan cuba menyesuaikan diriku.
Dan tebak apa, setelah seminggu mencari Amani, ternyata dia sudah punya banyak teman di sekolah ini, dan dia seperti sangat bahagia.Tertawa tanpa memikirkan ku.Ternyata aku yang terlalu kesepian.Dan terlalu mengasihani orang lain tetapi lupa dengan diriku sendiri.
Apakah kesalahan terbesarku?.....Ha, benar! Mengikuti teman yang tidak pernah menganggap kita sebagai teman.Cukuplah,ini sangat menyakitkan.Mungkin terdengar konyol.tetapi hatiku benar sangat sakit.Adakah ini pengkhianatan.Aku belum pasti tetapi mungkin ya.
Tapi, hari pertama di asrama ini membuatku menyadari betapa murahnya sebuah janji.Katanya dia tidak pandai berbaur dengan orang lain. Dia kata hanya ada aku. Terkadang aku juga bingung pada diriku apa aku berlebihan? Tetapi aku juga hanya ingin teman yang sentiasa ada. Kukira dengan ada disini akan berbeda. Aku akan bahagia ternyata lebih menyedihkan. Apa aku tidak layak menjadi teman? Apa aku hanya layak sendiri? Aku pun hanya melamun dan pergi mengemas barangan di kamar ku untuk menghilangkan rasa sedihku.