Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Perjanjian Sejarah yang Mengikat: Usaha Bersama Khatulistiwa dan Tenggara
Di sebuah kedai kopi tua berlatar tembok bata merah di pusat Kota Makassar, suara gelagak ombak Pantai Losari terdengar pelan-pelan menyusuri celah jendela. Di sudut ruangan yang teduh, Khatulistiwa dan Tenggara duduk berhadapan, mata berbinar saat membicarakan naskah kuno yang baru saja mereka temukan di perpustakaan daerah. Kedua orang muda yang baru saja resmi bertunangan itu sama-sama memiliki cinta yang mendalam terhadap sejarah, dan hasrat itu menjadi landasan bagi usaha bersama yang akan mereka bangun.
Khatulistiwa, anak perempuan kelahiran Makassar dengan wajah yang hangat seperti sinar matahari sore di pesisir pantai, telah menghabiskan tahun-tahunnya meneliti warisan budaya Sulawesi Selatan. Ia mengenal setiap batu bersejarah di Benteng Rotterdam, setiap syair dalam lontarak, dan setiap cerita rakyat yang dituturkan dari satu generasi ke generasi. Sementara itu, Tenggara—yang berasal dari wilayah Malang Indonesia dan memilih Makassar sebagai rumahnya sejak tiga tahun lalu—mempelajari hubungan sejarah antarwilayah nusantara, khususnya bagaimana perdagangan dan budaya mengalir seperti sungai yang menghubungkan pulau-pulau.
"Lihat ini, Bee," ujar Tenggara sambil menunjukkan halaman naskah yang sudah menguning. "Tulisan kuno ini menyebutkan bahwa ratusan tahun yang lalu, pedagang dari wilayah Tenggara telah berdagang dengan komunitas di pesisir Makassar, membawa bukan hanya barang dagangan, tapi juga cerita dan tradisi."
Khatulistiwa mengangguk perlahan, jempolnya menyentuh bagian tulisan yang mengisahkan tentang pertukaran seni ukir dan teknik tenun. "Itu sebabnya aku berpikir," lanjutnya dengan semangat, "kita bisa membuat usaha yang menghidupkan kembali hubungan sejarah itu dengan cara yang relevan saat ini."
Ide mereka mulai terbentuk seperti gambar yang perlahan jelas dari puing-puing sejarah. Mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah usaha bernama "Nusantara Bersejarah"—tempat yang menggabungkan galeri sejarah, toko produk kerajinan berbasis motif tradisional, dan ruang edukasi untuk workshop penelitian sejarah. Tempat usaha mereka terletak di sebuah bangunan tua yang dulunya merupakan gudang perdagangan pada abad ke-19, tepat di kawasan yang dulunya menjadi pusat aktivitas pedagang dari seluruh nusantara.
Proses membangun usaha tidaklah mudah. Mereka menghabiskan berbulan-bulan untuk meneliti arsip di perpustakaan nasional dan daerah, berkunjung ke desa-desa untuk bertemu dengan seniman tradisional, dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendapatkan izin dan dukungan.
Senja-senja mereka sering dihabiskan di kedai kopi yang sama, membicarakan rancangan tata letak galeri, merencanakan konten edukasi, dan membahas bagaimana cara menghubungkan produk kerajinan dengan cerita sejarah di baliknya.
"Kita tidak hanya menjual barang," ujar Khatulistiwa saat mereka sedang menyusun label untuk produk tenun. "Setiap kain, setiap ukiran, setiap perhiasan memiliki cerita tentang bagaimana nenek moyang kita saling berhubungan dan belajar satu sama lain." Tenggara menambahkan, "Dan melalui cerita itu, kita ingin membuat anak muda menyadari bahwa keberagaman kita bukanlah hal yang memisahkan, melainkan yang menyatukan—seperti yang telah terjadi selama berabad-abad."
Pada hari pembukaan usaha bersama, banyak orang datang untuk menyaksikannya. Ada seniman tradisional yang datang dari berbagai daerah, akademisi yang telah mendukung penelitian mereka, dan warga Makassar yang penasaran dengan usaha baru yang menghidupkan sejarah kota mereka.
Di dinding galeri, dipajang foto-foto peninggalan sejarah, replika naskah kuno, dan peta lama yang menunjukkan jalur perdagangan antarwilayah. Di bagian toko, produk kerajinan dari Makassar dan berbagai daerah di Tenggara Indonesia tersusun rapi, masing-masing dengan kartu penjelasan tentang sejarah dan makna di balik motifnya.
Saat matahari mulai bersinar ke arah barat, menerangi ruangan dengan cahaya emas, Khatulistiwa dan Tenggara berdiri berdampingan di depan pintu usaha mereka. Tangan mereka saling menggenggam erat, bukan hanya sebagai pasangan yang bertunangan, tapi juga sebagai mitra yang telah membangun sesuatu yang lebih dari sekadar usaha—suatu perjanjian untuk menghidupkan kembali sejarah dan menghubungkan hati rakyat nusantara.