NovelToon NovelToon
BABY-NYA OM GALAK

BABY-NYA OM GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Sugar daddy / Cinta Seiring Waktu / Duda / Konflik etika
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepolosan Yuna

Keesokan harinya....

Hari ini adalah hari yang paling ia malaskan sepanjang tahun. Bagaimana tidak malas, jika mulai hari ini, ia harus pergi ke sekolah bersama pria yang paling ia benci di muka bumi. Biasanya tepat jam 7 pagi, Yuna sudah siap berangkat ke sekolah. Tapi pagi ini, jangankan siap... bahkan ia baru selesai mandi.

"Yuna, ayo kita sarapan?" terdengar suara ketukan pintu yang disusul oleh suara lembut Nek Rasmi.

"Nanti Nek. Aku baru selesai mandi!" jawab Yuna dari dalam.

"Ya sudah jangan lama-lama! Nanti kamu terlambat!" pesan Nek Rasmi.

Yuna mengiyakan. Tetapi gerakannya sangat lambat, bahkan ia tidak peduli jika harus terlambat sampai di sekolah.

"Semoga si bajingan sudah pergi duluan!" gumam Yuna.

Tapi harapan Yuna tidak jadi kenyataan. Karena saat ia turun ke bawah, Edo masih menunggu dengan setia. Bahkan ia tengah tersenyum saat melihatnya.

"Pagi Yuna!" sapa Edo ramah. Sangat-sangat ramah, hingga membuat Yuna muak melihatnya.

Yuna memutar bola matanya dengan malas. Ia tak membalas sapaan Edo, bahkan hanya sekedar melirik saja pun ia tidak sudi.

Yuna mengambil posisi dimana biasa ia duduk, yaitu di samping neneknya.

Mereka mulai makan dalam keheningan. Yuna fokus pada sarapannya. Sedangkan Edo jangan ditanya... Pria itu terus mencuri pandang ke arah Yuna. Karena bisa makan satu meja saja, sudah membuatnya cukup bahagia.

"Nek, aku berangkat sekolah duluan ya?" Yuna mencium punggung tangan neneknya.

Edo yang belum selesai sarapan langsung berhenti. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa kembali merajut kasih bersama Yuna.

"Iya kamu hati-hati di jalan. Kalau sudah pulang sekolah langsung pulang, jangan mampir kemana-mana!" pesan Nek Rasmi.

Yuna tadinya ingin langsung pergi. Tetapi cekalan tangan Edo membuat langkahnya terhenti.

"Tunggu aku dong Yun!" kata Edo, masih dengan senyumnya yang menjijikkan.

"Aku bisa berangkat sendiri!" Yuna menghempaskan tangan Edo dengan kasar.

Nek Rasmi yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Ia tidak mau cuci kesayangannya jadi pribadi yang kasar.

"Yuna, jangan seperti itu!" ucap Nek Rasmi, menasehati.

"Aku gak kasar Nek! tapi aku gak suka dipegang-pegang sama dia!" sahut Yuna membela diri.

"Iya Nenek tahu. Tapi kamu tidak seharusnya sekadar itu! Ingat, anak gadis itu harus lembut, sopa. dan santun. Jangan kasar seperti preman!"

Jika sudah dalam mode ceramah seperti ini, Yuna hanya bisa minta maaf dan menurut. Jika dibantah, pasti urusannya bakal panjang.

Melihat Yuna yang sudah melunak, Edo senang tentu saja! Ia menunjukkan yang terbaik dihadapan Nek Rasmi. Agar kedepannya lebih mudah, karena mendapatkan dukungan dari wanita lansia itu.

"Ayo masuk!" Edo membukakan pintu mobil untuk Yuna.

"Gak usah sok baik! bikin jijik aja tau gak!" Yuna memilih duduk di bangku belakang. Tak sudi ia duduk di samping Edo.

Edo kecewa, tapi ia membalutnya dengan senyum. Karena ini masih tahap awal dan ia harus lebih banyak bersabar.

Sepanjang jalan, Edo mengajak Yuna bicara. Mulai membahas yang gak penting, urusan sekolah, bahkan sampai bernostalgia mengenang masa pacaran mereka yang dulu Yuna anggap indah. Tapi sekarang, terlihat sangat menjijikkan.

"Kamu masih ingat gak Yun, kamu pernah merengek manja sama aku, waktu kamu ngotot mau naik bianglala. Tapi sampai di atas kamu malah nangis ketakutan dan peluk aku erat-erat!" Edo terus berusaha membangun kembali chemistry bersama Yuna yang sudah lenyap.

"Jangan membahas hal yang sudah jadi sampah!" sahut Yuna ketus.

Fokus gadis itu sekarang bukan pada Edo yang sesekali melirik wajah cantiknya lewat kaca tengah mobil. Tapi Yuna sedang fokus bertukar pesan dengan Sugar daddy nya.

["Jangan nakal kalau di luar! Ingat kamu itu milikku!"] tulis pesan yang baru saja Bastian kirimkan.

Tak sadar, senyum terbit di wajah Yuna saat membaca pesan itu.

"Tumben Om Bastian posesif gini?" batin Yuna, masih dengan senyumnya yang tentu saja menarik perhatian Edo dari depan.

"Baca pesan dari siapa sih!" terdengar nada tak suka dalam suaranya.

"Bukan urusan kamu! Jangan ikut campur!"

Yuna kembali fokus pada ponselnya. Pesan demi pesan yang Bastian kirimkan makin terasa manis dan romantis menurut Yuna. Bahkan ia merasa seperti seorang wanita yang sedang diperhatikan oleh kekasihnya.

Setelah sampai di sekolah, Yuna langsung turun. Tapi sepertinya Edo tidak melepaskannya dengan mudah.

"Pas istirahat kita kita kantin bareng ya?" mata Edo berbinar. Ia sangat berharap Yuna akan menyetujuinya.

"Ciih! Gak Sudi!" tolak Yuna, langsung pergi ke kelasnya.

"Kamu boleh cuek untuk saat ini Yuna. Tapi lambat Laun, kami pasti akan balik sama aku!" gumamnya.

---

Yuna ke kelasnya dengan bibir yang mengerucut. Ia kesal, marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ada neneknya.

"Pagi-pagi itu muka udah ditekuk aja?" tanya Mega, yang sudah datang lebih dulu.

Yuna dengan misuh-misuh menceritakan apa yang terjadi. Mega kaget, begitu juga dengan Lily yang baru saja sampai.

"Serius? kamu tiap hari bakal pigi bareng sama anak setan itu?" syok Lily.

Yuna mengangguk lemah. "Iya. Kalian kan tahu, aku gak bisa berbuat apa-apa kalau ada nenek!"

Kedua sahabatnya ikut prihatin. Tapi mereka juga tidak bisa memberi solusi.

"Aarrgh! Aduuh!" Mega merintih sambil memegangi perutnya.

"Kamu kenapa?" tanya Yuna khawatir.

"Biasalah lagi datang bulan, nyeri banget!" jawabnya, lalu minum obat pereda nyeri yang biasanya ia minum. "Memangnya kamu gak nyeri juga? Biasanya kamu kalau datang bulan nyerinya lebih parah dari aku?"

Yuna terdiam. Ia baru ingat jika dirinya belum datang bulan.

"Aku belum datang bulan!" ucap Yuna polos.

"Kok bisa? biasanya kamu sama Mega selalu sama tanggalnya gak pernah beda?" tanya Lily.

Yuna mengangkat kedua bahunya. Karena ia juga tidak tahu jawabannya.

"Jangan bilang kamu..." sambung Mega tidak melanjutkan kalimatnya.

"Huust! ngawur kamu kalau bicara!" Yuna tak suka mendengarnya dan takut juga.

Mega meminta Yuna dsn Lily untuk mendekat. Ia merangkul kedua sahabatnya dengan kepala yang saling berdekatan.

"Kamu kalau main sama Om Bastian pake pengaman gak?" tanya Mega

"Enggak!"

"Tapi kamu minum pil untuk mencegah kehamilan kan?" timpal Lily.

"Enggak juga! memangnya kenapa?" Yuna balik bertanya dengan tampang polosnya.

Mereka berdua kompak menepuk keningnya. Mencoba satu pertanyaan lagi yang mereka harapkan akan dijawab iya oleh Yuna.

"Terus kalau kalian main, Om Bastian buangnya di luar kan?"

"Enggak juga!"

"Memangnya ada apa sih? memangnya pengaruh semua itu sama aku yang belum datang bulan?"

Yuna memang sepolos itu dalam urusan hal seperti ini. Ketidaktahuannya juga didukung oleh dirinya yang tidak suka dan sering absen pelajaran Biologi.

Apalagi, sebenarnya Yuna juga tidak terlalu pintar dalam belajar.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kenapa sih gak ada yang gebuk itu si Edo ..manusia sampah miskin masih aja usaha ke Yuna
Aisyah Aisyah
cerita nya menarik
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
geli sih sama si Edo ...gak mau nabokin aja gitu kalo deketin kamu lagi Yuna ...

duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seru juga cerita nya 🤣
Ira Janah Zaenal
Yuna kamu terlalu menggoda... jangan salahkan Bastian yg menempel terus padamu😍
Dew666
👍👍👍👍👍
Erita Simanjuntak
ceritanya bagus
Bunda SB: terima kasih
total 1 replies
Erita Simanjuntak
sangat bagus
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
yuk lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!