Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Aku kembali ke toko bunga tempat Arumi bekerja. Langkahku terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena tubuhku yang tengah berbadan dua, tapi karena harga diriku baru saja diinjak-injak.
Arumi yang sedang merangkai bunga mawar putih menoleh saat bel pintu berdenting.
“Loh, kok pulang? Katanya kamu kerja hari ini?” tanyanya heran.
Aku tak langsung menjawab. Aku hanya duduk di kursi kayu dekat meja kasir. Tanganku gemetar.
“Aku mundur, Rum,” ucapku lirih.
Arumi menghentikan kegiatannya. “Apa? Kenapa?”
Aku menceritakan semuanya. Tentang bagaimana Mas Bram tahu aku melamar di kantornya. Tentang bagaimana dia dengan sengaja menerimaku hanya untuk merendahkanku. Tentang ucapannya yang penuh kesombongan bahwa aku tak akan bisa hidup tanpa uang dan fasilitas darinya.
Wajah Arumi memerah menahan marah.
“Jadi dia sengaja? Buat ngejek kamu?”
Aku mengangguk. “Aku gak mau setiap hari diperlakukan seperti itu. Aku mungkin butuh kerja, tapi aku gak mau kehilangan harga diri.”
Arumi langsung memelukku erat.
“Ran, kamu gak salah. Harga diri itu lebih mahal dari gaji sebesar apa pun.”
Aku terdiam. Tanganku refleks mengusap perutku yang mulai membulat.
“Aku cuma takut… aku harus kuat buat anak ini,” bisikku.
Arumi tersenyum lembut. “Dan kamu kuat. Dari dulu kamu selalu kuat. Kalau dia pikir kamu gak bisa hidup tanpa dia, kita buktiin sebaliknya.”
Aku menarik napas panjang.
Mungkin jalanku memang tidak mudah.
Mungkin aku harus berjalan pelan.
Tapi aku tak akan pernah kembali pada lelaki yang meremehkanku.
Aku adalah Rania.
Dan aku akan berdiri tanpa Mas Bram.
Aku masih terdiam ketika Arumi tiba-tiba menjentikkan jarinya, seperti menemukan sesuatu.
“Ran!” serunya tiba-tiba.
Aku menoleh lemas. “Apa lagi, Rum?”
“Kamu itu dulu paling jago masak ayam geprek waktu di panti asuhan, kan?”
Aku mengernyit. Kenangan itu mendadak muncul. Dapur kecil di panti, suara ulekan cabai yang kutumbuk setiap sore, dan anak-anak yang selalu menambah nasi karena ayam geprek buatanku.
“Iya… memangnya kenapa?” tanyaku ragu.
Arumi tersenyum lebar. “Ya jualan, Ran! Jualan ayam geprek!”
Aku langsung terdiam.
“Jualan?” ulangku pelan.
“Iya! Kamu gak perlu modal besar. Kita bisa mulai dari kecil-kecilan dulu. Pre-order dulu juga bisa. Aku bantu promosiin. Kamu masak, aku yang bantu sebarin ke teman-teman toko sekitar sini.”
Dadaku tiba-tiba terasa hangat. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari kantor Mas Bram, aku merasa ada secercah harapan.
“Tapi… apa bisa ya?” suaraku lirih. “Aku lagi hamil…”
Arumi memegang tanganku. “Justru karena kamu hamil, kamu harus punya pegangan. Kamu punya skill, Ran. Jangan sia-siakan.”
Aku menelan ludah.
Dulu, saat masih di panti asuhan, aku memang yang paling dipercaya mengurus dapur kalau pengurus sedang sibuk. Ayam geprek buatanku selalu jadi favorit. Sambalnya pedas, gurih, bikin nagih — kata anak-anak.
Perlahan, senyum kecil terbit di bibirku.
“Kalau… kalau kita coba, kamu yakin ada yang beli?”
“Yakin banget! Sekarang ayam geprek lagi digemari. Kita kasih nama yang unik biar orang penasaran.”
Aku mengusap perutku pelan.
Mungkin ini jalannya.
Bukan kantor mewah.
Bukan gaji besar.
Tapi usaha kecil dari tanganku sendiri.
“Baiklah,” kataku akhirnya. “Kita coba.”
Arumi langsung bersorak kecil dan memelukku.
Aku menunduk, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Benda kecil itu berkilau samar terkena cahaya sore. Hadiah ulang tahun dari Mas Bram. Dulu, saat ia masih bersikap manis dan membuatku merasa dicintai.
“Apa aku jual saja jam ini ya?” seruku pelan pada Arumi.
Arumi menatapku sejenak, lalu mengangguk ragu.
“Nggak apa-apa sih menurutku… kan itu lebih baik juga. Dari pada kamu terus-terusan nggak punya modal.”
Aku terdiam.
Jam ini bukan sekadar jam. Ia saksi tawa, pelukan, dan janji yang ternyata palsu. Tapi sekarang, apa gunanya kenangan kalau perutku kosong? Apa artinya hadiah mahal kalau harga diriku diinjak-injak?
Tanganku mengepal.
“Kalau aku jual, itu artinya aku benar-benar selesai ya sama masa lalu?” tanyaku lirih.
Arumi tersenyum tipis.
“Bukan selesai, Ran. Tapi kamu memilih masa depan.”
Kalimat itu menamparku lembut.
Aku menarik napas panjang. Bayangan ejekan Mas Bram saat ia bilang aku tak akan bisa hidup tanpanya kembali terngiang. Seolah jam di tanganku ini adalah simbol ketergantunganku padanya.
Tidak.
Aku tidak mau hidup dari belas kasihan. Aku tidak mau terus diikat oleh pemberiannya.
Perlahan, aku melepas jam itu dari pergelangan tanganku. Ada perasaan sesak, tapi juga… lega.
“Besok kita jual,” ucapku mantap.
“Terus uangnya buat modal ayam geprek. Kamu dulu paling jago soal sambal, kan?” goda Arumi mencoba mencairkan suasana.
Aku tersenyum kecil. Ingatanku melayang ke masa di panti asuhan. Setiap ada acara, aku yang dipercaya mengulek sambal, menggoreng ayam sampai renyah. Anak-anak sampai tambah dua kali.
Mungkin… memang ini jalanku.
Bukan menjadi perempuan yang menunggu nafkah dengan kepala tertunduk.
Tapi perempuan yang berdiri sendiri, walau harus menjual kenangan untuk memulainya.
Aku menggenggam jam tangan itu erat untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih untuk kenangannya,” bisikku dalam hati.
“Sekarang aku pilih hidupku sendiri.”
Keesokan paginya, aku dan Arumi berdiri di depan sebuah toko jam di pusat kota. Tanganku terasa dingin, bukan karena cuaca, tapi karena keputusan yang akan kuambil.
Jam itu kugenggam erat di dalam tas.
“Yakin?” tanya Arumi pelan.
Aku mengangguk. “Yakin.”
Kami masuk. Aroma kayu dan parfum ruangan menyambut. Seorang pegawai pria menyapa ramah, lalu memintaku menyerahkan jam yang ingin dijual.
Perlahan aku mengeluarkannya.
Jam itu masih terlihat mewah. Dulu Mas Bram memberikannya sambil tersenyum bangga, seolah ingin menunjukkan bahwa aku berharga karena bersamanya.
Pegawai itu memeriksa dengan kaca pembesar, membuka bagian belakangnya, lalu mengetik sesuatu di komputer.
Aku menelan ludah.
Berapa pun harganya, aku harus terima.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
“Bu,” katanya akhirnya, “jam ini asli dan seri terbatas. Kondisinya juga sangat bagus.”
Aku dan Arumi saling pandang.
“Kalau Ibu setuju, kami bisa beli dengan harga… dua puluh delapan juta.”
“Apa?!” seruku spontan.
Arumi sampai ternganga. “Serius, Mas?”
Pegawai itu tersenyum profesional. “Serius, Bu. Bahkan kalau dijual pribadi mungkin bisa lebih, tapi di sini prosesnya lebih cepat.”
Aku terpaku.
Dua puluh delapan juta.
Uang sebanyak itu bisa jadi modal besar. Bukan cuma gerobak kecil. Aku bisa sewa tempat sederhana, beli peralatan lengkap, bahkan menyisakan tabungan untuk kebutuhan bayiku nanti.
Tiba-tiba jam itu terasa jauh lebih ringan di tanganku.
Bukan karena nilainya kecil.
Tapi karena untuk pertama kalinya, pemberian Mas Bram bisa menjadi awal kebebasanku.
“Baik,” ucapku mantap. “Saya jual.”
Saat menandatangani surat transaksi, ada sedikit getar di tanganku. Seolah satu bab hidupku benar-benar ditutup hari itu.
Begitu uang ditransfer, aku menatap layar ponsel dengan mata berkaca-kaca.
“Aku bisa, Rum,” bisikku pelan.
“Kali ini aku benar-benar bisa tanpa dia.”
Arumi memelukku erat.
“Dan ini baru awal, Ran.”
Aku tersenyum.
Mas Bram mungkin mengira aku tak akan bertahan tanpa uangnya.
Ia salah.
***