Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Lily dan Hutan Moonveil
Moonveil tidak sekadar hutan, ia hidup dan bertumbuh. Akar-akar tua berdenyut pelan di bawah tanah, dedaunan berkilau seperti disaput cahaya bulan abadi, dan udara membawa bisikan halus seolah alam sendiri tengah berdoa. Cahaya keperakan jatuh di antara batang pohon raksasa, menari di kelopak bunga yang tak pernah layu.
Di tengah hutan itu, seorang gadis melangkah ringan. Lily, Liliane Thalassa Serene, putri satu-satunya dari mantan Kaisar dan Permaisuri Imperial Agartha, Lexus dan Anastasia. Sang Putri menggulung ujung gaunnya dengan satu tangan, membiarkan kain linen berwarna putih itu menyeret tanah hutan yang lembap, menyentuh rerumputan dan dedaunan seakan mengenali rumahnya. Ia tidak berjalan tergesa, setiap langkahnya selaras dengan denyut Moonveil seolah hutan telah mempelajari irama jantungnya sejak pertama kali hadir di kandungan ibunya.
Kecantikannya bukan sekadar pantulan wajah yang rupawan. Rambut keemasan panjang berkilau lembut di bawah cahaya matahari pagi, kulitnya secerah embun pagi, dan matanya yang tenang namun berani.
“Aku akan melihat matahari terbit dari lapangan, dan matahari terbenam dari Sungai Lirien.” bisiknya.
Daun-daun berdesir sebagai jawaban, cabang-cabang bergeser memberi jalan. Moonveil selalu mengerti Putri Lily.
“Auuummm….” Seekor singa besar berwarna perak keemasan berdiri di sisinya. Surainya tebal, matanya tajam namun setia. Erivana, sang singa hutan. Penjaga, sahabat, dan sekaligus bayangan setia yang Moonveil utus untuk menjaganya. Setiap langkah sang singa tenang dan penuh wibawa, ekornya bergerak perlahan, memastikan tak ada satu pun ancaman mendekat pada Sang Putri.
Lily tersenyum kecil dan menyentuh leher Erivana.
“Kau dengar, Eri?” katanya pelan. “Hutan sedang bahagia hari ini.”
Eri menggeram rendah, bentuk persetujuan atas ucapan Sang Putri.
Angin berputar lembut, cahaya di antara pepohonan menguat, seolah Moonveil ingin memperlihatkan keindahannya hanya untuk Lily… putri yang berlari bebas. Sesungguhnya alam tidak sekadar membesarkannya; namun memilihnya diantara banyaknya manusia.
Langkah Lily semakin jauh ke dalam menembus Hutan Moonveil. Cahaya keperakan perlahan memudar, digantikan semburat hangat yang menandai datangnya pagi. Tanah di bawah kakinya terasa lembut, seolah hutan dengan sengaja melapangkan jalan baginya. Moonveil selalu tahu ke mana sang putri hendak melangkah.
Setiap kali Lily berhenti, Eri pun berhenti. Setiap kali ia menoleh, mata emas itu selalu waspada.
Mereka tiba di sebuah lapangan luas di tengah Hutan Moonveil, tempat yang tidak semua makhluk hidup diizinkan untuk berpijak. Di sanalah bunga-bunga dari berbagai negeri tersohor tumbuh berdampingan, tanpa saling menguasai, tanpa saling menyingkirkan. Bunga anggrek dari utara yang panas, bunga pasir dari selatan yang kering, dan tanaman langka yang hanya tumbuh di tanah suci. Semuanya hidup subur, seolah Moonveil menyatukan dunia dalam satu pelukan.
Lily berlutut, membuka kantung kecil hadiah dari ayahnya, Lexus. Bibit-bibit Bunga Mawar dan Tulip yang dipesan khusus dari negeri yang jauh. Dengan tangan teliti Lily menanamnya satu per satu, jarinya menyentuh tanah dengan penuh hormat.
“Ini titipan Ayah,” bisiknya. “Aku akan menjaganya.”
Tanah bergetar pelan sebagai tanda izin telah diberikan, tanda Moonveil menerima kehidupan baru di atas tanahnya. Daun-daun berdesir lembut, akar-akar bergerak halus mengelilingi bibit yang baru ditanam. Udara terasa lebih hangat, lebih hidup. Lily tersenyum kecil, selama hutan mengizinkan, tak ada benih yang akan sia-sia di tempat ini.
Saat itulah matahari muncul sepenuhnya. Cahaya keemasan jatuh tepat di kepala Lily. Rambutnya memantulkan sinar pagi, kulitnya bercahaya lembut, kecantikannya menyatu dengan keindahan alam.
Ia membawa keranjangnya menuju bunga-bunga yang sudah tumbuh subur. Sang Putri memetik bunga satu per satu, penuh kehati-hatian, seolah setiap kelopak memiliki jiwa. Jemarinya menyentuh bunga yang bermekaran, lalu satu memetik satu tangkai langka yang hanya mekar saat matahari terbit.
Di saat yang sama kupu-kupu berdatangan. Sayap-sayap kecil berwarna perak, biru, dan hijau zamrud beterbangan di udara. Mereka berputar mengelilingi Lily, hinggap di rambutnya, di ujung jarinya, juga di bunga yang baru ditanam. Beberapa terbang rendah, mengikuti garis gaunnya yang menyentuh tanah, seolah mengenali sang putri yang sejak kecil berbagi napas dengan Moonveil.
Lily tertawa lepas, tawa yang jujur, bebas, dan hidup. Ia berbaring di atas rumput, dadanya naik turun beraturan. Dan saat itulah Moonveil terasa lengkap karena tawanya.
Moonveil menyimpan rahasia, menjaga batas, dan menahan takdir. Namun di hadapan Lily ia membuka dirinya, memberi ruang, memberi hidup, memberi ikatan yang tak tertulis namun tak bisa diputus.
Putri itu bangkit perlahan, menatap lapangan bunga yang kini berkilau di bawah matahari. Perutnya mulai keroncongan meminta asupan. Ia melangkah pelan ke sisi lapangan, tempat perutnya bisa terisi tanpa usaha berlebih.
Sang Putri mengusap apel liar dengan gaunnya, lalu menggigitnya pelan. Ia mengunyah perlahan, menikmati rasa asam-manis yang sederhana, rasa yang hanya bisa ditemukan dari buah yang tumbuh tanpa intervensi manusia. Ketika ia menelan suapan terakhir, jemarinya membuka telapak tangan, menyisakan biji kecil berwarna cokelat pucat.
Lily memandang biji itu sejenak, sisa dari buah yang ia makan untuk mengisi perutnya. Ia berlutut, menyingkap sedikit tanah dengan jemari penuh perhatian lalu meletakkan biji apel liar itu ke dalamnya. Sang Putri menutupnya perlahan, lalu menepuk tanah dua kali, seperti kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan.
“Tumbuhlah,” ucapnya lembut. “Aku akan menunggu dan menikmati buahmu.”
Tanah menerima kata-kata itu tanpa suara, namun Lily merasakannya, denyut halus yang sama seperti sebelumnya.
Matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan berubah menjadi jingga lembut, lalu perlahan memerah. Senja datang, menyelimuti Hutan Moonveil dengan warna hangat dan bayangan panjang. Bunga-bunga menutup kelopaknya satu per satu, kupu-kupu menghilang di antara cahaya redup, dan udara menjadi lebih sejuk dan hening.
Anastasia melangkah menuju Sungai Lirien. Ia menyingsingkan sedikit gaun linennya dan mencuci kaki di air yang jernih. Arus sungai menyentuh kulitnya dengan lembut, membuat kainnya menjadi basah dan berat. Sang Putri tidak tergesa. Ia berdiri di sana, menatap pantulan langit senja di permukaan air seperti lukisan yang hanya muncul sekali sehari.
Setelah puas, Lily berjalan ke pinggir sungai. Ia merentangkan tangannya sejenak, merasakan senja merambat ke dalam dadanya.
“Terimakasih untuk hari ini.” kata Lily pelan. “Aku pulang dulu, besok aku akan kembali.”
Ia menghadap hutan, menatap pepohonan, tanah, dan cahaya yang mulai redup. Kalimat itu bukan sekadar ucapan, melainkan janji kecil yang selalu ia tepati.
Moonveil mendengarnya. Daun-daun berdesir lembut, sungai berkilau sesaat, dan angin mengusap pipinya seperti sentuhan perpisahan.
Lily tersenyum, mengangkat gaunnya lalu berlari kecil menuju rumah sebelum ibundanya memanggil. Eri mengikutinya, tenang dan setia, memastikan sang putri tiba dengan selamat.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣