NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana kamar yang tadinya hangat setelah sesi percintaan sore itu mendadak berubah mencekam. Danesha, yang sedang mencari pengisi daya ponsel di laci meja rias Pricillia, terpaku saat jemarinya menyentuh sebuah kotak kecil berwarna perak yang tersembunyi di balik tumpukan skincare.

Ia menarik kotak itu keluar. Matanya membelalak membaca tulisan di kemasannya, Kontrasepsi Darurat.

Danesha berbalik, wajahnya yang tadi penuh cinta kini memerah karena amarah yang meledak seketika.

Di atas tempat tidur, Pricillia sedang merapikan rambutnya, tampak tenang dan tidak berdosa.

"Ini apa, Pris?" suara Danesha rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. Ia melemparkan kotak itu ke atas kasur tepat di depan Pricillia.

Pricillia melirik kotak itu sekilas, wajahnya tetap datar.

"Itu obat, Ay. Lo tahu sendiri setiap malam kita nggak pakai pengaman."

"GUE TAHU KITA GAK PAKE PENGAMAN!" Danesha membentak, membuat suasana kamar seolah bergetar.

"Tapi gue udah bilang, kan? Gue mau kita punya anak! Gue pengen lo hamil anak gue! Gue pengen ngiket lo selamanya biar lo nggak bisa ke mana-mana!"

Danesha melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahu Pricillia dengan kuat. Matanya berkaca-kaca karena rasa kecewa yang mendalam. "Kenapa lo minum ini? Apa lo malu punya anak dari gue? Atau lo emang nggak pernah niat buat serius sama gue?"

Pricillia menatap mata Danesha yang liar. Ia tidak takut, ia justru merasa ini adalah momen untuk menguji sejauh mana Danesha bisa ia kendalikan.

"Bukan gitu, Dan. Kita masih kuliah. Gue nggak mau kita terburu-buru cuma karena hormon," jawab Pricillia tenang.

"Hormon?!" Danesha tertawa pahit. "Lo pikir yang gue rasain ke lo cuma hormon? Pris, gue udah kasih segalanya buat lo. Gue udah buang Evangeline, gue udah tutup pintu buat cewek lain cuma buat fokus ke lo. Dan lo... lo secara sadar ngebunuh kemungkinan anak kita ada?"

Danesha menyambar kotak itu lagi, meremasnya hingga hancur di genggamannya. "Lo egois, Pris. Lo biarin gue keluar di dalem berkali-kali, lo biarin gue ngerasa bahagia karena mikir kita bakal punya keluarga, tapi di belakang gue, lo malah minum racun ini?"

Kemarahan Danesha berubah menjadi sebuah obsesi yang gelap. Ia menarik Pricillia hingga berdiri, memojokkannya ke dinding kamar. Nafasnya memburu, matanya menatap bibir Pricillia yang kini menjadi candunya, namun kali ini dengan tatapan menghukum.

"Lo nggak mau hamil sekarang?" desis Danesha tepat di depan wajah Pricillia. "Oke. Tapi jangan harap lo bisa minum obat itu lagi. Mulai detik ini, gue nggak bakal biarin lo lepas dari pengawasan gue satu detik pun."

Danesha meraih tas kecil milik Pricillia, menggeledahnya, dan membuang semua sisa pil yang ia temukan ke dalam lubang toilet lalu menyiramnya.

"Gue bakal lakuin lagi malam ini, besok, dan seterusnya. Sampai obat itu nggak berguna lagi karena bibit gue udah tumbuh di dalem sini," Danesha menekan telapak tangannya ke perut Pricillia dengan posesif. "Lo bilang lo milik gue, kan? Kalau lo milik gue, berarti rahim lo juga punya gue. Dan gue nggak izinin lo buat nolak apa yang mau gue kasih."

Pricillia melihat Danesha yang kini tampak seperti singa yang terluka. Di balik wajahnya yang pura-pura sedih, Pricillia sebenarnya tersenyum puas di dalam hati. Dia sengaja menaruh obat itu di tempat yang mudah ditemukan. Dia ingin melihat Danesha mengamuk, dia ingin melihat Danesha begitu menginginkannya sampai pria itu kehilangan akal sehat.

Danesha kemudian mencium Pricillia dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan tuntutan dan amarah. Ia tidak lagi lembut seperti pagi tadi. Ia ingin memastikan bahwa malam ini, tidak ada lagi ruang untuk obat atau penghalang apa pun.

"Lo milik gue, My. Jangan pernah coba-coba main di belakang gue lagi," gumam Danesha di sela ciumannya yang semakin panas.

Pricillia membalas pelukan itu dengan erat, kuku-kukunya tertanam di punggung Danesha. "Iya, Dan. Gue milik lo. Selamanya."

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!