NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Waktu seolah berlari di Manhattan. Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak pernikahan megah Azkara dan Alana yang menyatukan dua dunia. Azkara kini adalah konglomerat otomotif yang disegani, sementara Alana tetap menjadi ikon keanggunan, meski ia telah lama pensiun dari dunia model untuk fokus pada yayasan sosialnya. Namun, kehidupan sempurna mereka diuji oleh kehadiran putri tunggal mereka, Danisha Audreyna.

Audrey, begitu ia akrab disapa, tumbuh menjadi gadis dengan kecantikan yang menghujam, perpaduan mata biru Azkara dan garis wajah lembut Alana. Namun, Audrey bukanlah Alana. Sejak kecil, ia menolak segala bentuk aturan yang dianggapnya mengekang, termasuk keinginan ibunya agar ia mengenakan hijab. Puncaknya terjadi setahun lalu, ketika tekanan emosional membuatnya nyaris melakukan tindakan nekat untuk mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah perdebatan tentang jilbab. Sejak saat itu, Azkara dan Alana memilih mundur. Mereka membiarkan Audrey tumbuh dengan caranya sendiri, tanpa jilbab, namun tetap dalam pengawasan cinta yang tak putus.

Malam itu, New York berkilauan. Audrey baru saja dinyatakan lulus untuk masuk ke New York University (NYU). Ia mengenakan dress pendek berwarna hitam yang elegan, tanpa kain di kepalanya, menonjolkan rambut panjangnya yang berkilau. Ia merasa bebas. Ia merasa menang. Dan ia ingin merayakannya bersama Rafael, kekasihnya sejak SMA.

"Kita tidak jadi ke kafe di Times Square?" tanya Audrey saat mobil Rafael melaju melewati belokan yang seharusnya menuju pusat kota.

"Teman-temanku membuat pesta kecil di apartemen, Audrey. Hanya sebentar, setelah itu kita makan malam romantis, janji," Rafael tersenyum, namun tangannya mencengkeram kemudi dengan sedikit tegang.

Audrey yang tidak menaruh curiga hanya mengangguk. Baginya, Rafael adalah pelabuhan aman dari segala tuntutan rumahnya yang terasa berat. Namun, saat mereka sampai di sebuah apartemen mewah di kawasan Lower East Side, suasana terasa sepi. Sangat sepi.

Pintu terbuka, menyingkap sesosok pria tinggi dengan tatapan tajam dan dingin. Keenan Atharrazka. Pemuda berusia 21 tahun itu tampak terkejut melihat Rafael membawa seorang gadis ke tempatnya. Keenan adalah mahasiswa senior di NYU, teman Rafael di klub mobil balap, dan tipikal pria yang tidak suka basa-basi.

"Loh, mana yang lain, Raf?" Audrey bertanya pelan, matanya menyapu ruang tamu yang rapi dan sunyi.

"Tadi mereka bilang menyusul," jawab Rafael asal.

Waktu berlalu, namun tidak ada tanda-tanda pesta. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Ponsel di tas Audrey bergetar tanpa henti. Nama Mama muncul di layar.

"Raf, aku pulang saja ya? Ini Mama menelepon terus. Dia sudah menyuruhku pulang karena ini sudah jam sepuluh malam. Kamu tahu sendiri kan bagaimana ketatnya orang tuaku," ucap Audrey mulai gelisah.

Rafael, yang sejak tadi tampak frustrasi karena rencananya tidak berjalan lancar, tiba-tiba meledak. "Pulang? Selalu saja alasan Mama! Apa kamu mau kabur lagi dari aku?"

Suara Rafael yang meninggi membuat Keenan yang sedang duduk di kursi seberang meletakkan bukunya, ia memperhatikan dengan kening berkerut.

"Lima bulan kita pacaran, Audrey! Aku bahkan tidak pernah mencium bibirmu! Pegang tangan dan cium pipi itu tidak ada rasanya! Aku ingin merayakan kelulusan kita dengan cara yang lebih nyata!" teriak Rafael.

Wajah Audrey memucat. Ia merasa sangat malu, apalagi ada Keenan di sana yang menyaksikan pertengkaran memuakkan ini. "Rafael, jaga bicaramu! Ada orang lain di sini!"

Rafael tidak peduli. Ia malah menoleh ke arah Keenan yang hanya diam membisu. "Lu lihat kan, Nan? Gue sayang sama dia, tapi dia kayak patung!"

Rafael mencengkeram lengan Audrey, menariknya menuju salah satu kamar tamu yang terbuka. "Ayo ikut aku ke dalam. Kita bicara di sana."

"Nggak mau, Rafael! Lepaskan!" Audrey meronta.

Keenan, yang tadinya berniat tidak ikut campur, akhirnya bangkit dari kursinya. Postur tubuhnya yang lebih tinggi dari Rafael memberikan tekanan tersendiri di ruangan itu. "Rafael, jangan paksa cewek lu kalau dia nggak mau, bro," ucap Keenan dengan suara berat dan tenang.

Rafael berhenti, napasnya memburu. Ia menatap Audrey dengan tatapan menuntut. "Kamu cinta kan sama aku? Buktikan, Audrey! Aku cuma minta sekali ini saja buat merayakan kelulusan kita!"

Audrey merasa sesak. Bayangan tentang bagaimana ibunya selalu bicara tentang menjaga kehormatan tiba-tiba berkelebat. Meskipun ia tidak berhijab, bukan berarti ia bersedia menyerahkan dirinya begitu saja. Ketakutan itu memuncak saat ia melihat tatapan liar di mata Rafael.

Dengan gerakan refleks, Audrey menyentak tangan Rafael dan berlari kecil ke arah Keenan. Ia bersembunyi di belakang punggung lebar Keenan, mencengkeram ujung kemeja pria asing itu dengan tangan yang gemetar hebat.

"Demi Allah... aku nggak mau buat sejauh itu, Rafael. Aku nggak mau, aku takut!" isak Audrey di balik punggung Keenan.

Deg.

Mendengar kata "Demi Allah" keluar dari mulut gadis yang tampilannya sangat modern dan bebas itu, jantung Keenan seolah berhenti berdetak sejenak. Ia tidak menyangka gadis yang dibawa Rafael memiliki sisi religius yang tersembunyi di balik pemberontakannya terhadap pakaian.

Keenan segera memasang posisi melindungi. Ia menatap Rafael dengan tatapan yang sangat mematikan, tatapan yang mengingatkan pada cara Azkara menatap lawan-lawannya dulu.

"Jangan paksa dia, bro. Keluar sekarang sebelum gue yang seret lu keluar dari apartemen gue sendiri," tegas Keenan.

Rafael terpaku. Ia menatap Audrey yang tampak sangat rapuh di belakang Keenan. Rasa malu menyergapnya. Bukan hanya karena ditolak, tapi karena Keenan mendengar rahasia memalukannya bahwa ia ditolak untuk berhubungan intim oleh pacarnya sendiri. Keangkuhannya sebagai cowok populer runtuh seketika.

"Fine! Terserah kamu, Audrey! Dasar munafik!" umpat Rafael sebelum menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar dari apartemen dengan kasar, membanting pintu hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.

Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Audrey masih mematung di belakang punggung Keenan, jemarinya perlahan melepas cengkeramannya pada kemeja Keenan. Ia terisak pelan, bahunya berguncang.

Keenan memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap gadis di hadapannya. Rambut hitam yang tergerai, gaun pendek, namun tadi... ia bersumpah demi Tuhan.

"Dia sudah pergi," ucap Keenan pelan. "Duduklah. Tarik napas mu."

Audrey menengadah, matanya yang basah bertemu dengan mata Keenan yang dingin namun entah mengapa terasa menenangkan. Ia baru menyadari betapa kacaunya ia malam ini. Merayakan kelulusan yang ia impikan justru berubah menjadi malam yang paling menghinakan.

"Terima kasih..." bisik Audrey serak. "Aku... aku harus pulang. Bolehkah aku meminjam ponselmu? Ponselku mati."

Keenan tidak langsung memberikan ponselnya. Ia malah mengambil jaket yang tersampir di sofa dan memberikannya pada Audrey. "Pakai ini. Bajumu terlalu terbuka untuk keluar malam-malam begini sendirian. Aku yang akan mengantarmu pulang."

Audrey menatap jaket besar milik Keenan. Tiba-tiba ia teringat cerita ayahnya tentang bagaimana ayahnya dulu juga sering memberikan jaket pada ibunya. Ironi yang luar biasa. Ia yang membenci aturan, justru diselamatkan oleh seorang pria asing yang memberinya perlindungan, bukan karena nafsu, tapi karena kesantunan.

Malam itu, di apartemen Keenan yang sunyi, Audrey menyadari satu hal, New York memang luas, tapi ia baru saja melarikan diri dari satu bahaya menuju takdir baru yang ia sendiri belum tahu akan membawanya ke mana.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!