"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Labirin Kebohongan dan Penyesalan yang Terlambat
Keheningan di kediaman Adiguna kini terasa lebih mencekam daripada badai manapun yang pernah dihadapi Devan dalam dunia bisnis. Pria itu masih bersimpuh di lantai kamar tamu yang sempit—kamar yang selama ini ia anggap sebagai "tempat yang pantas" untuk Shena, namun kini terasa seperti saksi bisu atas kekejamannya sendiri.
Tangannya gemetar saat menyentuh bantal yang masih menyisakan aroma samar bunga lili dan kayu manis—aroma khas Shena yang tidak pernah ia hargai sebelumnya. Ia menatap gaun biru dongker yang tergeletak kaku di atas tempat tidur. Gaun itu tampak sangat cantik semalam, tapi sekarang, kain sutra itu seolah-olah berubah menjadi kain kafan bagi harapan-harapan kecil yang sempat Shena bangun.
"Bodoh... kau benar-benar bodoh, Devan," rintihnya pelan. Suaranya serak, tenggorokannya tercekat oleh rasa sesak yang tak kunjung hilang.
Ia teringat setiap detail kecil yang baru saja ia sadari. Bagaimana Shena selalu memastikan dasinya lurus tanpa harus diminta. Bagaimana wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya ruang dan kapan harus menawarkan segelas air hangat saat ia kelelahan. Bagaimana tatapan matanya yang teduh selalu mencoba mencari celah di balik dinding esnya, namun ia justru membalasnya dengan belati kata-kata.
Pesan Sarah di bandara tadi kembali terngiang. “Kau menyedihkan.” Kalimat itu benar. Ia sangat menyedihkan. Ia membuang berlian demi mengejar bayangan yang bahkan tidak pernah menginginkannya. Devan bangkit dengan sempoyongan. Ia harus menemukan Shena. Ia harus meminta maaf, berlutut, atau melakukan apa saja agar wanita itu kembali.
Pikirannya langsung tertuju pada satu tempat: rumah keluarga Bramantyo. Ayah Shena harus bertanggung jawab, atau setidaknya, ia pasti tahu ke mana putrinya pergi.
Devan memacu mobilnya seperti orang kesetanan menuju kediaman Pak Bram. Dalam kepalanya, ia membayangkan akan menemukan Shena di sana, sedang menangis di pelukan orang tuanya, dan ia akan datang untuk membawanya pulang. Namun, kenyataan seringkali lebih pahit daripada imajinasi.
Begitu sampai, Devan langsung menerobos masuk tanpa menunggu pelayan membukakan pintu. Di ruang tamu yang mewah namun terasa dingin itu, ia menemukan Pak Bram sedang duduk santai sambil menyesap cerutu, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Di mana Shena?" tanya Devan tanpa basa-basi. Napasnya memburu, matanya merah menahan amarah dan keputusasaan.
Pak Bram menurunkan cerutunya, menatap Devan dengan alis bertaut. "Shena? Bukankah dia ada di rumahmu, Devan? Ada apa dengan menantu kesayanganku ini? Kenapa kau tampak berantakan?"
"Dia pergi! Dia meninggalkan rumah tadi pagi karena aku... karena ada masalah," Devan menggeram. "Katakan padaku, apa dia ke sini? Di mana dia?"
Pak Bram justru tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Devan. "Pergi? Ah, anak itu memang terkadang terlalu dramatis. Paling-paling dia hanya menginap di hotel atau rumah temannya. Jangan khawatir, Devan. Dia akan kembali padamu. Dia tahu posisinya. Jika dia berani macam-macam, aku sendiri yang akan menyeretnya kembali ke rumahmu agar hutang-hutangku tetap aman."
Devan tertegun. Ia menatap mertuanya itu dengan rasa muak yang tak tertahankan. "Dia anakmu, Bram! Dia pergi dalam keadaan hancur, dan kau hanya peduli tentang hutangmu?"
"Dia aset, Devan. Sama seperti Sarah," sahut Bram enteng. "Hanya saja Sarah lebih pintar karena bisa lari lebih jauh. Shena? Dia lemah lembut, dia tidak akan bertahan lama di luar sana. Biarkan saja dia sedikit 'bermain' di luar, nanti juga dia akan mengemis untuk kembali."
"Kau bajingan," desis Devan. Ia baru menyadari dari mana Shena mendapatkan luka batin yang begitu dalam. Ayahnya sendiri tidak menganggapnya sebagai manusia.
Saat perdebatan itu memanas, sebuah pintu di sudut ruangan terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana—jauh dari kemewahan yang dikenakan Marta, ibu Sarah—melangkah keluar. Wajahnya tampak sembab, dan matanya memancarkan kesedihan yang sama persis dengan yang sering Devan lihat di mata Shena.
"Dia tidak akan kembali ke sini, Mas Bram," ucap wanita itu dengan suara bergetar.
Devan mengernyitkan dahi. "Siapa Anda?"
Pak Bram tampak gugup. Wajahnya yang semula sombong kini berubah menjadi tegang. "Masuk ke dalam, Ratna! Jangan ikut campur urusan tamu!"
Namun, wanita yang dipanggil Ratna itu tidak bergerak. Ia menatap Devan dengan tatapan tajam yang penuh luka. "Aku ibunya. Ibu kandung Shena."
Dunia Devan seolah berputar. "Apa? Ibu kandung? Tapi... Bukankah yang hadir di pernikahan kami, adalah Marta yang sebagai ibunya. Sarah dan Shena adalah saudara kandung, bukan?"
Wanita itu, Ratna, tertawa getir sambil meneteskan air mata. "Itu kebohongan yang mereka ciptakan agar keluarga Adiguna mau menerima 'barang pengganti' itu. Shena bukan anak Marta. Shena adalah anakku dari istri siri yang disembunyikan pria ini di paviliun belakang selama puluhan tahun."
Devan merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia menoleh ke arah Pak Bram yang kini membuang muka dengan gusar.
"Shena dan Sarah hanya berbagi ayah, Tuan Devan," lanjut Ratna dengan suara parau.
"Selama hidupnya, Shena dipaksa menjadi bayangan Sarah. Dia harus memakai baju bekas Sarah, belajar untuk bicara seperti Sarah, bahkan saat Sarah lari dari pernikahan, dialah yang dipaksa menyerahkan hidupnya untuk membayar kesalahan saudaranya."
Ratna mendekat ke arah Devan, membuat pria itu merasa semakin kerdil. "Kau tahu kenapa dia begitu sabar menghadapimu? Karena sejak kecil, dia sudah terbiasa dihina. Dia pikir, dengan menikahimu, dia bisa menyelamatkan ibunya dari tekanan pria ini. Tapi ternyata, dia hanya pindah dari satu neraka ke neraka yang lain."
Devan mundur selangkah, merasa sesak napas. Ingatannya kembali ke malam pernikahan mereka. Saat itu, ia melihat Marta memeluk Shena di depan para tamu, berakting sebagai ibu yang sedih karena anaknya "menikah mendadak". Ternyata itu semua hanyalah sandiwara demi uang dan status.
Ia teringat betapa Shena tampak begitu asing di foto-foto keluarga Bramantyo. Ternyata, dia memang tidak pernah dianggap ada di sana kecuali saat dibutuhkan untuk dikorbankan.
"Di mana dia sekarang, Bu?" tanya Devan, suaranya kini penuh dengan permohonan yang tulus.
"Aku tidak tahu," Ratna menggeleng lemah.
"Dia menemuiku pagi tadi lewat pintu belakang. Dia hanya memelukku sangat lama dan berkata, 'Ibu, kali ini Shena ingin menjadi Shena, bukan Sarah'. Dia menitipkan sedikit uang tabungannya untukku dan pergi begitu saja."
Pak Bram tiba-tiba berdiri dan membentak, "Dia pasti akan kembali! Dia tidak punya siapa-siapa! Tabungannya tidak akan cukup untuk hidup seminggu!"
"Dia punya harga diri yang baru saja ia temukan kembali, Mas!" balas Ratna dengan suara yang kencang, menentang suaminya untuk pertama kali. "Dan kau, Tuan Devan... jangan mencarinya jika hanya ingin menjadikannya bayangan wanita lain lagi. Biarkan dia bebas. Dia sudah terlalu banyak menderita karena keluarga ini... dan karena kau."
Devan melangkah keluar dari rumah itu dengan perasaan yang lebih hancur daripada saat ia ditinggalkan di bandara pagi tadi. Setiap kata-kata Ratna seperti sembilu yang menyayat nuraninya.
Ia masuk ke dalam mobil, namun tidak menghidupkan mesin. Ia mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Shena yang selama ini ia anggap sebagai "anak orang kaya yang manja namun malang" kini berubah menjadi sosok wanita yang sangat kuat—wanita yang bertahan dalam penindasan dua keluarga besar tanpa pernah kehilangan kelembutannya.
“Dia dipaksa menjadi Sarah... dan aku pun memaksanya menjadi Sarah,” batin Devan perih.
Ia baru menyadari betapa jahatnya ia selama ini. Ia tidak hanya menyakiti seorang wanita, tapi ia ikut serta dalam konspirasi untuk melenyapkan identitas seseorang. Ia telah mencintai bayangan palsu dan menyiksa jiwa yang nyata.
"Shena... maafkan aku," bisiknya di tengah kesunyian mobil.
Namun, permintaan maaf itu hanya memantul di kaca mobil yang tertutup rapat. Shena telah pergi. Tanpa harta, tanpa perlindungan keluarga, dan tanpa tujuan yang pasti. Ia menghilang di belantara Jakarta hanya dengan satu tekad: berhenti menjadi pengganti.
Devan menghidupkan mesin mobilnya. Ia tidak akan berhenti. Jika dulu ia mengerahkan tim detektif untuk mencari Sarah demi obsesi, kali ini ia akan mengerahkan seluruh hidupnya untuk mencari Shena demi penebusan dosa. Bukan sebagai Nyonya Adiguna, bukan sebagai pengganti Sarah, tapi sebagai Shena—wanita yang tanpa ia sadari telah mencuri hatinya di tengah badai kebencian yang ia ciptakan sendiri.
Akankah Devan berhasil menemukan Shena di sudut kota yang luas ini? Ataukah Shena sudah memutuskan untuk mengubur masa lalunya begitu dalam hingga tak ada seorang pun dari keluarga Adiguna maupun Bramantyo yang bisa menyentuhnya lagi?