Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Jawaban —
[Durasi: 00:10:32]
Sepuluh menit sudah berlalu. Dan rasanya aku seperti diinterogasi oleh Miyazaki.
Meski pertanyaannya terdengar sepele, tapi ini masih permulaan. Untuk saat ini semuanya berjalan lancar, karena aku menjawabnya dengan jujur.
Masih ada sisa lima puluh menit lagi. Aku yakin kalau semakin lama, maka pertanyaannya semakin merepotkan.
"Sebelum ke pertanyaan selanjutnya, izinkan aku memberitahu sesuatu."
Aku memang bisa menjawab beberapa pertanyaan Miyazaki dengan jujur, tapi ada satu hal yang aku tidak ingin dia tahu. Oleh karena itu, akan lebih baik jika aku mengatakannya sekarang.
Posisi kami kurang lebih sama seperti sebelumnya. Aku rebahan di sofa, dan Miyazaki duduk di tatami dengan punggungnya yang menyender ke sofa.
Jarak kami semakin dekat. Bahkan aku sesekali bisa mengendus bau tubuhnya, yang juga bersamaan dengan wangi rambutnya.
Tidak, lupakan itu. Tanganku sudah kukunci agar tidak bergerak impulsif lagi.
"Kau ingin beritahu apa?"
"Begini, Miyazaki-san. Kau sudah mengajukan banyak pertanyaan, kan?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku menjawab semuanya dengan jujur, oke? Tapi, tolong jangan tanyakan satu hal ini!"
"Hmm... apa itu?"
Aku diam sejenak, memberi jeda pembicaraan.
Aku sengaja melakukannya supaya dia tahu kalau aku sedang serius. Jadi, tanpa perlu mengatakan sesuatu seperti 'Aku serius, dengarkan baik-baik!', akan lebih baik jika dia bisa menilainya sendiri.
Setelah terdiam beberapa saat, dengan mata kami yang saling menatap... akhirnya aku buka suara.
"Tentang masa laluku."
Suaraku terdengar lebih dingin dari yang aku kira, membuat Miyazaki menunduk. Dia lalu mengalihkan pandangannya.
"Kenapa begitu?"
"Supaya impas, kau juga tidak perlu menceritakan masa lalumu."
"Bukan itu maksudku."
Aku kembali diam. Bukan mengabaikannya, tapi menegaskan lagi kalau ini bukan sesuatu yang baik untuk dicari tahu.
Keheningan menelan ruangan tengah, kami jadi saling tutup mulut. Karena ruangan ini hampir tidak berisi perabotan apa-apa, aku hanya bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.
Sampai akhirnya, Miyazaki memecah itu.
"Takashi-kun... pasti berat, ya? Tapi, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri!"
"Ya, aku tahu."
"Kau tidak mengerti sama sekali."
"Aku mengerti, kok. Sekarang kau bisa ke pertanyaan selanjutnya."
"Yah, terserah kau saja. Aku tidak akan menanyakan masa lalumu."
Pada akhirnya, dia sepakat untuk tidak menguliknya. Dan sekarang, setidaknya dia tahu bahwa aku punya satu hal yang sensitif.
Kami pun melanjutkan pembicaraan seperti sebelumnya.
"Kalau begitu, Takashi-kun. Sebelum menuju ke Kamar Nomor 25, kenapa kau menahanku? Terus kau bertanya tentang tujuanku atau apalah itu."
"Oh, mau tahu?"
"Aku penasaran kenapa pintunya bisa terbuka, sementara yang lain malah kesulitan."
Rupanya dia memilih topik tentang kejadian di lorong tadi. Tentang aku yang menahan tangannya, bertanya beberapa hal, kemudian berkonflik sampai aku memeluknya, lalu pintu Kamar Nomor 25 pun terbuka.
Agak rumit menjelaskannya, apalagi semua itu melenceng dari rencana awalku.
"Begini, Miyazaki-san. Aku sadar dengan sebuah pola. Ada CCTV di lorong, dan kita perlu mengikuti instruksinya. Kurang lebih begitu polanya."
"Pola? Apa maksudmu? Lalu kenapa kau menanyakan tujuanku?"
"Aku melakukannya karena ingin basa-basi saja."
"Hah? Jangan membuatku semakin bingung!"
Nada bicaranya terdengar menekan. Sangat wajar jika dia sulit memahaminya, karena dari awal sistem ini memang kompleks.
Tapi, aku tidak akan menjelaskan banyak tentang polanya. Fokusku hanya pada alasan pintu Kamar Nomor 25 yang bisa terbuka.
"Maksudku begini, jika kau menjawab ingin mencapai puncak atau semacamnya, maka aku langsung bergerak sesuai pola yang ada untuk membuka pintunya."
"Kenapa begitu?"
"Kalau kau ingin dikenal, maka menjawab teka-teki dari sistem pasti sangat menarik perhatian. Kemungkinan kita akan dianggap jenius lalu dijadikan panutan."
"Bukannya itu cukup berlebihan?"
"Tidak juga. Punya seseorang yang bisa memecah kebuntuan adalah emas di tumpukan sampah."
"Oh, jadi begitu?"
"Pada akhirnya kita tidak perlu melakukannya, dan sialnya kita tetap saja menarik perhatian."
"Karena kita jadi yang pertama membuka pintu?"
"Tepat sekali, apa kau mengerti sekarang?"
"Ya, sedikit."
Inti pertanyaannya belum terjawab. Tapi paling tidak, aku berhasil membuatnya mengangguk walau sedikit.
"Lalu, kenapa pintunya bisa terbuka? Padahal kita sama sekali tidak mengikuti pola, kan?"
"Kau benar, kita memakai cara lain."
"Maksudmu?"
"Mengikuti pola hanya salah satu syarat agar pintunya bisa terbuka. Aku tidak tahu ada berapa syarat yang tersedia, tapi kita berhasil memenuhi salah satunya."
"Dengan berpelukan?"
Rupanya dia langsung sadar begitu mendengar penjelasanku. Walaupun dia melewati beberapa detailnya, tapi pemahamannya sudah tepat.
"Setengah benar. Jawaban lebih tepatnya ada di sistem itu sendiri, yaitu Status."
Agar dia tidak begitu kebingungan, aku menyalakan jam tanganku. Layar hologram yang seperti biasa muncul menampilkan statusku.
[Nama: Naruse Takashi]
[Nomor Registrasi: 094-A]
[Poin Pribadi: 150 Poin]
[Poin Pasangan: 500 Poin]
[Status: Berpasangan]
[Nama Pasangan: Elena Miyazaki]
[Sinkronisasi Pasangan: 11%]
[Peringkat Individu: C]
[Peringkat Pasangan: D]
[Menu:
Aturan
Belanja Teknis
Misi
Peta
Terkunci.]
"Kenapa kau menampilkan statusmu? Mau pamer?"
"Bukan, lihat baik-baik apa yang berubah!"
Mengikuti kata-kataku, Miyazaki diam sesaat. Matanya memandang statusku lekat-lekat.
"Takashi-kun, kau memakai Penyamar Peringkat? Peringkatmu berubah jadi C."
"Ya, tapi bukan yang itu. Di atasnya lagi."
"Oh, yang Sinkronisasi Pasangan?"
"Nah, benar. Itulah salah satu syaratnya, sinkronisasi kita mencapai sepuluh persen. Entah karena kita berkonflik lalu berdamai, atau karena kita berpelukan sebelumnya."
"Mungkin karena keduanya? Bisa jadi, kan?"
"Yang mana pun boleh, tidak ada gunanya memikirkan itu lebih lanjut."
Dengan begini, harusnya dia sudah mengerti. Semua pertanyaannya terjawab.
Aku pun mematikan jam tanganku, membuat tampilan statusnya ikut menghilang.
Selama jamnya tidak mati, tampilan layar hologramnya akan terus ada. Hal ini yang menjadi taruhanku sebelumnya.
"Hah... sisa berapa menit lagi?"
Aku menghela napas, bukan karena lelah... tapi rasanya membosankan jika hanya mengobrol.
Meski Miyazaki punya banyak pertanyaan yang diajukan, tetap saja suasananya begitu datar.
"Tiga puluh menit tersisa."
"Masih lama ternyata."
Mataku memandang layar hologram yang masih menyala untuk memastikan. Ini berasal dari jam tangan Miyazaki.
[Durasi: 00:30:19]
Ternyata memang benar, masih ada waktu setengah jam lagi.
"Jadi, Miyazaki-san. Karena waktunya masih banyak, kau mau nanya apa lagi?"
"Sebaiknya kita diam sejenak."
"Kenapa?"
"Pikirkan kebutuhan yang ingin kau beli, kita tidak punya apa-apa bahkan untuk pakaian dalam."
"Baiklah, aku mengerti."
Dia menyuruhku diam, membuat keheningan kembali menyelimuti ruangan ini. Dan aku paham maksudnya.
Sebenarnya untuk kebutuhan, aku ingin menyerahkannya saja pada Miyazaki. Tapi, aku belum tahu apakah dia bisa melakukan pekerjaan rumah atau tidak.
Jika dia tidak bisa melakukannya, maka aku sendiri tidak keberatan menggantikan. Itu karena aku ingin terus bersamanya, dan tentunya mengabdi kepadanya.
Yang jelas, kebutuhan untuk diriku sendiri tidak banyak. Malahan yang perlu dipikirkan lebih matang adalah kebutuhan bersama.
Mengingat kami akan terus bersama selama tiga tahun, dan kuharap itu benar-benar terjadi tanpa masalah besar, ada banyak hal yang akan menjadi beban pikiran kami.
Meski terasa menggebu-gebu, aku tidak akan lupa kalau kami adalah murid SMA. Dan belajar tetap jadi nomor satu pastinya.