"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Baca di Atas Hujan yang Redup
Hari ini, matahari di Jogja bersikap seolah-olah tidak mengetahui bahwa dunia kecilku baru saja runtuh. Cahayanya menyengat dengan kejam, menerobos jendela kamar kos yang sempit ini, menyingkap debu-debu yang melayang di udara yang pengap. Aku terbaring di kasur yang sudah mulai melengkung di tengah, menatap plafon yang penuh dengan noda jamur bekas air hujan.
Aku mendengar desas-desus bahwa penampilan kami kemarin malah dianggap sebagai *avant-garde theater* yang brilian. Mereka menafsirkan kekacauan di akhir cerita\, keluarnya aku dari panggung\, dan tangisan Nadia yang memecah keheningan sebagai bagian dari naskah. Mereka bertepuk tangan atas "kesakitan yang terasa begitu nyata"\, tanpa pernah tahu bahwa kesakitan itu bukanlah akting. Itu adalah luka yang kubuat sendiri\, sebuah goresan pisau yang aku tebaskan di pergelangan tangan orang yang mencoba menarikku keluar dari sumur.
Aku berdiri, merapikan kaos oblong yang basah oleh keringat dingin. Kacamata tebalku tergeletak di meja belajar, lensanya sedikit berembun. Aku memakainya, merasakan sensasi kenyamanan yang palsu saat cangkang plastik itu bersandar di tulang pipiku. Aku harus pergi ke kampus. Ada hal kecil yang harus kuklaim, sebuah alasan remeh untuk memaksa diriku bergerak keluar dari kamar ini dan menghadapi dunia yang tiba-tiba terasa begitu asing.
Perjalanan menuju fakultas Sastra terasa seperti menyeberangi lautan pasir tanpa kompas. Setiap langkah kakiku di aspal yang retak terasa berat, seolah-olah gravitasi di sekitar tubuhku sedang bekerja dua kali lipat lebih keras. Aku melewati "Matrix Warnet" yang biasanya menjadi tempat pelarianku. Hari ini pintunya tertutup, sepi tanpa suara deru kipas CPU atau aroma mi instan. Sepertinya tempat itu juga sedang berduka, atau mungkin memang aku yang sudah kehilangan hak akses untuk bisa menyembunyikan diri di dalam bilik-bilik digitalnya.
Sampai di halaman fakultas, suasana berubah drastis. Mahasiswa berkerumun di bawah pohon rindang, ada tawa cekikikan, dan hiruk-pikuk tugas kuliah. Aku mencoba menyusup tanpa terlihat, meminimalkan kemungkinan bertemu seseorang yang akan menanyakan "Malam yang hebat kemarin, Ka!" dengan senyum lebar yang membuatku ingin muntah.
Namun, nasibku buruk. Di depan kantin, di bawah payung kafe berwarna merah menyala, aku melihat sosok itu.
Nadia duduk beramai-ramai dengan Gilang dan beberapa anggota teater lainnya. Mereka sedang makan siang, piring plastik berisi nasi campur tersebar di meja bundar. Aku berhenti melangkah, tubuhku mengepal saat melihat wajah Nadia. Aku bersiap untuk menemukan mata yang sembab, wajah yang pucat, atau tatapan yang menyalak kebencian seperti semalam di panggung.
Tapi aku salah.
Nadia tertawa. Ia tertawa lepas, kepalanya tertunduk menahan gelak ketika Gilang menceritakan sesuatu dengan gerak tangan yang berlebihan. Rambutnya yang biasanya diikat kuda kini terurai liar, digerakkan oleh angin siang. Ia mengenakan kaos oblong putih polos yang jauh dari kesan dramatis "Lila" di panggung kemarin. Ia terlihat... hidup. Ia terlihat begitu hidup hingga rasa sakit di dadaku terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum jahit yang tumpul.
Ini bukan adegan duka yang kupikirkan. Ini adalah pesta kemenangan yang tidak melibatkanku. Aku menyadari bahwa sementara aku berbaring membusuk dalam melankoli di kamar kos, dunia Nadia terus berputar. Matahari tetap bersinar untuknya, makan siang tetap terasa enak, dan lelucon Gilang tetap lucu. Kepergianku dari panggung kemarin bukanlah akhir dunia baginya; itu mungkin hanya menjadi pelepasan beban.
Kakiku melangkah sendiri, membawa tubuh ini mendekati meja itu. Refeksiku ingin berbalik dan lari, tapi sisa harga diriku yang menggantung di benang tipis memaksaku untuk tetap ada di sana. Aku harus menunjukkan bahwa aku masih bisa berfungsi, bahwa aku bukan hanya karakter kertas yang robek saat dijilat hujan.
"Eh\, Arka! Sini\, bro!" sapa Gilang ramai\, memecah keteganganku. "Lo hebat banget kemarin! Gue sampe merinding pas lo lari keluar panggung. Improvisasi brutal banget\, kayanya lo bener-bener *in character*."
Aku mencoba menyunggingkan senyum, tapi otot wajahku kaku. "Gue cuma... kebelet, Lang," jawabku singkat, nada suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku lalu mengalihkan pandang ke Nadia. Ia berhenti mengunyah sejenak, menatapku dengan mata yang tenang. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada air mata. Hanya ketenangan yang mengganggu, seperti permukaan danau yang tak berombak.
"Nad," panggilku pelan. "Bisa gue ngomong bentar?"
Gilang dan yang lainnya langsung mengerti. Mereka memberikan kode "aku kabur dulu" dengan senyum penuh arti, meninggalkan kami berdua di bawah payung kantin. Suasana menjadi sunyi di tengah hiruk-pikuk kampus yang mulai ramai kembali.
Nadia meneguk air mineralnya\, lalu meletakkan botol plastik itu di atas meja dengan suara *klak*. "Ada apa\, Arka?"
Suara itu. Suara yang biasanya menyemangatiku saat latihan vokal, kini terdengar seperti dinding kaca yang tebal dan dingin. Aku menarik napas, mencoba merangkai kata-kata indah, diksi yang mungkin bisa menyentuh sisi lembutnya seperti dulu. Aku ingin mengatakan betapa menyesalnya aku, betapa hancurnya aku tanpa dia, bagaimana senja semalam hanyalah sebuah kecelakaan navigasi dalam peta jiwaku yang usang.
"Nad, gue tau gue udah berlebihan kemarin," aku mulai, suaraku bergetar sedikit berusaha menahan emosi. "Tapi lo musti ngerti, ketika gue lihat dia... itu kayak badai yang datang tiba-tiba. Itu bukan pilihan, Nad. Itu... itu refleksi masa lalu yang gue nggak bisa kontrol."
Aku menatap matanya, berharap melihat kilat pengertian, atau setidaknya rasa kasih yang tersisa. Aku menyiapkan kalimat puitis berikutnya tentang bagaimana dia adalah satu-satunya jangkar yang kupunya di tengah badai itu.
Namun, Nadia menghela napas. Bukan napas berat yang menahan tangis, tapi napas yang terdengar bosan. Ia memotong kalimatku sebelum aku sempat menyelesaikan prosa puitisku.
"Udah ah, Arka. Capek gue dengar gaya lo ngomong."
Kalimat itu jatuh di antara kami, lebih berat daripada hujan badai kemarin. Aku terdiam, mulutku terbuka sedikit, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
"Apa?" tanyaku bodoh.
"Gaya lo, Ka. Puitis banget, capek," ulang Nadia tanpa embel-embel. Ia menatapku tajam, namun bukan tajamnya pedang, melainkan tajamnya gunting yang sedang memotong kertas bekas. "Lo selalu aja ngomong soal masa lalu, soal badai, soal refleksi. Kenapa nggak bisa ngomong jujur aja? Lo lari karena lo masih sayang sama dia. Lo sakit karena lo nyesel. Itu aja. Kenapa harus dibungkus diksi-diksi ribet yang bikin orang pusing?"
Aku merasa wajahku memanas. Bukan karena malu, tapi karena tersinggung dan terbongkar. Pertahanan sastraku, jimat yang selalu kugunakan untuk melindungi jiwaku yang rapuh, baru saja diremukkan olehnya begitu saja.
"Nad. Ini cara gue ngejelasin perasaan," belaku.
"Gue ngerti, Arka," sahut Nadia cepat. Ia merogoh tasnya yang tergeletak di bangku, mengeluarkan sebuah benda yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.
Buku catatan kulit cokelat itu. Buku yang kuberikan padanya di kedai kopi waktu itu, simbol perjanjian kita sebagai "Teman Spesial". Buku yang berisi coretan-coretan proses kita menulis naskah baru.
Nadia meletakkan buku itu di atas meja, mendorongnya perlahan ke arahku.
"Apa ini?" tanyaku, suaraku hampir berbisik.
"Cuma mau balikin aja. Gue nggak butuh ini lagi," kata Nadia dengan nada yang sangat datar, jauh lebih dingin daripada suara hujan.
"Tapi... ini buat lo. Biar lo nulis..."
"Gue udah tambahin sesuatu di halaman terakhir tadi pagi," potong Nadia lagi, memotong alur pikiranku yang mencoba merangkai rayuan untuk memohon maaf. "Baca aja sana. Terus setelah itu, jangan cari gue lagi."
Aku menatap buku itu seolah-olah itu adalah bahan peledak. Dengan tangan yang gemetar, aku membukanya. Halaman-halaman yang penuh dengan coretan stabilo jingga, catatan blocking panggung, dan sketsa dekorasi rindang terbuka di hadapanku. Ini adalah arsip kebahagiaan kita selama sebulan terakhir. Kenyataan bahwa semuanya nyata tertulis di sini membuat dadaku sesak.
Aku membalik ke halaman terakhir. Di sana, bukan puisi cinta yang kuharapkan. Bukan janji setia atau maaf-maafan melankolis. Di sana tertulis dengan tulisan tangan Nadia yang rapi dan tegas, menggunakan pulpen hitam:
"Arka, gue nggak benci lo. Tapi gue nggak mau jadi 'Teman Spesial' lo lagi. Kapasitas hati gue udah penuh buat diri gue sendiri. Lo terlalu sibuk menulis ulang masa lalu sampai lupa caranya hidup di hari ini. Lo mikir lo lagi ngerjain skrip tragis, padahal gue lagi capek dimintain jadi pemeran pembantu di drama luka lo. Jangan cari gue lagi sampai lo bener-bener berhenti jadi penulis fiksi untuk hidup lo sendiri."
Tulisan itu berakhir dengan sebuah tanda titik yang sangat tegas.
Aku menutup buku itu. Suara *klek* dari sampul kulitnya terdengar sangat keras di telingaku\, seperti suara pintu penjara yang dikunci rapat. Aku mengangkat wajahku\, mencari mata Nadia\, mencoba mencari celah di mana aku bisa memohon\, di mana aku bisa menjelaskan bahwa aku bisa berubah\, bahwa aku bisa menghapus metafora dan menjadi orang biasa.
"Nad, gue bisa berubah. Gue janji..." suaraku terdengar memelas.
Nadia berdiri dari kursinya. Ia mengambil tasnya dan menggendongnya di satu bahu. Ia menatapku bukan dengan kebencian, tapi dengan rasa kasihan yang jauh lebih menyakitkan. Ia melihatku seperti seseorang yang melihat seekor anjing sakit yang terlantar di pinggir jalan—prihatin, tapi tidak ingin membawanya pulang.
"Jangan janjiin sesuatu yang nggak sanggup lo tepatin, Arka," ujarnya pelan. "Lo nggak bisa berubah. Senja itu udah jadi bagian dari narasi lo, dan narasi itu lebih penting buat lo daripada kenyataan di depan mata lo. Gue capek jadi kenyataan yang selalu lo bandingkan dengan khayalan lo."
Ia berbalik, meninggalkan aku di bawah payung kantin yang mulai terasa pengap. Langkahnya tidak ragu, tidak ada satu pun detik ia berhenti atau menoleh ke belakang. Ia berjalan menyusuri jalan setapak kampus, bergabung kembali dengan kerumunan mahasiswa yang berwarna-warni, menjadi bagian dari dunia yang terus bergerak maju.
Aku duduk sendirian di meja kantin yang berantakan. Di tanganku, buku catatan itu terasa berat sekali, seperti batu yang baru saja kupahat dari gunung. Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjerit namanya sekali lagi, untuk mengatakan sesuatu yang hebat, yang mungkin bisa menghentikan langkahnya. Tapi lidahku kelu. Tidak ada kata-kata indah yang tersisa. Kosakataku telah habis dikonsumsi oleh kebodohan dan keangkuhanku sendiri.
Tiba-tiba, langit yang cerah berubah mendung. Aroma tanah basah mulai tercium, sinyal khas hujan di Jogja yang akan segera turun. Beberapa detik kemudian, hujan turun. Bukan gerimis tipis, tapi hujan deras yang tiba-tiba, membasahi aspal halaman kampus.
Mahasiswa lainnya berlarian mencari tempat berteduh, berteriak-teriak riuh, menertawakan teman yang kebasahan. Suara itu terdengar begitu jauh, seolah-olah datang dari planet lain.
Aku tidak bergerak. Aku membiarkan hujan membasahi tubuhku. Air mengalir di rambutku, menembus kaus oblong, menetes ke sepatu kets yang sudah kotor. Kacamataku berembun, membuat pandanganku menjadi kabur. Dunia di sekitarku berubah menjadi gumpalan-gumpalan warna abu-abu yang tidak berbentuk.
Di tengah guyuran hujan ini, aku menunggu. Sebagian dari diriku—bagian yang masih romantis dan dungu—menunggu sebuah adegan film di mana Nadia akan kembali dengan payung, tersenyum, dan mengatakan bahwa kita bisa memulai dari awal. Atau mungkin Senja akan muncul dari antara rintik hujan, mengatakan bahwa dia membuat kesalahan dengan menikah.
Tapi tidak ada yang datang.
Hanya hujan. Hanya suara gemuruh air yang memukul atap seng kantin. Hanya dingin yang meresap ke tulang.
Aku menyadari bahwa inilah akhir yang sebenarnya. Bukan di panggung megah dengan lampu sorot dan tepuk tangan penonton. Akhir yang sebenarnya adalah di sini, duduk sendirian di bawah hujan, memegang buku catatan yang isinya adalah penolakan, tanpa satupun metafora yang bisa menyerap air mata ini.
Aku memejamkan mata, membiarkan air hujan bercampur dengan sesuatu yang hangat dan asin yang mengalir di pipiku. Aku tidak lagi menjadi penyair. Aku tidak lagi menjadi aktor. Aku hanyalah seorang lelaki basah kuyup yang baru saja menyadari bahwa dialah yang telah menulis tragedinya sendiri, dan sekarang dia harus hidup di dalam naskah hampa yang tak seorang pun mau membacanya lagi.