NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan

Malam tak pernah benar-benar datang di New York City. Kota yang bernafas tanpa henti ini terus bergerak—lampu neon memantul di kaca gedung pencakar langit, sirene ambulans membelah jalanan yang sesak, dan jutaan manusia bergerak seperti aliran darah dalam tubuh raksasa yang tidak pernah tidur.

Di tengah hiruk-pikuk Manhattan, berdiri sebuah monumen kemegahan medis yang menjulang tinggi, menantang langit dengan tiga puluh lantainya.

Elysium Medical Institute.

Namanya sendiri sudah berbicara—tempat surga bagi mereka yang menari di ambang kematian.

Bangunan dengan fasad kaca berlapis titanium ini memantulkan cahaya kota dalam pola geometris yang sempurna.

Setiap sudutnya dirancang dengan presisi milimeter, setiap lantainya dilengkapi teknologi medis tercanggih yang bahkan belum diproduksi massal.

Helipad di atap gedung ini tidak pernah sepi—setiap jam, helicopter medis mendarat membawa pasien-pasien VIP dari seluruh benua.

Lobi utamanya lebih mirip galeri seni modern daripada rumah sakit, dengan air mancur holografik yang menampilkan anatomi tubuh manusia secara real-time, berputar dalam cahaya biru elektrik.

Lantai marmer putih Carrara memantulkan langkah kaki ribuan orang setiap harinya. Perawat asisten medis bergerak lincah di koridor-koridor steril, membawa sampel darah, obat-obatan, dan berkas pasien dengan efisiensi yang nyaris tidak pernah sepi.

Di setiap lantai, ruang operasi dilengkapi dengan sistem AI diagnostik yang mampu mendeteksi penyakit sebelum gejala muncul.

Ruang ICU-nya seperti kokpit pesawat luar angkasa—monitor vital bertebaran di setiap dinding, menampilkan data biometrik pasien dalam grafik tiga dimensi.

Elysium bukan sekadar rumah sakit. Ini adalah mahakarya. Sebuah pernyataan tegas bahwa kematian bisa ditunda, bahkan dilawan, dengan teknologi dan kecerdasan yang tepat.

Dan di balik semua kemegahan ini, berdiri satu nama yang membuat para dokter senior di seluruh Amerika menggelengkan kepala dengan campuran kekaguman dan iri hati—

Alexander Daniel Benjamin.

Dua puluh lima tahun. Umur di mana sebagian besar dokter baru menyelesaikan residensi mereka, Daniel sudah memiliki rumah sakit berlantai tiga puluh dan mendapat pengakuan dari American Medical Association sebagai multi-spesialis termuda dalam sejarah.

Bedah jantung? Dia bisa.

Neurologi kompleks? Bukan masalah.

Onkologi, ortopedi, bahkan transplantasi organ—Daniel menguasai semuanya dengan tingkat keberhasilan yang melampaui dokter-dokter dengan pengalaman puluhan tahun.

Media menyebutnya jenius. Kolega-koleganya menyebutnya monster. Pasien-pasiennya menyebutnya malaikat.

Daniel sendiri tidak peduli dengan label apapun. Yang dia pedulikan hanya satu—menaklukkan kematian, satu kasus pada satu waktu.

***

Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Ruang Isolasi Khusus.

Koridor lantai tiga puluh berbeda dengan lantai-lantai lainnya.

Tidak ada perawat asisten yang berseliweran.

Tidak ada suster yang berlalu-lalang dengan troli obat.

Bahkan sistem ventilasi di sini dipasang terpisah—udara yang masuk disaring tiga kali lipat lebih ketat, menjaga sterilitas dalam level yang biasanya hanya ditemukan di laboratorium virologi tingkat empat.

Hanya ada satu ruangan di lantai ini.

Pintu titanium setebal sepuluh sentimeter menghalangi akses. Di sampingnya, panel keamanan berlapis—pemindai sidik jari, retina, struktur tulang wajah, bahkan pola pembuluh darah di telapak tangan.

Sistem keamanan tingkat militer yang biasanya hanya ditemukan di fasilitas pemerintah rahasia.

Di balik pintu itu, sebuah ruangan seluas apartemen studio terbentang. Dindingnya dilapisi material penyerap suara. Jendela kaca anti peluru menghadap ke cakrawala New York yang berkilauan. Monitor medis berjejer di satu sisi, menampilkan data vital dalam angka-angka hijau yang berkedip pelan.

Tempat tidur rumah sakit berdiri di tengah ruangan—bukan tempat tidur biasa, tapi kapsel medis berteknologi tinggi yang bisa mengatur suhu tubuh, mengalirkan nutrisi intravena, bahkan memberikan stimulasi listrik mikro untuk mencegah atrofi otot.

Dan di tempat tidur itu, duduk seorang pemuda berusia tujuh belas tahun.

Rafael Alkava.

Rambutnya hitam legam, sedikit berantakan setelah berbulan-bulan berbaring. Kulitnya pucat—bukan pucat sakit, tapi pucat seperti marmer yang dipoles, hampir tembus cahaya. Matanya kelam, dalam, seperti lubang hitam yang menyedot cahaya di sekitarnya. Tubuhnya kurus, tapi ototnya masih terlihat terdefinisi dengan jelas—hasil dari terapi stimulasi listrik selama masa koma.

Tangannya bergerak pelan, menyentuh perut yang tertutup kain rumah sakit. Jari-jarinya menelusuri permukaan kulit di sana, mencari sesuatu yang seharusnya ada.

Bekas luka.

Luka tusukan dagger yang seharusnya menembus ususnya, merobek organ-organ vital, membuat darah mengalir seperti air terjun dari tubuhnya.

Tapi tidak ada.

Tidak ada bekas luka.

Tidak ada parut.

Bahkan tidak ada perubahan warna kulit.

Kulitnya mulus sempurna. Seolah-olah luka itu tidak pernah ada.

Rafael menutup mata. Ingatan itu datang seperti tsunami—memaksa masuk, menenggelamkan kesadarannya.

***

BERSAMBUNG...

Yo... Welcome back gengss...

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!