Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebebasan yang Menjadi Beban Tanggung Jawab
Di saat banyak teman sekelas tangannya ditarik paksa untuk les tambahan atau telinganya panas karena dibanding-bandingkan dengan nilai anak tetangga, aku justru tumbuh dalam sebuah ruang yang sangat lapang. Ayah dan Ibu tidak pernah memaksaku untuk selalu menjadi yang pertama. Mereka tidak pernah duduk di sampingku setiap malam untuk memastikan setiap huruf di buku tulisku sudah benar.
Mereka memberiku kebebasan, tapi bukan kebebasan yang kosong. Mereka mengajariku satu hal yang lebih berat dari sekadar menghafal isi buku, Tanggung Jawab.
Suatu malam, saat aku asyik bermain dengan Rabbit di lantai sementara buku matematikaku masih tertutup rapat, Ayah yang sedang mengasah parangnya menatapku sebentar. Ia tidak menyuruhku belajar, tapi ia mengucapkan sebuah kalimat yang sampai sekarang masih terngiang sebagai "tamparan" paling keras dalam hidupku.
"Nok, terserah kamu mau belajar atau tidak. Ayah dan Ibu tidak akan memaksa," ujar Ayah dengan suara rendah yang tenang. "Tapi ingat satu hal, kalau nanti nilaimu jelek di sekolah, yang malu itu kamu sendiri, bukan Ibu atau Ayah. Kamu yang akan berdiri di depan kelas dengan kepala tertunduk, bukan kami."
Ibu yang sedang melipat baju di pojok ruangan menyahut tanpa menoleh, "Iya, Nok. Ibu tidak butuh kamu ranking satu. Ranking itu tidak penting. Yang penting bagi Ibu adalah kamu naik kelas dengan nilai yang cukup. Itu sudah lebih dari cukup."
Mendengar itu, dadaku terasa sesak sekaligus lega. Lega karena aku tidak memikul beban untuk menjadi nomor satu di kelas, namun sesak karena aku sadar bahwa aku memikul nama baikku sendiri. Perkataan mereka seolah menjadi cermin yang diletakkan di depanku.
Benar juga, pikirku. Kalau aku bodoh, yang akan ditertawakan teman-teman adalah aku. Kalau aku tidak naik kelas, yang akan merasa gagal adalah diriku sendiri.
Kalimat "terserah kamu" itu justru menjadi cambuk yang lebih menyakitkan daripada pukulan rotan. Aku yang sadar bahwa kemampuan otakku terbatas, aku bukan anak ajaib yang sekali baca langsung hafal mulai membuka buku. Aku harus berjuang lebih keras hanya untuk sekadar memahami rumus-rumus matematika yang nampak seperti benang kusut itu.
Seringkali aku mengantuk di depan lampu belajar yang redup, tapi setiap kali ingin menyerah, aku teringat bayangan Ayah dan Ibu yang berjalan di atas bukit tadi siang. Aku ingat peluh mereka. Aku ingat bahwa mereka tidak menuntutku menjadi juara satu, maka setidaknya aku harus membalas kebaikan mereka dengan cara tidak mempermalukan diri sendiri.
"Ibu, ini sulit sekali," keluhku suatu kali saat menghadapi soal pembagian.
Ibu hanya tersenyum sambil mengelus rambutku. "Coba lagi pelan-pelan. Kalau capek, istirahat. Ibu tidak marah kalau nilaimu tujuh, yang penting itu hasil jujur dari otakmu sendiri."
Kepercayaan itu adalah harta karun bagiku. Di luar sana, aku melihat teman-temanku menangis hanya karena mendapat nilai delapan, takut dipukul orang tuanya. Sementara aku, aku belajar karena aku ingin menghargai diriku sendiri dan menghargai "ruang napas" yang diberikan orang tuaku.
Ayah dan Ibu telah memberiku harga diri. Mereka tidak memposisikanku sebagai alat untuk pamer di depan tetangga dengan piala-piala emas. Mereka memposisikanku sebagai manusia yang harus paham bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Dan karena itulah, di sekolah dasar itu, aku belajar bukan untuk menjadi yang terbaik di mata orang lain, tapi untuk menjadi versi terbaik bagi diriku yang sangat dicintai oleh sepasang orang tua hebat di lereng bukit itu.
Malam itu, di bawah kerlip lampu yang masih sama, aku menutup buku matematikaku. Mungkin aku tidak akan pernah menjadi bintang yang paling terang di langit sekolah, tapi aku tahu aku tidak akan pernah tersesat. Karena Ayah dan Ibu tidak memberiku peta yang kaku, mereka memberiku sebuah kompas bernama harga diri.
Aku menoleh ke arah jendela, menatap kegelapan bukit yang tenang. Di sana, di antara desis angin dan suara alam, aku berjanji pada diri sendiri, aku akan terus tumbuh, bukan karena takut pada cambuk, tapi karena aku ingin menghargai setiap tetes keringat yang jatuh di lereng bukit ini. Aku akan terus mendaki, bukan untuk menunjukkan pada dunia betapa tingginya aku berdiri, melainkan untuk membuktikan bahwa kepercayaan yang mereka tanam telah tumbuh menjadi pohon yang kuat dan berbuah syukur.
Sebab pada akhirnya, nilai di atas kertas akan menguning dan pudar dimakan usia, namun rasa hormat pada diri sendiri yang mereka ajarkan akan tetap abadi, seluas langit di atas bukit tempatku tumbuh.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰