NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Sarang Serigala

Perjalanan ke markas Klan Gong memakan waktu dua hari.

Gong Jinsung menjemputku saat matahari masih pagi. Dia datang dengan dua ekor kuda—satu untukku, satu untuknya. Hyun Moo berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, tangannya memegang pedang seperti ingin melompat dan ikut.

"Aku akan kembali," kataku padanya.

"Tuan harus kembali."

Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Aku mengangguk, lalu menaiki kuda. Gong Jinsung memimpin di depan, dan kami berlari meninggalkan gubuk reyot yang selama ini menjadi tempat persembunyianku.

---

Klan Gong berada di utara wilayah Jin.

Perjalanan melewati hutan, perbukitan, dan beberapa desa kecil. Semakin ke utara, semakin terlihat kemakmuran. Rumah-rumah penduduk lebih bagus, sawah lebih terawat, dan sesekali terlihat pendekar berseragam berpatroli.

"Ini wilayah kalian?" tanyaku.

"Wilayah kekuasaan Klan Gong," jawab Gong Jinsung. "Luasnya sekitar sepuluh kali lipat wilayah Jin yang dulu."

Aku tidak kaget. Klan besar memang seperti itu.

Menjelang sore hari kedua, kami sampai di gerbang markas.

Markas Klan Gong bukan sekadar perkampungan—ini adalah benteng. Tembok batu setinggi sepuluh meter mengelilingi area seluas kota kecil. Di atas tembok, para pendekar berjaga dengan waspada. Gerbang besi besar terbuka, menyambut kami masuk.

Di dalam, jalanan tertata rapi. Rumah-rumah para pendekar, barak, gudang, dan di tengah-tengah, sebuah istana megah dengan atap bersusun tiga.

"Aula Utama," kata Gong Jinsung. "Di sanalah Patriark menunggumu."

---

Aku dibawa masuk ke Aula Utama.

Ruangannya luas, dengan pilar-pilar besar dari kayu jati. Di ujung ruangan, di atas singgasana yang ditinggikan, duduk seorang pria tua berjubah merah.

Patriark Gong. Gong Jinho.

Usianya mungkin enam puluhan, tapi tubuhnya masih tegap. Matanya tajam seperti elang. Di sampingnya berdiri beberapa orang—para tetua dan penasihat, berdasarkan postur mereka.

Aku berjalan mendekat, lalu berhenti pada jarak yang sopan. Aku tidak berlutut. Di belakangku, Gong Jinsung diam-diam memberi isyarat agar aku bersikap hormat. Tapi aku sudah memutuskan: aku bukan bawahan mereka. Aliansi, bukan penaklukan.

Gong Jinho menatapku lama. Aku membalas tatapannya.

"Jin Tae-kyung," suaranya berat, dalam. "Putra bungsu Patriark Jin yang gugur."

"Hormatku untuk Patriark Gong," kataku, sedikit menunduk—cukup untuk sopan, tidak cukup untuk tunduk.

Dia tersenyum tipis. Entah menghargai keberanianku, entah menganggapku bodoh.

"Jinsung bilang kau punya sesuatu yang menarik. Sesuatu yang bisa mengubah keseimbangan Murim."

"Aku hanya punya sedikit pengetahuan, Patriark. Tapi pengetahuan itu bisa bermanfaat bagi kedua belah pihak."

"Tunjukkan."

---

Aku sudah siap.

Di halaman belakang Aula Utama, sebuah area kosong telah disiapkan. Para tetua dan pendekar senior berkumpul di serambi, mengawasi dari kejauhan.

Aku mengeluarkan tiga bom dari tas—ukuran kecil, sedang, dan besar. Juga sebuah tabung bambu yang kusebut "meriam genggam".

Yang pertama: bom kecil. Kusulut sumbunya, lalu kulempar ke tengah halaman.

LEDAK!

Suaranya menggelegar di antara bangunan-bangunan. Asap putih membubung. Beberapa pendekar terkejut, ada yang langsung menghunus pedang. Tapi Patriark Gong hanya mengangkat tangan, menenangkan mereka.

Kedua: bom sedang. Kali ini kutanam di tanah, kusulut, lalu berlari mundur.

LEDAKK!

Lubang sedalam setengah meter terbuka di tanah. Pecahan besi beterbangan, beberapa menancap di batang pohon di sekitarnya.

Para tetua mulai berbisik-bisik.

Ketiga: bom besar. Aku menunjuk sebuah batu besar seukuran kerbau di sudut halaman.

"Batu itu?"

"Batu itu."

Gong Jinsung mengangguk. Aku meletakkan bom di samping batu, menyulut sumbu panjang, lalu mundur ke tempat aman.

LEDAKK... DUAR!

Batu itu hancur. Pecah berkeping-keping. Serpihannya beterbangan ke segala arah. Beberapa pendekar yang terlalu dekat hampir kena, tapi berhasil mengelak dengan kecepatan tinggi.

Keheningan menguasai halaman.

Aku mengambil tabung bambu—meriam genggam. Ini yang terakhir. Aku mengarahkannya ke tumpukan jerami di kejauhan, menyulut sumbu.

DOOR!

Suaranya lebih nyaring daripada ledakan. Dari ujung tabung, api dan proyektil melesat. Tumpukan jerami itu terbakar.

Selesai.

Aku berbalik, menatap Patriark Gong.

"Ini baru permulaan, Patriark. Dengan waktu dan sumber daya yang cukup, aku bisa membuat yang lebih besar. Lebih kuat. Lebih akurat."

---

Para tetua berdiskusi panjang malam itu.

Aku tidak diundang. Aku hanya dititipkan di ruang tamu, ditemani Gong Jinsung dan beberapa pelayan. Tapi dari ekspresi Gong Jinsung, aku bisa membaca hasilnya belum pasti.

"Mereka terkesan," katanya pelan. "Tapi juga takut."

"Takut?"

"Kekuatan seperti ini... bisa mengancam posisi mereka. Para tetua itu sudah puluhan tahun berkuasa dengan pedang dan Qi. Tiba-tiba datang bocah dengan bubuk hitam yang bisa meledak..."

Aku mengerti. Politik kekuasaan di mana pun sama.

"Jadi?"

"Mereka akan memutuskan besok pagi. Tapi aku punya firasat... Patriark akan setuju. Dia orang yang visioner."

---

Pagi harinya, aku dipanggil lagi ke Aula Utama.

Kali ini, suasana berbeda. Para tetua duduk rapi di kursi masing-masing. Patriark Gong di singgasana. Semua mata tertuju padaku.

"Jin Tae-kyung," Gong Jinho memulai. "Kami sudah berdiskusi semalaman. Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi aku sudah memutuskan."

Aku menunggu.

"Klan Gong akan menjalin aliansi dengan Klan Jin. Bukan sebagai bawahan, tapi sebagai mitra setara." Dia menjeda. "Tapi dengan syarat."

"Sebutkan."

"Pertama: kau akan mengajarkan ilmu ini kepada tiga orang pilihan kami, seperti yang kau janjikan. Kedua: kau akan membantu kami mengembangkan senjata-senjata ini untuk kepentingan bersama. Ketiga: jika Klan Gong dalam bahaya, kau wajib membantu."

Aku mengangguk. "Itu wajar. Tapi aku juga punya syarat."

Para tetua mulai bergumam tidak setuju. Tapi Patriark mengangkat tangan, menenangkan mereka.

"Katakan."

"Pertama: Klan Gong tidak akan ikut campur dalam urusan internal Klan Jin, termasuk dalam menyingkirkan Hojun dan para pengkhianat. Kedua: aku bebas mengembangkan ilmuku tanpa campur tangan, selama tidak merugikan Klan Gong. Ketiga: hasil pengembangan ini menjadi milik bersama, tapi aku punya hak veto atas penggunaannya."

"Veto?"

"Aku bisa melarang penggunaan senjataku untuk hal-hal yang tidak kusetujui."

Gong Jinho tersenyum. "Kau curiga kami akan menyalahgunakannya?"

"Aku hanya ingin memastikan pengetahuanku tidak dipakai untuk pembantaian yang tidak perlu."

Diam sejenak. Lalu Patriark tertawa.

"Kau sungguh pemuda aneh. Di usiamu, kebanyakan orang hanya ingin kuasa. Tapi kau... kau bicara tentang etika." Dia menggeleng. "Baik. Aku setuju dengan syaratmu."

---

Perjanjian ditandatangani malam itu.

Bukan dengan tinta di atas kertas—tapi dengan sumpah di depan altar leluhur Klan Gong. Di dunia persilatan, sumpah seperti ini lebih mengikat daripada dokumen apa pun.

Setelah upacara selesai, Gong Jinsung mendekat.

"Selamat, mitra." Dia tersenyum. "Sekarang kita resmi bersekutu."

"Terima kasih." Aku menatapnya. "Tapi aku harus segera kembali. Hojun masih di luar sana, dan aku tidak bisa meninggalkan Hyun Moo terlalu lama."

"Tentu. Tapi sebelum kau pergi, ada satu orang yang ingin bertemu denganmu."

Aku mengerutkan kening. "Siapa?"

Dia menunjuk ke sudut ruangan. Di sana, seorang gadis muda berdiri. Usianya mungkin enam belas atau tujuh belas tahun. Wajahnya cantik, tapi matanya dingin. Di pinggangnya terselip pedang tipis.

"Dia putri bungsu Patriark. Gong Hyerin."

Gadis itu berjalan mendekat. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara.

"Jadi kau yang membuat ledakan itu," katanya. Suaranya datar.

"Aku."

"Menarik." Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kau tidak seperti pendekar biasa. Lemah. Tapi matamu... matamu seperti orang tua."

Aku tersenyum. "Mungkin aku memang tua di dalam."

Dia mendengus. "Aku ingin belajar darimu."

"Kau salah satu dari tiga orang pilihan?"

"Bukan. Aku memilih sendiri."

Aku melirik Gong Jinsung. Dia hanya mengangkat bahu.

"Patriark tidak melarang," katanya. "Tapi Hyerin... dia bukan orang mudah. Kau harus siap."

---

Aku kembali ke rumah dua hari kemudian.

Hyun Moo menyambutku di pintu dengan mata berkaca-kaca. Aku hampir tertawa melihat ekspresinya—campuran lega, marah, dan haru.

"Tuan! Dua hari lebih lama dari janji! Aku sudah berpikir..."

"Maaf. Ada urusan tambahan." Aku turun dari kuda—kuda pemberian Klan Gong, hadiah atas aliansi baru. "Banyak yang terjadi."

Di dalam, aku menceritakan semuanya. Aliansi. Syarat-syarat. Dan Gong Hyerin.

Hyun Moo mengerutkan kening saat mendengar nama itu.

"Gong Hyerin... putri bungsu Patriark. Aku pernah dengar kabar tentangnya."

"Apa katanya?"

"Dia jenius. Mungkin jenius terbesar di generasinya. Level kultivasinya sudah mencapai puncak Lautan Qi di usia enam belas. Tapi..." dia ragu.

"Tapi?"

"Dia aneh. Tidak bergaul dengan orang lain. Sering menyendiri. Dan kejam pada musuh. Konon, dalam pertempuran, dia tidak pernah memberi ampun."

Aku diam. Ini bisa jadi masalah. Atau justru keuntungan.

"Tuan, apa benar dia akan belajar dari Tuan?"

"Iya. Dia datang minggu depan."

Hyun Moo menghela napas. "Semoga Tuan kuat."

---

Minggu itu, kami sibuk mempersiapkan.

Aku memperbaiki tungku, menambah persediaan mesiu, dan membuat catatan-catatan baru. Hyun Moo membantuku dengan setia, meskipus lututnya masih belum pulih sempurna.

Suatu malam, saat kami duduk di beranda, Hyun Moo bertanya.

"Tuan, setelah aliansi ini... apa rencana Tuan selanjutnya? Menyerang Hojun?"

Aku menggeleng. "Belum. Hojun masih punya pendukung. Kalau kita serang sekarang, akan banyak darah tumpah."

"Lalu?"

"Kita tunggu. Biarkan dia melihat kita semakin kuat. Biarkan pendukungnya mulai ragu. Saat mereka mulai meninggalkannya, saat itulah kita bergerak."

"Tuan yakin itu akan terjadi?"

Aku menatap langit malam. "Di mana pun, orang selalu ingin berada di pihak pemenang. Kalau kita bisa tunjukkan bahwa kita lebih kuat, mereka akan datang sendiri."

---

Hari yang dinanti tiba.

Gong Hyerin datang dengan dua orang pengawal—tapi pengawal itu hanya mengantar sampai gerbang, lalu pergi. Dia masuk sendirian, dengan jubah hitam dan pedang di pinggang.

Dia melihat sekeliling dengan ekspresi datar. Rumah reyot, halaman belakang dengan tungku, tumpukan arang. Tidak ada komentar.

"Kau tinggal di sini?" tanyanya akhirnya.

"Sementara."

"Kotor."

Aku tersenyum. "Aku tidak punya pelayan untuk membersihkan."

Dia tidak menjawab. Hanya berjalan ke arah tungku, mengamati dengan saksama.

"Bagaimana cara kerjanya?"

Aku mendekat, mulai menjelaskan. Tentang suhu, tentang aliran udara, tentang tanah liat tahan api. Dia mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk.

Selesai penjelasan, dia berkata, "Aku mau coba."

"Sekarang?"

"Sekarang."

---

Dua jam kemudian, Gong Hyerin kotor.

Jubah hitamnya berlumuran tanah liat dan arang. Tangannya hitam. Tapi matanya berbinar—untuk pertama kalinya sejak datang, ada ekspresi di wajahnya.

"Ini... sulit," katanya, selesai mencetak batu bata tanah liat. "Tapi menarik."

"Kau baru pertama kali bekerja dengan tangan?"

"Aku pendekar. Tugasku bertarung, bukan bekerja kasar."

Aku tertawa. "Di sini, kau akan banyak bekerja kasar. Ilmu ini tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca."

Dia menatapku. Mungkin tersinggung, mungkin tidak.

"Aku tidak masalah."

Dan benar. Selama dua minggu berikutnya, Gong Hyerin bekerja seperti kuli. Ikut mencampur tanah liat, memotong kayu, membuat arang, bahkan membersihkan tungku. Hyun Moo awalnya canggung, tapi lama-lama terbiasa.

Suatu hari, saat kami istirahat, dia bertanya.

"Kenapa kau mau melakukan ini? Kau putri Patriark. Kau bisa duduk manis di istana sementara orang lain bekerja."

Dia diam sejenak. Lalu menjawab pelan.

"Aku bosan."

"Bosan?"

"Di istana, semua orang hormat padaku. Takut padaku. Tidak ada yang mau bicara jujur. Tidak ada yang mau mengajariku hal baru. Semua hanya pujian." Dia menatapku. "Tapi kau... kau tidak peduli siapa aku. Kau suruh aku kerja kasar. Kau marah kalau aku salah. Kau... nyata."

Aku tidak menyangka jawaban itu.

"Jadi kau mencari... sesuatu yang nyata?"

"Iya." Dia mengangguk. "Dan menurutku, di sinilah aku menemukannya."

---

Dua minggu berlalu.

Gong Hyerin belajar cepat. Mungkin terlalu cepat. Dalam waktu singkat, dia sudah bisa membuat mesiu dengan perbandingan tepat, membuat sumbu, bahkan merakit bom sederhana.

Suatu sore, saat Hyun Moo pergi ke desa untuk membeli perbekalan, dia bertanya.

"Tae-kyung oppa."

Panggilan itu membuatku terkejut. Oppa. Panggilan akrab untuk kakak laki-laki.

"Apa?"

"Kau... dari mana sebenarnya?"

Aku diam.

"Aku sudah mengamati. Cara bicaramu, cara berpikirmu, cara kerjamu... tidak seperti orang Murim. Tidak seperti pendekar. Kau seperti... orang dari dunia lain."

Aku menatapnya. Matanya tajam, mencari jawaban.

Selama ini aku menjaga rahasia ini baik-baik. Tapi gadis ini... dia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

"Jika aku bilang iya? Bahwa aku bukan dari sini?"

Dia tidak terkejut. Hanya mengangguk pelan.

"Kupikir begitu." Dia menunduk. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, atau mengapa. Tapi aku tahu kau berbeda. Dan menurutku... itu tidak masalah."

"Tidak masalah?"

"Yang penting apa yang kau lakukan. Bukan dari mana kau datang." Dia menatapku lagi. "Kau mengajariku hal-hal baru. Kau tidak memperlakukanku seperti putri Patriark. Kau... membuatku merasa hidup. Itu sudah cukup."

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Gadis ini, yang awalnya kukira hanya anak manja bangsawan, ternyata menyimpan kedalaman yang tidak terduga.

---

Malam itu, Hyun Moo kembali dengan kabar.

"Tuan, ada pergerakan dari Hojun."

Aku menegang. "Ceritakan."

"Dia sudah pulih. Lukanya sembuh. Dan dia mengumpulkan sisa pendukungnya. Sekitar dua puluh orang. Mereka berencana menyerang kita."

"Kapan?"

"Tidak tahu pasti. Tapi dalam waktu dekat."

Gong Hyerin yang mendengar percakapan itu angkat bicara.

"Kalau mereka datang, aku bisa bantu."

Aku menatapnya. "Kau? Ini urusan internal klanku."

"Kita bersekutu, kan? Kalau mereka menyerangmu, mereka menyerang sekutu Klan Gong." Matanya dingin. "Biarkan aku panggil pengawalku. Dua orang pendekar level menengah cukup untuk menghabisi dua puluh orang biasa."

"Tidak." Aku menggeleng. "Kalau kau panggil pengawal, ini akan jadi urusan antar-klan. Bisa memicu perang besar."

"Lalu?"

Aku diam, berpikir keras.

Dua puluh pendekar. Hyun Moo dengan luka yang belum pulih. Gong Hyerin—mungkin bisa setara dengan lima orang. Aku—dengan mesiu.

Rasio masih berat. Tapi tidak mustahil.

Aku menatap Gong Hyerin. "Kau benar-benar mau bertarung di sisiku?"

"Iya."

"Nyawamu bisa melayang."

"Aku tahu."

Aku menghela napas. Lalu tersenyum tipis.

"Kalau begitu, selamat datang di timku. Kita punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan."

---

Malam itu, kami mulai bersiap.

Bom-bom baru dibuat. Perangkap dipasang di sekitar rumah. Hyun Moo mengasah pedangnya. Gong Hyerin duduk bersila, bermeditasi, memulihkan Qi-nya.

Dan aku? Aku duduk di beranda, menatap langit malam.

Besok, atau lusa, mereka akan datang.

Ini bukan lagi pertempuran kecil. Ini akan jadi penentuan.

Apakah Klan Jin akan bangkit? Atau akan musnah selamanya?

Aku tidak tahu.

Tapi satu hal yang kupastikan: aku tidak akan lari.

Tidak lagi.

---

[Bersambung ke Bab 9]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!