Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Standar Baru dan Beban Nomor 1
Masa-masa seragam merah-putih akhirnya usai. Aku lulus dengan nilai yang, sejujurnya, biasa-biasa saja persis seperti ramalan Ibu dulu "yang penting lulus." Namun, melangkah ke jenjang SMP berarti memasuki babak baru yang lebih menantang. Biaya sekolah mulai membengkak, seragam berganti menjadi putih-biru, dan jarak tempuh menuju sekolah pun semakin jauh.
Setiap pagi, aku harus berangkat pukul tujuh agar bisa sampai di gerbang sekolah pukul setengah delapan. Tiga puluh menit di perjalanan menjadi rutinitas baruku, memberikan waktu bagiku untuk melihat dunia yang mulai berubah. Teknologi mulai masuk, teman-temanku datang dari berbagai desa, dan tuntutan hidup perlahan mulai mengencang.
Bukan hanya dunia yang berubah, tapi juga cara pandang Ibu.
Aku masih ingat saat pembagian rapot semester pertama di kelas tujuh. Dengan perasaan yang cukup percaya diri, aku pulang membawa kertas hasil belajarku.
"Bu, aku dapat rangking enam," kataku sambil menyodorkan rapot itu.
Aku berharap Ibu akan tersenyum seperti dulu, tapi yang kulihat justru sebaliknya. Raut wajah Ibu mendadak layu. Ia menghela napas panjang, sebuah desahan yang terasa sangat berat, lalu meletakkan kertas itu di atas meja tanpa minat.
"Kebanyakan main ya begini hasilnya," ucap Ibu dingin. "Makanya belajar yang lebih rajin lagi biar pintar, dapat nilai bagus. Syukur-syukur bisa dapat rangking satu."
Aku tertegun. Mana Ibu yang dulu bilang "rangking tidak penting"? Mana Ibu yang dulu bilang "yang penting naik kelas"? Tiba-tiba saja, langit harapanku mendung. Selama tiga hari berturut-turut, aku harus kenyang memakan omelan keras. Ibu terus menekanku, membandingkan usahanya mencari uang dengan hasil belajarku.
"Ibu dan Ayah kerja banting tulang di ladang itu supaya kamu sukses, bukan supaya kamu main terus!" kalimat itu menjadi bahan bakar baru bagiku.
Tekanan itu, meski terasa menyesakkan, akhirnya memaksaku untuk lebih giat. Aku mulai mengakrabkan diri dengan buku-buku tebal, memecahkan rumus hingga larut malam di bawah lampu neon yang berkedip. Kemampuanku yang terbatas kupaksa melampaui batasnya. Hasilnya? Saat ujian semester selanjutnya, namaku dipanggil sebagai peringkat pertama.
Aku pulang dengan dada membusung. "Bu, lihat! Aku rangking satu!"
Ibu mengambil rapot itu, dan kali ini, senyum bangganya merekah begitu nyata. Wajahnya cerah, seolah beban di pundaknya terangkat seketika melihat angka-angka itu. Aku merasa lega, berpikir bahwa misi ini telah selesai dan aku bisa kembali bernapas lega.
Namun, dugaanku salah besar.
"Nah, begini kan bagus. Tapi ingat, mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Semester depan harus tetap nomor satu, jangan sampai turun lagi!" tegas Ibu sambil menatapku dalam.
Deg. Hatiku mencelos. Ternyata kemenangan ini bukanlah garis finish, melainkan gerbang menuju tuntutan yang lebih berat. Ibu yang dulu santai kini berubah menjadi pengawas yang ketat. Standar hidup kami yang mulai membaik ternyata dibarengi dengan standar ekspektasi yang juga meninggi.
Aku tahu, semua ini demi kebaikanku. Ibu ingin aku memiliki senjata berupa kecerdasan agar kelak aku tidak perlu memikul kayu di gunung seperti mereka. Namun, di balik seragam putih-biruku, aku merasa pundakku mulai berat. Aku harus berjuang mati-matian mempertahankan tahta itu dengan kemampuan otakku yang sebenarnya biasa-biasa saja.
"Semoga aku kuat," bisikku dalam hati setiap kali membuka buku pelajaran. Aku harus bertahan, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk menjaga senyum bangga Ibu agar tidak hilang lagi.
Malam itu, aku duduk di meja belajar kayu yang sudah mulai retak, menatap deretan angka di buku tugas matematika. Di luar, suara jangkrik lereng gunung saling bersahutan, namun pikiranku justru jauh lebih bising. Aku baru menyadari bahwa mahkota peringkat satu ini terasa jauh lebih berat daripada keranjang rotan yang Ibu pikul setiap subuh.
"Belum tidur, Nok?" suara Ayah memecah keheningan. Ia baru saja selesai mengasah cangkul di dapur dan menghampiriku sambil menyampirkan handuk kusam di bahunya.
"Belum, Yah. Masih banyak tugas," jawabku tanpa menoleh.
Ayah berdiri di ambang pintu, menatapku cukup lama. "Ibumu itu bukan haus pujian tetangga, Nok. Dia hanya takut. Takut kalau kamu tidak pintar, dunia akan memperlakukanmu sekeras dunia memperlakukan kami sekarang."
Aku terdiam, memutar-mutar pensil di jemariku. "Tapi rasanya capek, Yah. Standar Ibu sekarang tinggi sekali."
Ayah mendekat, menepuk pundakku dengan tangannya yang kasar dan pecah-pecah, tangan yang menjadi saksi bisu setiap butir nasi yang masuk ke perutku. "Capek itu biasa. Ayah dan Ibu juga capek. Tapi melihat namamu ada di urutan teratas, itu seperti obat bagi pegal di punggung kami. Tapi ingat satu hal," Ayah merendahkan suaranya, "jangan belajar karena takut pada omelan Ibu. Belajarlah supaya nanti tanganmu tidak sekasar tangan Ayah."
Ayah berlalu, meninggalkanku dalam keheningan yang lebih dalam. Aku menatap bayanganku di kaca jendela yang buram. Di balik seragam putih-biru ini, aku bukan lagi anak kecil yang menangis karena kotoran kucing atau kambing galak. Aku adalah petarung yang sedang menyiapkan masa depan di bawah sorot lampu neon yang berkedip.
Aku menarik napas panjang, lalu kembali membuka buku paketku. Standar baru ini memang melelahkan, tapi aku sadar, ini adalah bentuk cinta Ibu yang sudah bermutasi. Jika dulu cintanya adalah kebebasan, kini cintanya adalah dorongan agar aku bisa terbang lebih tinggi dari bukit ini.
"Demi senyum itu," bisikku pelan, sambil mulai mencoretkan pena di atas kertas. Aku akan mempertahankan peringkat ini, bukan karena aku haus akan angka, tapi karena aku ingin membuktikan bahwa keringat mereka tidak pernah jatuh ke tanah yang salah.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰