Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habiskan waktu
Trauma masih melekat di pikiran, amat takut untuk membuka diri sekarang. Jaket serta celana training dan wajah ketutup masker menjadi tanda ketakutan ku untuk seseorang mengenali.
Mama pilah-pilih bahan yang maksudnya ingin di beli sampai seharusnya perabotan ku sedikit malah di tambah Mama,"Dek telepon bapak biar dijemput barang ini." Ku kirim pesan untuk jemputan pertama, sudah ku duga bapak mendukung keputusan bendahara keluarga, ia tidak keberatan membawa 1 Lusin gelas plastik, serta mangkok dan lebih parahnya ada loyang. Ampun dah benar-benar borong ini namanya.
Itu lagi masih ada panci, kalian bayangkan aja panci ukuran 28 sebesar apa di pegang terus sama Mama."Ma, mau?" Lirikan nya sudah aneh, apalagi ekspresi aneh itu.
"Ai aha din?" (artinya: apa itu?)
"Mau, ku beli ini." Kalau tau arem-arem eh bukan bacang ya, sejenis makanan yang dibungkus daun pisang di ikat pakai tali rafia, aku suka banget makan itu salahnya di Medan jarang ada yang jual begini, yang adanya itu ombus-ombus. "Enggak usah banyak-banyak nang, nanti gak termakan." — Ini lah kepolosan emak-emak Batak, mending sudah habis dibeli lagi ketimbang di beli banyak ntar kebuang. Tapi kalau enggak gitu hematnya Mama kami ya mungkin enggak sekolah kami. Bayangkan aja, Mama cuman ke ladang tamatan SMP bapak baru 10 Tahun belakangan jadi kepala sekolah, itu pun mendekati pensiun. Makanya akhir-akhir ini mereka fokus berkebun atau ke ladang, ya bisa dibilang ladang lumayan luas juga berkat manajemen Mama Bagus, kalau enggak enggak mungkin bisa ya.
Mama itu suka belanja tapi perhitungan, kira-kira bisa pakai lama atau tidak? Berkualitas atau tidak, itu harus dirancang. Harusnya Mama sih mengenyam pendidikan lebih tentang manajemen, kalau misalnya Mama sekolah pasti sudah jadi salah satu pemegang gedung-gedung pencakar langit Medan wkwkwk berlebihan.
"Mau dimasakin pudding jagung dek?" Kan sudah ku duga ada aja kegiatan Mama. Mama super aktif gak bisa diam manusia nya, heboh kalau sudah bergerak.
Tak perlu waktu lama untuk berbelanja karena hari sudah mulai panas, Mama susun semua barang tanpa ada kata berantakan. Mulai menghidupkan kompor mencicil bahan-bahan untuk menjadi sebuah makanan.
Papa ikut duduk dilantai bersama ku, pandangan Papa begitu tulus melihat Mama. Kepala ku bersandar seraya berkata "Mama beruntung ya bisa ketemu papa."
Papa tertawa kecil, memandang ku dengan penuh kasih sayang. "Kita yang beruntung dipertemukan Nang, enggak cuman Papa sama Mama."
Pantesan Mama terlihat awet muda, Papa support sistem terbaik nya. "Pa, jodoh ku lebih baik dari papa ya. Supaya aku setenang Mama nanti nya."
"Emang Papa baik? Coba tanya Mama mu aja." Papa tertawa kecil menggoda Mama, Mama ya cuman ketawa kecil juga.
Enggak terasa sangking cepatnya Mama bekerja, pudding jagung sudah selesai dan ya tinggal masak SOP permintaan ku, aku suka sekali sop daging buatan Mama, dia telaten bisa masak kalau aku jangan ditanya bisa nya cuman ngatur doank.
"Belajar masak lah kau Nang, masak gak mau kau suami mu suka masakan mu? Enggak suka rupanya kau lihat suami anak-anak mu lahap makan masakan mu."
seucap kata Mama tapi berat bagiku, aku sedikit rendah diri mendengar ucapan Mama cuman ada benarnya juga apa yang Mama bilang.
"Ia Ma, pasti nanti Hela mu, makan masakan ku." Hela itu sebutan manantu laki-laki di keluarga Batak ya guys kalau untuk perempuan di sebut nya parumaen tergantung dari Batak mana, kalau aku kebetulan Batak Simalungun bilang nya Hela dan parumaen.
"Ma,Pa di Jakarta ini enak Lo kalau mau apa aja serba bebas, serba terjun payung semua. Ya artinya sepala mau cepat kaya langsung, sepala mau cepat mesti langsung. Nanti... Kalau aku menikmati hidup ku sendiri Mama papa enggak masalah kan aku enggak menikah?"
Irisan bawang terhenti, tak seucap pun keluar dari bibir Mama. "Kalau bisa jangan ya Nang. Memang itu hak individu cuman kami selaku orang tua mu berdoa kau punya pasangan yang bisa jadi teman menghabiskan sisa hidup mu kalau nanti kami tinggalkan. Bukan sekedar menyambung keturunan aja." Jawaban haru dari papa, aku terima permintaan itu, cuman pertanyaan ku tidak dapat di kelola langsung oleh Mama.
Ma.Sesedih itukah bila aku tidak menikah. Sebenarnya aku muak ma, banyak pria mendekat cuman entah karena sifat ku terlalu humble atau mereka melihat ku rendah jadi sesuka hati nya bersikap kepada ku, jujur ma itu bukan asbun ku, itu curahan hati terdalam yang ku simpan selama ini.
Mama diam seribu bahasa, sementara aku sudah tidak menganggap pertanyaan itu. Aku lupa Mama punya penyakit jantung, pasti saat ini Mama tidak mampu menahan rasa panik nya. Ya ampun kok bodoh banget si Miwa, enggak berpikir panjang banget kamu...
"Ma, enggak usah di anggap serius ya." Aku memeluk Mama, senyum nya tenang bukan berarti jiwa nya ikutan. Dia selalu begitu, berusaha kelihatan baik-baik diatas ketidak mampu-nya.
Suasana canggung perlahan kembali mencair begitulah kehidupan kalau di dasari sama
-sama mau memperbaiki, aku lebih suka ngomong begini ketimbang diam tidak tau ada menyimpan masalah besar dibelakang sama seperti kisah ku dengan para abang-abang ku, bahkan setelah kejadian begini mereka tidak ada perduli nya dengan ku.
Pudding buatan Mama enak banget di santap begini, santapan siang hari dengan suasana panas menghilangkan dahaga.
Tulang kasih info ke papa melalui pesan bahwa 3 hari akan diadakan sidang pertama untuk kasus ku, di mohon untuk aku tidak meninggalkan rumah selagi kasus memanas. Dan ini bukan sekedar kasus kecil namun mencuat membuka celah-celah baru atas kasusnya.
Sebenarnya aku belum siap menghadapi persidangan, apalagi bakalan runtut kan kedepannya.
"Besok ke gereja kita Nang, bawa dalam doa." kebetulan ada gereja dekat dengan rumah, gereja protestan pilihan papa. Dia orangnya konsisten dengan keagamaan. Berharap dengan membawa masalah ini akan mempercepat proses nya atau setidaknya Tuhan turut campur dalam keputusan hakim.
Pergantian hari kami nikmati dengan segelas teh, Mama Papa support nanti nya kalau aku beli mobil begitu juga papa, halaman belakang nanti minta nya di semen terus dibuat kolam ikan dan taman kecil. Cantik katanya, aku ikut aja donatur bicara. Papa langsung seleksi tempat, membuat patokan gambar di kertas untuk kedepannya mempersiapkan dana.
Lumayan rapi, tertata dengan sistem perhitungan kasar. Tau kan kenapa aku menjadi seorang akuntan ya karena dua orang ini mewariskan jiwa hitung-hitungan kepada ku, bangga terlahir dari mereka. Sedihnya aku masih mengharapkan bantuan mereka atas kehidupan layak ini.
"Perlu motor di sini Nang? Biar kita beli" Aku mengangguk tanda setuju, banyak duit sekali orang tua ku. Enggak ada kata nolak kalau ketua sudah menawarkan.
Mama dan Papa berbicara menghabiskan waktu hingga larut malam, disana aku berharap bisa seperti mereka nantinya, menghabiskan waktu bersama-sama dengan pasangan ku, tidak ada pernikahan kedua kali dan tidak ada perselingkuhan diatasnya.
Aku harap...
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰