NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:52.5k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

"Mas, kayaknya... Kamu sama Bu Anggun sudah lama kenal ya?"

DEG!

"Kok tiba-tiba nanya itu?"

"Iya, soalnya Mas kayak biasa aja tadi Bu Anggun di rumah. Waktu pertama kali Bu Anggun datang ke rumah juga, Mas kayak... Aneh gitu wajahnya... Apa ya..."

"Mas cuma sayang sama kamu, Ning. Mas enggak bakal berpaling ke Bu Anggun."

"Iihh! Apa sih, Mas!" Ning memukul dada Yuda yang terbuka. Malam ini, suaminya sudah ngajak ninu-ninu lagi.

"Bukan gitu maksud Ning."

Yuda tertawa kecil. "Jadi, apa?"

"Tau ah!" Ning memalingkan wajahnya, ngambek.

"Eh, udah bisa ngambek sekarang," goda Yuda mencolek pipi istrinya.

Hening sebentar, Ning masih melihat ke arah lain. Yuda tersenyum, menyentuh wajah Ning, agar melihat ke arahnya.

"Mas tuh, sebenarnya agak kaget juga. Kan Mas udah bilang sebelumnya, kalau... Bu Anggun itu salah satu yang pernah jadi customer Mas. Makanya, Mas agak gimana waktu itu. Akhir-akhir ini dia juga sepertinya suka datengin kamu, ya?" kata Yuda. "Apa kalian jadi dekat sekarang?"

"Entahlah."

"Loh, masih ngambek istri cantiknya Mas ini?" Yuda gemas, menunduk sampai wajah mereka hanya sejengkal. Ia tidak mencium, hanya menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Ning, pindah ke pipi. Kali ini bibirnya ikut digesekkan di sana.

"Udah dong ngambeknya, Sayang..."

"Ning enggak ngambek kok."

"Kok suaranya ketus gitu?" goda Yuda lagi.

"Ning enggak ketus..."

Yuda tertawa tanpa menjauhkan wajahnya dari wajah Ning. "Iya, enggak ketus..." ucapnya, seraya mengecup sudut bibir Ning.

Wajah Yuda terlalu dekat, reflek mata Ning jadi sayu.

Cup.

Kecupan kecil di bawah bibir.

Cup.

Kecupan lain di atas bibir.

Cup.

Dan satu lagi di hidung.

"Mass... Mmmppp...."

Yuda sudah membungkamnya dengan hisapan dalam di bibir istrinya. Ning memukul ringan lengan Yuda, lalu mencubit pinggangnya.

"Hoosshh, hosh, hosh!"

Ning kehabisan napas. Yuda menghisapnya dengan rakus.

"Mas mau bunuh Ning ya?"

Yuda tertawa. "Enggak!" elaknya. "Mas mau kamu semalaman ini!"

Malam itu... Ning tidur nyenyak sekali, setelah Yuda membuatnya tepar dengan beberapa kali mengeluarkan cairan.

####

Esok paginya.

"Loh... Sudah bersih semua?"

Yuda nyengir. Sebelum subuh, dia sudah memanggil para pelayan khususnya untuk berberes rumah. Hanya tinggal masak saja yang dia sisakan untuk Ning.

"Tadi Mas kebangun, eh, enggak bisa lanjut tidur. Jadi, ya udahlah, dari pada ngalamun, atau gangguin kamu tidur. Mas beberes deh."

"Yah, terus Ning ngapain?" tanya Ning yang memang sudah biasa berberes dan masak selepas subuh.

Yuda menggosok dagunya pura-pura mikir. "Mmm, Mas belum masak. Enggak sempat tadi. Hehehe. Gimana kalau... Sekarang giliran Ning yang masak?" katanya sambil menyentuh bahu Ning.

"Mmm, iya... Tapi, Ning belum belanja."

"Ya ayok belanja ke pasar pagi!"

Pagi masih muda ketika Ning dan Yuda berjalan berdampingan menyusuri pasar. Udara lembap bercampur aroma tanah basah, daun pisang, dan ikan segar. Ning melangkah pelan dengan kruknya, jilbab kremnya terikat rapi, wajahnya cerah meski langkahnya kaku.

“Hati-hati, Ning. Jalan licin,” ujar Yuda refleks, tangannya sigap menahan siku istrinya.

“Iya, Mas. Ning udah biasa kok,” jawab Ning sambil tersenyum. “Pasar pagi gini malah bikin Ning semangat.”

Ini yang kedua kalinya dia ke pasar. Walau tak terbiasa, tapi demi Ning, akan dia lakukan. Mereka berhenti di lapak sayur. Ning membungkuk sedikit, memilih kangkung dan bayam dengan teliti.

“Mas, sayurnya masih segar,” katanya.

Yuda mengangguk, lalu menoleh ke lapak ikan keranjang di sebelah. “Ikan kembungnya bagus. Mas ambil, ya.”

Belum sempat Ning menjawab—

“Eh?”

Suara itu datang dari samping.

Ning menoleh. Senyumnya refleks muncul.

“Ibu… Mbak Dewi.”

Dewi hanya melirik sekilas, datar. Bu Sumi malah mendengus, sorot matanya menyapu Ning dari kepala sampai kaki.

“Ke pasar juga kamu sekarang,” gumam Bu Sumi ketus. “Pantesan.”

Ning tetap ramah. “Iya, Bu. Masak di rumah.”

Ia meraih seikat sawi yang tadi sudah ia pegang. Namun sebelum dimasukkan ke kantong—

“Yang itu buat saya,” kata Bu Sumi sambil langsung menarik sawi yang sama.

Ning terdiam sebentar. “Bu… tadi Ning yang ambil dulu.”

“Ah, sama aja,” sahut Bu Sumi. “Kamu kan bisa ambil yang lain.”

Yuda yang sejak tadi diam, rahangnya mengeras. Ia melihat Ning menahan diri—dan itu membuat dadanya panas.

Dengan gerakan cepat, Yuda meraih kembali sawi itu dan menyerahkannya ke Ning.

“Maaf, Bu. Istri saya yang ambil dulu.”

Bu Sumi terbelalak. “Eh! Kamu apa-apaan?!”

“Cari yang lain saja, Bu,” jawab Yuda dingin. “Masih banyak.”

“Berani-beraninya kamu!” suara Bu Sumi meninggi. “Nggak sopan sama orang tua, main rebut-rebut aja!”

Ning langsung menyentuh lengan Yuda. “Mas… sudah,” katanya pelan tapi tegas. Ia lalu menoleh ke Bu Sumi. “Enggak apa-apa, Bu. Ini buat Ibu saja.”

Ia menyerahkan sawi itu.

"Iya, ambil saja! Kami juga tak mau masak sawi yang udah kena sentuh Mak lampir! Bisa mencret kami!" sambung Yuda keras yang membuat Ning sedikit kaget.

Cepat-cepat Ia menarik Yuda menjauh sebelum emosi suaminya benar-benar lepas dan keributan makin besar.

"Kenapa Mas kamu tarik-tarik sih, dek?" protes Yuda mengikuti langkah Ning yang terseog.

"Mas kalau ngamuk serem." Ning berdalih.

"Hah? Ngamuk apaan?"

"Ya tadi, sampai ngatain Mak Lampir segala."

Yuda tertawa. "Iya, iya. pagi lucu banget ketemu Mak lampir sama grandong."

Ning menatapnya, tapi dia ikut tersenyum juga. "Dasar, Mas Yuda."

"Tuh, kamu ketawa juga. Jadi setuju kan, kalau mereka tuh Mak Lampir sama grandong?"

"Udah ah," Ning mengibaskan tangannya.

Mereka berjalan ke lapak lain, lebih sepi. Seorang ibu penjual tersenyum ramah.

“Pakis hutan, Mbak. Baru turun subuh tadi.”

Mata Ning berbinar. “Mas… pakis!”

Yuda ikut melihat. “Segar banget.”

“Masak pakis aja, ya?” Ning tampak bersemangat lagi, seolah kejadian barusan menguap begitu saja.

Yuda mengangguk, lalu tersenyum kecil. "Kamu bisa masak pakis?"

"Bisa dong. Ning mah bisa masak apa aja."

Di rumah, dapur kembali hidup. Ning mencuci pakis, Yuda mengiris bawang. Sesekali, Yuda mencondongkan tubuh, mengecup ringan pipi Ning.

“Mas,” protes Ning malu-malu. “Masak dulu.”

“Iya, iya,” jawab Yuda, tapi tetap tersenyum puas.

Wajan kembali beradu, aroma tumisan memenuhi rumah.

*****

Sementara itu, di rumah Pak Hasto.

Bu Sumi melempar tas belanja ke meja. “Percuma belanja! Nafsu masak hilang!”

Dewi menghela napas kesal. “Terus mau makan apa kalau Ibu enggak masak?”

“Entahlah!” Bu Sumi mendengus. “Lihat tuh Yuda. Tukang ojek sok-sokan belagu!”

Dewi menekan bibirnya, jengkel, perutnya keroncongan.

“Kalau bukan Ibu yang masak… siapa lagi?”

Bu Sumi terdiam, tapi wajahnya tetap masam.

1
Sunaryati
Lalaki sekaligus suami yang bertanggungjawab, Nak Yuda, jangan luntur tapi tambah sampai end nanti. 💪💪👍👍🙏
Sunaryati
Alhamdulillah orang tua Mas Yuda baik semua, mau menerima Ning.
Sunaryati
Syukur ternyata Bu Anggun tidak marah, Nak Yuda menikahi Ning.
Sunaryati
Pinter kamu Mas Yuda, sebaiknya bawa Ning ke dokter tulang, untuk operasi tulang kaki, sekarang banyak dokter ahli dibidangnya pasti sembuh seperti sedia kala. Emak baru mampir langsung suka
Ma Em
Yuda akhirnya kebohonganmu terbongkar juga kan ,makanya dari dulu Yuda lbh baik berterus terang pada Ning .
Ariany Sudjana
Ning kamu jangan marah sama Yudha, kalau kamu marah, kesempatan buat Dewi merebut Yudha, apalagi tahu Yudha itu orang kaya, mau kamu seperti itu?
Sri Rahayu
maafkanlah Yuda Ning....emang dia berbohong...awal nya dia bohong utk Dewi tp keterusan sampe kini 😇😇😇 lanjut Thorr 😘😘😘
elief
lanjut thor, penasaran gimana reaksinya Ning🙏
Ma Em
Yuda pasti akan ketahuan sama Ning , apakah Ning akan marah sama Yuda karena sdh dibohongi .
Ariany Sudjana
jangan marah Ning, kalau kamu marah, yang ada Yudha akan disambar sama Dewi
Sri Rahayu
hahaha akhirnya ketahuan siapa sebenarnya Yuda...paling Ning marah bentar yp tdk sampe membenci Yuda...Ning kan baik hati, Yuda bkn jahat jahat hanya menyamar jd tkng ojek 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
elief
kalo ketahuan, semoga ning mau ya memaafkan mas yuda yg sudah berbohong. dewi aja di maafkan hehehe
Ariany Sudjana
Ning itu terlalu polos, kamu pikir dengan maaf semua selesai, tidak seperti itu Ning. apa kamu tidak tahu kalau Dewi itu licik? dia akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan kamu
Ma Em
Ning orangnya terlalu baik , tapi orang seperti Dewi dan Bu Sumi tdk akan ada kapoknya pasti akan berbuat jahat lagi pada Ning , tapi benar kata Ning biar Allah yg balas perbuatan Dewi dan Bu Sumi pada Dewi akan dpt karmanya .
Sri Rahayu
bukan marah Ning...tp kesel gemes.. Ning baik hati bener, uda disakiti terus menerus tetap baik sama Dewi dan bu Sumi...lanjut Thorr 😘😘😘
Rahmawati
sudah salah tapi merasa paling menderita, hadeh
Ariany Sudjana
kamu berdalih terus kamu korban, kata siapa kamu korban Dewi? justru kamu pelakunya, gara-gara keserakahan dan kedengkian kamu , kamu tega menabrak Ning
Sri Rahayu
keras kepala luar biasa Dewi dan bu Sumi...uda salah ga mau minta maaf...se akan2 Dewi korban 😠😠😠..lanjut Thorr
Arin
Sudah salah aja susah minta maaf.... Susah memang hidup dengan orang seperti ini. Anggap dirinya paling bener, si paling menderita..... 😁😁😁
Ina Yulfiana
kan jujurnya cih Yuda nich p gk tku nantinya Ningsih mlh kecewa berat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!