"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Pagi itu, mentari masuk melalui celah gorden sutra di kamar megah milik Rini. Abdi terbangun dengan perasaan yang aneh. Di bawah punggungnya ada kasur seharga puluhan juta, di sekelilingnya ada kemewahan yang dulu hanya ia impikan. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat tatapan tajam Disa di pengadilan tatapan yang membuatnya merasa seperti kerdil.
Rini, yang sudah bangun lebih dulu, duduk di depan meja riasnya yang penuh dengan produk kecantikan internasional. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum puas. Dengan gerakan santai, ia meraih ponselnya dan menekan beberapa tombol.
"Sudah, Mas," ucap Rini tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat percaya diri.
Abdi duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya. "Apa yang sudah, Rin?"
"Lima ratus juta. Tuntutan nafkah masa lampau dari istrimu yang mata duitan itu. Sudah aku transfer ke rekening penampungan pengacaramu pagi ini. Aku ingin hari ini juga Disa tahu, bahwa uang yang dia anggap besar itu, bagi aku hanyalah recehan," Rini berdiri, menghampiri Abdi dan mengelus bahunya. "Aku nggak mau kamu pusing lagi, Mas. Aku mau kamu fokus pada persiapan pernikahan kita setelah ketok palu nanti."
Abdi terdiam. Ada rasa lega karena beban hutang itu hilang, tapi ada rasa pahit yang lebih besar. Ia merasa harga dirinya benar-benar sudah dibeli. Ia kini bukan lagi seorang kepala keluarga, melainkan properti milik Rini.
Berbeda dengan suasana sunyi di rumah Rini, kantor tempat Disa bekerja tampak sangat sibuk dan penuh energi positif. Di ruang istirahat karyawan, Manda dan Sinta sedang asyik berbincang sambil menunggu kopi mereka siap.
"Gila ya, aku salut banget sama Disa," ujar Manda sambil menggelengkan kepala. "Masalah rumah tangganya lagi seheboh itu, tapi dia bisa-bisanya dapat proyek ekspansi jalur distribusi nasional. Itu proyek gede banget, Sin!"
Sinta mengangguk setuju. "Iya, Man. Mana mantan suaminya itu nggak tahu diri banget lagi. Benar-benar nggak punya harga diri."
Tak lama kemudian, Rio masuk ke ruangan itu dengan wajah yang tampak puas. Sebagai rekan kerja sekaligus orang yang paling tahu detail kasus Disa dari sisi administrasi kantor, Rio selalu menjadi sumber informasi terpercaya.
"Gimana, Rio? Ada update soal si mantan itu?" tanya Sinta penasaran.
Rio menyesap kopinya, lalu tersenyum tipis. "Pagi ini pihak mereka sudah transfer lima ratus juta. Sepertinya si janda kaya itu benar-benar buta cinta. Dia mau-mauan bayar hutang nafkah Abdi demi menyelamatkan muka keluarga parasit itu."
"Disa sudah tahu?" tanya Manda.
"Sudah. Tapi Disa biasa saja. Malah sekarang dia lagi di ruang rapat sama Pak Heru, lagi finalisasi kontrak proyek baru," jawab Rio.
Tiba-tiba, pintu ruang istirahat terbuka. Disa masuk bersama seorang pria berpakaian sangat rapi yang menenteng tas kulit mahal. Wajah pria itu terlihat sangat cerdas namun dingin.
"Eh Disa!" sapa Manda semangat. "Selamat ya Dis atas proyek barunya!"
Disa tersenyum tulus. "Terima kasih, Man, Sin. Kenalin, ini Rendi, pengacara yang akan menangani kasusku secara profesional."
Rendi mengangguk sopan pada Manda dan Sinta. Rio kemudian menepuk bahu Rendi sambil memberikan kopi yang dia ambil. "Rendi ini sahabat baikku sejak kuliah hukum. Dia spesialis kasus keluarga dan perdata yang paling tajam. Aku sengaja minta dia turun tangan karena kalau aku sendiri yang jadi pengacara Disa, urusan kantor bisa jadi rancu secara profesional."
Rendi menyesap kopi hitamnya. "Rio sudah menyerahkan semua data audit yang dia kumpulkan. Lima ratus juta sudah masuk, tapi itu baru pembukaan. Tugas saya sekarang adalah memastikan rumah mantan Mama mertuanya nona Disa itu jatuh ke tangan Ibu Disa sebagai kompensasi atas kerugian selama tiga tahun."
Manda dan Sinta langsung bersemangat. "Hajar saja Mas Rendi! Apalagi adiknya si Abdi itu, kelakuannya di media sosial benar-benar minta dihujat!"
Disa duduk di kursi tinggi samping Rio. "Bagus kalau sudah lunas. Itu hak Fikri. Tapi jangan pikir uang itu bisa membuat Rendi mundur soal tuntutan pidana penggunaan dana asuransi. Perang yang sebenarnya baru dimulai di sidang minggu depan."
Sore Hari, Rumah Mewah Rini.
Di pinggir kolam renang, Mama Ratna sedang bersantai di kursi malas sambil menikmati jus jeruk. Amel duduk di sampingnya, sibuk memotret tas barunya.
"Lihat ini, Ma. Aku baru posting foto tas pemberian Jeng Rini, eh si Satria langsung lihat story-ku. Pasti dia nyesel banget mutusin aku," ujar Amel dengan nada congkak.
Mama Ratna tertawa. "Biarkan saja, Mel. Beruntung Abdi dapat Jeng Rini. Lima ratus juta cuma sekali jentik jari langsung beres. Disa pasti sekarang lagi nangis di kantornya karena nggak nyangka kita bisa bayar secepat itu."
Abdi keluar dari dalam rumah, wajahnya tampak mendung. Ia baru saja melihat unggahan LinkedIn perusahaan Disa yang mengumumkan keberhasilan tim Disa dalam tender nasional. Foto Disa yang bersalaman dengan investor asing, didampingi Pak Heru yang tampak sangat protektif, membuat hati Abdi terbakar cemburu.
"Mah Disa makin sukses. Dia baru dapat proyek nasional. Kariernya meledak sekarang," gumam Abdi.
Wajah Mama Ratna langsung berubah masam. "Halah, paling itu juga berkat bantuan bosnya yang kegatelan itu. Kamu nggak usah minder, Di. Kamu sekarang punya Rini. Toko emas Rini itu aset nyata, bukan cuma sekadar proyek kertas kayak Disa."
Rini keluar dari arah dapur, mengenakan gaun rumah yang seksi namun glamor. Ia mendengar pembicaraan mereka. "Ada apa sih, kok masih bahas Disa?" tanya Rini sambil duduk di pangkuan Abdi secara posesif di depan Mama dan adiknya.
"Itu Rin, Disa dapat proyek besar di kantornya," jawab Abdi canggung.
Rini tersenyum meremehkan. "Mas, dengerin aku. Sukses di kantor itu nggak seberapa dibanding punya aset sendiri. Besok, aku mau kamu ikut aku ke toko pusat. Aku mau kenalin kamu ke staf sebagai calon pemilik baru. Aku mau kamu tampil mewah di sidang minggu depan. Aku sudah pesan jas dari desainer ternama buat kamu."
Rini membelai rahang Abdi. "Aku mau tunjukkan ke Disa, Rio, dan si Rendi itu, kalau kamu itu naik kelas sejak sama aku. Biar mereka tahu, siapa pemenang yang sebenarnya."
Abdi mengangguk patuh, meski ada rasa perih di hatinya. Ia tahu, di sidang nanti, ia bukan datang sebagai laki-laki yang berwibawa, melainkan sebagai boneka pameran milik Rini. Sementara Disa, ia akan datang sebagai wanita mandiri yang dikawal oleh pengacara hebat dan sahabat-sahabat yang tulus.
udh dpt lmpu hjau dr clon mrtua tu disa,jd kl arlanda ngjak srius trima aja...
s bpk gercep bgt buat pdkt sm disa....udh bkin heboh krna smp rela jmput pjaan hti,d ajk kncan jg.....
skluarga jd piaraan smua..yg laki piaraan tante girang,yg wnita piaraan om hdung belang.....ccckkkk......
Dr yg songong'nya amit2,skrng jualn tisu buat mkn...ada lg yg lbh lwak,mntan suami yg ngrim chat cma buat mnta uang.....y aampuuunnn.....
ga ush mkrin mreka yg udh bkin km mndrta,biar aja mreka jd gmbel....yg pnting km sm kluargamu baik2 aja,apa lg skrng bestie sm holang kaya....
eehhh....spa lg tu yg bkln nysul jd gmbel???brani bgt ngusik disa yg udh d lndungi sm sing galak.....
disa emng kerennn...dlu d abaikn suami,d hina mrtua plus ipar yg sma2 gila....smp hrus mnhan lpar dmi bakti...skrng....dia mmetik buah dr ksbaran'nya....smnggttt...