“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
"Mas, kayaknya... Kamu sama Bu Anggun sudah lama kenal ya?"
DEG!
"Kok tiba-tiba nanya itu?"
"Iya, soalnya Mas kayak biasa aja tadi Bu Anggun di rumah. Waktu pertama kali Bu Anggun datang ke rumah juga, Mas kayak... Aneh gitu wajahnya... Apa ya..."
"Mas cuma sayang sama kamu, Ning. Mas enggak bakal berpaling ke Bu Anggun."
"Iihh! Apa sih, Mas!" Ning memukul dada Yuda yang terbuka. Malam ini, suaminya sudah ngajak ninu-ninu lagi.
"Bukan gitu maksud Ning."
Yuda tertawa kecil. "Jadi, apa?"
"Tau ah!" Ning memalingkan wajahnya, ngambek.
"Eh, udah bisa ngambek sekarang," goda Yuda mencolek pipi istrinya.
Hening sebentar, Ning masih melihat ke arah lain. Yuda tersenyum, menyentuh wajah Ning, agar melihat ke arahnya.
"Mas tuh, sebenarnya agak kaget juga. Kan Mas udah bilang sebelumnya, kalau... Bu Anggun itu salah satu yang pernah jadi customer Mas. Makanya, Mas agak gimana waktu itu. Akhir-akhir ini dia juga sepertinya suka datengin kamu, ya?" kata Yuda. "Apa kalian jadi dekat sekarang?"
"Entahlah."
"Loh, masih ngambek istri cantiknya Mas ini?" Yuda gemas, menunduk sampai wajah mereka hanya sejengkal. Ia tidak mencium, hanya menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Ning, pindah ke pipi. Kali ini bibirnya ikut digesekkan di sana.
"Udah dong ngambeknya, Sayang..."
"Ning enggak ngambek kok."
"Kok suaranya ketus gitu?" goda Yuda lagi.
"Ning enggak ketus..."
Yuda tertawa tanpa menjauhkan wajahnya dari wajah Ning. "Iya, enggak ketus..." ucapnya, seraya mengecup sudut bibir Ning.
Wajah Yuda terlalu dekat, reflek mata Ning jadi sayu.
Cup.
Kecupan kecil di bawah bibir.
Cup.
Kecupan lain di atas bibir.
Cup.
Dan satu lagi di hidung.
"Mass... Mmmppp...."
Yuda sudah membungkamnya dengan hisapan dalam di bibir istrinya. Ning memukul ringan lengan Yuda, lalu mencubit pinggangnya.
"Hoosshh, hosh, hosh!"
Ning kehabisan napas. Yuda menghisapnya dengan rakus.
"Mas mau bunuh Ning ya?"
Yuda tertawa. "Enggak!" elaknya. "Mas mau kamu semalaman ini!"
Malam itu... Ning tidur nyenyak sekali, setelah Yuda membuatnya tepar dengan beberapa kali mengeluarkan cairan.
####
Esok paginya.
"Loh... Sudah bersih semua?"
Yuda nyengir. Sebelum subuh, dia sudah memanggil para pelayan khususnya untuk berberes rumah. Hanya tinggal masak saja yang dia sisakan untuk Ning.
"Tadi Mas kebangun, eh, enggak bisa lanjut tidur. Jadi, ya udahlah, dari pada ngalamun, atau gangguin kamu tidur. Mas beberes deh."
"Yah, terus Ning ngapain?" tanya Ning yang memang sudah biasa berberes dan masak selepas subuh.
Yuda menggosok dagunya pura-pura mikir. "Mmm, Mas belum masak. Enggak sempat tadi. Hehehe. Gimana kalau... Sekarang giliran Ning yang masak?" katanya sambil menyentuh bahu Ning.
"Mmm, iya... Tapi, Ning belum belanja."
"Ya ayok belanja ke pasar pagi!"
Pagi masih muda ketika Ning dan Yuda berjalan berdampingan menyusuri pasar. Udara lembap bercampur aroma tanah basah, daun pisang, dan ikan segar. Ning melangkah pelan dengan kruknya, jilbab kremnya terikat rapi, wajahnya cerah meski langkahnya kaku.
“Hati-hati, Ning. Jalan licin,” ujar Yuda refleks, tangannya sigap menahan siku istrinya.
“Iya, Mas. Ning udah biasa kok,” jawab Ning sambil tersenyum. “Pasar pagi gini malah bikin Ning semangat.”
Ini yang kedua kalinya dia ke pasar. Walau tak terbiasa, tapi demi Ning, akan dia lakukan. Mereka berhenti di lapak sayur. Ning membungkuk sedikit, memilih kangkung dan bayam dengan teliti.
“Mas, sayurnya masih segar,” katanya.
Yuda mengangguk, lalu menoleh ke lapak ikan keranjang di sebelah. “Ikan kembungnya bagus. Mas ambil, ya.”
Belum sempat Ning menjawab—
“Eh?”
Suara itu datang dari samping.
Ning menoleh. Senyumnya refleks muncul.
“Ibu… Mbak Dewi.”
Dewi hanya melirik sekilas, datar. Bu Sumi malah mendengus, sorot matanya menyapu Ning dari kepala sampai kaki.
“Ke pasar juga kamu sekarang,” gumam Bu Sumi ketus. “Pantesan.”
Ning tetap ramah. “Iya, Bu. Masak di rumah.”
Ia meraih seikat sawi yang tadi sudah ia pegang. Namun sebelum dimasukkan ke kantong—
“Yang itu buat saya,” kata Bu Sumi sambil langsung menarik sawi yang sama.
Ning terdiam sebentar. “Bu… tadi Ning yang ambil dulu.”
“Ah, sama aja,” sahut Bu Sumi. “Kamu kan bisa ambil yang lain.”
Yuda yang sejak tadi diam, rahangnya mengeras. Ia melihat Ning menahan diri—dan itu membuat dadanya panas.
Dengan gerakan cepat, Yuda meraih kembali sawi itu dan menyerahkannya ke Ning.
“Maaf, Bu. Istri saya yang ambil dulu.”
Bu Sumi terbelalak. “Eh! Kamu apa-apaan?!”
“Cari yang lain saja, Bu,” jawab Yuda dingin. “Masih banyak.”
“Berani-beraninya kamu!” suara Bu Sumi meninggi. “Nggak sopan sama orang tua, main rebut-rebut aja!”
Ning langsung menyentuh lengan Yuda. “Mas… sudah,” katanya pelan tapi tegas. Ia lalu menoleh ke Bu Sumi. “Enggak apa-apa, Bu. Ini buat Ibu saja.”
Ia menyerahkan sawi itu.
"Iya, ambil saja! Kami juga tak mau masak sawi yang udah kena sentuh Mak lampir! Bisa mencret kami!" sambung Yuda keras yang membuat Ning sedikit kaget.
Cepat-cepat Ia menarik Yuda menjauh sebelum emosi suaminya benar-benar lepas dan keributan makin besar.
"Kenapa Mas kamu tarik-tarik sih, dek?" protes Yuda mengikuti langkah Ning yang terseog.
"Mas kalau ngamuk serem." Ning berdalih.
"Hah? Ngamuk apaan?"
"Ya tadi, sampai ngatain Mak Lampir segala."
Yuda tertawa. "Iya, iya. pagi lucu banget ketemu Mak lampir sama grandong."
Ning menatapnya, tapi dia ikut tersenyum juga. "Dasar, Mas Yuda."
"Tuh, kamu ketawa juga. Jadi setuju kan, kalau mereka tuh Mak Lampir sama grandong?"
"Udah ah," Ning mengibaskan tangannya.
Mereka berjalan ke lapak lain, lebih sepi. Seorang ibu penjual tersenyum ramah.
“Pakis hutan, Mbak. Baru turun subuh tadi.”
Mata Ning berbinar. “Mas… pakis!”
Yuda ikut melihat. “Segar banget.”
“Masak pakis aja, ya?” Ning tampak bersemangat lagi, seolah kejadian barusan menguap begitu saja.
Yuda mengangguk, lalu tersenyum kecil. "Kamu bisa masak pakis?"
"Bisa dong. Ning mah bisa masak apa aja."
Di rumah, dapur kembali hidup. Ning mencuci pakis, Yuda mengiris bawang. Sesekali, Yuda mencondongkan tubuh, mengecup ringan pipi Ning.
“Mas,” protes Ning malu-malu. “Masak dulu.”
“Iya, iya,” jawab Yuda, tapi tetap tersenyum puas.
Wajan kembali beradu, aroma tumisan memenuhi rumah.
*****
Sementara itu, di rumah Pak Hasto.
Bu Sumi melempar tas belanja ke meja. “Percuma belanja! Nafsu masak hilang!”
Dewi menghela napas kesal. “Terus mau makan apa kalau Ibu enggak masak?”
“Entahlah!” Bu Sumi mendengus. “Lihat tuh Yuda. Tukang ojek sok-sokan belagu!”
Dewi menekan bibirnya, jengkel, perutnya keroncongan.
“Kalau bukan Ibu yang masak… siapa lagi?”
Bu Sumi terdiam, tapi wajahnya tetap masam.