NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:48.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Beberapa hari setelah kejadian itu, kondisi Kayla perlahan mulai membaik.

Luka di tangannya sudah mulai mengering, meskipun bekas goresan pecahan beling masih terlihat jelas. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.

Siang itu, suasana rumah Kayla terasa berbeda dari biasanya. Rumah besar yang selama ini terasa kosong kini dipenuhi orang.

Eyang Narti duduk di sofa ruang tengah dengan tongkatnya di samping kursi. Wajahnya masih terlihat lelah, tetapi sorot matanya tegas mengawasi keadaan cucunya.

Di dekatnya, Arman berdiri sambil sesekali berbicara dengan Arfin.

Sementara Kayla sendiri duduk di sofa panjang, tubuhnya masih terlihat lemah. Tangannya dibalut perban tipis, dan matanya masih tampak sembab karena terlalu banyak menangis beberapa hari terakhir.

Arfin duduk di lantai dekat kaki kakaknya, seperti anak kecil yang sedang dihukum.

Ia tidak berani jauh-jauh dari Kayla. Sesekali ia melirik kakaknya dengan rasa bersalah yang masih jelas terlihat.

“Kak…masih sakit gak?” tanya Arfin pelan.

Kayla hanya menggeleng kecil. “Enggak.”

Sebenarnya tubuhnya masih sangat lelah dan lumayan Nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Namun yang lebih melelahkan adalah hatinya. Belum sempat suasana rumah benar-benar tenang, suara mobil berhenti di halaman.

Arman melirik ke arah jendela, ‘’Papa kalian datang,’’

Kalimat itu membuat suasana ruangan langsung terasa berbeda. Arfin menghela napas pelan. Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka.

Damar masuk lebih dulu. Di belakangnya berjalan Desi dengan langkah cepat dan wajah yang terlihat tegang. Begitu melihat Kayla duduk di ruang tengah, Desi langsung menghampiri tanpa basa-basi.

“Kayla.” Suara wanita itu terdengar tegas.

Kayla mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu. Namun tidak ada kehangatan dalam tatapan Desi. Yang ada hanya kegelisahan… dan ambisi.

“Kamu sudah lebih baik kan?” tanya Desi.

Kayla tidak menjawab. Eyang Narti yang sejak tadi memperhatikan langsung mengerutkan dahi.

“Ada apa kalian kemari?” tanyanya dingin.

Damar berdehem pelan. “Kami hanya ingin melihat keadaan Kayla Bu.’’

‘’Halah, gak percaya Ibu sama kamu Mar!’’

‘’Bu, tadi kami habis dari rumah sakit. Keadaan Candra masih belum pulih,” ujar Damar pelan. 

‘’Iya Kay, kapan kamu mau menemui dia, buat minta maaf?’’ sambung Desi.

Seketika Ruangan itu langsung terasa hening. Kayla menatap wanita itu dengan pandangan kosong. Arfin langsung mengangkat kepala dengan kaget.

‘’Ma, kakak kaya gini kan gara gara dia!’’ 

‘’Diam kamu Fin, anak kecil jangan ikut campur!’’ ancam Desi, lalu wanita itu melanjutkan dengan nada cepat.

“Perusahaan papa kalian sekarang dalam masalah besar. Keluarga Abhinaya sangat marah. Kalau kamu tidak meminta maaf secara langsung, mereka bisa menghancurkan semuanya.”

Kayla masih diam. Namun tangan di pangkuannya mulai mengepal pelan.

“Kayla hanya perlu datang dan meminta maaf,” lanjut Desi. “Tidak sulit kan?”

Tapi, belum sempat Kayla menjawab—

Plakkk!

Suara tamparan keras menggema di ruang tamu. Membuat Semua orang terkejut. Desi memegang pipinya yang tiba-tiba terasa panas. Matanya membesar menatap orang yang menamparnya.

Eyang Narti berdiri dengan tubuh gemetar. Tongkatnya menghantam lantai dengan keras.

‘’Katakan sekali lagi! Cucuku hamper mati, dan kamu dengan egois nya menyuruh nya begitu?’’ 

‘’Ibu—” Damar hendak membela istrinya.

“Diam kamu!” seru eyang narti menatap tajam pada Damar. Lalu matanya memerah menatap menantunya.

“Nyawa Kayla hampir hilang!” teriak Eyang. “Dia hampir diperkosa oleh anak kurang ajar itu! Mata kamu Dimana hah!’’

“Tapi Kayla sudah baik baik saja Bu.’’ katanya tajam. “Dan ini soal perusahaan! Kalau keluarga Abhinaya menghancurkan bisnis kami, semuanya bisa bangkrut!”

‘’Kenapa otak kamu isinya hanya uang hah!’’ Wanita tua itu benar-benar murka. “Anak kamu hampir mati! Tapi kamu masih bicara soal uang?!”

 “Ibu, coba tenang dulu.” Ucap Damar yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Membuat Eyang langsung menoleh tajam.

“Kamu juga sama saja!” katanya dengan suara penuh kecewa.

Damar menahan napas. “Kayla hanya perlu meminta maaf—”

“Cukup!” Tongkat Eyang kembali menghantam lantai.

“Sejak perempuan ini masuk ke keluarga kita,” kata Eyang sambil menunjuk Desi, “kamu berubah Damar!”

Ruangan menjadi sunyi. Tatapan semua orang tertuju pada wanita tua itu.

“Perempuan ini tidak pernah benar-benar menyayangi Kayla!” lanjut Eyang dengan suara bergetar.

Desi langsung menatap tajam. “Ibu jangan sembarangan bicara!”

“Sembarangan?” Eyang tertawa pahit. “Apa mbok pikir aku sudah buta hah? Gak bisa lihat bagaimana kelakuan kalian selama ini?’’

Tatapannya beralih pada Kayla yang masih duduk diam dengan wajah pucat. Tubuhnya kaku. Kedua tangannya saling menggenggam di depan perut, menahan gemetar yang sejak tadi tak bisa ia kendalikan. Kepalanya tertunduk, seolah lantai menjadi satu-satunya tempat yang aman untuk ia pandangi.

Ia tidak berani menatap siapa pun. Terlebih ayahnya. BUkan takut, hanya saja dia terlalu malas untuk berdebat karena kondisi badannya masih lemah.

“Melihat sikap dan kelakuan kalian… Ibu semakin yakin bahwa menikahkan Kayla adalah pilihan paling tepat.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah ruangan. Dan seketika membuat semua orang terdiam. Damar langsung mengerutkan kening. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata. Ia menoleh cepat ke arah ibunya.

“Kayla mau menikah?” tanyanya dengan nada tidak percaya.

Desi juga ikut menatap Eyang Narti dengan mata membesar. Bagi mereka, keputusan itu terasa terlalu tiba-tiba.

“Iya,” jawab beliau mantap.

Suara wanita tua itu tidak tinggi, tetapi cukup kuat untuk membuat ruangan kembali terasa berat.

“Aku akan menjodohkan Kayla dengan Ustadz Hanan. Anak pemilik pondok pesantren di Surabaya.”

Kalimat itu benar-benar seperti petir yang menyambar di tengah siang hari.

“Enggak Bu!” serunya tiba-tiba dengan suara meninggi.

Ia melangkah satu langkah ke depan, menatap ibunya dengan wajah penuh penolakan. “Kayla sudah akan Damar jodohkan dengan anak Pak Brata!”

Ucapan itu langsung membuat suasana kembali memanas. Tatapan Eyang Narti yang semula tegas berubah menjadi sangat tajam. Perlahan beliau berdiri dari duduknya. Gerakan itu pelan, tetapi penuh wibawa.

“Siapa kamu mau jodoh-jodohin cucu ku, hah!” bentak beliau dengan suara yang penuh kemarahan.

Nada suara itu membuat Kayla langsung menunduk lagi. Dadanya berdebar keras. Damar tidak mundur sedikit pun. Ia justru semakin mengeraskan wajahnya.

“Bu! Biar bagaimana pun, Damar adalah ayah kandung Kayla,” katanya menahan emosi. “Hanya Damar yang bisa menikahkan Kayla!”

Ucapan itu membuat tangan Eyang Narti mengepal di samping tubuhnya.

“Kamu—!” beliau menatap Damar dengan sorot mata penuh kekecewaan.

Namun sebelum amarah itu sempat meledak lebih jauh, Desi tiba-tiba menyela.

“Atau…” katanya dengan nada licin. Semua mata langsung tertuju padanya. Desi melirik Kayla dengan senyum tipis yang terasa menusuk.

“Kalau memang Kayla mau menikah, boleh saja kami restui.”

Kayla menatap ibu tirinya itu dengan perasaan tidak enak. Namun Desi melanjutkan kalimatnya dengan santai.

“Asal dia mau meminta maaf duluan kepada Chandra.”

Kalimat itu langsung membuat udara di ruangan terasa membeku.

Kayla seketika pucat. Nama itu… kembali disebut.  Tapi, lagi lagi sebelum sempat siapa pun bereaksi—

PLAkk!

Suara tamparan keras menggema di ruangan. Kepala Desi langsung terlempar ke samping. Membuat Semua orang terkejut.

Eyang Narti berdiri di depan Desi dengan napas yang naik turun. Tangan beliau masih terangkat di udara, sementara wajahnya memerah oleh kemarahan yang tak terbendung.

“Perempuan gila kamu!” bentak beliau dengan suara bergetar.

Desi memegang pipinya yang kini terasa panas. Matanya membelalak, jelas tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu.

“Ibu!” protesnya tersinggung.

Namun Eyang Narti sama sekali tidak peduli. Tatapan beliau masih penuh amarah.

“Selama aku masih hidup,” kata beliau tegas, “aku gak akan biarin cucu ku meminta maaf kepada iblis itu!”

Kayla menahan napas. Dadanya terasa sesak mendengar seseorang akhirnya membelanya dengan begitu keras. Sementara itu Desi menggertakkan giginya.

“Bu! Ini demi kelangsungan keluarga kita!” katanya mencoba membela diri.

Mendengar kalimat itu, Eyang Narti malah tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar pahit.

“Keluarga kita?” ulang beliau dengan nada sinis. Beliau menatap Damar dan Desi dengan kekecewaan yang sangat dalam.

“Aku masih mampu menghidupi cucu ku. Kayla tidak butuh uang kalian lagi!”

Ucapan itu membuat Desi langsung terdiam. Sedangkan Damar terlihat semakin menahan amarah. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, suara lain terdengar dari sisi ruangan.

“Dan kalau Mas Damar gak mau jadi wali Kayla… maka Arman bisa gantiin Mas.”

Semua orang langsung menoleh. Arman yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kini melangkah masuk ke tengah ruangan.

Wajahnya serius. Tidak ada lagi ekspresi santai seperti biasanya. Desi langsung mendengus kesal.

“Arman jangan ikut campur kamu!’’

Namun Arman tidak menggubrisnya. Tatapannya tertuju lurus pada kakaknya.

“Mas,” katanya pelan tapi tegas, “Kayla sudah cukup menderita. Jangan tambah luka dia lagi. Dia juga anak kamu Mas!’’

1
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kalau udah lihat kamu juga pasti suka Del🤣🤣
Redmi Nam
nunggu momen Hanan berdua sama Kayla..
Eka ELissa
uang Kayla byk umi kmrin aj abis mnang balap liar 200 juta tiap main...
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
insya allah Hanan akan membimbingmu Kayla😍😍😍
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
duuhh yg bentar lg mau di lamar,,,deg-degan ya😁😁😁😁
billaacha90
sabar Kay, nanti kalau kamu sudah mengerti kamu pasti malu sendiri
billaacha90
tentu dong, kamu boleh kok kalau sama om nya Kayla, Fatimah 🤣🤣
billaacha90
asyik asyik asyik 🤗🤗
billaacha90
Nah kamu tahu sendiri kan Fatimah, kamu yang sebagai perempuan ae bisa bilang begitu🤭
billaacha90
tentu malu lah kakakmu Fatimah, yang di tolong cewek yang sungguh menggoda lho 🤭
billaacha90
itu juga kan anak umi🤣🤣
billaacha90
ealah ustadz tadi keluar ternyata dari rumah pak kyai tho🤣🤣
sansan
wahhhh ditanya lsg soal mahar... emang Umi calon mertua paling didambakan
Enisensi klara
Si Kunti emang virus 😏😏
💥💚 Sany ❤💕
Padahal Kay yang dilamar napa aku yang senyum2 gak jelas, untung gak da yang lewat 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
Selamat ya Kay... aku ikut seneng. Semoga lancar sampai hari H
💥💚 Sany ❤💕
lagi serius-serusnya tapi malah hampir ngakak gara2 tingkah Fatim dan Arfin. Suka banget ma karakter Fatim yang apa adanya dan si Arfin yang kadang ada olengny dikit tapi bikin suasana hidup.
billaacha90
Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia
billaacha90
semoga kamu bisa mengerti apa maksudnya cowok yang menolong kamu Kay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!