NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Pertanyaan yang Mengusik

Sabtu pagi, sehari setelah Arka mulai memanggil Reyhan "Papa", kehidupan di rumah keluarga Mahardika terasa berbeda lebih hangat, lebih... lengkap.

Alya bangun dengan perasaan ringan, seolah beban berat yang selama ini ia pikul tiba-tiba terangkat. Ia turun ke dapur dan menemukan Reyhan sudah bangun sesuatu yang jarang terjadi di hari Sabtu.

Pria itu duduk di meja makan dengan laptop terbuka di hadapannya, tapi matanya tidak fokus pada layar. Ia menatap foto Arka di wallpaper ponselnya foto yang ia ambil kemarin ketika anak itu tertawa lepas setelah berhasil merakit robot.

"Pagi," sapa Alya sambil menyalakan kompor untuk membuat kopi.

Reyhan tersentak, baru sadar ada orang lain. "Oh, pagi. Maaf, aku lagi... mikir."

"Mikir apa?" tanya Alya sambil menuang air ke dalam teko.

Reyhan menatap ponselnya lagi, lalu tersenyum tipis. "Tentang Arka. Tentang... betapa beruntungnya aku."

Alya berjalan ke meja dengan dua cangkir kopi, meletakkan satu di depan Reyhan, lalu duduk di seberangnya. "Beruntung kenapa?"

"Beruntung punya anak yang luar biasa seperti dia." Reyhan mengangkat wajah, menatap Alya dengan tatapan yang penuh dengan emosi. "Kemarin, waktu dia minta panggil aku Papa... Alya, rasanya kayak... kayak aku baru dapet hadiah terbesar dalam hidup."

Air mata Alya menggenang. "Om..."

"Dan aku terus mikir," lanjut Reyhan sambil meraih tangan Alya di atas meja, "betapa bodohnya aku enam tahun lalu. Kalau aku nggak pergi waktu itu, aku bisa lihat dia lahir. Aku bisa dengar tangisan pertamanya. Aku bisa gendong dia waktu masih bayi. Aku bisa... jadi bagian dari semua momen penting dalam hidupnya."

"Om, jangan menyiksa diri sendiri," bisik Alya sambil menggenggam balik tangan Reyhan. "Yang penting sekarang kamu di sini. Kamu ada buat dia."

"Tapi aku kehilangan lima tahun, Alya. Lima tahun yang nggak akan bisa kembali."

"Tapi kamu masih punya sisa hidupnya. Puluhan tahun ke depan. Itu lebih penting."

Reyhan terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Kamu benar. Dan aku akan pastiin... aku nggak sia-siain waktu yang tersisa."

Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, tangan masih bertaut, sampai suara langkah kaki kecil terdengar dari tangga.

"Papa! Mama!" teriak Arka sambil berlari turun dengan semangat sesuatu yang jarang ia lakukan. "Aku mimpi kita bikin robot yang bisa terbang! Kita bisa bikin beneran nggak?"

Reyhan tertawa tawa yang tulus dan penuh kebahagiaan. "Robot terbang? Wah, itu susah, Nak. Tapi... kita bisa coba."

"BENERAN?!" mata Arka berbinar.

"Beneran. Tapi nggak hari ini ya. Kita harus research dulu, beli bahan-bahannya, terus design dengan bener."

"Oke! Aku mau research sekarang! Papa bantuin ya!" Arka langsung menarik tangan Reyhan.

Reyhan melirik Alya dengan senyum. "Sepertinya aku ada urusan penting pagi ini."

Alya tertawa. "Pergi sana. Aku siapin sarapan."

Pukul Sebelas Siang

Reyhan dan Arka duduk di sofa dengan laptop terbuka, menonton berbagai video tentang drone dan robot terbang sederhana. Arka mencatat dengan serius di buku kecilnya tulisan tangan yang rapi untuk anak seusianya.

Alya duduk di kursi seberang, melipat cucian sambil sesekali tersenyum melihat interaksi mereka.

"Pa, kalau kita pakai baling-baling kayak drone, tapi robotnya bentuk burung, bisa nggak?" tanya Arka dengan serius.

"Hmm... bisa sih, tapi aerodinamikanya bakal susah. Bentuk burung itu nggak efisien buat baling-baling. Mending kita pakai design quadcopter standar dulu, nanti kalau udah jago baru kita experiment dengan bentuk lain."

Arka mengangguk-angguk sambil mencatat. "Oh iya, bener juga. Efficiency dulu baru aesthetic."

Reyhan terdiam, menatap Arka dengan tatapan kagum. "Nak... kamu umur lima tahun tapi ngomongnya kayak engineer profesional."

Arka tersenyum polos. "Soalnya Papa yang ngajarin. Papa kan engineer."

"Iya, tapi... kamu nyerap informasinya cepet banget. Anak lain umur segitu masih main mobil-mobilan. Kamu udah ngomongin aerodinamika."

"Aku emang beda, Pa. Mama bilang aku special."

Reyhan melirik Alya dengan senyum. "Mama benar. Kamu sangat special. Dan Papa bangga."

Arka memeluk Reyhan tiba-tiba pelukan spontan yang membuat Reyhan hampir menangis.

"Aku juga bangga punya Papa," bisik Arka. "Papa yang pintar, papa yang mau ngajarin aku, papa yang... nggak bilang aku aneh."

Hati Reyhan remuk mendengar kata-kata itu.

Ia membalas pelukan Arka dengan erat. "Kamu nggak aneh, Nak. Kamu luar biasa. Dan Papa akan selalu ada buat kamu. Selalu."

Alya menatap mereka dengan air mata mengalir air mata bahagia melihat ayah dan anak yang akhirnya bersatu.

Sore Hari di Taman Belakang

Setelah makan siang, mereka bertiga duduk di taman belakang. Arka bermain dengan robot rakitannya, sementara Reyhan dan Alya duduk di bangku kayu berdekatan, tangan hampir bersentuhan.

"Om," panggil Alya pelan.

"Ya?"

"Kamu... menyesal nggak? Maksudku... sekarang kamu punya tanggung jawab besar. Anak yang genius, istri yangmmm"

"Alya," potong Reyhan sambil menatapnya serius. "Berhenti bilang kayak gitu. Aku nggak menyesal sama sekali. Malah... aku bersyukur."

"Bersyukur?"

"Bersyukur kamu nggak nyerah. Bersyukur kamu besarin Arka jadi anak yang luar biasa. Bersyukur... kamu kasih aku kesempatan kedua."

Alya tersenyum senyum yang hangat dan tulus. "Kamu yang kasih kami kehidupan baru, Rey."

"Kita saling kasih," balas Reyhan sambil meraih tangan Alya, menggenggamnya erat. "Dan mulai sekarang... kita jalanin hidup ini bersama. Sebagai keluarga yang beneran."

"Keluarga yang beneran," ulang Alya dengan senyum lebar.

"PAPA! MAMA! LIHAT! ROBOTKU BISA JALAN MUNDUR!" teriak Arka dari ujung taman.

Reyhan dan Alya tertawa bersamaan.

"Ayo kita lihat," ajak Reyhan sambil menarik Alya berdiri.

Mereka berjalan menghampiri Arka bertiga, sebagai keluarga merasakan kebahagiaan sederhana yang selama ini hilang.

Dan sore itu, di taman belakang rumah dengan suara tawa Arka mengisi udara, mereka merasakan sesuatu yang sangat berharga

Keluarga yang utuh.

Cinta yang tumbuh.

Masa depan yang penuh harapan.

Malam Hari di Kamar Reyhan

Malam itu, setelah Arka tidur, Reyhan duduk di tepi ranjangnya dengan ponsel di tangan. Ia membuka folder foto foto Arka dari dua minggu terakhir.

Foto Arka tertawa saat merakit robot.

Foto Arka tidur dengan robot di pelukan.

Foto Arka menatap kamera dengan senyum lebar.

Reyhan tersenyum senyum yang penuh dengan cinta dan penyesalan sekaligus.

Maafin Ayah ya, Nak. Maafin Ayah yang telat lima tahun. Tapi mulai sekarang... Ayah akan selalu ada. Ayah janji.

Ia meletakkan ponsel, berbaring dengan senyum di wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa benar-benar bahagia.

Bahagia sebagai ayah.

Bahagia sebagai suami.

Bahagia sebagai bagian dari keluarga yang ia cintai.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!