"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Kehidupan Arlan setelah keluar dari Dirgantara Group tidaklah mudah, namun ia merasa jauh lebih bernapas. Ia kini menempati sebuah kantor kecil di kawasan SCBD yang ia bangun dengan dana pribadinya sendiri—sebuah firma konsultan investasi independen. Namun, meski secara fisik ia sibuk, jiwanya tertinggal di suatu tempat yang tidak bisa ia temukan.
"Masih tidak ada kabar?" tanya Arlan tanpa menoleh. Ia berdiri menatap jendela, melihat hujan yang kembali mengguyur Jakarta.
Maman, yang memilih tetap setia mengikutinya meski Arlan bukan lagi CEO besar, menggeleng lemah. "Semua jejak digitalnya dihapus, Tuan. Pak Baskoro juga menjual rumahnya secara tunai lewat agen properti ketiga. Mereka sangat rapi dalam menghilang."
"Mereka tidak menghilang, Maman. Keyla sedang bersembunyi dariku karena dia takut. Terus cari. Periksa semua manifes penerbangan ke luar negeri, meski itu butuh waktu lama."
"Siap, Tuan." jawab Mamam.
Cklek.
Tiba-tiba, pintu kantor Arlan terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita dengan gaun cocktail berwarna zamrud melangkah masuk dengan anggun. Rambutnya yang pirang gelap tertata sempurna, memancarkan aura kelas atas yang sangat kental.
"Jadi, di sini tempat persembunyian sang pemberontak?" ucap wanita itu.
Arlan berbalik. "Clara Wijaya. Siapa yang memberimu izin masuk?"
Clara tertawa kecil, ia meletakkan tas Hermes-nya di atas meja, lalu mendekat kearah Arlan. "Ibumu. Siapa lagi? Dia bilang kamu sedang butuh teman bicara yang... selevel. Dan kebetulan, aku baru saja mendarat dari London."
"Aku tidak butuh teman bicara. Dan aku tidak butuh kiriman dari Ibuku," sahut Arlan dingin. Ia memberi kode pada Maman untuk keluar dari ruangan.
"Arlan, ayolah. Drama pahlawan kesiangan ini tidak cocok untukmu. Meninggalkan Dirgantara Group demi seorang mahasiswi yang bahkan tidak berani membela cintanya sendiri? Itu memalukan."
"Jaga mulutmu, Clara! Kamu tidak tau apa-apa tentang dia."
"Aku tau dia pergi meninggalkanmu dengan pesan yang sangat menghina, bukan?" Clara tersenyum penuh kemenangan saat melihat rahang Arlan mengeras. "Ibumu menceritakan semuanya. Gadis itu sudah menyerah. Dia sudah mengambil uang kompensasi atau apa pun itu, lalu pergi. Kenapa kau masih menunggunya?"
"Dia tidak mengambil apa pun!" bentak Arlan.
"Lalu kenapa dia pergi? Kenapa dia tidak berjuang di sampingmu saat kamu melepaskan segalanya?" Clara menyentuh kerah kemeja Arlan, merapikannya dengan gerakan yang terlalu intim. "Pria sepertimu butuh wanita yang bisa berdiri tegak di sampingmu saat badai datang. Bukan anak kecil yang langsung menangis dan lari saat digertak sedikit. Aku bisa memberikanmu lebih dari sekadar cinta monyet, Arlan. Aku bisa memberikanmu aliansi yang akan membuat ibumu berlutut."
Arlan menepis tangan Clara dengan kasar. "Aku tidak tertarik pada aliansi, dan aku sangat tidak tertarik padamu."
"Jangan sombong, Arlan! Ibumu sudah mengatur pertemuan makan malam antara keluarga Wijaya dan Dirgantara besok malam. Jika kamu tidak datang, ibumu mengancam akan mempersulit izin usaha firma barumu ini. Kamu tau betapa panjang tangan Sofia Dirgantara, bukan?"
Arlan terdiam. Ia mengepalkan tangannya di balik saku celana. Sofia benar-benar ingin mematikan setiap sudut ruang geraknya.
"Katakan pada Ibu, aku akan datang. Tapi jangan harap aku akan menjadi boneka yang manis di meja makan itu."
Clara tersenyum puas, ia mengambil kembali tasnya. "Itu baru Arlan yang kukenal. Sampai jumpa besok malam, Arlan. Oh, dan satu lagi... berhentilah mencari hantu. Gadis itu sudah menjadi masa lalu, dan aku adalah masa depan yang nyata."
Setelah Clara pergi, Arlan duduk di kursinya. Ia merogoh laci mejanya, mengeluarkan selembar foto Keyla.
"Di mana kamu, Key? Apa benar kamu menyerah padaku? Apa benar kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Arlan tau, dunia sedang mencoba memaksanya untuk lupa. Ibunya, Clara, dan bahkan kepergian Keyla sendiri seolah bersekongkol untuk membuatnya menyerah. Namun, di dalam hati Arlan yang paling dalam, ada sebuah keyakinan yang tidak bisa dibunuh,bahwa Keyla melakukan ini untuk melindunginya.
Malam itu, Arlan tidak pulang ke apartemennya. Ia menghabiskan waktu di kantor, mempelajari data-data ekspor-impor yang berkaitan dengan Korea Selatan—salah satu negara yang dicurigainya sebagai tempat pelarian Keyla karena kakak perempuannya pernah bekerja di sana.
"Jika aku harus membakar seluruh hartaku untuk menemukanmu, aku akan melakukannya, Keyla," gumamnya. "Dan saat aku menemukanmu, aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan Ibuku sendiri, bernapas dengan tenang jika mereka mencoba memisahkan kita lagi."